101 Avatars

101 Avatars
138. Secercah Harapan Penantian Dios



“Beni, ini semua salahmu. Luka yang kuperoleh darimu-lah, yang membuatku kalah saat berhadapan dengan Xavier hingga akupun harus mengorbankan diriku demi umat manusia. Sesasilah hal tersebut seumur hidupmu.”


Suara Kaiser Dewantara itu tak henti-hentinya membayangi kepalaku. Tidak, bahkan kali ini wujudnya muncul di hadapanku, mengutuk diriku ini.


Tahun 2023 silam, tumbal dilakukan untuk menghubungkan dunia iblis alam lain dengan umat manusia. Sebagai salah satu anggota organisasi, sudah kewajibanku-lah mematuhi perintah. Aku tak ingin mencoreng nama baik keluarga Peirriera dalam organisasi.


Sandra mendukung keputusanku itu. Dia melakukan hal yang sama, mengkhianati rekan yang telah mempercayai kami layaknya mata-mata profesional. Kami pun menjebak Kaiser Dewantara dalam aksi penculikan kami. Untunglah waktu itu, ada Agni, Dios, dan juga Kaisha, pengkhianat organisasi kami yang menggagalkan rencana itu.


Jika tidak, mungkin aku sudah dalam keputusasaan yang lebih dalam. Namun, hasil pertarunganku dengannya, tak kusangka membuatnya terluka begitu parah hingga pada akhirnya, di saat pertarungannya pun melawan Xavier di tahun 2031, dia pun harus mengorbankan dirinya demi menyelamatkan umat manusia.


Andai saja dia waktu itu tidak pernah terluka dalam oehku, pasti kemenangannya akan mudah dan Kaiser Dewantara bisa diselamatkan. Lebih dari apapun, aku tidak bisa melupakannya. Jika dia memang masih hidup di suatu tempat di dunia virtual, tempatnya dulu terjatuh, kuingin benar-benar menyelamatkannya.


“Jangan munafik, Beni! Kaulah yang menyebabkanku seperti ini! Percuma kau berpura-pura baik sekarang!”


Tidak! Sungguh, bukan itu yang kuinginkan.


Aku terdiam. Tidak, itu salah. Sahabatku itu orang yang naif dan pemaaf. Tidak mungkin orang yang di hadapanku ini dia.


“Kamu, palsu!” Ucapku dengan yakin pada bayangan itu.


***


Penglihatan masa depan. Mungkin banyak yang mengira itu adalah kekuatan yang luar biasa. Tetapi bagiku, itu tidak lebih dari kutukan. Berbeda dengan Loki yang mampu meninjau kemungkinan masa depan dalam berbagai keadaan, aku melihat masa depan yang benar-benar akan terjadi jika aku tidak berbuat sesuatu.


Berbeda dengan Loki pula, aku harus perlu menjalani semua kejadiannya satu-persatu, tanpa terskip satu pun. Yang lebih buruk lagi, aku sama sekali tidak bisa mengendalikan kekuatan itu. Kekuatan itu bersifat pasif yang teraktifkan ketika tubuhku merespon kemungkinan bahaya masa depan.


Suatu ketika aku tertidur. Hanya semalam aku tertidur. Namun, rasanya aku telah hidup di dunia ini sebelas tahun ke depan.


Di dalam mimpi itu, aku menjadi pewaris keluarga konglomerat ternama Dewantara Group. Kekayaan yang tiada batasnya dan kekuasaan yang mendominasi membuat semua orang sulit menyentuhku. Aku harus hidup dengan memanggul beban itu.


Aku harus senantiasa terlihat kuat karena begitu aku menunjukkan kelemahan, orang-orang dari keluarga cabang akan segera menerkamku. Demi keluargaku, aku harus kuat, bertahan menghadapi intimidasi baik dari pihak luar maupun pihak dalam tanpa goyah sedikit pun.


Di tengah-tengah itu, identitasku terungkap oleh Kakek, tidak, pada dasarnya kami tidak punya hubungan darah jadi salah jika aku memanggilnya sebagai kakek, ya, ternyata aku bukan anak kandung dari keluarga Dewantara. Ini buan karena ibuku, tidak, maksudku Tante Nana selingkuh atau bagaimana, hanya saja sewaktu kecil, aku ditukar dengan kejamnya oleh ibuku sendiri.


Semuanya demi alasan untuk melindungiku. Tapi, aku tetap tak dapat menerima itu. Namun, seiring waktu di mana akhirnya aku juga berkeluarga, aku pun sedikit memahaminya dan memaafkannya.


