101 Avatars

101 Avatars
109. Kemunculan Dalang Sebenarnya, Mr. X



“Swuuuuush.  Gubrak, gruk, grak.”


Selendang bersewileran dan sekali lagi membabat habis para dummy.


“Trak, trak, trak, trak.”


Diiringi oleh tentakel-tentakel yang menghancurkan para golem.


“Buldoser Manja, tidakkah kau merasa monster-monsternya bertambah lemah?”  Tanya Airi kepada suaminya itu.


“Dor, dor, dor, dor.”


Sembari menembaki para monster Andika pun merespon, “Ya, tampaknya memang seperti itu.  Baik para dummy maupun golemnya, lebih lemah dari sebelumnya.  Mungkin pertarungan di dalam sudah mulai ada perkembangan.”


“Kalau begitu, kita sebagai senior tidak boleh kalah.”  Sembari menunjukkan seringai di bibirnya, Airi menambah pace serangannya dalam membasmi para monster.


***


Sementara itu, pada pertarungan Kaiser vs Xavier, di luar dugaan justru Xavier yang terdesak.


“Slash, slash.”


“Aaaaakh.”


Xavier terkena serangan pedang Enigma lantas meraung kencang akibat kesakitan.


“Plam, plam, plam, plam.”  Xavier menembakkan butiran gel-gel hijau ke arah Kaiser.


“Brum, brum.”  Kaiser mengaktifkan side avatar Fast lantas dengan sigap menghindari serangan tersebut.


“Slash, slash.”  Sekali lagi Kaiser berhasil mendaratkan serangan dengan indah kepada Xavier.


“Aaaaakh.”  Hal itu lantas mengakibatkan raungan Xavier semakin menjadi-jadi.


“Kau, dasar manusia rendahan!  Beraninya kau melukaiku.”  Hujat Xavier kepada Kaiser.


“Diamlah kau, dasar lemah.  Jangan berbicara pakai mulutmu.  Ayo, angkat senjatamu dan lawan aku!”  Kaiser menatap bengis ke arah Xavier di balik helmetnya itu sembari memberikannya provokasi.


“Hiaaaaat.”


Xavier menerjang langsung lewat cakarnya ke arah Kaiser, namun dengan indah, Kaiser memiringkan badannya ke samping untuk menghindari serangan tersebut.


“Slash.”  Lalu sekali lagi tebasan diarahkannya kepada Xavier.


“Aaaaaakh.”


Erangan Xavier pun semakin menjadi-jadi.


“Fuuuush.”


Namun, di kala Xavier mulai tampak melemah, Pohon Keabadian tampak menjadi liar lalu turut menyerang Kaiser.


“Slash, slash, slash, slash, slash, slash, slash, slash.”


Tetapi dengan sigap, tiap cabang yang hendak menyerangnya, Kaiser memotongnya dengan bersih.


“Fuuuush.”


Sebuah batang dengan ukuran yang lebih besar pun menjulur dan hendak menyerang Kaiser.  Kaiser lantas bergerak mundur demi menghindari serangan.


Dua buah rudal Bomber kemudian dia luncurkan ke arah sang pohon.


“Baaam, baaaam.”


Sang pohon tampak ikut sekarat setelah menerima beberapa kali serangan rudal dari Kaiser.


“Hmm, jika bukan karena Pohon Keabadian itu, sedari tadi kamu sudah kucincang-cincang habis, monster.”  Kaiser pun berteriak lantang di hadapan Xavier.


Di saat itulah, perasaan aneh tiba-tiba melanda seisi ruangan.  Ruang dan waktu seakan digoyangkan.  Kaiser kenal benar sensasi ini di saat pelatihan spartannya.  Ini adalah jurus mengerikan dari salah satu monster avatar yang masih tersisa.  Monster avatar bernomor seri 4, Avatar Time.


Dengan sigap, Kaiser mengaktifkan side avatar Silent dan segera bergerak untuk menghindari serangan licik yang melawan hukum ruang dan waktu dari Time tersebut.


“Gagal ya.  Sayang sekali.”  Ujar Time setelah gagal memberikan critical hit-nya kepada Kaiser.


Kaiser segera bergerak mundur menjaga jaraknya dari Time.


“Akhirnya kamu datang juga, Time.  Aku sudah menunggumu.  Lihatlah bagaimana manusia hina itu, melukai aku, tuanmu.  Nah, sekarang, karena kamu sudah ada di sini, kalahkanlah dia.  Tunjukkanlah kepadaku kehebatanmu dan biarkan aku melihat wajah tersiksa makhluk hina itu di detik-detik kematiannya.”


Ujar Xavier tampak senang melihat kedatangan Time.


“Tentu akan kulakukan itu.  Berani-beraninya dia melukai anak yang kubesarkan dengan susah-payah sampai sekarang hingga sekarat begini.”  Ujar Time sembari mengusap-usap dahan sang Pohon Keabadian.


Tampak sang pohon ikut merajuk manja di hadapan Time, bagaikan sang anak yang mengadu pada ibunya sehabis dirundung oleh orang jahat.


