“Sudah kubilang, sampai kapan pun, aku takkan pernah menganggap sampah itu sebagai kakakku lagi! Orang yang dingin itu, dia tak jauh beda dengan para monster avatar!”
Petang itu, dari balik pintu, kudengar Judith kembali mengamuk dengan menghujat-hujat kakaknya, Kak Kaiser. Namun, kali ini berbeda karena dia berbicara sekasar itu di hadapan kakakku Syifa. Kali ini aku tak dapat membiarkan sikapnya yang keterlaluan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang boleh memperlakukan Kak Syifa dengan kasar seperti itu, sekali pun dia adalah adik kandung dari mentorku sendiri, Kak Kaiser.
Namun, belum sempat kubuka pintu markas rahasia itu, suatu fakta mengejutkan pun kudengar dari mulut Profesor Melisa.
“Sudah cukup, Judith! Kamu pikir semuanya tidak sedih dengan kematian Andina?! Seharusnya kamu tahu bahwa melebihi siapapun, akulah yang paling terpukul karena kejadian itu karena Andina adalah putriku!”
Tak pernah kusangka, tunangan Kak Kaiser yang meninggal karena Avatar Bomber, Kak Andina, rupanya anak dari Profesor Melisa. Jika demikian, Profesor Melisa pun harus menahan pahit memanfaatkan Avatar Bomber sebagai senjata menghadapi para avatar, yang merupakan perihal penyebab kematian putrinya.
Hari esok pun tiba. Pagi kala itu, aku termenung di taman belakang gedung fakultasku. Aku masih tidak bisa melupakan apa yang kudengar kemarin. Aku tak menyangka bahwa tidak hanya Kak Kaiser, tetapi juga Profesor Melisa, mempunyai tekad sekuat itu sampai-sampai bisa menahan api amarah kebencian mereka terhadap pelaku pembunuhan orang yang paling mereka cintai.
Tidak, sejak awal mereka hanya bersikap dewasa. Mereka sadar bahwa para avatar tidak lebih hanya sekadar program yang tak memiliki perasaan.
Tidak, jangankan perasaan, mereka pada dasarnya bukanlah tergolong kategori makhluk hidup. Mereka hanyalah sosok aplikasi imajiner yang tak memiliki nyawa dan kehidupan. Tidak ada gunanya membenci mereka. Begitu pula sebaliknya, tidak ada gunanya menaruh simpati pada mereka.
“Lho, Adrian? Apa yang kamu lakukan menyendiri di sini?” Tiba-tiba sebuah suara lembut nan indah menyapaku dari belakang. Suara yang aku kenal dengan baik, suara sosok dewi pujaanku, Nafisah.
Mendengar suara itu, dengan jantung berdegup kencang, aku pun menoleh ke belakang. Pipiku mendadak terasa panas ketika kumelihat rupanya yang ayu itu. Aku pun malu-malu menundukkan pandangan ketika mata kami bertemu.
“Hai, Nafisah.” Sapaku balik dengan malu-malu.
Wajah yang ayu itu pun seraya tersenyum kepadaku. Nafisah lantas ikut duduk di sampingku bersamaku. Kulihat dia terus menatapku dengan rupanya yang ayu itu.
“Duh, kalau ditatap seperti itu terus, jantungku bisa copot.” Pikirku dalam hati.
“Kalau Adrian ada masalah, Adrian bebas menceritakannya padaku.” Ujar Nafisah disertai dengan senyumnya yang menawan itu.
Rupanya sesuai dengan apa yang Bobi katakan padaku, aku benar-benar lemah menahan suatu masalah di hatiku. Ditambah keseriusan di balik ekspresi wajah Nafisah itu yang membuatku tak ingin sekali pun berbohong di hadapannya, aku pun menceritakan beban pikiranku itu padanya. Tentu saja dengan merahasiakan segala hal terkait perjuangan rahasiaku bersama Kak Kaiser.
“Begitu rupanya. Ini tentang masalah Profesor Melisa, dosen di jurusanku. Tetapi mengapa Adrian sampai mengetahuinya?”
“Aku hanya tidak sengaja mendengarnya dari orang lain. Terus aku berpikir bahwa aku dan Profesor Melisa ternyata senasib karena pada malam bencana lima tahun silam itu, aku juga kehilangan kakak pertamaku Faridh.” Jawabku mencoba berdalih.
“Rupanya begitu. Tapi ini agak sedikit berbeda dengan kasusmu, Adrian, karena kamu masih punya kakakmu Syifa di sampingmu. Namun berbeda dengan Profesor Melisa. Pada malam bencana itu, tidak hanya putrinya, Kak Andina, saja yang tewas, tetapi juga suaminya. Tidak hanya sampai di situ. Anaknya yang lain pun, Dik Zio, sampai sekarang masih menghilang tanpa ada satu pun kabar darinya. Kini Profesor Melisa benar-benar hidup seorang diri.”
Perkataan Nafisah itu lantas semakin membuatku merasa simpati pada Profesor Melisa yang ternyata kehilangan jauh lebih besar dibandingkanku akibat malam bencana Hoho game itu.
Kulihat, Nafisah pun membuka aplikasi Bacotnya.
“Wah, lagi-lagi rumor ini yang dibicarakan di grup!” Ujar Nafisah seraya menghela nafasnya.
“Rumor apa?” Aku yang penasaran pun turut mengintip sosial media Bacot milik Nafisah di layar smartphone-nya.
