101 Avatars

101 Avatars
48. Pasangan Anak Jahat, Sticky Girl dan Thorny Boy



Masih di ruangan yang sama, terdapat pula seorang pria dan wanita paruh baya di sana yang tampak sedang bersenda-gurau dengan asyiknya.  Terdapat pula seorang kakek tua dengan tongkat di tangannya terduduk di kursi yang tampak mengantisipasi penampilan Holy sekali lagi.  Sementara itu, jauh di teras sana, terdapat pasangan anak kecil laki-laki dan perempuan yang terlihat sedang asyiknya menggambar.


“Duh, bosan.  Kita hanya bisa seharian menggambar di sini, padahal aku ingin sekali bermain di luar.”  Rajuk sang anak perempuan.


“Apa boleh buat kan, Sticky Girl.  Soalnya ada orang jahat di luar sana yang ingin membunuh kita.”  Timpal sang anak laki-laki.


“Duh, lagi-lagi semuanya gara-gara si Pahlawan Darah Merah sialan itu.  Rasanya aku ingin sekali menjebaknya dalam lem lengketku lalu kupanggang dia dengan api Tuan Raging Fire lalu kumutilasi dengan senjata Kakek Chainsaw.  Bagaimana menurutmu, Thorny Boy?”  Umpat sang anak perempuan yang dipanggil Sticky Girl tersebut sembari menanyakan pendapat sang anak laki-laki yang tidak lain adalah Thorny Boy.


“Tetapi itu terlalu sadis, Sticky Girl.  Kita tidak boleh menyakiti makhluk hidup seperti itu.  Bagaimana kalau kita cukup merobek tubuhnya tepat di daerah antara dua kakinya dengan benang-benang tipis Paman Violar sembari memperdengarkannya suara rusak Bibi Singer Nana, seperti ini?”  Jawab Thorny Boy sembari memperlihatkan gambar yang sedari tadi dia gambar.


“Wah, boleh juga tuh.  Tampaknya menyenangkan.”  Ujar Sticky Girl di saat melihat gambar yang ditunjukkan oleh Thorny Boy.  Suatu gambar penyiksaan yang justru jauh lebih kejam dari apa yang disampaikan Sticky Girl sebelumnya.


“Tetapi sayangnya kita tidak boleh keluar dan mempraktikkannya.  Lagipula Paman, Bibi, dan Kakek pasti tidak mau membantu.  Haaaaaah, bagaimana ya cara kita mengatasi kebosanan ini?  Sudah hampir 4 tahun kita terkurung di rumah besar ini.”  Ujar Sticky Girl sembari berdesah.


“Pastinya semakin sulit dizinkan keluar, apalagi setelah apa yang menimpa Kakak Mantis, Kakak Metalia, dan juga Kakek Volt.”  Timpal Thorny Boy.


“Bagaimana kalau kubantu kalian minta izin pada Tuan Raging Fire?


Sticky Girl dan Thorny Boy yang kaget dengan suara ucapan tiba-tiba dari belakang mereka itu, lantas menoleh untuk melihat ke arah sumber suara.  Rupanya yang berbicara adalah Holy yang telah tersenyum manis kepada mereka.


“Aku bisa paham bagaimana perasaan kalian setelah memimik tubuh anak-anak yang memiliki karakter mudah bosan itu.  Kuyakin Tuan Raging Fire akan mengerti dan memberikan kalian izin.  Asal kalian berjanji untuk tidak membuat masalah apapun ketika bermain di luar.”


“Baik Kak Holy, kami berjanji.”


“Kami berjanji tidak akan membuat masalah.”


Jawab Sticky Girl dan Thorny Boy yang hampir bersamaan.  Mendengar jawaban itu, Holy pun tersenyum penuh arti.


“Baguslah.  Kalian memang anak-anak yang baik.  Baiklah, bagaimana kalau bermain di taman kota?”  Holy pun memberikan masukannya kepada pasangan anak kecil tersebut.


***


Di tempat yang berbeda, Adrian, Bobi, dan Zenri berdiri di depan puing-puing bangunan bekas Toko Kue Bernard dengan ekspresi yang penuh arti pula.


“Aaaaaahaaaah!  Kita tak dapat lagi menikmati kelezatan roti di Toko Kue Bernard.”  Desah Adrian.


“Apa yang kamu katakan, Adrian?  Toko Kue Bernard, tidak hanya ada di sini saja.  Cabang mereka masih banyak, salah satunya ada di Mall Giant yang hanya 1 km dari sini.”  Sanggah Bobi dengan cepat atas komentar Adrian.


Tidak ada lagi yang bersuara setelah itu untuk beberapa saat.  Tampak mereka benar-benar kecewa atas menghilangnya toko roti favorit mereka itu.


Saat ini, mereka tengah bersiap untuk meninggalkan kampus dalam rangka pelaksanaan kuliah outdoor untuk mengamati AI yang melaksanakan pekerjaan di luar yang nantinya akan mereka buatkan laporan untuk kelulusan matakuliah mereka.  Dan sebagai tempat yang mereka tuju, adalah taman kota.


