Kaiser hanya bisa terpaku menyaksikan Adrian jaket putih yang wajahnya penuh retak.
“Awas, Kak.” Teriakan lantang Adrian bertudung hitam lantas menyadarkannya dan segera menghindar sebelum Adrian jekat putih hendak menyerangnya, tidak, sejatinya dia adalah monster labirin ini yang mengambil bentuk Adrian.
“Dor dor dor dor dor dor.” Suara hantaman peluru dari Adrian sedikit demi sedikit membuat sang monster yang menyerupai wajahnya retak hingga pada akhirnya lenyap tak bersisa.
“Kak Kaiser, kamu tidak apa-apa?” Ujar Adrian tampak mengkhawatirkan Kaiser.
“Aku tidak apa-apa.” Jawabnya masih dengan nafas terengah-engah. Nampaknya, Kaiser masih shok akan keberadaan Adrian palsu itu.
“Tidak usah pedulikan keadaanku, yang lebih penting, yang tadi itu apa?” Tanya Kaiser penasaran kepada Adrian.
“Tampaknya mereka adalah monster yang mengambil bentuk dari mana negatif yang dihasilkan oleh seseorang. Untunglah kekuatan supranatural Kakak belum terlalu kuat sehingga monster yang dihasilkannya pun cukup lemah. Lebih daripada itu, kenakan ini dulu Kak. Jangan biarkan wajah Kakak terekspos ke cermin supaya monsternya tidak akan bangkit.”
Ujar Adrian menjelaskan seraya menyerahkan sebuah pakaian bertudung berwarna hitam kepada Kaiser. Kaiser pun lantas segera memakainya.
“Lebih daripada itu, aku khawatir dengan yang lain karena mereka memiliki kekuatan supranatural yang lebih kuat dari kita. Kemungkinan monster yang tersummon di cermin pun akan lebih kuat dan lebih banyak dari kita.” Adrian menambahkan dengan tampak khawatir.
“Eh, memangnya monster yang tersummon oleh kamu lebih dari satu?” Tanya balik Kaiser sembari membenarkan posisi tudung pakaiannya.
“Ya, aku sejauh ini ada sebelas.”
“Kok banyak sekali?”
“Itu karena kekuatan supranatural-ku sudah jauh lebih besar daripada Kakak.”
Adrian terdiam sejenak dengan ekspresi sendu di wajahnya. Sesaat kemudian, dia pun berujar, “Kuharap Paman Dios dan yang lainnya baik-baik saja.”
Kaiser pun menepuk pundak Adrian seraya berkata, “Kuyakin mereka akan baik-baik saja.”
Ujar Kaiser seraya tersenyum lembut. Namun sesaat kemudian, ekspresinya berubah. Dia tampak was-was dengan Adrian.
“Ngomong-ngomong, Adrian, darimana aku bisa yakin kalau Adrian yang kali ini berdiri di hadapanku ini adalah yang asli?”
Adrian menghela nafasnya pelan atas ujaran Kaiser tersebut. Dia pun berkata, “Ya ampun, Kak. Coba pegang pipi aku.” Ujarnya seraya meraih tangan Kaiser lantas ditariknya agar menyentuh pipinya.
“Bagaimana? Lembut dan kenyal kan? Itu berarti aku ini yang asli karena yang palsu itu walau tampakannya seperti manusia, tetapi kulitnya tetaplah sekeras batu.”
“Itu kan berdasarkan perkataanmu. Darimana aku bisa tahu bahwa itu benar?” Kaiser tampak masih was-was.
“Ya ampun, Kak. Kalau begitu, Kakak silakan was-was saja dengan menjaga jarak dariku. Tapi pastikan jangan terlalu jauh agar kita tak lagi terpisah. Sekarang, ayo kita cari yang lain.” Seraya mengatakan itu, mereka pun melanjutkan kembali perjalanan mereka.
“Ngomong-ngomong, Kak. Apa Kakak bisa menggunakan elemen air seperti Paman Shou atau hawa dingin seperti Paman Dios?” Adrian tiba-tiba bertanya kembali kepada Kaiser.
“Kalau hanya sekadar merambati dinding-dinding yang penuh cermin ini dengan air, kurasa aku bisa.” Jawab Kaiser, namun dengan tampak ragu.
“Baguslah, tolong lakukan, Kak. Mungkin dengan itu, kita bisa menemukan kelima yang lainnya dengan lebih cepat.”
Seraya menjawab, Kaiser pun mulai mengalirkan mana-nya untuk mengondensasikan uap air sekitar menjadi air lantas mengedarkannya di sekitar permukaan dinding yang penuh dengan cermin tersebut. Beberapa saat kemudian, giliran Adrian yang mengaktifkan mananya untuk menghubungkan indera pendengarannya terhadap dinding.
“Plup.” Adrian pun menemukan reaksi.
“Ketemu. Ayo, Kak Kaiser. Cepat ikuti aku. Aku sudah menemukan salah satu lagi dari kelompok kita.” Teriak Adrian pada Kaiser.
