101 Avatars

101 Avatars
25. Kaiser vs Raging Fire



Adrian termenung dengan wajah yang hampa.  Dirinya yang pergi bersama dengan Kaiser untuk mengecek sisa Instrumen Tujuh Dosa lainnya harus menyaksikan wajah penuh derita keenam korban di akhir hayat mereka.  Energi kehidupan mereka telah diekstraksi demi menciptakan serum keabadian.


“Kamu sudah berjuang dengan baik, Adrian.”  Ujar Kaiser berupaya menyemangati pemuda yang sedang rapuh itu.


Tetapi tampaknya, ucapan penyemangat itu tidak cukup berhasil menenangkan hati pemuda tersebut.  Wajar saja karena ini pertama kali bagi Adrian menyaksikan korban meregang nyawa tepat di hadapannya di kala sebenarnya dia mampu untuk menyelamatkan mereka jika saja dirinya berjuang lebih keras.


Dia pun beranggapan bahwa dirinya sama sekali tak ada perubahan walau dengan kekuatan Arjuna di tangannya.  Dia tetap lemah seperti dulu, seperti di saat dirinya justru bersembunyi di kala Avatar Freeze membunuh kakaknya, Faridh, tepat di hadapan matanya.


Kaiser pun menatap Adrian dengan ekspresi yang rumit bercampur simpati.  Walaupun wajahnya tersembunyi di balik helmetnya, perasaan Adrian yang galau tak mampu ditutupinya.  Namun, Kaiser sadar bahwa kata-kata penghibur lebih dari itu hanya akan berefek sebaliknya dan membuat Adrian justru tambah merasa bersalah.  Kaiser pun hanya menepuk kepala pemuda itu tanpa berkata apa-apa lagi.


Di saat itulah, dengan tanpa disangka-sangka, Raging Fire datang menyergap Kaiser yang masih dalam wujud Avatar Bomber-nya.  Namun, Kaiser telah berkali-kali mengalami sergapan seperti itu di lima tahun perjalanannya sebagai Avatar Bomber.  Serangan dadakan seperti itu, tidak ada apa-apanya baginya.


Dengan sigap, Kaiser menangkis serangan cakar api milik Raging Fire dengan tangan kanannya yang dilapisi metal kuat.  Akan tetapi, Kaiser kemudian menyaksikan ada avatar lain yang hendak menyerang Adrian dari belakang.


“Arjuna, awas!”  Kaiser pun berteriak sembari berlari hendak menyelamatkan Adrian.


Namun, tiba-tiba tubuh avatarnya yang berelemenkan logam itu tertarik oleh suatu kekuatan.  Dialah Magneton, avatar bernomor 12, dengan kekuatan magnetnya yang mampu menarik segala jenis logam yang bersifat paramagnetik dengan sangat kuat.


“Clang!”  Tubuh Kaiser tertempel dengan erat pada senjata milik Magneton tersebut.


Dan,


“Pyaaaar!”  Adrian pun terkena damage hebat dari serangan dadakan avatar tersebut.


Walaupun Adrian sempat mengaktifkan side avatar Hard-nya untuk melindungi tubuhnya dari serangan fisik, namun sayangnya hal itu tidak terlalu berguna.  Serangan fisik yang dilancarkan oleh avatar yang menyergapnya itu juga disertai dengan racun yang mematikan.  Racun itupun menembus meresap dari celah-celah berukuran nano dari balik dinding keras side avatar Hard.


Racun itu berhasil mengenai Adrian sehingga Adrian pun akhirnya terkulai lemas.  Melihat hal tersebut, Avatar yang menyerang Adrian itupun tertawa dengan puas.  Dialah Poison Merchant.


“Apa yang kalian lakukan pada juniorku?!”  Teriak Kaiser marah.


Dari dalam tubuh Avatar Bomber, tiba-tiba bersinar cahaya hijau yang secara ajaib membuat tubuhnya tersebut tidak dapat lagi ditarik oleh senjata magnetik milik Magneton.  Kaiser pun segera berlari menyelamatkan Adrian.


Kaiser kemudian hendak menebas Poison Merchant dengan Enigma-nya, namun segera ditahan oleh cakar api Raging Fire.  Melihat serangannya gagal, Kaiser bergegas mundur sembari menarik Adrian bersamanya karena sedari awal, tujuan Kaiser adalah memang untuk menyelamatkan Adrian.  Bagi Kaiser, keselamatan Adrian jauh lebih penting.


Ulir-ulir putih pun mengalir merasuk ke tubuh Adrian.  Sesaat kemudian, Adrian kembali pulih dari status teracunnya.


Kaiser lantas menatap tajam ke arah 3 musuh baru yang muncul di hadapannya itu.  Tidak, mereka adalah musuh lama yang sudah berkali-kali Kaiser hadapi selama bertahun-tahun ini.  Terutama yang berdiri di tengah di antara mereka bertiga, Raging Fire, adalah musuh paling bebuyutan bagi Kaiser karena dialah yang selama ini selalu menyelamatkan dan mengumpulkan para monster avatar yang hendak dibasmi oleh Kaiser.


Setidaknya, ada 11 monster avatar di bawah komandonya, tidak, dengan kematian Mantis, Volt, dan Metalia, kini tersisa 8.  Mereka adalah para monster avatar yang identitas manusianya telah ketahuan sehingga tidak punya pilihan lain selain berlindung kepada Raging Fire, salah satu monster avatar yang terkuat.


“Kau…tidak hanya Mantis, beraninya kau juga membunuh Volt dan Metalia!  Akan kubalaskan dendam kawan-kawanku yang telah kau bunuh.”  Teriak Raging Fire marah kepada Kaiser.


