101 Avatars

101 Avatars
94. Selamat Tinggal, Holy!



Singer Nana dan Violar memutuskan untuk mendukung perjuangan Healer setelah menyaksikan bagaimana Healer mengorbankan dirinya demi menggapai tujuannya tersebut, tidak hanya demi keselamatan umat manusia, tetapi juga demi masa depan kaumnya yang tak memiliki tempat di dunia ini.


Mereka berdua lantas memintaku untuk menghabisi nyawa mereka sendiri untuk itu.  Lantas bagaimana dengan perasaanku?  Apakah tidak ada yang mempertimbangkan bagaimana perasaanku?  Aku bukanlah seseorang bersosok dingin yang tega mengayunkan pedang begitu saja kepada lawan yang dengan senang hati membuang nyawanya.


Setidaknya mereka bisa berpura-pura melawanku sedikit lantas menyerah di tengah-tengah pertarungan untuk tertebas dengan pedangku.  Tidak, itu salah.  Sudah kuduga, aku memang bukan sosok pahlawan sejati layaknya Healer.


“Kalian benar-benar tidak apa-apa kan dengan ini semua?”  Tanyaku untuk yang terakhir kalinya, mengonfirmasi kebulatan tekad mereka.


“Ya, kami siap!  Demi perjuangan saudara kami, Healer, dan juga demi seluruh makhluk hidup di muka bumi yang telah memberikan kami kenangan indah, kami akan mengorbankan nyawa kami.”


“Kematian Robert bahkan sampai saat ini masih menghantuiku, apalagi jika keberadaanku sampai menyeret seluruh makhluk hidup yang ada di muka bumi ini ke dalam kehancuran bencana gaia bersama kami, kewarasanku pasti akan runtuh.”


Singer Nana dan Violar pun tampak menjawab tanpa keraguan sedikit pun.


Aku kemudian mensummon pedang Crusader-ku.  Namun, aku tak dapat menghentikan tangan ini gemetar.


“Lakukanlah, manusia!  Jangan gentar!  Kebaikanmu yang mengasihani mereka justru yang akan membuat mereka bertambah sengsara.”  Carnaval tiba-tiba datang lengkap dengan peralatan pistol aneh penghisap debu-debu data itu sembari berujar padaku.


Perkataannya benar.  Aku tidak boleh ragu.  Demi Kak Syifa, Nafisah, kedua orang tuaku yang entah di mana dan bagaimana keberadaan mereka sekarang, dan untuk seluruh makhluk hidup di muka bumi ini, aku harus kuat.


Aku pun mengangkat tinggi-tinggi pedang Crusader-ku, lantas dengan segenap jiwa dan raga, aku menebas Singer Nana dan Violar yang tanpa perlawanan secara bersamaan.  Tampak mereka begitu tenang menerima tebasanku itu.  Mereka pun musnah dalam senyum puas di wajah mereka.


Di saat itulah Kak Kaiser datang yang entah mengapa masih dalam wujud manusia-nya.  Kulihat dia tersenyum ramah padaku sembari memberikanku dukungan.  Aku pun membalas ucapannya itu dengan ucapan terima kasih yang singkat lantas segera hendak meninggalkan tempat tersebut.


Namun, Kak Kaiser tiba-tiba mencegatku.


“Yah, jangan begitu dong, Adrian.  Kenapa kamu hendak pergi buru-buru begitu?  Kenapa tidak santai sejenak? Lagipula dua lagi monster avatar bisa kita kalahkan.  Mari ikut denganku sejenak untuk berlibur.”  Ujar sosok itu dengan ramah padaku.


Ingin rasanya aku berkata padanya agar jangan sok-sokan dekat denganku karena aku risih terhadapnya, namun kutahan demi menjaga karismaku.  Lagipula, apa-apaan maksudnya dengan monster avatar dikalahkan oleh ‘kita’?  Hanya akulah seorang yang mengorbankan rasa bersalahku mengeliminasi monster avatar yang telah menyerah itu.  Sosok bernama Kaiser itu sama sekali tidak ikut membantu.


“Mana bisa aku tenang.  Tiga puluh lima hari lagi, jika kita tidak segera menyingkirkan para monster avatar yang tersisa, dunia ini akan hancur.”  Jawabku dengan frustasi kepada sosok yang begitu santai itu.


Tetapi dengan ngototnya, dia tetap menarikku.  Aku pun terpaksa menuruti keinginannya untuk pergi ke suatu tempat tersebut.


***


Tanpa diketahui oleh Adrian, Holy sejak lama telah berdiri di belakangnya, menyaksikannya mengobrol dengan Kaiser.


“Kaiser, Adrian, kuserahkan masalah Xavier pada kalian.  Soalnya, ada yang harus kulakukan.”  Dengan tatapan yang serius dari arah belakang mereka berdua tanpa diketahui baik oleh Adrian maupun oleh Kaiser tersebut, Holy meneruskan tekadnya itu kepada mereka berdua.


Dengan pandangan yang penuh amarah, Holy pun turut meninggalkan tempat tersebut.


