Kulihat senyum semringah Kak Kaiser tanda kebahagiaan dan perasaan lega setelah aku tersenyum sembari mengucapkan terima kasih padanya.
Namun secara tiba-tiba, Kak Kaiser lantas menundukkan kepalanya sembari sekali lagi meminta maaf padaku.
“Maaf, Adrian. Sebagai seorang mentor, aku telah gagal memenuhi segala kebutuhanmu. Tapi aku janji, mulai dari sekarang, aku akan lebih memperhatikanmu.”
Setelah Kak Kaiser melontarkan kalimat itu padaku, entah mengapa aku mulai merasakan perasaan tidak enak. Jika yang mengatakan itu adalah seseorang dengan karakter semisal Bobi atau AI5203, maka aku tidak akan sewas-was ini. Tapi itu datang dari mulut seseorang yang hanya tahu menyelesaikan segala persoalan di dunia dengan rumus-rumus microsains. Aku jadi bertanya-tanya, apa yang akan dilakukannya.
“Walau, aku yatim piatu, tetapi tidak dipungkiri lagi bahwa kekayaan keluarga Dewantara sangatlah melimpah. Apapun yang kamu butuhkan, sebisa mungkin aku akan memenuhinya. Akan kupastikan kamu akan segera menjadi kuat sehingga layak menjadi pahlawan seutuhnya, Adrian.”
Dan ternyata firasatku benar. Kak Kaiser sama sekali tidak memahami apa yang membuat aku marah padanya. Tapi ya sudahlah. Orang bilang bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Begitu pula Kak Kaiser. Siapa yang bisa menduga bahwa sang jenius di segala bidang ini, ternyata kurang pandai membaca perasaan tersembunyi milik orang lain.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Aku pun hanya menerima kebaikan hatinya yang aku sadar bahwa sebenarnya dirinya tulus melakukannya.
Lagipula dengan memiliki Crusader sebagai side avatarku, aku dapat level-up dan siapa yang akan menduga di masa depan, mungkin aku akan memiliki kekuatan sebanding dengan Kak Kaiser atau bahkan melampauinya sehingga pada akhirnya, aku benar-benar akan bisa menjadi sosok rekan yang berarti bagi pahlawanku itu dan benar-benar pantas berdiri di sampingnya.
Malam itu, dengan bantuan Profesor Melisa, side avatar Crusader pun berhasil ditambahkan ke gelangku. Kini, gelangku pun telah lengkap dengan Arjuna sebagai avatar utama, serta Sly Dark, Hard, dan Crusader sebagai avatar pendamping.
Kukira, setelah penginstalan side avatar ketigaku tersebut, aku akan segera mengakhiri malam itu tanpa ada lagi kejadian yang berarti. Namun ternyata, hal yang tak terduga tiba-tiba terjadi.
“Aaaaah! Akhirnya aku bisa bergerak bebas juga. Proses penginstalan itu benar-benar membuat badanku lelah.”
Rina keluar dalam bentuk hologram dari gelangku sembari melakukan gerakan pemanasan olahraga sederhana.
Tetapi apa ini? Bukankah dia side avatar? Tetapi mengapa dia juga bisa keluar dari gelang?
Lalu kulihat Bomber dalam wujud Andina pun turut keluar dari gelang Kak Kaiser yang sementara ditaruhnya untuk proses maintenansi oleh AI5203.
“Eh, memang kamu masih bisa merasakan pegal dalam wujud hologram itu?”
Mata hologram Crusader dan Bomber pun bertemu.
“Hai, aku Bomber. Salam kenal.” Bomber-lah yang pertama kali menyapa.
“Hai, aku Rina.” Balas Crusader seraya menganggukkan kepala.
Lalu tiba-tiba, Arjuna ikut keluar dari gelangku sembari dengan sigap berdiri di depan Crusader dengan ujung jari telunjuk bersilangan dengan bibirnya.
“Sssssst! Tidak boleh begitu dong, Crusader. Kita dilarang menggunakan nama manusia yang kita mimik.”
Kulihat, Arjuna dengan gelagat panik menoleh ke sana-sini seakan ketakutan terhadap sesuatu.
“Hah, untunglah orang itu tidak dengar. Jika sampai dia mendengarnya, entah bencana apa lagi yang akan dibuatnya.” Ujar Arjuna sembari menunjukkan ekspresi ketakutan.
“Siapa?” Crusader yang penasaran pun bertanya.
“Kak Kaiser, Crusader. Kak Kaiser. Orang itu terkadang bisa sangat menakutkan apalagi kalau membahas soal avatar yang bertingkah seperti manusia.” Jawab Arjuna sekali lagi dengan mata yang gemetaran.
Kulihat, Bomber mencoba mengalihkan topik yang canggung itu, “Teman-teman, ayo semuanya keluar. Kita sambut rekan baru kita.” Ucap Bomber seraya tersenyum manis dalam wujud Andina tersebut.
Kulihat, dari gelang Kak Kaiser, muncul seorang wanita tipikal pekerja kantoran seksi, lalu disusul oleh seorang wanita lagi yang berkacamata tipikal seorang penjaga perpustakaan yang pendiam.
