Hal yang pertama yang perlu Healer, Bomber, dan Profesor Melisa pikirkan adalah bagaimana menghentikan kerusakan yang lebih parah akibat amukan monster avatar yang berada dalam kondisi tidak stabil itu entah karena mereka masih dalam wujud beringas, ataupun dalam kondisi amarah yang tak jelas pasca pertama kali mewarisi ingatan inang yang dimimiknya.
Oleh karena itu, Healer segera berusaha mencari Dream dan dengan cepat menemukannya berkat kekuatan komunikasinya dengan pohon. Lewat Dream-lah, di malam kedua, Healer memperoleh antidote dari sistem. Healer pun segera menggunakan kemampuannya untuk menetralkan dan menganalisa struktur antidote kemudian memodifikasinya sebagai virus yang efektif untuk menekan kekuatan beringas para monster avatar.
Di malam yang sama dia memperoleh antidote dan berhasil menciptakan virus itu, Healer langsung menyebarkannya ke seluruh kota Jakarta. Berkatnya, para monster avatar pun dapat kehilangan kemampuannya berubah ke wujud avatarnya untuk sementara. Mereka untuk sementara waktu dapat tertahan ke dalam wujud manusia mereka yang lemah itu.
Tentu saja layaknya virus pada umumnya, ada saja yang kebal terhadapnya sehingga Healer harus tetap sibuk sebulan setelahnya untuk menangani terlebih dahulu para monster avatar yang kebal terhadap virus yang masih mampu berubah ke dalam wujud monsternya kemudian mengamuk sebelum mencari satu-persatu monster avatar yang terkurung dalam bentuk manusia yang lemah tersebut akibat virus.
Selama lima tahun setelah itu, dengan mudah Healer membasmi para monster avatar yang kehilangan kekuatannya. Akan tetapi berkat virus itu pula, Healer jadi kesulitan sendiri mencari keberadaan monster avatar yang tersembunyi karena sejak virus itu disebarkan, mereka tidak ada bedanya dari manusia biasa.
Hal yang kedua yang perlu mereka perhatikan adalah sentimen publik. Tidak akan ada yang percaya jika sesama monster ingin menghadapi monster lain dan menyelamatkan umat manusia. Di situlah, Healer mengambil keputusan yang sangat beresiko dengan mengorbankan dua pertiga daya hidupnya demi menciptakan dua buah gelang yang dapat membuat seorang manusia terpilih bersinkronisasi dengan kekuatan avatar.
Ya, bukan Profesor Indro Nuryono yang menciptakan gelang perubah, melainkan Healer.
Hal yang ketiga yang mesti mereka perhatikan adalah pertahanan markas. Di situlah Healer melirik kembali AI series yang tersimpan di markas lantas mengaktifkan AI series yang terakhir, yakni AI5204 sebagai alat pertahanan markas.
Tetapi muncul satu lagi masalah. Walaupun dia adalah AI yang bergerak berdasarkan program, Healer tidak dapat menembus firewall yang diciptakan oleh Profesor Indro Nuryono yang canggih pada AI series-nya. AI itu hanya akan jadi penjelmaan rekaman ingatan Profesor Indro Nuryono pada saat AI itu diciptakan.
Healer tidak dapat melirik AI5203 ke bawah karena setiap AI baru diciptakan, spesifikasi AI yang lebih lawas akan dilemahkan dan tidak ada bedanya lagi dengan robot rusak.
Satu-satunya yang terpikir olehnya adalah memodifikasi memori ingatan AI5204. Dia pun menghapus data memori AI5204 dari tanggal 30 Juni sampai dengan 20 Agustus 2052 di mana dia mulai diciptakan. Alhasil, AI5204 pun menganggap dirinya sebagai AI5203. Agar tidak terjadi penyimpangan yang membuat AI5204 akan curiga terjadi manipulasi memori, Healer pun menghapus sepenuhnya data dari AI5203 yang asli.
Kini, tersisa hal yang keempat yang mesti mereka pikirkan. Tentang bagaimana mereka dapat menangkap semua monster avatar yang terbebas demi menggapai tujuan mereka. Bagaimana pun, harus ada di antara Healer atau Bomber yang mesti mengorbankan diri mereka untuk mengisi gelang perubah sebagai main avatar untuk dapat diaktifkan.
Bomber pun dengan sukarela menawarkan dirinya karena berpikir Healer lebih cocok darinya untuk berperan di depan layar ketimbang dirinya. Jadilah skema Pahlawan Darah Merah mereka bentuk dengan diperankan oleh Healer demi penangkapan para monster avatar dan keselamatan umat manusia.