Adrian dan Kaiser pun lantas berlari menuju ke sumber reaksi tersebut. Didapatinya-lah Arskad, namun kondisinya sudah tidak baik lagi. Sesuatu menariknya masuk ke dalam cermin dan sebentar lagi akan sepenuhnya tenggelam ke dalam cermin.
Sebelum itu terjadi, Adrian berlari ke arahnya lantas memecahkan cermin yang mencoba menelan Arskad. Seketika cermin pecah, Arskad terbebas dari tarikan dan keluar seutuhnya dari cermin. Beberapa saat kemudian, Arskad pun tersadar.
“Ada apa ini?” Tanya Arskad yang masih linglung dengan apa yang sedang terjadi.
“Kak Arskad hampir saja ditarik masuk ke dalam cermin. Untung saja Adrian segera menarik Kakak keluar.” Ujar Kaiser memberi jawaban.
“Begitukah?” Arskad yang masih belum sepenuhnya memperoleh kesadarannya lantas memegangi kepalanya yang pusing.
“Tampaknya kita bertiga belum bisa bernafas lega perihal keempat lainnya sudah terlanjur tertelan cermin duluan.” Adrian pun memecah suasana itu sambil mengamati sesuatu berupa empat buah cermin pada posisi mendatar berjejer yang ada di hadapannya.
Kaiser dan Arskad turut menyaksikannya. Berturut-turut terbaring di dalam cermin ada Arthur, Sandra, Shou, dan Dios, para kakek dan nenek yang baru saja memperoleh wujud mudanya kembali setelah memasuki dunia virtual.
Arskad maju melangkah.
“Sungguh keberuntungan bahwa aku yang diselamatkan oleh Adrian. Karena jika tidak, ini akan gawat, soalnya keempat yang lainnya tidak punya kekuatan ini.” Ujar Arskad.
Seraya Arskad mengatakan itu, Adrian dan Kaiser menatapnya dengan ekspresi sedikit bertanya-tanya. Lalu sesaat kemudian, tali putih panjang yang terbuat dari berkas sinar keluar dari tangan Arskad lantas melingkupi seluruh bagian cermin.
Cermin pun terurai menjadi berkas cahaya lantas keempat orang itupun terbebas dan berhasil terselamatkan. Tidak butuh waktu lama bagi keempatnya untuk tersadar.
“Kak Arksad, bisakah Kakak membuat pakaian ajaib dengan kekuatan Kakak untuk menutupi wajah semua orang? Cermin dengan cepat beregenerasi dan jika sudah pulih seutuhnya, monster akan segera tere-spawn dalam waktu singkat, terima kasih pada kekuatan spiritual kita berenam kecuali Kak Kaiser yang tinggi. Namun, tampaknya cermin-cermin itu baru bisa menyerap mana negatif setelah melihat wajah kita. Menutupinya adalah cara terefektif untuk mencegahnya.”
“Baiklah, aku mengerti, Adrian.” Arskad pun menjawab dan segera mengeksekusi perintah Adrian tersebut.
Semuanya dengan cepat mengikuti alur yang terjadi ketika mereka sadar, kecuali Paman Shou yang butuh tenaga ekstra untuk menjelaskannya.
Dengan wajah mereka bertujuh yang tertutupi sempurna, mereka melanjutkan perjalanan dengan dibimbing oleh peta yang dibawa oleh Adrian. Setelah berjalan sekitar 2 jam, mereka akhirnya menemukan ujung labirin.
Dengan perasaan senang yang bercampur-aduk, mereka pun tidak sabar lagi untuk segera keluar dari labirin. Namun, apa yang menanti mereka setelah keluar dari labirin itu, adalah justru quest yang baru buat mereka.
Adrian tersadar. Setelah tersadar, tahu-tahu dia sudah berada di tempat yang asing baginya. Keenam teman seperjalanannya itu lagi-lagi menghilang dari sisinya. Dia begitu heran menyaksikan orang di sekelilingnya mengenakan pakaian abad pertengahan persis pada saat berhadapan dengan slime ilusi sebelumnya. Namun kali ini agak berbeda sebab pakaian yang dikenakan oleh orang-orang itu terlihat lebih glamour.
Tampak di hadapannya dua orang wanita yang bercadar transparan yang bagian perutnya terekspos menyajikan buah-buahan dan minuman kepada seorang pria muda yang ada di hadapannya.
“Adr.. Adri… Hei, Adrian! Kamu dengar nggak sih dari tadi aku memanggilmu. Mengapa kamu malah bengong.” Teriakan pria muda yang sama sekali tak dikenalnya itu lantas membuyarkan lamunan Adrian tersebut.
Apa yang tambah membuatnya heran adalah setelah dia melirik ke bawah tubuhnya, rupanya dia juga turut mengenakan pakaian abad pertengahan itu. Apa yang membuatnya tak nyaman adalah bagian perutnya yang terekspos, terlebih, tampaknya Adrian tidak mengenakan underwear dari balik celananya yang longgar itu.