Terlihat, sembari keluar, dia turut menyeret seorang pria berusia sekitar empat puluh-an tipikal guru olahraga yang galak.
Kemudian dari gelangku, keluar dua orang pria. Satunya, tipikal pemuda tampan berpenampilan badboy. Satunya lagi seseorang dengan kulit khas negro.
Mereka semua, terlihat menyapa Crusader dengan ramah, termasuk Mas Spring Rosella yang berwajah sangar tersebut. Yah, walaupun tak keluar satu patah kata pun sih dari mulutnya.
“Hmmm. Sebagai acara pembuka, bagaimana kalau kita ngobrol bareng, terutama dengan pendatang baru kita tentang masa lalunya? Oh iya, kalau dipikir-pikir, kita juga belum pernah mengadakan acara penyambutan terhadap Sly Dark dan Hard ya.” Bomber pun membuka acara kumpul-kumpul para hologram avatar tersebut.
“Tapi sebenarnya tidak ada yang aku ingin tanyakan pada mereka. Ah, bagaimana kalau Adrian saja yang bertanya.” Tiba-tiba, kesempatan bicara itu dilemparkan begitu saja kepadaku yang kebetulan duduk di dekat meja di mana mereka duduk-duduk di atasnya dalam ukuran mini.
“Eh, kenapa aku? Aku kan bukan bagian kumpul-kumpul kalian?” Aku mencoba menolak tawaran tersebut.
“Ayolah, Adrian. Ini kesempatan yang langka lho untuk lebih mengenal avatarmu.” Tetapi Bomber terus memaksa.
Lalu, kuungkapkanlah pertanyaan itu.
“Kalau begitu, aku sebenarnya penasaran mengapa waktu itu Sly Dark tiba-tiba saja menyerang Nafisah. Ah, maksudku gadis berjilbab papaya di depan Toko Kue Bernard itu.”
Setelah mendengar pertanyaanku itu, Sly Dark tiba-tiba tertunduk malu. Dia pun walau dengan ragu-ragu, menjawab pertanyaan tersebut.
“Sebenarnya, aku kesal dengan kedua orang tuaku yang selalu saja bilang kapan menikah, kapan menikah. Tapi beberapa kali pun aku mencari pacar, tetap saja ditolak di sana-sini. Padahal kalau aku boleh jujur, wajahku cukup ganteng. Trus waktu itu aku kebetulan mabuk lalu bertemu dengan sosok wanita idealku. Jadi, tanpa pikir panjang aku berusaha menculik untuk menikahinya.”
Mendengar jawaban itu, aku rasanya hendak mengumpat marah padanya. Berani-beraninya dia menatap Nafisah-ku dengan nafsu birahinya.
Tetapi sebelum sempat aku bersuara, aku keduluan oleh Bomber dan Crusader.
“Jelas itu perbuatan salah, itu kriminal!”
“Sly Dark, kamu terlalu terlarut perasaan inangmu. Bagaimana kamu bisa menikah dengan tubuh avatar itu?”
Aku pun berusaha melewatkan percakapan itu. Lalu kulihat lagi, salah satu side avatarku, Hard. Terus terang, aku tidak terlalu mengenalnya dan aku juga tidak peduli amat untuk mengenalnya. Sesuai kata Kak Kaiser bahwa walaupun mereka terlihat bersenda-gurau seperti layaknya manusia, pada akhirnya perasaan mereka tidaklah nyata, bagaikan menyaksikan sebuah panggung sandiwara.
Dibanding masa lalu Hard, ada hal yang lebih membuatku penasaran tentang mereka. Lalu aku pun bertanya, “Hei, sebenarnya di antara kalian berlima, avatar yang memang telah ada sebelum aku ikut bergabung, siapa yang duluan ditangkap oleh Kak Kaiser dan kawan-kawan? Kalau boleh aku menduga, pastinya Bomber ya?”
Avatar Arjuna-lah yang pertama kali bersuara terhadap pertanyaanku tersebut, “Aku nomor 3. Saat aku ikut bergabung, Kak Bomber dan Mas Spring Rosella sudah ada duluan di tim.”
“Oh, jadi Spring Rosella lebih duluan bergabung ketimbang kamu rupanya ya, Arjuna.” Ujarku ikut berkomentar.
Lalu seraya, pandanganku mengalir ke arah Bomber. Melihat mata kami saling bertemu, dia lantas mulai menjawab, “Itu benar, Adrian. Akulah avatar pertama yang ditangkap oleh Kaiser.”
“Bagaimana caranya? Kan waktu itu belum ada gelang perubah?” Tanyaku sekali lagi.
Namun, sebelum sempat Bomber menjawabnya, Kak Kaiser telah lebih dulu masuk untuk mengambil gelangnya yang telah selesai dimaintenance sembari membawa keempat avatarnya bersamanya.
Kak Kaiser lantas menatapku sembari berkata, “Adrian, sebaiknya kamu jangan terlalu banyak berinteraksi dengan mereka. Aku takut kamu yang polos itu bisa terpedaya oleh mulut manis mereka. Ingatlah bagaimana sejatinya para monster avatar itu. Mereka tidak lebih hanyalah sebuah mesin pembunuh.”
Setelah mengatakan itu, Kak Kaiser lantas pergi kembali memasuki kamarnya.