“Prak, prak, prak.”
Adrian melayangkan tinjunya berkali-kali kepada Sturdy. Sayangnya, hal itu hanya memberikan monster bertubuh kokoh itu, retakan yang kecil.
“Sekarang aku bisa lebih mudah menyerangmu di kala tidak ada lagi yang mengganggu di luar.” Ujar Adrian dengan semangat.
“Sesuai dugaan, manusia memang licik. Kau berpura-pura mengincar kami padahal sebenarnya sedari awal kau mengincar Sticky Girl dari jauh.” Balas Sturdy kepada Adrian.
“Oi, oi. Licik apanya. Itulah yang namanya strategi penyerangan. Kalau dibilang licik, bukankah itu kalian? Kalian berusaha menyerangku bertiga, sementara aku hanya seorang diri.” Adrian tidak mau kalah lantas balik melontarkan kata-kata kepada sang monster, Sturdy.
“Kau sendiri yang membiarkan temanmu pergi…”
“Apa yang kau katakan? Walaupun Kak Kaiser ada di sini, bukankah situasinya saat itu tetap 2 lawan 3? Jumlah kalian masih lebih banyak. Sesuai harapan dari para makhluk lemah, sukanya hanya main keroyok.”
“Siapa yang kau sebut makhluk lemah, manusia rendahan!” Sturdy pun kembali di puncak naik pitamnya setelah mendengarkan provokasi Adrian lantas untuk sesaat menjadi irrasional, menyerang secara membabi-buta.
“Rasakan serangan dariku ini, sang makhluk superior, wahai manusia rendahan!”
Sturdy maju dengan tinjunya. Serangan itu lantas ditangkis dengan kedua tangan Adrian. Setelah menangkisnya, Adrian segera bergerak ke belakang untuk menghindari serangan kedua.
Mutlak pertarungan ini kurang menguntungkan bagi Adrian. Karena penggunaan side avatar Hard sebagai penyerang, dia tidak bisa lagi melindungi dirinya dengan armor dari sang side avatar.
Dia juga bukan berarti bisa menggantikan sarung tinju Hard dengan armor Hard perihal baik pedang Crusader maupun panah Arjuna, kedua-duanya tidak ada yang efektif dalam memberikan serangan berarti kepada armor kokoh Sturdy. Apa tah lagi dengan senjata pistol suara Sly Dark.
“Eh, tunggu. Aku baru saja memikirkan ide yang menarik.”
Namun, belum sempat Adrian mengungkapkan apa idenya itu, lima menit telah berlalu kembali lantas Void menyerang sekali lagi dengan serangan sniper laser hitam penelan segalanya itu. Tetapi Adrian untuk yang kesekian kalinya, dapat menghindarinya dengan cantik.
“Set, set, set, set, set, set.”
Tanpa memberikan waktu bagi Adrian untuk menstabilkan keseimbangannya pasca serangan Void, Sturdy berkali-kali melayangkan tinjunya ke kiri dan ke kanan, hendak menyerang dada Adrian. Tetapi juga, Adrian mampu menghindari serangan itu dengan mulus.
Dia mau tidak mau fokus pada penghindaran, karena sekali armor Arjuna-nya itu terkena serangan Sturdy, efek serangan yang diberikan akan sangat dahsyat saking kerasnya tinju Sturdy tersebut, sementara Armor Arjuna-nya sangatlah lemah dibandingkan dengan kekerasan tubuh Sturdy.
Hanya side avatar Hard-nya saja yang terbuat dari batu terkeras yang dapat mengalahkan kekerasan Sturdy. Akan tetapi, Hard hanyalah side avatar. Adrian tak dapat mengaktifkan armor dan senjatanya secara bersamaan layaknya avatar utamanya, Avatar Arjuna.
Dia sebenarnya memiliki opsi untuk meng-unsummon Avatar Arjuna lantas mengaktifkan side avatar Hard-nya sebagai tubuh utama sementara. Hanya saja, jika menggunakan side avatar sebagai tubuh utama, Adrian jadi takkan dapat menggunakan kekuatan avatar lain. Ini bisa berbahaya karena jika dibutuhkan, kombinasi Sly Dark dan Crusader-lah yang paling efektif menghadapi serangan laser hitam peniadaan Void.
Namun, kali ini dia punya cara yang terpikirkan di benaknya, entah cara itu akan berhasil atau tidak, untuk membantunya keluar sebagai pemenang dalam kestagnanan pertarungan tersebut.
Dari jauh, Profesor Dios sekali lagi memberikan komentarnya.
“Pertarungan beberapa saat jika dilihat sekilas telah berlangsung imbang. Namun, ini sebenarnya adalah kerugian buat Adrian. Sturdy dengan mudah dapat memulihkan staminanya selama di dekatnya ada tanah, sementara Adrian hanya akan terus dan terus kehabisan MP dan HP. Di samping, dia belum punya cara memberikan serangan yang kuat sambil juga dapat mempertahankan kekuatan defensifnya. Nah, Adrian, apa yang akan kamu lakukan?”