Peran itu tidak mungkin diisi oleh dirinya karena Healer sadar dengan identitasnya sebagai monster avatar, tidak akan ada manusia yang mau menerimanya. Lain halnya jika itu seorang manusia.
Yang jadi permasalahan, diperlukan avatar lagi untuk mengaktifkan gelang. Healer tidak mau kalau gelang keduanya diisi oleh sembarang avatar. Healer ingin agar avatar yang mengisinya adalah benar-benar avatar yang mampu menekan sifat jahat virus Hoho game yang bersemayam di dalam dirinya.
Jadilah dia menemukan Arjuna yang benar-benar mampu menekan naluri virus untuk membunuh inang yang dimimiknya. Nyatanya, dia justru menyelamatkan Tio dan keluarganya dari ancaman monster avatar yang turut menyerang rumah Tio dan keluarganya tersebut.
Sekarang, yang tersisa tinggal manusia yang terpilih saja. Ada dua syarat yang Healer ingin dipenuhi ketika memilih pengguna Avatar Arjuna. Pertama, kompabilitasnya dengan tubuh Avatar Arjuna harus berada pada nilai yang tinggi. Kedua, orang tersebut harus merupakan orang yang baik dan berjiwa tulus, yang benar-benar mencerminkan sosok pahlawan ideal di mata Healer berdasarkan memori Kaiser di kepalanya.
Jadilah Profesor Melisa secara diam-diam memanfaatkan kekuasaannya di kampusnya, tepatnya di Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Universitas Global Indonesia, sebagai kepala pemeriksa kebugaran fisik mahasiswa sebagai salah satu bentuk seleksi ujian masuk untuk menggunakan data para mahasiswa demi mencari kandidat yang cocok untuk Avatar Arjuna.
Di tahun pertama, Profesor Melisa langsung memperoleh kandidat mahasiswa yang tingkat kecocokannya dengan gelang perubah sebesar 65 persen. Namun, Healer dengan tegas menolaknya karena sikap sang mahasiswa yang arogan yang benar-benar tidak mencerminkan sikap seorang pahlawan. Terlebih, kompabilitas 65 persen masih terbilang rendah.
Tibalah di tahun kedua, kompabilitas mahasiswa tertinggi menurun drastis di angka 23 persen. Tiba di tahun ketiga menurun lagi dua kali lipatnya menjadi di angka 11 persen. Di tahun keempat angka naik, tetapi hanya 3 persen saja yakni di angka 14 persen. Mereka akhirnya hampir menyerah dan memutuskan untuk menggunakan mahasiswa di tahun pertama yang arogan itu saja.
Tetapi di tahun kelima, secara ajaib Adrian Setiabudi tiba-tiba saja muncul dengan kompabilitas 99,98 persen, hampir mendekati angka sempurna. Tentu saja ini hasil yang wajar mengingat silsilah keluarga Adrian yang berasal dari ayah dan ibu yang kedua-duanya tidak biasa. Tetapi lebih daripada itu, banyaknya persamaan karakter antara Arjuna dan Adrian juga menjadi penyebab tingginya kompabilitas di antara mereka berdua.
Sebenarnya, ada satu lagi mahasiswa atau tepatnya mahasiswi yang juga memiliki kompabilitas yang tinggi terhadap Avatar Arjuna karena berasal dari silsilah keluarga yang tidak biasa, yakni keluarga kultivator yang sekitar tahun 2020 – 2030-an mulai menghilang dari peradaban masyarakat berkat kejadian bersejarah kala itu.
Dialah Nafisah Wijayakusuma. Akan tetapi, perbedaan karakternya dengan Avatar Arjuna, menyebabkan kompabilitasnya tidak setinggi Adrian, hanya berkisar 78 persen saja.
Demikianlah, Healer dalam wujud Kaiser pun berhasil bertemu dengan Adrian dan berhasil pula meyakinkan bocah itu untuk bersama-sama membantunya dalam mewujudkan tujuannya.
Namun, Healer pun belakangan merasa menyesal dan tidak enak pada bocah itu perihal ketulusan sikapnya padanya, sementara dirinya sendiri masih menyembunyikan rahasia besar, terutama terkait dengan tujuannya membentuk tim pembasmi monster avatar tersebut. Healer berharap bahwa satu hari akan tiba di mana dia dapat jujur pada bocah itu tanpa menyembunyikan apapun lagi.