101 Avatars

101 Avatars
133. Kebenaran yang Diputarbalikkan



“Maaf, yang mulia Putra Mahkota, Anda tidak boleh keluar dari kamar ini.” Serta-merta Pangeran Kedua dihentikan langkahnya oleh para pengawas ketika hendak akan meninggalkan kamarnya.


“Mengapa tidak boleh? Ayahku dibunuh oleh seseorang dan bahkan melihat mayatnya saja, aku tak boleh?” Pangeran Kedua tak dapat menahan frustasi dan sedihnya terkurung di dalam kamar sendirian ketika orang tua satu-satunya yang tersisa justru kini dibunuh dengan cara yang sadis pula.


Di kala itulah, Pangeran Qodis, paman dari Pangeran Kedua datang untuk mengunjunginya.


“Paman?” Lirih Pangeran Kedua begitu melihat pamannya.


Serta-merta sang paman berlari lantas merangkul tubuh keponakannya itu.


“Oh, Ivan, syukurlah kamu baik-baik saja. Aku telah mendengar semuanya. Maafkan Paman karena selama ini hanya sibuk bermain di luar tanpa tahu adalah masalah besar yang terjadi di kerajaan. Padahal Kakak adalah raja yang baik. Siapa yang tega membunuhnya.” Dengan isak-tangis, Pangeran Qodis mengucapkan kalimatnya tersedu-sedu.


“Tidak, ini bukan salah Paman, kok. Siapa yang menduga bahwa hal seperti ini bisa terjadi di dalam istana yang dijaga ketat.” Balas Pangeran Kedua disertai haru menderai atas perhatian pamannya itu.


“Maaf, yang mulia Pangeran Qodis. Anda tidak diizinkan untuk mengunjungi tersangka pembunuhan keluarga kerajaan saat ini.” Ujar salah seorang pengawal melerai pertemuan mengharu biru di antara paman dan keponakan itu.


“Ohoooo! Beraninya kamu bersikap kurang ajar ya pada keluarga kerajaan, dasar kacung rendahan.” Bentak Pangeran Qodis kepada pengawal yang berupaya mengusirnya pergi itu.


“Maaf, yang mulia Pangeran Qodis. Hamba hanya menjalankan perintah untuk mengawal ketat tersangka pembunuhan raja dan mantan putra mahkota tersebut.”


“Plak!” Pangeran Qodis menampar wajah sang pengawas tersebut.


“Berani-beraninya kau menuduh keponakan tersayangku sebagai pelaku pembunuhan ayah dan kakaknya sendiri. Juga belum dipastikan mayat Bistan, bagaimana kamu berani bilang bahwa keponakanku itu sudah meninggal, hah!”


Melihat emosi Pangeran Qodis yang memuncak, petinggi para pengawas itu pun datang menghampirinya seraya meminta maaf dan berupaya menjelaskan baik-baik situasinya kepada Pangeran Qodis agar dia dapat bekerjasama.


“Huh, dasar rendahan yang cuma menghabiskan uang negara. Bisa-bisanya mereka menuduh calon rajanya sendiri sebagai pembunuh keluarganya sendiri. Ivan, tenang saja. Paman pastikan akan segera membebaskanmu dari tuduhan.”


Ujar Pangeran Qodis kepada Pangeran Ivan. Pangeran Ivan pun dengan tulus mengucapkan terima kasih padanya lalu Pangeran Qodis pun segera menghilang dari tempat itu.


***


Adrian akhirnya mengungkap misteri dari misi yang diembankan kepada Kaiser dan Arskad disertai dengan bukti video yang dia rekam. Semuanya mengarah kepada orang yang sama, Pangeran Bistan, sang mantan putra mahkota.


Kaiser, Arskad, dan juga yang lain bisa menyaksikan bagaimana Pangeran Bistan berubah bentuk menyerupai iblis setelah menyerap energi kehidupan dari seorang wanita. Untunglah Adrian segera datang ke tempat itu untuk menghentikan Pangeran Bistan. Jika tidak, sang wanita pasti juga akan sudah mengembuskan nafas terakhirnya bersamaan dengan para korban lainnya.


“Ini kejam. Jadi Pangeran Pertama berbuat hal sekeji ini?” Kaiser tak dapat menahan keterkejutannya melihat pembantaian keji yang dilakukan oleh Pangeran Bistan tersebut yang ke semua korbannya adalah anak buahnya sendiri.


“Aku tak menduga kalau kematian misterius warga ibukota dan juga kutukan yang menimpa ketiga kerajaan di barat yang menewaskan hampir semua penduduknya, semuanya disebabkan oleh Pangeran Pertama.” Profesor Dios pun menambahkan komentarnya.


“Kalau aku sendiri, aku tidak peduli karena mereka semua palingan hanyalah NPC. Selama kita bisa menyelesaikan misi kita masing-masing, maka itu sudah cukup bagiku.” Ujar Adrian dengan datar.


