Di ruangan itu, Kaiser menaruh gelang perubah Bomber tersebut di atas sebuah meja seraya menatapnya dengan intens. Sesaat kemudian, sosok mini seorang wanita cantik pun keluar dari dalam gelang. Dialah Bomber yang berwujud Andina.
“Kembalilah ke wujud aslimu! Aku muak melihatmu terus-terusan menggunakan wujud Andina seperti itu.” Dengan ucapan yang terlihat tenang, namun dipenuhi dengan amarah di tiap intonasinya, Kaiser pun berujar kepada sosok Bomber berwujud Andina di hadapannya itu.
“Maaf, Kaiser. Kalau itu, aku tidak bisa.” Bomber pun menjawab.
“Sebegitu inginnya kah kamu menggantikan sosok Andina layaknya si palsu itu ingin menggantikan keberadaanku?!” Kaiser tidak dapat lagi menahan emosinya di hadapan sosok yang telah menghilangkan nyawa orang terkasihnya itu lantas berteriak dengan lantang setelah mendengar jawaban darinya.
“Kamu salah paham, Kaiser. Aku tidak bisa bukannya karena tidak mau. Itu… begitu… jadi…”
“Katakan dengan jelas biar aku paham!”
Bomber tergagap untuk menjawab. Hal itu lantas semakin menaikkan gear amarah Kaiser.
“Kami tidak bisa kembali ke wujud monster kami karena telah disegel oleh gelang perubah.” Bomber akhirnya menjawab pertanyaan kasar Kaiser tersebut.
Mendengar jawaban Bomber tersebut, Kaiser terdiam karena tersentak terkejut untuk sesaat. Di sela-sela itu, Andina melanjutkan, “Juga Healer sama sekali tidak pernah bermaksud seperti yang kamu pikirkan. Dia itu lebih polos dari yang kamu kira…”
“Cih! Sial!” Belum sempat Bomber menyelesaikan ucapannya, Kaiser memotongnya dengan decakan lidahnya itu yang tanpa dia sadari mampu terdengar oleh Bomber.
“Kaiser, kamu mengumpat? Ini hal yang tidak biasa soalnya aku sama sekali tidak pernah menyaksikan Healer mengumpat.”
“Sudah kubilang jangan samakan aku dengan si palsu itu!”
Amarah Kaiser semakin menjadi-jadi begitu Bomber tanpa sadar menyinggung perasaan halusnya itu dengan menyama-nyamakannya dengan sosok Healer tersebut seolah teka-teki untuk mencari perbedaan di antara saudara kembar.
Masihlah mending jika mereka hanya dianggap sebagai saudara kembar. Nyatanya, keberadaan Healer bagai doppelganger bagi Kaiser yang jika bukan sosok itu yang menghilang, dirinya-lah yang akan menghilang menggantikannya. Oleh karena itu, Kaiser merasa tak tahan disama-samakan dengan si palsu itu.
“Maaf, Kaiser. Aku tidak sengaja keceplosan kalimat yang tak seharusnya.” Bomber pun meminta maaf.
“Cih! Sudahlah! Percuma juga marah-marah sekarang. Saat ini, bukankah sudah saatnya kau mengungkapnya kan, Bomber?”
“Apa yang…”
“Cih! Kejadian lima tahun silam. Walau aku merasa hal itu baru terjadi kemarin karena pasca kejadian itu aku koma, ada beberapa bagian yang tidak kuingat dengan jelas. Aku hanya mengingat kamu yang mengamuk dan membunuh Andina, lantas Healer datang, lalu aku pun pingsan. Aku butuh penjelasan detailnya tentang apa yang terjadi malam itu.”
Mendengar pertanyaan Kaiser itu, Bomber pun mulai menceritakan segala seluk-beluk kejadian mulai dari kemunculan para monster avatar ke dunia nyata karena ditarik oleh sesuatu kekuatan misterius, dirinya yang kehilangan kontrol hingga membunuh Andina, pertemuannya dengan Healer, sampai pada akhirnya mereka menyusun rencana ini.
Semuanya untuk mengalahkan Mr. X yang menjadi dalang dari semua kejadian tersebut.
“Itu benar, Kaiser. Jadi aku harap kamu bersedia membantu kami karena kini hanya kamulah yang dapat menggunakan Avatar Bomber.” Dengan harap-harap cemas, Bomber mencoba membujuk Kaiser.
“Bukankah aku sudah janji akan melakukannya? Aku bukan orang yang ingkar janji.”
Setelah mendengar jawaban dari Kaiser tersebut, akhirnya Bomber dalam wujud Andina itu pun tersenyum lega. Namun kemudian, Bomber tiba-tiba saja menatap Kaiser secara intens dengan penuh arti.
