101 Avatars

101 Avatars
137. Penyesalan Terbesar Arthur



Pangeran Adoles pun terbukti atas kejahatannya dan menerima eksekusi publik berupa pemenggalan kepala. Adapun para prajurit dan pengawalnya yang turut terlibat dalam rencana busuk Pangeran Adoles juga turut dijatuhi hukuman mati secara terpisah. Terkhusus, sang witch, dia turut dieksekusi di hadapan publik bersama dengan Pangeran Adoles.


Butuh spiritualis lain untuk mengeksekusi sang witch. Sayangnya, mana-ku tak cukup lagi untuk mencabut nyawa witch itu sehingga tugas itu pun diserahkan kepada Tante Sandra. Dengan elegan, Tante Sandra mensummon petir dari gungnir-nya lantas menyengat hangus tubuh sang witch hingga sampai mengeluarkan bau busuk bekas terbakar.


Luka itu tetaplah tidak sepadan dibandingkan dengan jutaan nyawa yang melayang akibat ulahnya.


Dan terakhir, giliran Pangeran Adoles yang akan menerima eksekusinya.


Tampak Putra Mahkota Ivan ingin melangkah menghentikan eksekusi itu. Aku tahu betul perasaannya. Dia pasti sangat menyayangi adiknya itu sehingga dia tak ingin adiknya itu direnggut pula dari sisinya menyusul ibu, kakak, serta ayahnya. Akan tetapi, dia adalah pendosa yang harus menerima ganjaran dari semua perbuatannya.


Mau tidak mau, Putra Mahkota Ivan harus menerima itu dengan lapang dada.


Aku pun menghentikan langkahnya. Putra Mahkota Ivan pun berpaling menatapku dengan tatapan yang sangat sedih. Aku pun memeluk pemuda itu untuk menenangkan hatinya. Dia menangis dalam pelukanku. Aku berupaya menutupi wajahnya itu karena tak patut jika seorang putra mahkota, terlebih yag sebentar lagi akan menjadi raja, terlihat menangis di hadapan rakyatnya.


“Krak.”


Alat pemancung guillotine itu pun terjatuh dan Pangeran Ketiga mengembuskan nafas terakhirnya dalam kenistaan.


Beberapa hari setelahnya, Putra Mahkota Ivan pun diangkat menjadi raja dan kami berempat pun turut menyelesaikan misi kami.


SELAMAT, QUEST ANDA TELAH SELESAI. ANDA AKAN SEGERA DITRANSFER KELUAR DARI DUNIA INI.


Papan pemberitahuan virtual itu pun muncul lantas kami turut ditransfer ke luar dunia ini.


Di dalam ruangan putih itu, Kak Kaiser, Kak Arskad, dan Paman Shou rupanya telah menanti kami. Begitu kami lengkap bertujuh, pemberitahuan sistem pun muncul kembali.


BERTAHANLAH MENGHADAPI DIRI ANDA


***


Waktu begitu cepat berlalu. Tanpa sadar, kini aku sudah menjadi kakek-kakek berusia 57 tahun.


Tidak ada yang layak menjadi kenangan indahku sewaktu aku masih kecil. Sejauh aku mengingat, hanya latihan fisik dan spiritual-lah yang terus-terusan kujalani dari keluargaku. Aku terlahir dari keluarga Peirriera, salah satu keluarga spiritualis terkenal dari Amerika Serikat. Walaupun, kami asalnya sebenarnya adalah dari Swedia yang bermigrasi ke Amerika Serikat demi penyatuan kekuatan dalam bentuk aliansi organisasi yang dikenal dengan nama Medusa.


Waktu kecil, aku terbilang adalah anak yang berbakat sehingga para petinggi organisasi benar-benar menaruh harapannya padaku dengan memberikan aku perhatian yang lebih. Namun, hal itulah yang justru harus membuatku mengikuti latihan yang lebih demi memenuhi ekspektasi mereka terhadapku.


Suatu hari, di usiaku yang ke-lima belas tahun, aku ditugaskan untuk menjalankan misi rahasia jangka panjang untuk mengawasi seorang pemuda bakal calon tumbal penting bagi organisasi kita. Pemuda itu tinggal di Indonesia, jadi aku pun menyamar menjadi salah satu pelajar di Indonesia dengan nama samaran Beni.