Jadilah anak itu diadopsi oleh pembantu rumah tangga di rumah kami lantas menjadikannya sebagai teman bermainku. Namun mereka sama sekali tidak mengerti. Anak di zaman mereka dan zamanku itu benar-benar berbeda perihal semua temanku itu sangatlah menyeramkan. Tidak, mereka bukanlah teman, hanyalah orang yang bergaul bersama untuk saling memperoleh keuntungan. Pada dasarnya, hanyalah rekan bisnis.


Tentu seharusnya mereka tahu apa yang akan terjadi pada anak itu. Anak yang tidak pada tempatnya, bergaul di tengah-tengah orang kaya, hanyalah aka dirundung. Dia pun mengalami perundungan yang kian parah hari demi hari. Namun, anak itu sama sekali tidak pernah mengeluh karena dia begitu lugu dan naif. Namun, dialah sahabat terbaikku yang aku yakin takkan pernah mengkhianatiku selamanya.


Kaiser Dewantara, akan kukenang nama itu selamanya di sanubariku.


Aku pun terbangun dari mimpi panjangku. Aku pun mulai menyusun rencana untuk mengubah takdirnya dengan mengembalikan segala apa yang seharusnya menjadi haknya sejak dulu. Pada saat aku berusia 5 tahun, aku mengaktifkan jurus cuci otak massal untuk menukar keberadaan kami. Jadilah sahabatku itu memperoleh kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.


Aku pun memulai pembalasan dendamku terhadap orang-orang yang dulu pernah menyakitinya. Walaupun di garis waktu ini belum pernah terjadi, bukan berarti itu tidak pernah terjadi. Itu pernah terjadi, setidaknya di mimpiku.


Kupikir semuanya akan berjalan lancar. Namun siapa sangka bahwa aku malah mengulangi hal yang sama. Aku malah menjadikannya pusat perhatian organisasi iblis yang selama ini aku hindari. Alhasil, diapun diincar dan hidupnya pun senantiasa terancam.


Bahkan ketika dia terluka, dia begitu menyembunyikannya dengan baik, bahkan aku dan Agni yang selama ini ada di dekatnya, sama sekali tidak menyadarinya keadaannya yang telah lemah itu karena menderita luka dalam yang parah.


Begitu menyadarinya, lagi-lagi itu terlambat. Sahabatku itu sekali lagi telah diambil dari sisiku. Oleh karena itu, aku takkan menyerah. Akan kudedikasikan sisa umurku ini hanya untuk penelitian demi mencari tahu keberadaannya di dunia virtual. Sampai kapan pun, aku takkan menyerah padanya.


“Bukankah sudah saatnya kau menyerah? Apa yang kau lakukan itu telah cukup, Dios. Itulah batasmu sebagai ilmuwan yang berada pada kelas rendahan. Kau tak perlu mencariku lagi karena aku sudah mati di alam sini dengan mengutuk ketidakbergunaanmu sebagai orang yang kuanggap teman.”


Suara itu tiba-tiba saja datang menerjang pikiranku disertai dengan munculnya sosok bayangan. Tetapi wujudnya itu mengapa menyerupainya? Kaiser Dewantara, sahabatku yang terbaik, benarkah itu kamu dan benarkah itu yang kamu pikirkan tentang diriku.


Kepalaku sakit. Bagaimana bisa aku tidak memikirkan kemungkinan itu. Mana ada manusia yang tidak mengutuk orang lain ketika dia dibiarkan sendirian terkurung dalam kegelapan tanpa ada yang menyelamatkannya.


Tidak, selama ini aku tidak diam saja! Aku telah mencari berbagai jalan untuk menemukan cara membuka dunia virtual lalu mencari keberadaannya. Dan kini setelah 42 tahun berlalu, aku akhirnya menemukan clue-nya berkat kemunculan para avatar ke muka bumi. Tinggal sedikit lagi, tingal sedikit lagi bahwa aku pasti akan membuka jalan menemukan keberadaannya.


Jadi kumohon, sobatku, jangan bilang kalau kau sudah lama mati di alam sana. Berilah aku waktu sedikit lagi dalam penelitianku untuk menemukan keberadaanmu di sana.


“Jangan munafik! Kau bukanlah orang sehebat itu yang dapat mengungkap misteri dunia!”


Sosok itu sekali lagi berteriak kepadaku. Tapi satu hal yang kuyakini.


“Kau bukan dirinya. Sahabatku bukanlah orang yang pendendam dan bisa mengutuk orang lain seperti itu karena dia adalah orang yang paling baik hati yang pernah kukenal. Jadi enyahlah, dasar penipu!”


Aku pun meninju sosok itu dan sosok itu pun kembali menjadi bayangan lantas menghilang dari hadapanku.