“Ada apa, Mas Petualang? Pagi-pagi sudah kesal sendiri. Mau beli buah?” Ujar sang penjual buah kepadaku.
Aku hanya terdiam terpaku. Ini adalah kelima kalinya aku melihat wajah itu.
“Hahahahaha. Tidak, Pak. Aku hanya sedang kepikiran sesuatu.” Ujarku sembari menghindari penjual buah itu.
Aku dan rombongan tampak saling menatap satu sama lain. Tampaknya, hampir dari kami semua telah kehabisan cara untuk mengakhiri time loop ini. Akan tetapi, kulihatlah satu wajah yang belum menyerah. Dialah Profesor Dios.
“Ada satu hal yang ingin kudiskusikan pada kalian semua. Tetapi pertama-tama, mari kita pergi ke tempat yang agak luas dulu di semak-semak. Ikuti aku.” Ajak Profesor Dios kepada kami.
Kami lantas berjalan mengikutinya hingga tibalah kami di suatu semak-semak yang cukup luas yang bahkan cukup bagiku untuk berlatih menembakkan senapan tanpa perlu khawatir akan mengganggu siapapun.
Di situlah Profesor Dios berkata,
“Shou, tolong aktifkan segel airmu di sini agar tidak ada yang dapat mendengarkan obrolan kita.”
Terlihat bahwa awalnya Paman Shou ragu, namun setelah jeda sesaat, dia pun melakukan sesuai instruksi Profesor Dios padanya.
“Segel air.” Seraya mengeluarkan kotak kubus yang tampak terbuat dari air yang dipadatkan, tetapi masih dalam bentuk cairannya, Paman Shou mengelilingi sekitar kami dengan air yang entah bagaimana keluar lewat kotak kubus yang dipanggilnya sebagai segel air itu.
Profesor Dios pun memberikan penjelasannya.
“Dengar, semuanya. Ada informasi penting yang aku peroleh sewaktu merasuki tubuh bos monster tikus raksasa tersebut. Dia tampak sangat ketakutan akan sesuatu keberadaan di desa. Itulah sebabnya dia tidak menyerang desa di kala kita menyerbu hutan berkabut.”
“Tapi jelas-jelas mereka menyerbu desa di pengulangan ketiga kita.” Aku pun menyanggah pendapat Profesor Dios tersebut.
“Itulah anehnya. Yang berarti, di saat kita tak menyerbu hutan berkabut tersebut, makhluk yang ditakuti sang bos monster itu tidak berada di desa. Kemungkinan justru berada di hutan berkabut yang menyebabkan para monster ketakutan lantas menyerbu desa.” Tambah Profesor Dios menjelaskan.
“Ini aneh. Kok bisa begitu?” Seraya mengatakan itu, aku coba untuk berpikir kembali tentang apa yang telah kami lalui sampai saat ini. Namun tetap saja, tidak ada sesuatu yang bisa kudapatkan.
“Jadi, apa yang Profesor akan sarankan?” Lamunanku lantas terpecah oleh pertanyaan Kak Arskad itu.
“Kuncinya ada pada Adrian.”
“Eh, aku?” Aku seketika tak percaya begitu Profesor Dios menyebutkan bahwa kunci keberhasilan misi kami ada padaku.
“Ya, kamu, Adrian.”
“Tapi apa yang spesifiknya harus aku lakukan, Profesor?” Tanyaku balik pada Profesor Dios.
“Kami akan memanfaatkan ketajaman mata dan telingamu untuk menangkap keanehan di desa.”
“Begitukah? Baiklah, Profesor, aku siap jika aku harus membantu.”
“Baiklah, sekarang, aku akan mengalirkan auraku pada hawa dingin yang akan aku sebarkan ke sekeliling. Jika seluruh penduduk desa di sini hanyalah orang biasa, maka tentu tidak akan ada gangguan aliran aura. Namun, jika saja dia antara mereka ada makhluk yang tidak lazim, maka aliran auraku yang tenang akan menunjukkan gangguan. Di situlah peranmu, Adrian, untuk menangkap di mana itu terjadi.”
“Baiklah, Profesor Dios. Aku mengerti, Aku siap.”
“Krek.” Bingo. Gangguan aura berhasil tertangkap oleh indera pendengaranku.
“Profesor Dios, aku dapat. Lokasinya, eh? Bukankah itu lokasi di mana si penjual buah berada?”
Kami lantas bergegas menuju ke si penjual buah. Jelas-jelas ada gangguan aura yang dideteksi dari si penjual buah ini. Namun kami belum tahu, apakah dia orang yang jahat ataukah tidak? Bisa saja dia hanya menyembunyikan kekuatannya saja demi semacam penyamaran identitas. Karena berdasarkan keterangannya tadi, juga ada petualang di dunia ini yang mirip game vrmmorpg yang berarti juga ada pengguna kekuatan.
