101 Avatars

101 Avatars
54. Pertemuan Sang Palsu terhadap yang Asli



“Hei, bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di sini?  Kenapa banyak dari kaum kita yang mengamuk di dunia nyata ini?  Tidak, sebelum itu, mengapa kita sampai terdampar di tempat ini?”  Aku yang penasaran pun serta-merta bertanya pada Bomber tanpa memperhatikan dia yang sedang menangis tersedu-sedu kala itu.


Tentu saja demikian, karena kala itu aku belum mengerti tentang perasaan manusia.


“Aku juga tidak tahu.  Tahu-tahu, isntingku mengarahkanku untuk menyerang anak ini lantas memimik tubuhnya.”  Jawab Bomber padaku.


“Insting ya.  Cara bicaramu jadi mirip dengan manusia rupanya.  Juga apa-apaan dengan tangisan itu?  Sejak kapan avatar bisa menangis?  Kamu unik juga.  Juga apa maksudmu dengan memimik?  Kosa kata itu tidak kutemukan di mana pun di memoriku.”  Aku pun memberikan komentarku kepada sosok Bomber di hadapanku itu sekaligus bertanya baik padanya.


Aku lantas terkaget karena Bomber tiba-tiba berubah menjadi mirip dengan sosok wanita yang telah dia hilangkan nyawanya itu


“Kau?  Kenapa bisa?”  Ujarku keheranan melihat kejadian tak masuk akal itu.


“Entahlah.  Kemampuan ini begitu saja aku peroleh bersamaan dengan instingku itu.  Rasanya aneh.  Aku jelas-jelas tahu bahwa aku berasal dari dunia virtual, tetapi perlahan ingatan selama aku di sana menghilang dan tergantikan dengan kenangan anak ini, entah perasaan senang, sedih, cinta, termasuk kehampaan.”  Aku dapat merasakan kesenduan di akhir kalimat Bomber itu.


Merasakan kah?  Aku tampaknya juga mulai terpengaruh perasaan manusia bernama Kaiser Dewantara ini.


Aku yang penasaran pun balik bertanya, “Hei, bagaimana kamu melakukannya?”


“Melakukan apa?”


“Itu, memimik manusia.”


“Oh, kamu sisa gabungkan cairan tubuh manusia yang mau kamu mimik dengan inti avatarmu.”  Jawab Bomber padaku.


“Begitukah?”  Responku singkat.


Seketika, aku dipenuhi rasa keingintahuan tentang bagaimana perasaan manusia itu.


“Hei, apa yang mau kau lakukan?!  Jangan wanita itu!  Kamu akan lenyap jika memimik orang yang sudah mati atau orang yang sudah dimimik oleh avatar lain.  Lakukan saja pada pria yang ada di sana itu.”  Ucap Bomber sekali lagi padaku sembari menunjuk Kaiser Dewantara.


Aku pun balik melirik ke arah Kaiser Dewantara.  Lalu dengan bodohnya, aku melawan insting di dalam diriku yang kala itu ingin melindunginya, dengan memasukkan tentakelku yang menjijikkan itu ke lubang tubuhnya.


“Tidak!  Jangan lakukan itu, dasar bodoh!”  Andai saja aku bisa meneriakkan kalimat itu pada diriku di masa lalu yang bodoh.  Apa boleh buat, semuanya telah terjadi.


Dalam sekejap, aku berhasil memimik teman berhargaku itu, Kaiser Dewantara.


Itulah keputusan terbodoh yang pernah kulakukan.  Betapa aku sangat menyesalinya.  Siapa yang sangka bahwa akibat keputusan yang kuambil karena rasa penasaran sejenak-ku terhadap perasaan manusia, itulah yang kini membuat teman berhargaku tersebut terbaring koma bahkan hingga sekarang.


Selama aku hidup, dia akan tetap berada dalam kondisi komanya tersebut.  Lalu, teori yang dibawa oleh Adrian pun sejenak membawa harapan kecil di hatiku bahwa aku bisa menemui kembali Kaiser Dewantara sebelum aku lenyap.  Tetapi, aku takkan mengulangi kesalahan yang sama lagi.  Takkan lagi kulakukan sesuatu yang macam-macam tanpa rencana yang pada akhirnya tak dapat dikembalikan seperti semula.


Aku sudah cukup puas dengan mengetahui bahwa setelah kematianku, Kaiser Dewantara akan pulih kembali.  Saat ini, aku hanya harus fokus menggapai tujuanku demi semua rekan-rekan avatarku.


Namun, aku sama sekali tak menduga akan adanya efek samping pasca memimik manusia.  Seketika pikiranku seakan dikuasai oleh emosi-emosi negatif yang berasal dari kemarahan Kaiser Dewantara, terutama kepada semua monster avatar.


Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin hubunganku dengan Syifa dan Adrian pun hanyalah lantaran berdasarkan kehendak Kaiser Dewantara saja.