Namun, tanpa basa-basi, Kaiser melepaskan kedelapan serangan rudalnya sekaligus.  Raging Fire pun menangkis serangan itu demi melindungi Magneton dan Poison Merchant yang ada di sampingnya.


Raging Fire hendak menyerang balik, tetapi tubuhnya tiba-tiba bertambah panas sampai mencapai suhu 6000 K.  Dia pun kesakitan.


“Tuan Raging Fire!”


“Tuan Raging Fire!”


Kaiser dari jauh hanya menatap kejadian itu tanpa melakukan penyerangan sedikit pun.  Kaiser tahu bahaya apa yang akan terjadi jika Raging Fire diserang dalam kondisi seperti itu.


Monster itu akan memasuki keadaan berserknya dan kehilangan logikanya sehingga akan menyerang secara membabi-buta.  Lalu ketika kesadarannya tertelan habis oleh apinya sendiri, tubuhnya akan meledak yang akan menghancurkan seperenam wilayah Kota Jakarta beserta penduduknya dalam sekejap.


Di saat itulah, seorang avatar lain tiba-tiba muncul.  Dialah Holy.


“Tuan Raging Fire, mari kita pulang.”  Ucap Holy kepada Raging Fire.


Raging Fire pun menyetujui saran Holy dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut.  Namun sebelum pergi,  Raging Fire mengucapkan sesuatu kepada Kaiser.


“Pahlawan Darah Merah, kalau tak salah itu namamu kan?  Tunggu saja, dalam waktu dekat ini, aku akan membuat perhitungan padamu.  Akan kuhabisi kau demi membalaskan kematian saudara-saudaraku yang telah kau bunuh.”


Kaiser hanya mendengarkan ucapan itu tanpa memberikan tanggapan apa-apa.  Sesaat kemudian, keempat monster itupun menghilang melalui warp gate yang dibentuk oleh kekuatan spesial Holy.


***


Setelah sampai ke markas dan berubah kembali ke bentuk manusia mereka, Holy segera membawa Raging Fire ke kamarnya untuk beristirahat.  Begitu keluar kembali dari kamar Raging Fire, Poison Merchant dengan sigap mencegat Holy.


Sembari memegang lengan Holy dengan cukup kencang dan keras, Poison Merchant pun bertanya, “Holy, mengapa kamu justru melukai sesama kita dan membela manusia itu?”


“Apa maksud Anda, Tuan Poison Merchant?”  Tanya Holy sembari berbalik ke belakang menatap pria dewasa seksi namun tampak sangat berkelas itu.


“Jangan pura-pura bodoh!  Aku melihat sendiri kau menyerang Fog sewaktu bertarung melawan manusia biru itu.  Padahal bisa saja waktu itu Fog mengalahkan rekan Pahlawan Darah Merah itu sehingga beban Tuan Raging Fire akan sedikit berkurang.”  Ujar kembali Poison Merchant dengan nada yang amat kesal.


“Oh, itu rupanya.  Tentu saja segala tindakanku hanyalah untuk Tuan Raging Fire.  Ketimbang manusia lemah itu, keberadaan Fog lebih berbahaya bagi Tuan Raging Fire.  Tidakkah Anda tahu apa yang dia lakukan di belakang kalian?”


Poison Merchant hanya terdiam sembari menatap Holy dengan penasaran menanti apa yang monster avatar dalam wujud gadis muda cantik itu akan katakan.


Holy pun tiba-tiba berekspresi datar sembari menegangkan urat-urat pelipisnya.  Dia pun berkata, “Wanita itu telah menipu Volt dan Metalia demi kepentingan kelompoknya sendiri.  Sedari awal dia tidak lagi menganggap kita sebagai bagian dari mereka, jadi buat apa kita harus menganggap dia sebagai bagian dari kita?  Terlebih, dia menipu Volt dan Metalia demi menciptakan suatu formula yang dapat membahayakan tujuan Tuan Raging Fire.”


“Formula?”  Tanya Poison Merchant penasaran akan perkataan Holy.


“Serum Keabadian yang mampu menggagalkan rencana Tuan Raging Fire membawa umat manusia bersama ke dalam kehancuran melalui Butterfly Effect Tolakan Gaia.”  Jawab Holy.


***


Di ruangan itu, tampak seorang pria di usia enam puluhan-nya yang berpakaian serba-putih terduduk di meja kerjanya sembari disibukkan dengan berbagai dokumen.  Tiba-tiba, suara langkah sepatu high heels terdengar menggema di ruangan itu.  Sesosok wanita muda cantik pun tiba lantas menundukkan kepalanya memberi salam kepada pria tua itu.


“Serum Keabadian berhasil didapatkan, Tuan Freeze.”  Ujar wanita muda cantik itu yang tidak lain adalah Fog.


“Baguslah.  Kerja bagus, Fog.  Selanjutnya, serahkan padaku untuk melaporkannya kepada Tuan kita.”


Namun, yang menjawab wanita itu bukanlah sang pria tua melainkan sesosok pria muda yang keluar dari balik bayangannya.  Begitu pemuda itu keluar, sang pria tua serta-merta kehilangan tanda-tanda kehidupan di matanya sambil tetap disibukkan dengan dokumen di atas mejanya dengan pandangan yang kosong.


Pria muda tampan yang tampak mirip Adrian itu lantas mengambil sesuatu yang disebut sebagai Serum Keabadian dari tangan sang wanita muda cantik.  Dialah Faridh, kakak Adrian, tidak, itu salah.  Dia adalah avatar bernomor seri 1, Avatar Freeze, yang telah membunuh Faridh lantas memimik wajahnya lima tahun silam.