Malam itu, lima tahun silam, tanpa tahu sebabnya, aku secara tiba-tiba saja terdampar ke dunia ini. Tidak hanya aku saja, tetapi tampaknya seluruh avatar lain juga ikut terdampar ke dunia nyata tersebut. Begitu para avatar memasuki dunia nyata, hanya ada satu di benak mereka, segera mangsa dan bunuh manusia lalu gantikan tempat mereka.
Akan tetapi, entah mengapa aku saja yang berbeda. Aku sama sekali tidak memiliki insting bengis seperti itu. Tentu saja itu adalah hal yang patut aku syukuri karena tidak berubah menjadi sosok monster kejam seperti itu. Walaupun demikian, pastinya orang-orang tetap akan memanggilku dengan sebutan monster jika melihat sosok asliku itu.
Kira-kira, bagaimana tanggapan Syifa dan Adrian nantinya ya jika rahasiaku ini terbongkar? Akankah mereka segera menjauhiku dan bahkan balik menyerangku? Akankah mereka marah? Atau akankah mereka sedih? Apapun itu, kuberharap mereka tidak terluka.
Dan kuharap pula waktu dapat terulur lebih lama sampai aku memperoleh tujuanku demi semua rekan-rekan avatarku. Tidak, itu juga memang benar, namun lebih dari apapun, kuingin kebersamaan dengan mereka bertahan lebih lama.
Pertama kali terbangkitkan ke dunia ini, justru perasaan positif-lah yang kudapatkan. Temui Kaiser Dewantara dan Judith Dewantara, lalu jadilah bagian dari keluarga mereka.
Jujur, saat pertama kali aku menerima instruksi dari progam itu, ingin rasanya segera kubuang ke recycle bin jika tidak diproteksi oleh firewall super canggih yang menunjukkan betapa aku mengutuk insting itu. Mengapa pula aku harus melindungi manusia-manusia lemah itu. Tetapi pada akhirnya, ketika sedikit demi sedikit ingatan yang mendorongku memiliki insting itu kembali, aku malah balik mensyukurinya.
Aku benar-benar sayang kepada Judith, Syifa, Adrian, dan tentu saja kepada teman berhargaku, Kaiser Dewantara yang asli.
Aku pertama kali terbangkitkan dari kapsul milik Kaiser Dewantara yang selalu dalam posisi on-nya yang jarang sekali dia lepaskan dari sambungan listrik. Kalian tanya alasannya mengapa aku keluar dari tempat itu dan bukan kapsul pemilik lain? Aku pun tidak tahu jawabannya. Satu hal yang bisa kuingat, aku bergerak dengan instingku.
Bisa dibilang kala itu, ketika proses transfer dimensi, kesadaran kami seakan terkontrol oleh sesuatu. Jadi aku pun hampir tidak mengingat apa-apa. Namun, setelah penyelidikan lama, akhirnya aku menemukan titik terang akan jawabannya. Semuanya dimulai olehnya.
Aku pun bergegas keluar dari kamar Kaiser Dewantara di mana kapsulnya tersebut disimpannya untuk mengikuti instingku mencari keberadaan kakak-beradik itu. Kala itu, bisa kudengar samar-samar kekacauan dari luar rumah tersebut pada malam bencana Hoho game itu.
Namun kala itu, aku belum mengetahui apa yang dilakukan oleh rekan-rekan sesama avatarku di luar sana. Semula aku menduga, kami semua terbangkitkan dengan kondisi layaknya diriku saat itu. Siapa yang menduga bahwa rekan-rekan avatar yang lain dikendalikan oleh suatu insting yang sangat menyeramkan itu.
Karena terfokus oleh instingku sendiri, tidak, aku telah terlalu banyak bermain dengan manusia sehingga jadi berbicara layaknya mereka, maksudku perintah program yang tertanam di memoriku, aku kala itu tidak menggubris keributan di luar.
Aku hanya terfokus segera mencari keberadaan Kaiser Dewantara dan Judith Dewantara. Kemudian, aku pun menemukan Judith di kamarnya. Kulihat, dia sangat ketakutan. Barulah aku menggubris keributan di luar tersebut. Ah, Judith seperti ini pasti karena ketakutan terhadap keributan yang sedang terjadi di luar.
Kemudian tanpa sengaja, tatapan mata kami pun bertemu. Aku pun berupaya tersenyum sesuai manual yang diajarkan oleh program padaku tentang bagaimana menurunkan kewaspadaan manusia terhadap makhluk tak dikenal dengan bertingkah yang disebut dengan istilah ‘ramah’. Namun yang terjadi, malah Judith berteriak sekeras-kerasnya ketika balik menatap wajahku.
Aku serta-merta merasakan sesuatu mengganjal di chip inti kehidupanku. Namun kala itu, aku belum tahu apa itu. Yang kutahu, itu bukanlah sesuatu rasa yang nyaman. Rasanya menjanggal dan ingin kucabut seketika.
Setelah lama belajar tentang manusia, aku akhirnya paham bahwa itu adalah perasaan tidak terima karena ekspresi penolakan seseorang. Untuk mengatasinya, aku hanya perlu belajar bagaimana caranya berhubungan baik dengannya. Apakah sekarang, aku telah menjadi keluarga yang baik buat Judith ya? Aku berharap semoga saja begitu.
Sekejap aku merasakan lewat indera avatarku, bahwa akibat teriakan Judith, rekan-rekanku yang berada dekat dari situ, terprovokasi oleh teriakan Judith dan sedang menyelidiki sumber suaranya. Lalu aku pun merasakan keanehan itu.