“Aku sedikit kecewa dengan Pangeran Kedua yang turut merahasiakan semua ini dan dia bahkan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Kukira dia dermawan yang dengan rela hati, turun ke pinggiran kerajaan membersihkan bekas mayat-mayat yang berserakan dari tragedi naas itu. Tentu setidaknya dia harus melakukannya jika dia masih punya hati nurani karena semua ini disebabkan oleh kakaknya sendiri.”


“Benar-benar kejam bahkan jika itu demi mempertahankan negara, tetapi sampai turut tega mengorbankan jutaan nyawa warga sipil…” Lalu Arthur pun menambahkan.


“Yah, kalian tidak boleh terlalu menyalahkan Pangeran Kedua karena ini. Lebih dari siapapun, akulah yang paling tahu rasa sakit yang dideritanya. Dia hanya berusaha senantiasa tegar tidak memperlihatkannya. Lagipula mantan putra mahkota melakukan semua ini secara sepihak tanpa sepengetahuan Pangeran Kedua.” Adrian tampak membela Pangeran yang selama berada di dunia itu, terus dijaganya dengan sepenuh hati.


“Yah, apapun itu, saatnya untuk mengungkapkan kebenaran di publik.”


“Tunggu, Kak Kaiser. Aku ingin bagian tentang mantan putra mahkota menyebabkan tragedi kutukan di tiga kerajaan tetangga di barat agar dirahasiakan di publik. Jika tidak, akan terjadi kemelut di Kerajaan Amora ini. Dan akibatnya, aku tidak akan bisa menjalankan misiku untuk membuat Pangeran Kedua naik tahta.”


“Hah. Ini sebenarnya sangat bertentangan dengan hati nuraniku. Untunglah, hal ini hanya terjadi di dunia game. Jika ini di kehidupan nyata, maka aku pasti takkan membiarkannya.” Terhadap pernyataan Adrian itu, Kaiser hanya dapat menghela nafasnya pasrah sembari mengikuti kemauan Adrian


“Jadi Kakak setuju?” Tanya Adrian mengonfirmasi.


“Mau apa lagi? Yang paling penting sekarang, kita semua bisa keluar dari dunia ini dengan selamat. Yang lain juga setuju kan?”


Atas pertanyaan Kaiser itu mengonfirmasi, semuanya mengangguk setuju.


***


Sementara itu, di tempat Pangeran Kedua ditahan sementara.


“Lepaskan! Apa yang kalian lakukan?! Walaupun aku sekarang berstatus tersangka, kalian harus ingat bahwa statusku tetaplah sebagai putra mahkota kerajaan ini! Tindakan kalian menyeretku secara paksa seperti ini sama saja menghina kerajaan!” Pangeran Kedua membentak marah ketika para pengawas yang seharusnya hanya ditugaskan untuk mengawasinya itu kini justru memperlakukannya secara kasar, layaknya tahanan rakyat jelata.


Namun, para pengawas sama sekali tidak peduli dengan semua itu dan malah tetap menyeret putra mahkota itu dengan lebih kasar lagi bagai menyeret seekor anjing liar. Salah satu di antara mereka yang tampak jabatannya lebih tinggi pun, menunjukkan surat resmi kerajaan kepada putra mahkota malang itu.


“Ini?” Tanya Pangeran Kedua tidak percaya.


“Ya, senat sudah memutuskan bahwa kamu diturunkan jabatannya sebagai putra mahkota dan digantikan oleh adik kamu, Pangeran Adoles. Statusmu sebagai pangeran pun resmi dicabut dengan surat yang bertanda tangan Pangeran, tidak, maksudku yang mulia Putra Mahkota Adoles ini. Pengawal! Seret penjahat nista itu ke penjara bawah tanah terdalam kerajaan!”


“Siap laksanakan perintah!” Para serdadu itu pun menuruti perintah komandannya dengan patuh lantas menyeret Pangeran Kedua layaknya menyeret seekor anjing liar.


Di penjara itu, tampak seseorang telah menunggunya dengan tak sabar. Dialah pengeksekusi ke-299 tahanan penjara bawah tanah yang menyebabkan keadaan penjara bawah tanah menjadi gempar dengan hilangnya beberapa tahanan secara misterius di sana. Dialah Lu Shou, anggota terakhir tim volunteer ke dunia virtual.


Tentu saja, para penjaga penjara bawah tanah tidak peduli dengan itu semua karena itu bukan urusan mereka bahwa tahanan yang sudah terbuang itu mati ataukah tidak. Lagipula, tidak ada lagi yang akan mencari para tahanan menyedihkan itu yang bahkan terlupakan oleh semua anggota keluarganya.


“Yo, Pangeran Kedua. Aku sudah lama menunggumu. Mari kita mulai bersenang-senang.” Ujar Lu Shou dengan bengis sembari menatap wajah menyedihkan penuh luka pangeran kedua itu.