Tanpa sadar, kudekatkan wajahku terlalu dekat dengan wajah Nafisah sampai-sampai suara nafas kami saling terdengar. Aku yang baru tersadar lantas memerah menahan malu dengan suara jantung yang sangat berisik ini. Kukira, itu hanya aku. Namun, ketika kumelirik Nafisah, aku pun mendapati wajahnya yang turut memerah.
Aku lantas bersorak dalam hati. Rupanya, pesonaku sebagai seorang pria juga dapat menggetarkan hati sosok dewi pujaanku itu.
Tapi bukan itu yang penting sekarang! Masalahnya adalah pada rumor yang saat ini kubaca di aplikasi Bacot tersebut. Rumor tentang penampakan sosok pink, mirip salah satu monster avatar di suatu hutan di sudut kota, sedang merebak di grup sosial media Penggemar Pahlawan Darah Merah.
Jika rumornya sampai sebesar ini, mengapa Profesor Melisa yang bertugas memantau grup tersebut, sampai melewatkannya?
Sore itu, aku bergegas kembali ke markas untuk mengonsultasikan masalah rumor tersebut kepada Profesor Melisa dan AI5203.
“Oh, rumor tersebut. Karena belum jelas, aku tidak menyampaikannya kepada kalian. Lagipula, berita palsu memang sering bertebaran di dunia maya. Apalagi sosok yang dilihat tersebut adalah avatar bernomor seri 100, Avatar Dream. Bukankah dia avatar host? Sampai saat ini, tidak ada sama sekali laporan perihal kemunculan avatar host. Besar kemungkinan kalau berita itu hanya hoax sehingga kita perlu meneliti asal-usul rumornya terlebih dahulu.”
Profesor Melisa pun memberikan tanggapannya.
“Benar menurut Profesor Melisa bahwa selama ini avatar yang muncul adalah avatar yang digunakan para pemain saja yakni avatar petarung dari nomor seri 1 sampai 99. Tidak ada laporan sama sekali mengenai kemunculan avatar host yang dikendalikan oleh AI sistem. Namun, walaupun hanya sekadar rumor, tidak ada salahnya untuk memeriksanya ke sana.”
Kemudian, AI5203 turut mengemukakan pendapatnya.
Setelah berunding, diputuskanlah bahwa aku akan mengecek langsung lokasi yang dimaksud dengan bantuan para drone milik AI5203.
Keesokan harinya di hari sabtu itu, aku dan para drone pun seharian mencari bukti di lokasi yang dimaksud. Namun, bahkan setelah kami mengitari seluruh pelosok hutan, tidak ada satu keanehan pun yang berhasil kami deteksi.
Aku bahkan telah menggunakan gelombang ultrasonik dari side avatar Sly Dark-ku sebagai jaga-jaga bahwa jangan sampai ada tempat rahasia tersembunyi yang terlewat oleh pandangan mata kami. Para drone pun juga telah ikut menggunakan warm detection, IR detection, dan noise detection mereka. Namun, tak ada satu pun dari kami yang memperoleh hasil apa-apa.
Hutan ini tidak lain hanyalah hutan biasa. Tidak ada tanda-tanda keberadaan avatar sedikit pun di sini. Dengan demikian, kami pun pulang dengan tangan hampa. Kami telah benar-benar berhasil dikelabui oleh informasi hoax tersebut.
***
Akan tetapi, di luar pengetahuan Adrian, selama pemantauannya bersama para drone di hutan tersebut, suatu sosok sedari tadi telah mengawasinya pada jarak aman di luar jangkauan intuisi avatarnya. Dialah salah satu sang avatar host, Dream.
Dream pun kemudian berubah menjadi suatu sosok wanita cantik imut berpostur langsing dengan tinggi 158 cm. Dia lantas mengambil smartphone-nya lalu melakukan suatu panggilan telepon.
“Tuan Healer, semuanya sudah berhasil teratasi di sini. Arjuna sudah pulang meninggalkan tempat ini.”
“Baguslah. Duh, lain kali kamu harus lebih berhati-hati, Dream. Bisa-bisanya kamu lengah sampai tertangkap sebuah kamera drone. Untunglah itu bukan milik AI5203 sehingga kita masih dapat mengelabui mereka dengan menyamarkannya sebagai informasi palsu. Hampir saja rencana yang sudah kita susun dengan matang selama lima tahun ini berantakan karena kecerobohanmu.”
“Hehehehe. Maafkan aku, Tuan Healer. Tapi ngomong-ngmong, kapan Tuan akan pulang dari luar negeri?”
“Tidak, aku sudah sampai di Jakarta. Tapi karena kelelahan dan berhubung sudah malam, aku memutuskan untuk menginap dulu di salah satu hotel terdekat di bandara. Benar-benar merepotkan mengadakan perjalanan ke Thailand lantas ke Afrika Utara lalu langsung balik lagi ke Jakarta setelahnya hanya dalam selang waktu dua minggu. Habis ini, aku harus beristirahat.”
“Oh, maafkan aku, Tuan Healer, karena telah mengganggu istirahat Anda. Kalau begitu, selamat beristirahat.”
Begitu menutup panggilan telepon, sang pria yang dihubungi oleh Dream, serta-merta memejamkan matanya. Tampaknya dia jujur berada dalam kondisi yang sangat kelelahan. Dialah avatar bernomor seri 8, Avatar Healer, yang sedang dalam penyamarannya menggunakan identitas milik Kaiser Dewantara.