Bersamaan dengan komentar Profesor Dios itu, Profesor Dios dan Arskad pun semakin fokus dalam melihat berlangsungnya pertarungan Adrian vs Sturdy dan Void.
“Mr. Aili, serang monster batu itu dengan airmu!” Teriak Adrian.
“Kamu sudah punya rencana ya, Adrian.” Jawab Mr. Aili melalui salah satu drone-nya.
Mr. Aili pun segera mengumpulkan air melalui sungai dan danau sekitar, termasuk melalui air PDAM rumah-rumah penduduk di sekitar. Seketika air itu cukup, para drone Mr. Aili pun seketika mengelilingi sang monster Avatar Sturdy.
Tanpa mengerti serangan apa yang akan diberikan oleh Adrian padanya, Strurdy hanya membiarkan dirinya dibasahi oleh bongkahan air-air tersebut dengan ekspresi yang keheranan.
“Air biasa? Otakmu tampaknya sudah mulai rusak ya, Blue Batboy. Tampaknya kamu sudah sadar bahwa tak ada lagi yang dapat kamu lakukan untuk mengalahkanku sehingga kamu pun melakukan keusilan yang tidak jelas ini. Kini, bersiap-siaplah menerima ajalmu.” Sturdy pun berujar kesal kepada Adrian.
“Blah, blah, blah. Terserah kau mau ngomong apa, karena ini kekalahanmu, Sturdy.” Ujar Adrian dengan percaya diri.
Rupanya, dia telah beralih ke armor Hard-nya. Itu berarti, dia tak lagi dapat mensummon tinju Hard.
Dengan kesal karena merasa diusili, Sturdy menerjang ke arah Adrian dengan marah.
“Set, set, set, set, set, set.”
Sturdy berupaya meninju Adrian di sana dan di sini. Namun, semua serangannya itu gagal.
“Set.”
“Prak.”
Akan tetapi, serangan tinju yang ketujuhnya itu berhasil mengenai Adrian lantas menghempaskan Adrian jauh ke belakang.
Tidak, Adrian dengan sengaja menerima serangan tinju itu agar dia dapat segera menjaga jarak dengan Sturdy. Adrian tak lagi dapat terluka parah oleh tinju Sturdy tersebut perihal keberadaan armor Hard yang lebih keras dari tinju Sturdy.
Dengan senyum licik yang tersembunyi di balik helmetnya, Adrian yang telah mensummon panah Arjuna lengkap dengan ketiga panah apinya, menyerang Sturdy dengan panah api itu yang tidak punya kesempatan lagi untuk menghindar perihal posisinya yang belum seimbang sejak serangan terakhirnya.
“Flash flash flash.”
Serangan itu dengan indah mendarat di permukaan tubuh kokoh Sturdy. Namun sesuai dugaan, tak ada satu pun dari serangan itu yang mampu menembusnya.
Apakah Adrian kecewa? Tidak, ekspresinya mengatakan bahwa hal itu telah sesuai dengan ekspektasinya.
“Mr. Aili, jangan kendorkan seranganmu! Tetap siram dia dengan airmu!” Adrian pun berteriak.
Seketika, tampak sinar hitam peniadaan Void kembali ditembakkan. Adrian mampu menyadari serangan itu beberapa milisekon sebelum ditembakkan berkat indera pendengarannya yang sangat tajam jauh melebihi batas ukuran untuk orang normal. Adrian mampu menghindari serangan tersebut dengan sempurna.
Berkali-kali setelah itu, Adrian terus-terusan menembakkan panah apinya kepada Sturdy di kala Mr. Aili tetap menyemprot monster tersebut dengan airnya. Dalam jeda lima menit berikutnya, Void kembali melancarkan serangan snipernya secara stagnan yang membuat Adrian dengan mudah memprediksi serangannya lantas menghindarinya dengan mudah. Hal itu terjadi secara berkelanjutan hingga suatu ketika,
“Claaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang.”
Suara nyaring tiba-tiba menggema dan menggaung, memenuhi seisi hutan. Rupanya, suara itu berasal dari serangan Adrian dengan menggunakan senjata pistol suara dari side avatar Sly Dark-nya yang baru pertama kali itu dia gunakan.
“Apa ini? Tubuhku hancur? Tidaaaaaak!”
Lalu secara ajaib, tubuh Sturdy yang terbuat dari batu yang sangat kokoh, tiba-tiba retak sana-sini dan diapun hancur bagaikan barang pecah-belah. Dalam sekejap, Sturdy berubah menjadi butiran-butiran debu data.
“Oh ho. Anak itu memang pintar. Dia memanfaatkan hukum fisika sederhana dalam mengalahkan sang monster.” Dari jauh, Arskad Dewantara memberikan komentarnya.