***


Di taman kota yang bersih nan indah itu, seorang anak perempuan tiba-tiba saja menggambar-gambar doodle di mana-mana di jalan-jalan setapak taman.  Hal itu lantas memicu perhatian robot AI penjaga taman.


“Maaf anak kecil, Anda melanggar peraturan dengan mengotori taman kota.  Hentikan segera aktivitas Anda dan panggil wali Anda untuk mengurus masalah denda…”


“Eeeeeek, eeeeeeek, eeeeeeek.  Paman Robot jahat.  Eeeeeeeek, eeeeeeek, eeeeeeeek.”  Sang anak perempuan seketika saja langsung menangis.


“Puaaaak!”  Suara pukulan terhadap benda keras pun terdengar.


“Hei, apa yang kamu lakukan pada temanku, robot jahat!”  Seorang anak laki-laki tiba-tiba saja turut datang lantas memukul robot AI tersebut.


“Maaf anak kecil, Anda baru saja melakukan tindakan penganiayaan pada robot AI yang sedang bertugas.  Anda harus segera memanggil wali Anda untuk…”


“Seet, set, set.”


“Praaaak.”


Belum sempat sang robot AI menyelesaikan kalimatnya, dia seketika tumbang.  Terlihat belasan duri tajam telah menancap pada tubuhnya di sana-sini.


“Berisik!  Aku tidak mau mendengar alasan dari robot jahat.”  Ujar sang anak laki-laki, tidak, ternyata dia adalah monster avatar yang menyamar, yang kini telah kembali ke wujud asalnya, Thorny Boy.


“Aaaaaaaakh!”  Seketika kerumunan orang-orang di taman menjadi panik perihal kemunculan monster tiba-tiba.  Mereka serta-merta berhamburan berlarian keluar taman.  Di saat itu pula, Adrian, Bobi, dan juga Zenri tiba di taman kota tersebut.


Sang anak perempuan yang kemudian turut berubah menjadi monster avatar Sticky Girl lantas mengeluarkan jurus lem lengket-nya dan berhasil menjerat 6 pengunjung yang tidak sempat meloloskan diri.  Terlihat lem dengan cepat menjalar hampir menutupi seluruh tubuh orang-orang yang dijeratnya.


Kejadian itu disaksikan dengan jelas oleh baik Adrian, Bobi, maupun Zenri.  Hal itu lantas membuat Adrian naik darah dan tanpa pikir panjang lagi segera berlari menerjang ke tempat tersebut.  Akan tetapi, Bobi segera menarik kerah belakang pemuda yang sedang panas itu untuk mencegatnya.


“Sabar, Adrian.  Kendalikan dirimu.  Lihat ke arah jam 10-mu, di situ ada toilet tanpa pengawasan AI.  Ke sanalah!”  Ujar Bobi kepada Adrian.


“Eh, kalian sedang ngomongin apa?”  Zenri yang belum mengetahui identitas asli Adrian, mau tidak mau jadi kebingungan terhadap obrolan mereka.


Akan tetapi,  Adrian tak menanggapi pertanyaan Zenri tersebut dan hanya segera berlari sesuai saran Bobi untuk segera mencari tempat yang aman demi menukar tubuh manusianya dengan tubuh avatarnya.


“Hei, Adrian, kamu mau ke mana?”  Teriak Zenri melihat Adrian yang justru berlari entah ke mana.


“Adrian punya urusannya sendiri.  Tenang saja, dia bukan anak kecil yang tidak bisa mengungsi sendiri.  Kita juga sebaiknya segera mengungsi dari tempat ini.”


“Baiklah, jika itu yang kamu mau, Bobi.”


Setelah mendengarkan perkataan Bobi, tanpa banyak bertanya lagi, Zenri mengikuti Bobi untuk turut segera mengungsi dari ancaman sang monster.


“Hahahahaha.  Matilah kau, manusia-manusia sialan!  Selama ini kalian-lah yang membuat kami menderita.  Kini giliran kami yang membuat kalian mati dalam penderitaan.”  Ujar Sticky Girl dengan tawa mencekamnya.


“Hentikan itu, Sticky Girl.  Kita sudah berjanji kepada Kak Holy untuk tidak membuat keributan di luar.  Bagaimana kalau kita tak diizinkan lagi keluar?”  Ujar Thorny Boy mencoba menghentikan Sticky Girl.


“Berisik!  Kapan lagi kita bisa menikmati kesenangan ini?!  Siapa yang menjamin jika kita jadi anak patuh, kita diberikan izin lagi untuk keluar?!  Jadi jika bukan sekarang, kapan lagi kita bisa menikmati kesenangan seperti ini?!”  Tetapi Sticky Girl segera menampik perkataan Thorny Boy tersebut.


“Jika kamu ingin membunuh manusia, bukankah sebaiknya kamu lakukan dengan cepat dan diam-diam agar kita bisa membunuh lebih banyak?”  Sanggah Thorny Boy.


Rupanya apa yang Thorny Boy maksud tidak membuat keributan di luar, bukanlah jangan membunuh manusia, melainkan bunuhlah manusia dengan cepat dan dalam diam.  Thorny Boy sama kejamnya, tidak, mungkin justru lebih kejam daripada Sticky Girl.