Aku nekat mengambil inisiatif. Di antara kami bertujuh, hanya aku yang memiliki penglihatan paling tajam yang dapat dengan sigap dapat segera menghindari serangan nafas beracun sang naga hijau.
Aku pun memegang daggerku erat-erat alih-alih senapanku kemudian aku pun perlahan mendekat ke arah sang monster.
“Adrian! Apa yang kamu lakukan?! Pertahankan formasi!” Paman Dios tampak berteriak padaku, tetapi aku mengabaikannya. Aku hanya berlari dan terus berlari.
Sampai tibalah aku tepat di bawah kaki monster itu. Aku pun memanjati tubuhnya dengan sigap menghindari semua serangannya. Hingga sampailah aku tepat pada area perutnya di mana Time berada.
Tampak Time meraung-raung marah begitu melihat kehadiranku. Naga hijau tampak berusaha sekuat tenaga melindunginya, tetapi terima kasih berkat serangan pengalihan dari Paman Shou dan Paman Dios, pertahanan Time akhirnya terbuka.
Dengan memanfaatkan kesempatan yang diberikan kepadaku secara baik-baik, aku lantas menusukkan dagger yang sedari tadi kupegang ke kepala Time tersebut. Terlihat, badannya pun mulai retak. Namun sayangnya, hal itu turut membuat tubuh sang naga hijau goyah sehingga aku pun terjatuh dari tubuhnya.
Untunglah Paman Shou bisa dengan sigap menggapai aku dengan kekuatan elemen airnya sehingga aku terhindar dari jatuh bebas ke tanah.
Aku selamat.
Kulihatlah Time yang ada di perut monster itu. aku benar-benar berhasil mengalahkannya. Bisa kulihat dari jauh bagaimana Time terurai menjadi butiran-butiran debu data. Bersamaan dengan itu, tubuh naga hijau pun terdegradasi dan meleleh dengan menjijikkan yang tinggal menyisakan tulangnya saja.
Tidak lama kemudian pemberitahuan sistem pun muncul yang padahal sejak kami datang di dunia ini sama sekali tidak pernah terlihat.
SELAMAT! NAGA HIJAU YANG MENYEBABKAN KEKACAUAN DI DUNIA INI BERHASIL DIKALAHKAN. TERDETEKSI PULA GANGGUAN PORTAL DUNIA VIRTUAL TELAH MEREDA DAN KINI DUNIA VIRTUAL STABIL KEMBALI. ANDA AKAN SEGERA DIKEMBALIKAN KE TUBUH FISIK ANDA DI DUNIA LUAR. TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA SELAMA INI.
Aku juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi tentang siapa suara yang mengaku sebagai sistem itu. Yang jelas berdasarkan perkataannya, berarti kami telah berhasil menyingkirkan dalan penyebab munculnya portal liar selama ini di bumi. Sesuai dugaan, ini semua adalah perbuatan Time. Sejak Time dikalahkan, artinya semua masalah ini telah mereda.
Di sinilah markas rahasia kami selama pertarungan kami melawan para monster avatar. Di hadapan kami telah menunggu Profesor Melisa beserta ayah dan ibuku dan masih banyak lagi tampak orang-orang memenuhi markas sempit kami ini. Aku jauh melihat ke belakang di dalam kerumunan. Rupanya juga ada Nafisah di sana.
Tapi mengapa raut wajahnya nampak begitu sedih? Karena khawatir, aku pun segera menghampirinya. Setelah berjalan beberapa langkah, aku pun baru menyadari.
“Lho, kok tubuhku baik-baik saja? Kami kan sudah hampir tiga bulan di dunia virtual?” Tanyaku keheranan, namun Profesor Melisa segera menjawabnya, “Waktu di dunia virtual bisa disetting menyesuaikan keadaan, Adrian. Tetapi untuk mencegah kecacatan otak akibat percepatan elektrik, kami membatasinya menjadi 1 berbanding 30 hari. Jadi sebenarnya, kalian berada di dunia virtual hanya selama kurang dari 3 hari.”
Aku bernafas lega karena rupanya keadaan tidak seburuk seperti apa yang aku pikirkan. Lalu Profesor Melisa pun kembali berujar padaku, “Berkat kalian bertujuh, tidak ada lagi bencana portal di seluruh bumi dan kita kini dapat bernafas lega.” Tetapi entah mengapa Profesor Melisa mengucapkannya dengan nada yang begitu sedih.
“Nah, sekarang, Adrian, maaf karena memintamu di saat kamu masih letih sehabis dari dunia virtual, tetapi hiburlah Nafisah sekarang.”
“Apa?” Ujarku keheranan tentang maksud ucapan Profesor Melisa tersebut.
Aku pun menghampiri Nafisah. Seketika Nafisah memelukku erat-erat sembari menangis tersedu-sedu. “Adrian, hiks hiks. Ayah, Ayah telah meninggal.” Ujarnya dalam kesenduan.
Di situlah aku baru mengetahui, ketika kami berada di dunia virtual, tim di sini juga sibuk menangani berbagai monster yang menyerang kota. Wajar saja akan muncul korban. Tetapi berpikir jika itu Paman Loki, rasanya hatiku sangat teriris-iris.
“Hiks hiks.” Tanpa sadar, air mataku pun turut jatuh bersamaan dengan Nafisah. Bukannya malah menghiburnya, aku malah tanpa sadar bersimpati dengannnya lewat tangisan bersama.
Ada yang datang ada yang pergi. Pejuang yang lama kian terganti oleh pejuang yang baru. Tiada manusia yang dapat menang melawan ajal terlebih di usia senja. Aku hanya dapat berdoa agar Paman Loki dapat beristirahat dengan tenang di alam sana. Dan untuk perjuangan bumi ke depannya, adalah tugas kami, para anak muda, untuk melanjutkannya.