“Ada apa Nak?  Oh, kamu butuh makanan lain?  Tidakkah Raging Fire cukup buatmu?  Baiklah Nak, akan Ayah segera siapkan.”  Sekali lagi Time berujar tampak bisa berkomunikasi dengan sang pohon.


“Hei, Time, tunggu apa lagi.  Cepat kalahkan dia!”  Xavier yang sudah tidak sabaran ingin melihat penderitaan Kaiser, lantas berteriak kencang, menyuruh Time bergegas menjalankan perintahnya.


“Prak.”


Namun apa yang terjadi, Time justru menikam ulu hati Xavier dengan tongkat jamnya.  Tampak Time menatap Xavier dengan bengis dan merendahkan.


“Kau, apa yang kau lakukan?”  Sembari menatap Time dengan kebingungan, Xavier menanyakan tujuan pengkhianatan Time itu padanya.


“Yah, anakku butuh makan, jadi harus segera kusiapkan.  Lagi pula aku sudah tidak butuh boneka sepertimu lagi di kala Pohon Keabadian sebentar lagi akan bangkit.”


“Aku, boneka?  Dasar anak buah rendahan sialan!  Beraninya kamu mengkhianatiku!”


Xavier tak dapat menahan raungan amarahnya akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh Time padanya.  Terlebih, Time seketika begitu menunjukkan pandangan rendah kepadanya.


“Heh.”  Namun Time justru tertawa kecut melihat ekspresi penuh amarah dari Xavier.


“Kamu selama ini mengira dirimu itu adalah Tuan Xavier yang asli, padahal sejatinya kamu hanyalah boneka yang kuciptakan dari salah satu selku.”


“Apa yang kamu katakan, Time?”


“Yah, kamu tak perlu memahaminya karena sebentar lagi kamu juga akan mati.  Hahahahaha.  Tuan Xavier yang asli takkan pernah selemah itu, sekarat dan tewas hanya dalam satu tusukan.  Sekarang, penuhilah tugas terakhirmu sebagai salah satu makhluk yang kuciptakan dari selku untuk menjadi santapan Pohon Keabadian.”


Sembari mengatakan hal tersebut, Time pun melemparkan Xavier ke arah Pohon Keabadian.  Berbeda dengan Raging Fire yang hanya dia serap saja energinya dari luar, tampak Pohon Keabadian menelan Xavier hidup-hidup dalam keadaan sekaratnya itu.


“Nyam, nyam, nyam.”  Terdengar kunyahan mengerikan yang menyertai jatuhnya Xavier ke dalam lubang besar yang dibentuk oleh Pohon Keabadian.


Kaiser perlahan melangkah maju ke arah Time.  Dia terdiam sesaat sembari menatap penuh kewaspadaan ke arah monster tersebut.


“Dari awal, aku sudah curiga setelah mendengarkan cerita Mr. Aili tentang kemunculan para monster avatar.  Terlebih, tentang kesaksian Healer bahwa selama di dunianya, mereka sedikit bisa memperoleh ingatan.  Makhluk virtual adalah makhluk yang dibuat dari program komputer.  Tidak mungkin kalau mereka punya pengalaman tentang mengingat sesuatu.  Menyimpan memori memang bisa, tapi tak mungkin bagi mereka akan menggunakan ekspresi mengingat.”


Kaiser terdiam sejenak, lantas kembali berucap,


“Semuanya jadi mungkin jika sedari awal, bagian sel asing yang berisi kehidupan telah menginfiltrasi dunia virtual jauh lebih lama sebelum malam bencana Hoho game.  Sama seperti Healer yang awalnya berasal dari pecahan sel yang ditemukan Kakek di lokasi penelitiannya, kamu pasti juga sama, sedari awal Profesor In Gu telah menanamkan kalian di dunia virtual, lantas kau mengkhianatinya dan ingin menguasai alam dunia nyata sendirian.”


Kaiser pun memberikan tatapan yang lebih tajam kepada Time semberi mengatakan,


“Bukankah begitu, Mr. X?  Kau semula hanyalah alat Profesor In Gu.  Untuk mendukung masalah finansialnya yang mutlak dibutuhkan dalam penelitian, kau awalnya dimanfaatkannya sebagai penghasil uang melalui hacking bank secara ilegal.”


“Hahahahahaha.”  Time alias Mr. X tertawa sejadi-jadinya setelah mendengarkan ucapan Kaiser itu.


“Yah, kamu memang hebat untuk ukuran manusia.  Tapi kamu hanya setengah benar.  Aku memanglah Mr. X dan akulah yang selama ini mensupport finansial Profesor In Gu dalam penelitiannya.  Aku juga yang menginfiltrasi makhluk virtual dengan pecahan sel-selku.”


Mr. X terdiam sejenak untuk mendramatisasi apa yang dikatakannya selanjutnya.  Kemudian dengan nada rendah itu, diapun kembali berucap,


“Tapi kamu salah dalam satu hal.  Sejak awal, bukan Profesor In Gu yang membawaku.  Akulah yang menemukan Profesor In Gu.  Dan semua yang aku perbuat adalah atas dasar keinginanku sendiri untuk menggapai ambisiku sendiri sedari awal.”