Pasca kekalahanku yang memalukan dari Healer itu, aku kembali ke markas dengan memar-memar yang hampir memenuhi seluruh tubuhku. Sebelumnya, aku tidak merasakan sakitnya sewaktu aku menggunakan tubuh avatarku perihal resistensi sakit dari suatu tubuh avatar.
Namun ketika kukembali pada tubuh manusiaku dan segala luka yang diterima pasca pertarungan yang diderita tubuh avatarku dialihkan ke tubuh manusia tersebut, rasa sakit itu seketika menjelma menjadi tak tertahankan oleh tubuh fisik manusiaku yang lemah.
“Aaaaaikh.” Desahku berupaya menahan sakit.
“Ah, Adrian? Kamu kenapa?! Apakah kamu terluka? Ayo segera ke ruang perawatan, aku akan segera mengobatimu.”
Mr. Aili yang menyadari aku merintih kesakitan serta-merta terlihat panik dalam ekspresinya di layar komputer besar lantas segera menyuruh aku untuk segera berobat.
“Hahahaha. Maaf ya, Mr. Aili. Aku masih terlalu lemah sehingga kalah dari monster avatar.” Aku pun tertawa kecil yang sebenarnya bermaksud menertawai diriku sendiri yang lemah sehingga dipermalukan oleh Healer.
“Apa yang kamu katakan, Adrian?! Menurutku, kamu sudah cukup hebat bertahan menghadapi monster avatar Healer itu. Bagaimana pun, dia adalah single number, sementara kamu baru saja bergabung bersama kami dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan.”
Kulihat Mr. Aili berupaya menyemangatiku. Aku turut senang mendengar kata-kata penyemangat itu dari Mr. Aili. Untuk ukuran seorang AI, Mr. Aili benar-benar tampak seperti seorang manusia.
Kudengar Mr. Aili berbicara lagi dengan mengumpat, “Dasar, para monster avatar itu! Sampai kapan pun aku tak akan pernah tenang sampai mereka semua dikalahkan!”
Mendengar hal itu, aku pun jadi penasaran dan bertanya, “Mengapa kamu sangat membenci monster avatar, Mr. Aili? Apakah itu karena mereka yang telah membunuh penciptamu, Profesor Indro Nuryono sehingga kamu dendam pada mereka? Tetapi kalau dipikir-pikir, kamu bisa diaktifkan seperti ini karena Profesor Indro Nuryono meninggal. Jika tidak terjadi serangan avatar, kamu hanya akan tertidur selamanya.”
“Dasar bodoh! AI mana mungkin memiliki konsep benci ataupun dendam seperti itu. Yah, kalau diidentikkan dengan manusia, mungkin itu bisa diibaratkan rasa benci pecinta keadilan terhadap para penjahat yang mengganggu ketertiban dunia. Para monster avatar yang tidak sesuai dengan konsep dunia, tiba-tiba saja muncul dan direspon oleh sistem imunku sebagai bahaya yang harus segera dibasmi. Itu saja.”
Kurang lebih, begitulah jawaban yang kudengar dari Mr. Aili. Aku hanya mengangguk-angguk setelah mendengarnya.
Tak berapa lama kemudian, Kak Kaiser pun turut tiba di markas.
“Selamat sore, Adrian.” Sapanya padaku dengan senyum ramahnya yang seperti biasa.
“Sore Kak.” Jawabku menyapa balik.
“Walah walah, apa ini? Belum sembuh lukamu kemarin karena Fog, kamu terluka lagi sampai seperti ini? Siapa yang melakukan semua ini padamu?” Ujar Kak Kaiser padaku khawatir sembari memeriksa sekujur tubuhku.
“Hahahaha. Healer Kak.” Tawaku pelan sembari lirih menjawab.
“Dasar bodoh. Sudah kubilang jika kamu menghadapi lawan yang sangat kuat, kamu seharusnya lari saja. Tidakkah para avatar gelangmu memperingatkanmu?!” Kudengar nada bicara Kak Kaiser tiba-tiba berubah menjadi beringas.
“Sudah kok, Kaiser. Tapi Adrian saja yang tidak mau mendengar.” Crusader tiba-tiba saja keluar dari gelang dan menjawab pertanyaan dari Kak Kaiser itu.
“Sudahlah. Ayo kita ke ruang pengobatan. Aku akan mengobati luka-luka di luar luka yang kamu derita karena Fog. Jadi begitu, Mr. Aili, serahkan masalah pengobatan Adrian padaku. Aku yang akan mengobatinya dengan side avatar Spring Rosella-ku.”
“Maaf, Kak Kaiser. Semuanya jadi seperti ini karena aku terlalu lemah.” Entah mengapa, aku merasa sangat bersalah terhadap kelemahanku. Tanpa sadar, aku pun meminta maaf kepada mentorku tersebut.