Melihat tatapan yang bagai akan melubangi wajahnya itu, Kaiser agak kesal lantas bertanya kepada Bomber, “Ada apa kamu menatapku seperti itu? Jika ada yang ingin kamu katakan, cepat katakan!"
Tampak Bomber agak ragu mengeluarkan unek-uneknya itu untuk sesaat. Tetapi pada akhirnya, dia memilih untuk mengutarakannya, “Ini terkait pernyataan Adrian sebelumnya. Sebagai avatar yang terhubung dengan fisikmu, aku bisa menangkap sedikit kebenaran dari perkataan Adrian barusan. Itu…”
Belum selesai Bomber mengutarakan kalimatnya, sekali lagi Kaiser mendecakkan lidahnya.
“Cih! Apa yang diucapkan Dik Adrian ya? Dia tidak salah, juga tidaklah benar. Tidak diragukan lagi, aku sedang dalam keadaan frustasi sekarang. Mana mungkin tidak setelah aku mengetahui kematian Andina. Tidak hanya Kakek, Ayah, Ibu, bahkan kini, orang terkasihku, Andina, juga harus mati dengan cara dibunuh.”
Kaiser terdiam sejenak. Dia menyatukan kedua telapak tangannya serta memasukkan jari-jemarinya di celah-celah jari-jemari pada tangan yang lainnya. Dia menggerak-gerakkan tangannya sedemikian rupa dengan tetap terhubung yang disatukan oleh jari-jari yang merapat sehingga dapat terdengarkan dengan jelas suara pelatukan tulang-tulang jemarinya itu.
Kaiser pun menyeret kursi plastik terdekat lantas mendudukinya dengan posisi terbalik di mana dia menyandarkan depan badannya pada sandaran kursi lantas memposisikan tangannya itu kembali seperti semula.
Akhirnya setelah jeda beberapa saat itu, dia kembali berujar, “Sejak kematian Kakek, aku belajar sesuatu. Jika kita terlarut dalam kesedihan, hanya diri kitalah yang tersakiti. Kita tidak akan bersedih selama otak kita tidak merespon syaraf sensorik yang menyadari kesedihan kita. Oleh karena itu, cukup bersedih sesaat dan setelah itu jangan dipikirkan. Selama tidak dipikirkan, otak kita takkan meresponnya, dan kita pun tidak perlu bersedih karenanya. Cukup simpel kan?”
“Kamu, apa memang bisa semudah itu?”
“Tentu saja akan sulit di awal-awal. Tetapi kematian Kakek, Ayah, Ibu, dan kini Andina, membuatku telah terbiasa dengan itu semua. Di sinilah poin Adrian yang benar sekaligus juga dia salah. Dia benar menangkap bahwa aku dalam keadaan tenang. Tetapi itu bukanlah karena aku tidak memikirkan kematian Andina. Aku hanya mencegah otakku merespon rasa sedihku saja. Dan aku sudah terbiasa dengan itu.”
“Kau kan manusia? Apa tidak apa-apa seperti itu?”
“Apa yang monster sepertimu tahu? Selama kita tenang, maka segala masalah yang kita hadapi, dapat kita atasi dengan jalan yang terbaik. Bukankah seperti itu? Aku pada akhirnya bisa mengambil keputusan bekerjasama denganmu yang merupakan pembunuh tunanganku, Andina, setelah beberapa saat tersadar, karena aku menerapkan logika lebih daripada perasaanku.”
Sebelum lanjut berucap, Kaiser mengalihkan pandangannya menunduk ke arah lain dari tempat Bomber berwujud Andina berada.
Kaiser lantas mengatakan, “Justru aku malu karena sempat mengamuk begitu masih kurang stabil pasca tersadar dari koma. Ah, sampai butuh waktu 6 hari bagi aku untuk menata kembali perasaanku. Dan di kala aku rasa sudah siap berucap, aku justru mengacaukannya setelah melihat sosokmu. Aku sungguh memalukan barusan.”
Kaiser tampak mengucapkannya sambil tertawa. Bomber pun mengira bahwa saat itu, Kaiser baik-baik saja sampai dia melihat tetesan-tetesan air tampak terjatuh dari wajahnya. Itu bukanlah keringat. Rupanya, itu adalah air mata dari sosok pemuda itu yang sekuat tenaga membunuh perasaannya agar tak tersakiti.
Sementara itu di luar, Adrian telah mengintip semuanya dari balik pintu dengan inderanya yang tajam. Dia memutuskan untuk tidak dapat turut masuk lagi ke kamar itu untuk beristirahat dengan suasana yang canggung tersebut. Kaiser saat ini betul-betul perlu diberikan ruang untuk menyendiri sesaat.
Adrian pun malam itu, memutuskan untuk tidur di luar.