Demi memudahkan pelaksanaan tugas itu, aku disupport oleh dua lagi anggota organisasi lainnya yakni Sandra Nolkin dan Kurtiz Brain. Aku bersama Sandra sama-sama menyamar sebagai pelajar Indonesia, sementara Kurtiz bertugas mengawasi sekeliling kami.


Ada satu kisah yang tak diketahui oleh siapa pun, baik oleh rekan-rekanku, Sandra dan Kurtiz, maupun oleh orang-orang yang sangat dekat dengan bakal calon timbal itu. Suatu hari, kami pergi bermain bersama lantas diculik oleh seseorang.


Dan rupanya, orang yang menculik kami bukanlah orang sembarangan, melainkan spiritualis berlevel C, spiritualis yang levelnya lebih tinggi dariku. Kala itu, aku tak dapat melapor kepada pangkalan karena terhalang oleh kekuatan spiritualis yang menculik kami dan tidak pula dapat menunjukkan identitasku yang sebenarnya yang juga merupakan salah seorang awakener. Aku pun hanya berpura-pura patuh untuk diculik sebagai orang biasa.


Kaiser Dewantara, itulah nama pemuda yang diculik bersamaku. Pemuda yang akan dijadikan tumbal untuk keberhasilan ritual penting organisasi kami.


Dia naif dan berpendirian keras. Dia lemah, tetapi berusaha untuk senantiasa melindungiku sehingga dirinya-lah yang justru disakiti. Dia kuat untuk seukuran manusia normal. Sayangnya, kekuatan fisik tidaklah ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatan superpower seorang spiritualis.


Aku pun bertekad jika di detik-detik terakhir, serangan sang penculik melukai sang tumbal sampai pada titik yang membahayakan nyawanya, maka aku takkan ragu-ragu untuk mengungkapkan jati diriku dan membunuh sang penculik.


Tentu saja, ini bukanlah karena aku menganggapnya sebagai teman atau apa, ini tetaplah berhubungan dengan misiku untuk menjamin keselamatannya sampai hari di mana dia ditumbalkan. Untuk identitasku yang ketahuan, nanti biar kuserahkan oleh organisasi saja yang mengurusnya.


Akan tetapi, hal itu pun terjadi. “Chain of Command.” Peristiwa langka yang secara ajaib bisa kusaksikan di hadapan mataku sendiri. Kekuatan pasif yang dimiliki oleh sang tumbal untuk melindungi dirinya ketika dalam bahaya.


Ribuan kaleng yang tanpa sebab menerpa ke arah sang penculik, membuatnya marah seketika lantas meliar dalam amukan. Kemudian tanpa alasan yang jelas, dia meninggal. Berdasarkan laporan yang kuketahui belakangan hari, rupanya dia meninggal karena serangan jantung akibat terlalu emosi.


Aliran darahnya terlalu kencang, terima kasih berkat kekuatan spiritualnya sehingga ketika dia mengeluarkan kekuatan itu secara terlalu menggebu-gebu, jaringan-jaringan darah di pembuluh jantung-nya pun pecah yang menyebabkannya meninggal dunia.


Sekilas, ini terlihat hanya kecelakaan biasa saja. Namun, aku yang berada di tempat itu secara langsung mengetahui betul bahwa itu adalah kekuatan mengerikan dari sang tumbal, tidak, temanku yang berharga.


Karena intimidasi ingin survive pada “Chain of Command” yang terjadi di hadapanku itulah, akhirnya aku terpromosikan menjadi spritualis level C setelah lebih dari 2 tahun, aku stagnan di level D. Kupikir, diriku ini akan mati pada fenomena aneh yang terjadi saat itu.


Namun kemudian, Kaiser Dewantara yang masih belum memperoleh kesadarannya yang terlihat masih dikuasai oleh kegelapan “Chain of Command”, justru secara insting berdiri di hadapanku itu untuk menyelamatkanku dari kebengisan kekuatannya sendiri.


Dia adalah benar-benar adalah orang yang seperti itu. Sosok yang berhati baik yang benar-benar lugu. Tapi tak ada salahnya mempunyai teman seperti itu di sisi kita. Mungkin sejak saat itulah, dari sang penjaga tumbal, aku mulai memposisikan diriku benar-benar sebagai temannya.


Tetapi hari itu pun tiba. Hari yang benar-benar menjadi penyesalan terbesarku. Hari di mana organisasi akhirnya memutuskan waktu eksekusi Kaiser Dewantara sebagai tumbal.