101 Avatars

101 Avatars
83. Hujatan



“Lihatlah pemirsa sekalian.  Inilah kenyataannya.  Pahlawan yang selama ini kalian puja-puja sebagai penyelamat, tidak lain adalah juga monster avatar seperti kami.  Hahahahaha!”


Seiring Fog berujar dengan gelak tawanya, virtualisasi layar komputer ditampilkan di langit di dekat situ.  Ratusan, tidak, ribuan komentar seketika membanjiri layar komputer virtual tersebut.  Komentar-komentar tidak lain datang dari para manusia, tidak hanya yang masih selamat dari virus zombie di dalam Kota Jakarta, tetapi di seluruh dunia.


“Wkwkwkwk.  Lucu, jadi selama ini kita ditipu oleh seorang monster.”


“Pahlawanku, Pahlawan Darah Babi.”


“Bunuh aja pahlawan nggak guna itu.”


“Wkwkwkwkwk. Ada juga ya yang masih menyebutnya Pahlawan.  Dia itu monster. Lol.”


“Jadi, si Adrian yang ganteng itu juga seorang monster dong?  Any comment?”


Dan masih banyak lagi komentar jahat lainnya tentang sang pahlawan yang selama lima tahun ini telah mempertahankan Kota Jakarta dengan segenap jiwa raganya, hanya karena identitas aslinya yang merupakan sesama monster.  Bahkan ada pula beberapa komentar yang menyudutkan Adrian sebagai rekannya yang selama ini menyupport sang pahlawan faker.


Namun di antara komentar-komentar itu,


“Yang tidak tahu, tolong diam saja.”


“Saat ini pahlawan kita sedang berupaya menyelamatkan kita.  Jadi bukankah kita sebaiknya mendukungnya dengan segenap jiwa kita?”


Masih ada beberapa komentar yang menunjukkan dukungannya kepada Healer.  Dan itu telah cukup bagi Healer untuk tidak menyesali keputusannya itu.


Yah, walaupun kebanyakan dari komentar positif itu justru turut disudutkan dengan kejam.


“Yang tidak tahu, tolong diam saja.”


Reply:


-Tampaknya, dia salah satu penggemar monster ini deh di fansitenya.


-Wkwkwkwkwk, jelas-jelas idolamu itu monster.


-Persetan dengan komentar yang di atas.


-Halooooo, Anda rupanya belum lepas dari hipnotis sang monster.


“Saat ini, pahlawan kita sedang berupaya menyelamatkan kita.  Jadi bukankah kita sebaiknya mendukungnya dengan segenap jiwa kita?”


Reply:


-Mari doakan sang pahlawan dengan segenap jiwa kita.  Berdoa dimulai.  Semoga arwahnya diterima di neraka terdalam.


-Segenap jiwa bangkek.


-Lol.


-Hahahahahaha.  Masih ada yang buang-buang waktu percaya dengan monster itu rupanya.


-Pasti dia sudah kena cuci otak dari monster nih, perlu segera dibawa ke orang pintar.  Wkwkwkwkwk.


Itu hanya mungkin membuatnya percaya diri seperti itu karena dia telah memiliki murid terpercaya yang siap melanjutkan perjuangannya.  Dialah Adrian, murid kepercayaan Healer.


Melihat semangat Healer yang tak pula surut itu meski telah dimaki-maki sedemikian rupa oleh hampir seluruh umat manusia di belahan dunia, Fog mengerutkan keningnya.  Dia tak dapat menerima semua itu.  Bagaimana pun, dia ingin membalaskan dendamnya atas kematian Freeze.  Dan cara yang terbaik melakukan itu adalah menyerang nuraninya sampai-sampai dia sendirilah yang ingin mati.


Namun, tampaknya usahanya itu kurang kuat hingga tidak berhasil.  Tetapi Fog tetap tersenyum perihal di tangannya masih banyak kartu lain yang telah dipersiapkannya dengan matang demi menghancurkan Healer yang diperolehnya setelah mempelajari baik-baik sang musuh, tentang apa yang disenangi, apa yang dihargai, termasuk apa yang dibenci oleh Healer tersebut.


“Plak.”  Fog menjentikkan jarinya.


Seketika kabut hijau mengalir ke seluruh tubuh manusia yang telah terinfeksi virus zombie tersebut.


“Nah, Healer, aku telah mengalirkan racun ke seluruh infektan.  Bagaimana sekarang kamu akan menanganinya?”  Teriak Fog sekali lagi kepada Healer.


“Hah, apa kamu lupa keahlianku, Fog?  Racun apapun akan kunetralkan dan justru akan kuubah menjadi sumber tenagaku.”  Jawab Healer.


Namun, seketika mendengar jawaban tersebut, Fog justru tertawa picik.  Dia lantas melanjutkan ucapannya.


