101 Avatars

101 Avatars
35. Terabaikan



Terlihat keanehan dalam wujud yang ditampakkan musuh berwajah Faridh di hadapan mereka itu.  Dalam bentuk manusianya, dia mampu mentransformasi hanya bagian tangan kanannya ke dalam wujud monster.  Hal itu membuat Kaiser semakin waspada padanya.


“Arjuna!  Tunggu apa lagi?!  Cepat lari!”  Kaiser pun berteriak panik pada partner yang ada di dekatnya itu.


“Eh?  Tapi apakah Kakak baik-baik saja dengan itu?  Uwah!  Mana Kakak saja tersisa 9 persen lagi.  Aku salut sama Kakak yang masih dapat berdiri dalam keadaan seperti itu.”  Dengan tingkah kekanak-kanakannya, Arjuna mengomentari keputusan Kaiser.


“Diamlah dan dengarkan saja perintahku!”  Nada suara Kaiser seketika berubah menjadi semakin dingin.


Hal itu sesaat membuat Arjuna merinding pada sosok rekan yang ada di sampingnya itu.  Diapun berujar, “Baiklah, aku paham.  Tapi ingat bahwa tubuh yang Kakak gunakan itu bukan hanya milik Kakak saja.  Jika terjadi sesuatu pada Kakak, tubuh Kak Bomber juga akan menerima dampaknya.  Jadi harap berhati-hatilah.”


Dengan demikian, Arjuna pergi meninggalkan lokasi pertarungan, menyisakan Kaiser dan Freeze di sana.


Melihat hal itu, Freeze kegirangan dengan sombongnya.  Dia berpikir Arjuna lari karena ketakutan padanya.  Namun sejatinya, dia dipaksa mundur oleh Kaiser sendiri.


“Heh, rekanmu kok melarikan diri?  Dia terlalu ketakutan kah berhadapan denganku?  Hahahaha.  Lucu sekali, dia meninggalkanmu dan kabur seorang diri.”  Dengan angkuhnya, Freeze berteriak kepada Kaiser seolah telah mengungguli pertarungan.


Tetapi itu sebenarnya tidaklah terlalu jauh dari kenyataan yang ada.  Mana Kaiser saat ini tersisa 9 persen.  Dia mutlak tak sanggup lagi mengeluarkan jurusnya selain jurus yang mengandalkan HP.  Berdiri saja sebenarnya adalah sudah merupakan hal yang luar biasa untuknya dalam keadaan seperti itu.


Idealnya, dibutuhkan minimal MP sebesar 10 persen untuk dapat menggerakkan tubuh dengan normal dan MP sebesar 20 persen untuk terjaga dalam kondisi pikiran yang waras.  Mungkin Kaiser masih bisa berdiri tegap saat ini karena tekad kuat yang dimiliki olehnya.  Ataukah bisa jadi itu semua hanya karena sejatinya dia adalah monster avatar sehingga akal sehat yang berlaku untuk manusia normal, tidak berlaku untuknya.


“Heh.”  Freeze tertawa.


Tidak lama kemudian, dia mulai menyerang dengan Needle of Ice-nya.  Kaiser menangkis setiap serangan itu dengan pedang Enigma di tangannya.  Tiap kali ada jarum es yang berhasil mengenainya, HP-nya turun dan terus turun.  Kaiser tampak telah berada di ambang batasnya.


Melihat Kaiser yang hanya terus bertahan tanpa balik menyaring, Freeze pun semakin yakin bahwa Kaiser telah berada pada batasnya.  Dia lantas bertansformasi penuh ke dalam wujud monsternya lalu maju seketika menerjang Kaiser dengan trisula es-nya.


Akan tetapi di luar dugaannya, Kaiser mampu menahan serangannya itu dan malah menggunakan ritme serangannya sendiri untuk balik menyerangnya.


Freeze pun terpukul mundur.  Hal itu lantas membuatnya marah yang seketika membuat cuaca di sekelilingnya menjadi sangat dingin walau terik matahari ala daerah tropis masih nampak saat itu.


Namun, di kala Kaiser tepat akan mencapai batasnya, avatar host itu pun datang secara tiba-tiba.


“Tidaaaaaaak!  Tidak boleh seperti iniiiiiii!  Bomber baru saja bertarung melawan Saber sementara Freeze dalam kondisi optimalnya.  Ini pertarungan yang tidak adiiiiiiil!”  Dengan imut, avatar host itupun bersuara.


Dialah Dream, avatar bernomor 100, avatar yang khusus dikendalikan oleh sistem semasa Hoho game yang dikhususkan sebagai pemandu acara sekaligus wasit pada pertarungan resmi para pemainnya.


“Freeze curaaaaaaang!  Tidak boleh seperti itu, menyergap pemain yang sedang kelelahan.  Oleh karena itu, dengan kekuatan mimpi, aku akan menghukummu.”  Ujar Dream tetap dengan gaya imut lebay khasnya.