“Ketemu kau, makhluk terkutuk.”  Ujar Holy dengan penuh amarah.  Di sisinya tampak salah satu drone milik Mr. Aili.


***


Dalam lautan yang penuh kabut itu, Selantri, tidak, Fog, tertawa sejadi-jadinya di atas sebuah kapal.  Tampak bahwa seluruh penumpang kapal tersebut telah tewas meleleh dengan menjijikkan oleh suatu cairan asam yang entah mengapa tidak ikut melelehkan kapal yang terbuat dari logam tersebut.


Namun sejenak kemudian, aroma pohon pinus memenuhi area tersebut.  Sebuah portal hitam yang berbeda dengan portal hitam pekat milik Void pun terbuka.  Dari portal tersebut, keluarlah sesosok monster berwarna hitam legam yang walaupun tubuhnya sangatlah kumal bagai dinding putih yang terus-terusan disirami air comberan pekat, dia tampak elegan.  Dialah avatar bernomor seri 9, Avatar Holy.


Melihat sosok tersebut, Fog serta-merta gemetaran.  Dia pun segera berubah wujud dan lari memanfaatkan kabutnya yang mengentalkan permukaan laut hingga dapat menahan beban berat tubuhnya untuk berlari di atasnya.  Akan tetapi, Holy segera mengisap seluruh kabut-kabut itu hingga tak bersisa sedikit pun.


Tersisa-lah Fog di tempat itu yang gagal kabur.  Dia menatap Holy dengan marah karena menyerangnya di saat dirinya masih terluka.  Namun secara tiba-tiba,


“Ukh.”


Holy mengeluarkan darah hitam lewat mulutnya.  Tampaknya, tidak hanya Fog, Holy pun telah mencapai batasnya karena terlalu banyak mengisap racun tanpa keberadaan Healer di sisinya yang dapat menetralkan racun-racun tersebut.


“Hahahahaha.  Rupanya kau juga sudah sekarat, bahkan lebih parah dariku.  Baiklah, akan kuhabisi kau di tempat ini, Holy, dan membuktikan bahwa avatar bernomor belasan, juga mampu mengalahkan avatar single number!”


Fog seketika berteriak lantang menantang Holy yang sekarat begitu menyadari bahwa musuhnya itu justru lebih sekarat dari dirinya.


Namun, tanpa menanggapi provokasi Fog, Holy segera mengeluarkan ulir-ulirnya untuk menyerang Fog.  Fog pun mengeluarkan kabutnya untuk melelehkan ulir-ulir tersebut, namun rupanya durabilitas ulir-ulir Holy sangatlah tinggi sehingga tak sanggup dilelehkan oleh kabut Fog.


Dalam waktu singkat, Fog pun terjerat oleh ulir-ulir Holy.  Semakin dia melawan, semakin kuat ulir-ulir itu menjeratnya.  Semakin lama, semakin kuat dan kuat hingga tampak wajah penderitaan Fog yang teramat sangat.


“Rasakan balas dendamku buat kakakku Healer dan juga Poison Merchant yang telah kamu bunuh itu.  Matilah kau, dasar terkutuk!”


“Krak, krek, krak!”  Terdengar suara patahan sana-sini ketika tubuh berwujud monster itu dilipat-lipat dan diremas-remas sedemikian rupa bagai mobil bekas di tempat daur ulang hingga pada akhirnya, makhluk itu pun tewas dan berubah menjadi serpihan-serpihan debu data.


Sesaat, terlihat kemenangan bagi Holy.  Akan tetapi,


“Ukh.”


Sekali lagi darah hitam legam karena pengaruh racun dimuntahkan oleh Holy.  Dia terduduk karena tak lagi menahan rasa pusing di kepalanya.  Dia men-unsummon wujud monsternya dan kembali ke wujud Jessica itu.  Dia memegangi dadanya dengan begitu tampak kesakitan.


“Jadi beginilah akhirku.  Aku tampaknya sudah tak dapat bertahan lagi.”  Ujar Holy seraya menatap tangan kanannya yang ternyata sesuai dengan prediksinya barusan itu.  Tangan itu secara perlahan terdegradasi dan berubah menjadi butiran-butiran debu data.


“Tak, tak, tak.”  Suara langkah tiba-tiba terdengar dari arah depannya.  Rupanya, sosok itu adalah Dream.


“Kamu sudah datang rupanya.  Selanjutnya, aku serahkan sisanya pada kalian. Kembalikan tatanan dunia yang tidak normal ini kembali seperti semula sesuai harapan Kak Healer.”


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Holy pun hilang turut berubah menjadi butiran-butiran debu data.


Dream pun sambil meneteskan air mata, menjawab kesungguhan ucapan Holy tersebut, “Ya, serahkan sisanya pada kami.  Beristirahatlah dengan tenang, Holy.”


Dream pun mengeluarkan pistol anehnya lantas mengisap sisa-sisa serpihan baik yang berasal dari tubuh Holy, maupun dari tubuh Fog tersebut.