“Kalau begitu kita lihat saja.  Mana yang akan duluan habis, racun-racun itu atau energi kehidupanmu.  Bukankah butuh energi kehidupanmu yang terbatas untuk ulir-ulirmu menjangkau ke setiap infektan?  Sementara energi yang kau peroleh dari menetralkan racun, tidaklah seberapa.”  Ujar Fog seraya tertawa sinis dengan penuh percaya diri.


Healer tentu saja menyadari lebih dari siapapun bahwa apa yang diucapkan Fog adalah benar.  Sayangnya, Adrian yang ada di sampingnya menjaganya kala itu, sama sekali tak menyadari hal tersebut.  Healer telah lama sekarat, tetapi dia berupaya tegar.  Energi kehidupannya saat ini telah turun ke angka 9 persen dan masih saja terus berkurang.


***


“Apa-apaan ini?  Jadi dia juga adalah monster.”  Magneton pun memberikan komentarnya.


“Ini adalah suatu hal yang tak terduga.  Pantas ketika aku bertarung dengannya, aku bisa merasakan hal yang familiar terhadapnya.  Rupanya dia Healer.”  Tambah Raging Fire.


Raging Fire tanpa sengaja menatap ke arah Holy setelah menyadari bahwa wanita cantik itu telah terdiam cukup lama.  Dilihatnya-lah ekspresi khawatir tidak biasa di balik wajah cantik wanita itu yang biasa berekspresi datar.


“Holy, apakah kamu jangan-jangan khawatir dengan Healer?  Oh iya, bukankah selama di dunia virtual, kau paling dekat dengannya?  Tapi kalau aku sendiri, walaupun membenci Fog, tetapi aku tetap lebih tak dapat menerima sikap Healer yang mendukung umat manusia sehingga aku cenderung ke kubu Fog.  Kalau kamu bagaimana, Holy?  Holy?”


Raging Fire berbincang panjang lebar, namun rupanya Holy yang diajaknya bicara sama sekali tidak merespon.  Melihat hal itu, Raging Fire pun menepuk pundak Holy.  Akan tetapi di luar dugaan, Holy menepisnya dengan keras.  Padahal selama ini, lebih dari siapapun, Holy-lah yang paling memberikan sikap hormat kepada Raging Fire.


Lalu dengan penuh amarah kepada perkataan bodoh Raging Fire tersebut, Holy berujar,


“Tidak sadarkah Anda, kabut Fog berwarna hijau?  Anda tahu apa artinya itu?  Dia telah melakukan sesuatu pada Poison Merchant lantas mengambil kekuatannya.  Dan lihat keberadaan Remote di dekatnya.  Dengan melihat itu saja, seharusnya Anda sudah sadar.  Fog telah merebut kekuatan Poison Merchant lewat kemampuan merger Remote.  Tidak tahukah Anda apa artinya?  Poison Merchant, anak buah kesayangan Anda telah dibunuh oleh mereka!”


“Hei, Holy!  Perkataanmu kepada Tuan Raging Fire sudah keterlaluan.”


“Kamu yang tidak tahu apa-apa diam saja!”  Holy segera membentak Magneton yang berusaha memotong ucapannya itu.  Hal itu lantas turut memancing perhatian Singer Nana dan Violar yang sedang menjaga perbatasan rumah dari serangan para zombie.


“Anda tahu, Tuan Healer jauh lebih baik dari Anda yang sok bijak, tetapi bodoh karena tak dapat menjaga anak buahnya sendiri hingga tewas.  Sedari awal, Tuan Healer yang Anda selalu anggap licik itu jauh lebih baik daripada Anda.  Oleh karena itulah, sedari dulu aku memilih untuk mengikutinya.  Asal Anda tahu, keberadaanku di sini hanya karena perintah Tuan Healer saja untuk merawat Anda.”


“Hai, Holy, apa yang kamu ucapkan?!  Apa kamu mau mengakui pengkhianatanmu kepada Tuan Raging Fire?!”  Mendengar semua itu, Magneton tidak dapat menahan amarahnya lantas melepaskannya saja kepada Holy.


Akan tetapi, Raging Fire yang justru menjadi objek hinaan Holy hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun dengan ekspresi dungu di wajahnya.


“Cih!  Kenapa sedari tadi portal ke sana tidak mau terbuka?!  Oh tidak, jangan-jangan ini semua ulah Void.  Aku harus segera ke sana.”  Meninggalkan Raging Fire yang melongo dan Magneton yang marah, Holy segera berlari secepat yang dia bisa ke tempat kejadian dengan ulir-ulir hitamnya.


“Bertahanlah, Kakak!  Aku akan segera turut ke sana mendampingimu.”  Ujar Holy dengan was-was tanpa sekalipun menurunkan pace-nya.