Namun, segera kutepis tangan wanita itu, tidak tangan monster avatar itu, lalu kuteriakkan padanya, “Jangan berani-beraninya kau sentuh aku, dasar monster sialan!”


Tanpa sadar aku meneriakkan itu karena terlalu termakan oleh perasaan Kaiser Dewantara yang asli.  Seakan paham keadaanku yang masih linglung oleh perasaan yang tak kukenal itu, Bomber hanya menghela nafas seraya menatapku dengan lembut.


Sejenak kemudian, dia kembali menyapaku, “Apakah kamu sudah sedikit tenang?”


Aku yang semula dalam posisi jongkok pun lantas berdiri seraya mengucapkan, “Tidak perlu bahas hal yang sepele.  Ayo ikut aku.  Kita harus segera menyelidiki apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini.”


Aku pun menggendong Kaiser Dewantara yang asli sembari menutupi wajahnya dan memasukkannya bersama ke mobil yang kala itu dikendarainya.  Setelah Bomber dalam wujud Andina itu turut masuk ke sana, aku pun segera menyetir mobil meninggalkan lokasi tersebut.


Belakangan, Judith selalu menyalah-nyalahkan keputusanku waktu itu tentang mengapa kutinggalkan mayat Andina di jalan seperti itu.  Itu karena aku bukannya ingin merahasiakan identitas Bomber yang memimik Andina, jadi kubiarkan saja jasad itu tergeletak di tanah.


Hmmm.  Tampaknya itu juga salah soalnya Judith belum tahu tentang identitas sejatinya diriku yang adalah Avatar Healer.  Lantas apa ya yang membuatnya marah ketika aku meninggalkan jasad itu di jalanan?  Tubuh yang telah kehilangan energi kehidupannya kan tak lain dari sampah yang tak lagi ada gunanya.


Oh, sampah ya.  Sekarang aku mengerti kenapa Judith marah.  Dia pasti marah karena aku membuang ‘sampah’ di jalan sehingga mengotori lingkungan.  Aku seharusnya mengubur ‘sampah’ itu agar tak menjadi limbah bagi lingkungan.


“Maafkan aku Judith, sebagai makhluk avatar yang abadi dan tak memiliki wujud fisik, aku sama sekali tak memahami cara mengolah sisa-sisa orang mati dengan baik.  Tetapi lain kali, aku akan belajar dari pengalaman dan tak akan membuatmu marah lagi.”  Gumamku dalam hati dengan penuh keseriusan.


***


Tiba-tiba, di tempat Kaiser berbaring itu, sebuah portal terbuka lalu sesosok wanita cantik dengan pakaian serbahitam mendatanginya dari balik portal.


“Oh, Holy, kamu sudah datang rupanya.”  Sapa Kaiser Dewantara kepada sosok wanita itu yang tidak lain adalah Holy.


“Oh, Kakak.  Apa kita akan melakukannya seperti biasa?”  Tanya Holy kepada Kaiser.


“Ya, tolong.”  Jawab Kaiser singkat kepada Holy.


Lalu dalam sekejap, tiga portal mini berukuran tidak lebih dari radius 5 cm terbuka.  Kaiser tampak telah kembali ke wujud Healer-nya lantas mengalirkan ulir-ulir ke dalam masing-masing tiga portal tersebut.


Rupanya, masing-masing ulir yang memasuki portal teralir pada Jessica, Tio, dan kepada seorang lagi.  Healer pun mengaktifkan jurus penyembuhnya, tidak, jika berbicara soal Healer, kekuatan sejatinya adalah kekuatan penetralan yang dapat menyembuhkan status debuff maupun buff.


Itulah rupanya yang menjadi penyebab mengapa Zio yang baru sadar dari komanya, tetap langsung dapat beraktivitas normal seperti sedia kala bagai orang yang hanya tidur seperti biasa, padahal sejatinya dia telah terbaring koma selama lima tahun.  Itu semua berkat Healer yang selalu menetralkan debuff yang terjadi di tubuh mereka lantaran lama tidak bergerak.


Tidak hanya Zio, Kaiser pun turut merawat inang mimikan Holy, Jessica, inang mimikan Arjuna, Tio, serta inang mimikan dirinya sendiri, Kaiser Dewantara yang asli.


“Holy, bisa kamu antarkan diriku sejenak ke tempat diriku berada?”  Tanya Healer yang telah kembali ke dalam wujud Kaiser Dewantara itu.


Seketika terdengar absurd, tetapi Holy dapat segera memahami apa yang dimaksud oleh Healer.  Healer saat ini sangat ingin bertemu Kaiser Dewantara yang asli.  Lalu, Holy pun membawa Healer dalam wujud Kaiser Dewantara itu kepada Kaiser Dewantara yang asli yang sedang terbaring koma.


Akhirnya, kedua wajah kembar bagai cermin itu pun saling bertemu.


“Tunggulah sebentar lagi, wahai temanku yang berharga.  Semuanya, akan segera kembali ke tempat seharusnya berada.”  Ujar sang palsu kepada yang asli dalam kesenduan.