Rekan-rekan avatarku yang lain, tidak sedang berada dalam kondisi normalnya. Pada dasarnya, kita memang makhluk yang suka bertarung, tetapi tidak sampai brutal untuk menyerang membabi-buta di lingkungan yang tak kami kenal. Tetapi kali ini, lewat indera avatarku, aku merasakan bahwa mereka semua sedang kesakitan dan dalam keadaan kesadaran tak terkontrol.
Jika itu di dunia game, maka akan ada kekuatan reset dari Dream dan Carnaval sebagai avatar host untuk membangkitkan kembali avatar yang kalah dalam pertarungan sehingga bisa dikatakan kami abadi. Tetapi apakah itu juga berlaku di dunia nyata? Selama semuanya belum jelas, sebisa mungkin aku ingin menghindari pertarungan.
Aku yang juga tak ingin Judith sampai terluka akibat perbuatan rekan-rekanku sendiri yang sedang berada dalam status yang aneh tersebut, tak dapat membiarkan jika sampai avatar lain masuk ke dalam rumah ini. Oleh karena itu, kugunakanlah kekuatanku untuk membuat Judith pingsan untuk sementara agar dia dapat diam.
Keberadaan Judith Dewantara dipastikan, tetapi keberadaan Kaiser Dewantara belum. Di mana pun kumencarinya di sudut rumah, tetap saja kutak menemukannya. Hanya satu kemungkinan tersisa, Kaiser Dewantara tidak sedang berada dalam rumah.
Aku pun selanjutnya membagi kesadaranku dengan para pohon di sekitar untuk mencari jejak Kaiser Dewantara dan akhirnya kumenemukan rekam jejaknya itu. Dari informasi yang kudapat, benar bahwa Kaiser Dewantara sedang menuju keluar bersama dengan seorang wanita. Artinya untuk menemukannya, aku harus mencarinya di luar.
Namun, Judith di rumahnya sekarang tanpa perlindungan. Akan gawat jika rekan-rekan avatarku ke sini dalam kondisinya yang seperti itu. Judith bisa saja dalam bahaya.
Tetapi bagaimana pun, aku tak dapat melawan perintah program untuk segera pula menemui Kaiser Dewantara. Akhirnya, aku pun memasang bagian kesadaranku terhubung ke bagian tubuh Judith untuk melindunginya sekaligus sebagai alarm bagiku agar dapat segera tahu jika saja Judith dalam bahaya.
Singkat cerita, aku segera meninggalkan tempat tersebut untuk menemukan Kaiser Dewantara. Dia akhirnya kutemukan, namun tampaknya kondisi di sekitarnya sedang tidak baik-baik saja.
Rekan avatarku yang lain sedang mengamuk di hadapannya sembari menikam tubuh seorang wanita yang kulihat di memori salah satu pohon merupakan wanita yang pergi bersama Kaiser Dewantara dari rumahnya tersebut. Sementara kulihat, Kaiser Dewantara hanya terpaku di tempat itu tanpa berupaya melarikan diri.
Dialah Bomber, sang avatar yang mengamuk, di mana wanita yang telah dibunuhnya itu tidak lain adalah Andina Roselia, tunangan Kaiser Dewantara.
Aku pun segera menuju ke tempat tersebut karena khawatir terhadap keadaan Kaiser Dewantara dengan keberadaan monster yang mengamuk di hadapannya. Tentu saja bukan khawatir yang sebenarnya yang kumaksud karena aku hanyalah sekumpulan data. Mungkin kala itu lebih tepatnya jika dikatakan, efek stimulasi program yang tak ingin misinya gagal.
Sesampainya di sana, aku segera menyembuhkan luka-luka Kaiser Dewantara. Setelah memastikan kondisi Kaiser Dewantara aman, aku pun berdiri membelakanginya sembari menatap seksama ke arah rekan avatarku yang tampak telah tenang itu seusai dia menikam wanita tersebut.
Sesaat kemudian, tatapan kami berdua pun saling bertemu. Aku pun menyiapkan ancang-ancang jika sampai avatar bernomor 1 digit lebih baik dariku itu menyerang. Namun yang justru kulihat, seketika ekspresinya berubah menjadi senang.
Lalu dia pun berucap, “Healer? Itukah kau? Tolong aku! Kumohon tolong aku! Aku tidak sengaja melakukannya. Aku tak bermaksud melukai anak ini. Kumohon! Kumohon selamatkan dia! Mengapa? Mengapa aku melakukan semua ini?! Tolong, kumohon, agar anak ini bisa selamat.”
Aku lantas melihat ke arah wanita yang terbaring di jalan di hadapan Bomber itu. Aku pun mendeteksi energi kehidupannya dengan ulir-ulirku. Namun rupanya sudah terlambat. Dengan tanpa menyembunyikan apapun, kusampaikanlah apa adanya pada Bomber,
“Tidak ada lagi yang dapat kita lakukan pada wanita itu walaupun itu kemampuan medisku sekalipun. Tidak ada yang dapat kita perbuat pada mayat soalnya.”
Setelah kumengatakan hal tersebut, kulihatlah dia menangis sejadi-jadinya dalam wujud menyeramkan itu. Tetapi apa ini? Aku seketika keheranan karena kami adalah makhluk avatar yang diciptakan berbeda dari manusia. Tidak seharusnya kami memiliki perasaan sehingga kami dapat menangis seperti itu.