101 Avatars

101 Avatars
76. Tekad Adrian



Aku tidak ingat dengan jelas apa yang terjadi.  Aku hanya mengingat bahwa emosiku tiba-tiba saja tak tertahankan begitu aku mengira bahwa Nafisah telah tiada.  Aku mampu mengingat bahwa akulah yang telah melukai dan hampir mengalahkan Freeze, namun aku lebih seperti merasa bahwa sensasi yang kurasakan semacam mengikuti naluriku.


Aku tidak ingat dengan jelas detailnya tentang jurus-jurus apa saja yang aku gunakan untuk mendesak mundur Freeze.  Hal itu serta-merta saja terpop-up di ingatanku dan aku hanya sekadar mengikutinya secara otomatis lewat tubuhku.  Hanya satu yang tertanam dengan baik pada kesadaranku saat itu, yakni suatu niat kuat untuk membunuh Freeze.


Akan tetapi, kulihatlah wajah wanita pujaanku itu.  Rupanya, dia baik-baik saja.  Walaupun aku sedikit kaget dengan penampilan Bobi yang bersayap, tetapi pada saat itu seakan pikiranku hanya tertuju pada Nafisah seorang dan begitu melihat dia baik-baik saja, serta-merta kesadaran tubuhku kembali.


Aku mulai terkulai lemas ketika adrenalin tidak lagi memicu tubuhku untuk mengamuk perihal penggunaan tubuh di luar batas kemampuannya.  Untuk sesaat, aku tak dapat bergerak.  Namun aku senang karena kulihat wanita pujaanku itu begitu mengkhawatirkan diriku ini.


Entah apa yang terjadi selanjutnya, namun aku dapat merasakan bahwa tubuhku tiba-tiba terasa baik-baik saja, bahkan lebih segar dari sebelumnya.  Kuamatilah layar statusku pada helmet.  Baik HP maupun MP-ku telah pulih kembali ke angka 100 persen.


Kulihat pulalah bekas ulir-ulir pohon di dadaku.  Aku kurang lebih dapat menangkap apa yang sedang terjadi.  Ini pasti adalah kekuatan Kak Kaiser yang telah membuatku pulih kembali setelah luka parah yang kuderita berkat pertarungan melawan Freeze.


Tetapi bukan saatnya untuk memikirkan hal tersebut.  Monster itu berhasil kabur dengan luka yang parah.  Aku harus segera menemukan dan mengalahkannya karena ini adalah kesempatan terbaik untuk melakukan itu di kala monster tersebut terluka parah.


Aku pun menuju ke kantor kepolisian pusat, tempat di mana kami telah mengetahui keberadaan Freeze, walaupun belum tahu detail tempat di mana dia bersembunyi.  Kami mengetahui lokasi tersebut setelah penyelidikan yang dilakukan oleh Mr. Aili terutama setelah Mr. Aili menangkap pergerakan yang mencurigakan di sekitar lokasi tersebut dalam pencarian Ksatria Panah Biru beserta kakak perempuannya beberapa waktu lalu.


“Kali ini, aku pasti akan membunuh monster itu.”  Pikirku dalam hati yang takkan pernah melupakan dendamku pada monster Avatar Freeze itu yang telah membunuh kakakku Faridh.


Namun sesampainya aku di lokasi, pemandangan yang kulihat justru adalah kabut aneh tak kasat mata yang tak dapat tertembus.  Berkali-kali aku mencoba memasukinya, tetapi tidak bisa juga.  Di saat itulah Crusader berujar lewat telepati,


“Adrian, tampaknya ini adalah kekuatan avatar sistem.  Ketika mereka menset dunia mereka ke suatu tempat, kita tidak akan dapat memasukinya.”


“Lantas, kita takkan dapat lewat pintu depan.  Bagaimana kalau kita cari jalan lain saja lewat atas?”  Ujarku memberikan pendapat, tetapi Crusader dengan cepat memberikan pendapatnya sendiri.


“Soal kabut ini, tidak akan menjadi masalah, Adrian.  Gunakanlah pedangku untuk menebasnya dengan mengaktifkan holy world.”


“Eh, jadi kamu bisa menghilangkan dunia settingan avatar sistem?  Mengapa aku tidak mengetahuinya selama di game?”  Tanyaku penasaran kepada Crusader.


Crusader pun menjawab, “Itu karena aku baru saja mendapatkan kemampuan itu saat berada di dunia nyata.”


“Lantas mengapa kamu tidak memberitahuku sewaktu menghadapi Mistique?”


“Karena aku pikir, berada di dunia Carnaval waktu itu adalah pilihan yang tepat karena pertarungan kita bisa membahayakan warga sipil di sekitar.”  Jawab cepat sekali lagi Crusader terhadap pertanyaanku yang selanjutnya itu.


