Kami dengan mudah dapat menyapu habis ribuan anak-anak kalajengking yang keluar dari telur-telur monster tersebut sebelum kekuatan sub ruang Dream mencapai batasnya. Namun demikian, korban umat manusia yang tercatat akibat serangan itu, hampir mencapai dua ribu jiwa dengan kerusakan seperenam wilayah Kota Jakarta karenanya hanya dalam waktu keterlambatan kami selama dua jam.
Apa yang membuat kami lebih kesal adalah lebih dari satu setengah jam waktu kami terbuang hanya untuk mengurusi masalah persetujuan kami tampil menggantikan tugas kepolisian dalam menangani bencana. Kami tidak diizinkan menangani bencana secara langsung tanpa adanya persetujuan resmi dari pemerintah.
Hal ini semua karena usulan para birokrat bodoh di lembaga legislatif pemerintah sewaktu menanggapi keresahan masyarakat bahwa salah satu anggota kami, yakni Healer, ternyata juga merupakan seorang monster.
Demi mencegah isu yang membuat kepanikan di masyarakat, ada hukum yang mencegah kami untuk bertindak seenaknya di masyarakat walaupun itu semua demi keselamatan umat manusia. Kami hanya boleh bertindak pada situasi yang dianggap sangat darurat yanki pada saat kepolisan tidak mampu menanganinya.
Sampai di sini aku masih bisa paham. Namun, cara mereka menangani urusan administratif sangatlah lambat. Seandainya saja, perizinan dapat lebih cepat kami terima sehingga kami dapat tiba di sana satu setengah jam lebih cepat, berapa banyak nyawa coba yang dapat kami selamatkan.
Tetapi semua itu kembali lagi kepada permasalahan masyarakat sendiri yang masih menganggap kami sebagai ancaman alih-alih bantuan. Tentu saja, tidak semuanya seperti itu. Bahkan setelah lima tahun berlalu, fansite Pahlawan Darah Merah masih aktif dan masih sering memberikan support-nya bagi kami walau Nafisah bukan lagi sebagai ketua fansite karena kesibukannya dalam penelitiannya bersamaku.
Setelah mengalahkan sang monster kalajengking, aku kembali ke markas bersama Arjuna dan Dream, sementara Dokter Millie memutuskan untuk kembali ke rumah sakit karena menurutnya, dia lebih dibutuhkan di sana untuk mengobati orang-orang yang terluka pasca bencana daripada mengikuti rapat pembahasan bencana yang hanya membuatnya mengantuk selama acara saja.
Adapun untuk masalah perawatan korban luka-luka dan meninggal pasca bencana, akan diserahkan kepada Organisasi EDEN Cabang Indonesia bekerjasama dengan Keluarga Wijayakusuma. Mereka adalah orang-orang yang terampil sehingga aku dapat dengan lega menyerahkan urusan tersebut kepada mereka.
Sesampainya aku di markas, aku terkaget dengan jumlah peserta yang hadir dalam rapat yang melebihi ekspektasiku.
“Makanya sudah kubilang kalau kita butuh persiapan setelah pesan yang muncul dari Raging Fire tersebut! Tetapi kalian malah mengabaikannya dan malah menganggapnya sebagai lelucon!” Begitu aku sampai, aku dapat mendengar dengan jelas teriakan marah dari Profesor Melisa yang tak biasanya itu.
Kulihat pula wajah-wajah yang hadir dalam rapat, ada Profesor Dios, Kak Arskad, dan juga kakak iparku, Kak Kaiser. Ada juga beberapa wajah asing yang tak kukenali.
Kulihat bahwa seseorang berambut pirang menundukkan kepalanya sembari meminta maaf pada Profesor Melisa. Dapat kuprediksi dia adalah petinggi organisasi EDEN pusat.
“Sudahlah. Sudahlah. Jangan marah-marah begitu, Melisa. Kamu hanya akan membuat takut Adrian yang baru saja datang bergabung bersama kita.” Ujar Profesor Dios sambil menatap ke arahku.
“Nah, silakan duduk, Adrian.” Ujarnya sambil menyodorkan kursi kosong di dekatnya untuk mempersilakan aku duduk.
“Ah, Adrian. Terima kasih atas kerja kerasnya. Maaf ya, kamu sampai harus menyaksikan debat kusir yang membosankan ini.” Ujar Profesor Melisa tersenyum kepadaku.