“Tidak usah terlalu dipikirkan, Adrian. Jika kamu lemah, kamu hanya perlu berlatih untuk menjadi lebih kuat. Selama kamu bisa bertahan hidup, itulah yang terpenting. Karena selama kita masih hiduplah, kita bisa memperbaiki segala kesalahan apapun yang kita perbuat. Oleh karena itu, Adrian, lain kali jika kamu bertemu dengan avatar single number, jangan coba berpikir yang macam-macam, fokuslah hanya untuk lari saja. Paham?”
Rasanya, aku tak sanggup bersuara untuk menjawab pertanyaan Kak Kaiser tersebut. Aku pun akhirnya hanya menganggukkan kepalaku dalam menanggapinya.
***
Di ruangan itu, Selantri, tidak, monster avatar Fog berjalan dengan suara sepatu pantofelnya terdengar dengan jelas bersenandung bersamaan dengan langkah-langkahnya di lantai. Terlihat, dia pun berhenti di depan sebuah meja lantas memberi hormat kepada orang yang ada di balik meja tersebut.
Sang kakek tua dari balik meja itu pun memutar kursinya menghadap ke arah Fog lantas membalas salam Fog tersebut. Dia pun memberikan aba-aba kepada 4 pengawal yang berjaga di sekitar ruangannya untuk segera meninggalkan ruangan.
Seketika setelah para pengawal itu meninggalkan ruangan, mata sang kakek tua tiba-tiba mendadak kosong. Semburan es dingin pun tiba-tiba keluar dari balik bayangannya lalu muncullah sosok pemuda di balik bayangan sang kakek tua tersebut. Dialah Freeze dalam jelmaannya sebagai sosok kakak Adrian, Faridh.
“Ada apa Fog? Kamu tampaknya cukup terburu-buru menemuiku. Apa ada sesuatu hal yang sangat penting?” Tanya Freeze kepada Fog.
“Tuanku. Tanpa sengaja, salah satu virtual drone milik Mecha menangkap gambar ini sewaktu terjadi keributan karena Mistique dan Carnaval di taman kota.” Jawan Fog sembari menyerahkan beberapa lembar foto kepada Freeze.
Seketika menerima foto-foto tersebut, tangan Freeze sejenak gemetaran, tetapi dia tampaknya berusaha menutupinya dari Fog. Fog pun tampaknya tidak menyadari hal tersebut.
“Ini? Foto ini?” Ujar Freeze keheranan setelah melihat lembar-lembar foto yang diserahkan oleh Fog.
“Ya, benar, tuanku. Dugaan kita sebelumnya telah tepat. Tampaknya sebelumnya, Pahlawan Darah Merah mencoba untuk mengelabui kita. Rupanya memang benar, identitas Blue Batboy yang selama ini kita cari adalah Adrian Setiabudi, adik dari manusia yang telah Anda mimik, tuanku.”
Seketika, pandangan Freeze dalam wujud Faridh itu menajam sambil menggenggam sangat erat foto-foto itu hingga menjadi kusut tak karuan begitu mendengar ucapan Fog itu.
Rupanya, foto-foto yang digenggam oleh Freeze itu tidak lain adalah beberapa scene yang menunjukkan Adrian yang sedang berubah menjadi Avatar Arjuna di salah satu sudut taman kota tersebut.
“Jadi, bagaimana, Tuan? Apakah Tuan berkenan menyerahkan masalah ini kembali padaku? Akan kupastikan kuatur skema yang membuat Adrian tertelan dalam keputusasaan. Pertama-tama, mari kita ungkap identitas Blue Batboy di depan publik sembari menunjukkan kekejaman Pahlawan Darah Merah sewaktu menghabisi Autumn Lily, Silverknight, dan Thorny Boy dalam wujud manusia mereka.”
Fog terdiam sejenak sambil tersenyum sinis sebelum melanjutkan ucapannya.
“Mari kita atur panggung yang akan membuat Adrian dihujat oleh orang-orang di sekelilingnya. Sedikit sentilan dari media dalam membesar-besarkan berita, Adrian seketika akan berubah menjadi tokoh antagonis di masyarakat. Hal itu pasti akan membuatnya terjerat dalam keputusasaan yang sangat dalam.” Ujar Fog sembari tersenyum jahat.
“Aku mengerti, Fog. Aku bisa serahkan soal pengaturan di balik layar itu padamu. Tetapi biar aku sendirilah yang akan menghabisi nyawa bocah itu.” Freeze pun mejawab. Namun, entah mengapa, walau tak nampak oleh Fog, badan Freeze gemetar sewaktu mengucapkan kalimatnya tersebut.