Aku pun mengangguk setuju.


Aku pun masuk dengan seluruh tubuhku terlindungi oleh cahaya Crusader sehingga aku sama sekali tidak terpengaruh terhadap dunia milik avatar sistem Carnaval tersebut.  Kulihat di kanan dan di kiri, puluhan polisi terperangkap dan tak dapat terlepas dari jeratan dunia karnaval.  Aku tak mengacuhkan semua itu dan lantas hanya terus berjalan ke tempat yang terlihat aneh.


Ada satu ruangan yang terlihat aneh di sana karena berbeda dari tempat lain, khusus ruangan itu saja yang tak mendapat pengaruh dari dunia karnaval.  Aku pun mendeduksikan bahwa kemungkinan sesuatu yang tak biasa terjadi di sana.  Mungkin saja di situlah Freeze berada.


Tetapi aku heran, mengapa Carnaval ada di sini?  Sebelumnya, bukankah dia ditangkap oleh Healer dan Dream?  Apakah dia juga telah bekerjasama dengan Freeze?  Tetapi jika benar demikian, itu terasa sedikit aneh karena jika Carnaval yang ditangkap oleh Healer bergerak atas arahan Healer, itu berarti kondisi ini hanya jika Healer bekerjasama dengan Freeze.


Hal itu tak dapat kubayangkan setelah bagaimana Healer bertarung melawan Mecha yang berhubungan baik dengan Freeze.  Atau jangan-jangan Carnaval telah beralih pihak ke Freeze?  Tidak, itu salah.  Melihat bagaimana yang terjadi di kantor kepolisian ini sekarang, lebih tepat jika beranggapan daripada berniat baik, Carnaval tampak mencoba untuk menginfiltrasi tempat ini yang berarti kemungkinan saat ini, kubu Freeze dan kubu Healer sedang bertarung.


Tentu jika demikian, akan lebih baik jika aku menunggu mereka selesai bertarung hingga salah satu pihak kalah untuk menghemat tenaga, lantas menghabisi lawan yang tersisa yang telah berada dalam kondisi lemahnya pasca bertarung.  Logikaku telah memberikan deduksi yang terbaik, hanya saja, hatiku tak mau menerima semua itu.


Akulah yang harus mengalahkan Freeze.  Persetan dengan si Healer itu.  Jika dia mengganggu, maka akan kuhabisi dia juga.


Aku pun menuju ke ruangan yang tak mendapat pengaruh dari kekuatan dunia karnaval itu.  Rupanya, itu adalah ruangan kepala direktur kepolisian pusat.  Aku pun hendak membuka pintunya.  Namun, bahkan sebelum pintu tersebut bisa kusentuh, serangan tiba-tiba ditujukan padaku.


“Fruuuush!”  Serbuk berkilau tiba-tiba menyembur ke arahku.


Aku dapat menghindarinya dengan sigap.  Kuintiplah bekas tempat aku berdiri sebelumnya, lantai-lantai yang sempat aku pijak terlihat menjadi lunak tak karuan.  Rupanya, makhluk yang telah menyerangku adalah salah satu avatar sistem yang lain, yakni Dream, dan inilah salah satu kekuatan Dream sebagai avatar sistem yang berbahaya, selain mampu mensetting dunia, dia juga mampu mengendalikan bentuk objek.


“Oh, sang junior rupanya yang datang.  Ada perlu apa ke sini?”  Tanya Dream padaku.


“Junior apanya?  Kapan kita pernah memiliki satu guru yang sama?”  Umpatku kesal terhadap ucapan Dream tersebut.


“Yah, tidak usah terlalu kesal begitu dong, Adrian.”


Seketika, Dream menyebut namaku, aku merasakan merinding di sekujur tubuhku.  Tentu saja dia telah tahu siapa identitasku sebenarnya setelah media telah begitu heboh memberitakannya.


“Kamu jangan-jangan ke sini untuk mencari Freeze ya?  Kalau benar begitu, sebaiknya kamu pulang saja karena tuanku-lah yang akan menghabisinya duluan.”


“Hah.  Mana mungkin aku menyerahkan mangsa yang telah aku buru duluan.”  Bentakku marah terhadap perkataan Dream tersebut.


Jika Dream mengatakan Tuan, apakah dia mengacu pada sistem?  Tidak, kurasa itu salah.  Sewaktu bencana Hoho game, sistem tidak turut terpengaruh oleh virus.  Jika demikian, mungkin yang dimaksudnya adalah si Healer sialan itu.


“Baiklah kalau kamu bersikeras, Adrian.  Kalau begitu, hadapilah aku di sini.”  Dream pun berujar memprovokasiku.  Lantas sesuai provokasinya, kami pun saling bertarung.