Seketika Dream mengatakan kalimat tersebut, seluruh penampakan di area sekitar Kaiser dan Freeze serta-merta berubah.  Pemandangan yang awalnya berupa jalanan kampus, tiba-tiba berubah menjadi negeri dongeng yang dipenuhi bunga dan permen.  Jarak Kaiser dan Freeze yang semula tidak kurang dari 2 meter itu dalam sekejap terlihat menjauh.


Tentu saja itu semua hanyalah ilusi optik yang diciptakan oleh Dream.  Kaiser pada kenyataannya, tetap berada di dekat Freeze.  Namun, Freeze telah mutlak terjebak ke dalam ilusi optik Dream dan tak mampu melarikan diri dari sana.  Semakin dia berjalan jauh, semakin dia merasa putus asa karena tak dapat menemukan jalan keluar.


Dream hanya sedang berakting seakan-akan menjadi wasit yang adil terhadap pertarungan mereka untuk menyembunyikan hubungan kerjasamanya terhadap Healer.


Healer dalam wujud Kaiser itupun segera memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari sana.  Adapun untuk Freeze, begitu akhirnya dia menyerah mengejar Kaiser dan kembali ke wujud manusianya, dia pun terbebas dari ilusi optik Dream.


Namun begitu Freeze kembali ke akal sehatnya, Dream begitu pula ilusi optiknya bahkan juga termasuk sang mangsa, Kaiser, telah menghilang dari tempat tersebut.  Freeze pun tak dapat lagi menahan kekesalannya.


Dia rasanya ingin sekali menghabisi seluruh manusia yang dilihatnya kala itu, tetapi ditahannya demi tujuan yang lebih besar.  Karena ketimbang jeritan kematian orang-orang biasa yang sudah membuatnya bosan itu, keputusasaan Pahlawan Darah Merah dikhianati oleh umat manusia yang selama ini dilindunginya, lebih menggugah seleranya.


Dan keinginan itu pun sudah setengah jalan tercapai begitu dia berhasil menyelinap dan menguasai orang-orang penting di pemerintahan dengan mind control-nya lalu memanipulasi media demi memecah pendapat massa untuk menarik dukungan bagi orang-orang dalam menghujat Pahlawan Darah Merah.  Dia tak ingin menyia-nyiakan usahanya yang sudah berjalan setengah itu.


Sayangnya, Freeze tidak tahu bahwa Pahlawan Darah Merah sejatinya berasal dari jenisnya sendiri yang tak memiliki perasaan yang oleh karena itu, tak mungkin baginya merasakan keputusasaan seperti yang diharapkan Freeze.


Hari itu, pertarungan pun berakhir di mana kekalahan Kaiser berhasil dihindari berkat Dream.


***


Perasaanku hampa.  Aku tiba-tiba berada di tempat yang gelap.  Aku rasanya tercebur ke dalam laut yang dalam.  Namun anehnya, aku masih dapat bernafas.  Oh, rupanya ini hanya mimpi.


Aku pun samar-samar mendengar suara Kak Faridh di dalam mimpiku itu.


“Adrian, ingat untuk tidak pernah melarikan diri dari masalah, seberat apapun itu.  Jangan jadi anak yang cengeng.  Kamu harus selalu berani menatap masalah dan menyelesaikannya dengan kedua tanganmu sendiri.”


Tidak, daripada mimpi, ini seperti ingatan masa laluku yang kembali terbuka.  Nasihat Kak Faridh yang selalu bersemayam di kalbuku untuk tidak pernah menghindari masalah.


“Aaaaaakh!”  Aku pun terbangun dengan teriakan.


Hal itu lantas membuat Kak Syifa yang sedari tadi menjagaku di sebelah terkaget.


Aku lantas memegang kepalaku lantaran pusing.  Akhirnya, aku tersadar bahwa aku baru saja pingsan.  Kucoba-lah kuingat-ingat kembali apa yang telah kulakukan tepat sebelum pingsan.  Lalu aku pun mengingatnya.


Kuingat dengan jelas waktu itu Kak Kaiser di belakangku sembari menyuruhku untuk mundur, tetapi aku menolak.  Lalu tiba-tiba aku pingsan dan tahu-tahu sudah berada di markas.  Mungkinkah semua ini perbuatan Kak Kaiser yang sengaja menarikku mundur karena aku dinilainya terlalu lemah?


Kulihat, Kak Kaiser pun datang sembari membawakan Kak Syifa makan malamnya.  Tetapi melihat wajahnya itu, aku tak dapat lagi menahan kekesalanku.  Lalu untuk pertama kalinya, aku pun berteriak lantang kepada mentorku itu,


“Apa bagi Kak Kaiser, aku ini terlalu lemah?!  Apa aku sama sekali tidak berguna di pertarungan Kakak?!  Kakak tentunya sudah tahu bagaimana dendamku terhadap monster avatar Freeze sialan itu!  Tetapi kenapa Kakak justru membuatku pingsan dan menarikku mundur?!  Meski nyawa taruhannya, aku bersedia jika dengan itu aku bisa membalaskan dendam kakakku Faridh pada monster sialan itu!”


Ujarku dengan kasar kepada Kak Kaiser.  Namun, ketimbang marah, kulihat ekspresi sendu di wajahnya dan itu justru membuatku semakin merasa bersalah telah membentaknya sekasar itu.