Aku menggeleng atas pernyataan itu dan mempersilakan mereka untuk melanjutkan rapatnya saja.
Aku pun menjawab, “Ini hanya sekadar asumsiku, tetapi arah yang dituju oleh sang monster sama dengan tempat pertarungan terakhir kami melawan Pohon Keabadian.”
“Sudah kuduga. Ini membuktikan bahwa teori yang aku buat benar adanya.” Salah seorang peserta berambut hitam ikal ala nusantara tampak berujar senang.
Aku pun melihat ke peta yang disajikan di layar. Tampak pola-pola arsiran melengkung yang tercerai-berai. Namun, jika kita menggunakan imajinasi kita layaknya melihat wajah orang pada tumpukan awan, kita bisa melihat bentuk pola melingkar elips pada gambar tersebut.
“Ini?” Tanyaku keheranan.
Sang wanita berambut ikal itu pun menjawab pertanyaanku, “Ini adalah garis yang masing-masing menghubungkan tempat perusahaan pembuat game dengan kemunculan karakter monster dalam game tersebut. Semuanya membentuk pola melingkar elips dengan pusat yang bisa kalian saksikan sendiri pada layar.”
Kutataplah baik-baik tentang pusat yang dimaskud oleh wanita paruh baya ikal tersebut. Betapa aku kaget, rupanya itu di kota ini.
“Ya, pusatnya ada di Kota Jakarta yang kita pijaki saat ini. Atau tepatnya, tempat kemunculan Pohon Keabadian lima tahun silam. Ini terbukti dengan ukuran monster yang muncul yang semakin besar dengan semakin dekat jarak kemunculan mereka dengan Kota Jakarta. Juga, seperti yang disampaikan oleh Adrian, mereka semua bergerak mendekat ke pusatnya, yang tidak lain adalah bekas tempat kemunculan Pohon Keabadian tersebut.”
Lanjut sang wanita ikal paruh baya menjelaskan.
“Terus bagaimana kamu akan menjelaskan tentang kemunculan Raging Fire di Kota Jakarta sehari sebelumnya?” Profesor Melisa tampak bertanya.
Namun alih-alih wanita itu, kini yang menjawab pertanyaannya adalah Kak Kaiser, “Secara kebetulan, Raging Fire muncul di sana di dekat adikku Judith dan temannya, Zio. Awalnya kukira, dia muncul di sana perihal kedekatan hubungan kami sehingga dia bisa merasakan hawa keberadaanku pada Judith. Namun setelah penyelidikan lebih lanjut, ternyata aku salah.”
“Ternyata, di tempat itu secara kebetulan, hadir mantan ranker Raging Fire yang selamat dalam malam bencana Hoho game. Kasus Raging Fire ini sedikit unik karena dia muncul di rumah sang ranker, tetapi justru memimik dan membunuh preman penagih hutang yang kebetulan berada di rumah sang ranker untuk menagih hutang. Seluruh keluarga sang ranker juga tampak baik-baik saja tanpa disakiti sedikit pun oleh Raging Fire.”
“Aku juga tidak yakin apa kalian akan percaya. Tetapi menurutku, ada afeksi yang Raging Fire sendiri berupaya tekan, tetapi tidak bisa dihindarinya terhadap mantan rankernya itu. Mungkin kalian tidak akan percaya, tetapi perasaan juga bisa tumbuh di diri mereka layaknya Healer dan Holy yang kusaksikan. Jadi mungkin kemunculannya karena hanya ingin memperingatkan sang ranker karena afeksinya itu.”
Sebagian forum tampak memperlihatkan ekspresi tidak percaya. Ada juga yang menatap Arjuna dan Dream dengan intens seolah-olah mengatakan, ‘Apa robot juga bisa punya perasaan?’ atau sejenisnya.
“Apapun itu, ini artinya penyimpangan memang terjadi khusus untuk Raging Fire karena afeksi tadi. Maka data itu bisa kita singkirkan dan dengan menggunakan data-data sisanya pada monster yang tingkat intelejensianya rendah, memang terlihat ada pergerakan di tempat munculnya pohon keabadian lima tahun silam tersebut. Kita harus segera memimpin tim ke sana untuk menyelidikinya.”
Kak Kaiser lantas mengemukakan pendapatnya yang tampak didukung oleh hampir semua anggota forum.