Tapi tidak menutup kemungkinan pula, dialah villain sebenarnya di tempat ini yang menyebabkan time loop yang kami alami. Itu penjelasan yang cukup logis mengingat setiap kami mengalami time loop, wajahnya-lah yang akan pertama kali kami lihat.
Di situlah Tante Sandra maju untuk mengetesnya. Dia mengalirkan arus listrik dengan tegangan serendah mungkin kepada si penjual buah itu, yang takkan mengancam jiwanya, tetapi cukup untuk membuatnya tersengat sehingga tidak akan bisa bangun dari tempat tidur selama seharian.
“Sriiiik.”
“Flash.”
Arus listrik yang dialirkan Tante Sandra terurai. Si penjual buah itu lantas menatap kami dengan pandangan yang membuat kami merinding. Bingo. Sesuatu yang aneh memang terdapat pada si penjual buah.
Perlahan badannya menghijau dan meleleh. Tidak, dia kembali ke wujud aslinya, yakni seekor slime.
Anehnya, tak ada satupun warga sekitar yang kebetulan juga berada di sana memperhatikan terlebih-lebih takjub terhadap kejadian itu seolah-olah mereka tak mampu untuk melihatnya ataukah memang mereka sengaja dihipnotis untuk mengabaikannya.
Aku pernah dengar dari Ibu, bahwa dulu ada pamanku yang bernama Kazuki yang kini telah almarhum mampu menggunakan kekuatan yang seperti itu.
Tetapi itu tidak penting sekarang. Yang harus kami lakukan sudah jelas, yakni mengeliminasi monster yang menampakkan diri di hadapan kami ini. Sayangnya, tidak ada dari kami yang berdiri di sini sekarang yang mampu mengeluarkan jurus berelemen api.
Api adalah senjata paling efektif untuk menghadapi monster bertipe slime. Karena sedikit saja bagian tubuh dari slime itu berhasil selamat, mereka hanya akan hidup kembali dan malah bertambah banyak dari bagian tubuh yang selamat itu. Makanya, dengan cara membakarnya-lah sampai semua bagian tubuhnya menjadi abu adalah cara yang terefektif untuk membasminya hingga tuntas.
“Plup.”
“Flash.”
Tapi tampaknya, itu kekhawatiran yang tak perlu. Paman Shou segera menjerat seluruh tubuh slime itu ke dalam gumpalan airnya lantas dengan sigap Tante Sandra mengalirkan arus listriknya sehingga seluruh tubuh slime itu gosong seketika di dalam gumpalan air Paman Shou.
Slime lenyap tak bersisa. Seketika daerah sekeliling kami tiba-tiba saja menghitam. Tidak, itu tepatnya lenyap termasuk orang-orang yang ada di dalamnya. Aku mengerti sekarang. Semua yang ada di sini, baik desa, hutan berkabut, para monster, termasuk orang-orang, tidak lain hanyalah ilusi semata.
Hanya slime berwarna hijau itu saja yang asli yang kemungkinan makhluk itulah yang justru menjadi penyebab munculnya ilusi desa itu.
Kami lantas menuju ke bagian lain yang masih mempertahankan ilusinya. Profesor Dios kembali mengalirkan hawa dingin yang mengandung auranya. Lalu sekali lagi aku menemukan gangguan aura. Kali ini, giliran bibi-bibi NPC yang tampak membawa keranjang roti. Lalu tibalah kembali bagian Paman Shou dan Tante Sandra beraksi dengan mempertontonkan serangan gabungan yang cemerlang.
Kami mengulangi terus langkah-langkah itu, termasuk pada bagian daerah hutan berkabut. Di mana di hutan berkabut, ada 3 slime yang mempertahankan ilusi, yakni dua tersamar sebagai bagian dari pohon dan satunya justru menyamar sebagai kuku kaki jempol kanan sang monster tikus putih raksasa.
Satu pertanyaannya, lantas mengapa tadi Profesor Dios mengatakan bahwa ada keberadaan di desa yang ditakuti oleh sang bos monster tikus putih raksasa. Padahal itu yang menjadi landasan kami hingga kami berhasil menemukan slime tersebut. Terlebih, sang monster tikus putih raksasa tidak lain adalah salah satu bagian dari ilusi saja, keberadaannya tidaklah nyata.
Tidak, itu salah. Sedari awal jika itu ilusi, mengapa dia sampai memiliki perasaan takut? Memiliki perasaan akan menandakan keasliannya sebagai makhluk hidup. Sungguh suatu misteri dan aku masih belum menemukan jawabannya sampai sekarang.
Tetapi itu tidak penting lagi sekarang perihal setelah semua ilusi menghilang yang berarti seluruh slime telah berhasil kami kalahkan, pintu gerbang pun muncul jauh membentang yang kemungkinan berasal dari arah desa sebelumnya. Dan peta yang menjadi navigasi kami dalam mencari dalang bencana jelas-jelas menunjuk ke arah dalam pintu gerbang tersebut. Kami tidak punya pilihan selain masuk ke sana.