Kami pun menyelidiki keberadaan orang-orang hilang di lokasi kumuh. Kami bertanya satu-persatu pada saksi dan kerabat-kerabat mereka tentang kapan terakhir mereka melihat korban. Ada satu kesamaan dalam jawaban mereka yakni mereka berada di keramaian malam jalan umum terakhir kali sebelum mereka hilang.
“Tetapi jika demikian, mengapa sampai tidak ada yang bisa menyaksikan mereka hilang?”
Kami lantas berjalan menyusuri kanal-kanal besar tempat di mana biasanya korban yang hilang akhirnya ditemukan tewas. Sekarang waktu telah beranjak gelap dan sebentar lagi akan memasuki malam. Waktu di mana kejadian biasanya terjadi.
“Jangan bilang kalau Pangeran Kedua berencana tinggal sampai larut malam untuk menyelidiki kasus ini?” Gumamku dalam hati dengan khawatir.
Bagaimana aku tidak khawatir padanya, misiku yang sebenarnya adalah menjaga agar nyawa pangeran kedua tetap selamat sampai hari penobatan tahtanya dan bukannya mencari pelaku penculikan dan pembunuhan sadis ini. Terlebih bagiku, mereka hanyalah sekumpulan NPC yang tidak penting.
Aku pun menyentuh punggung pangeran kedua itu lantas mengatakan kepadanya untuk pulang saja sebelum larut malam, tetapi sesuai dugaan, dia menolak.
Aku sebagai bawahannya bukannya dapat menolak perintahnya, tetapi aku tetap saja mengkhawatirkannya. Ada yang berbeda dari suasana malam di sini kali ini. Bagaimana mengatakannya ya, agak sedikit mencekam kalau bisa diungkapkan ke dalam suatu kata-kata. Dengan penuh hawa kekotoran yang menyengat, bukan dalam artian fisik, tetapi dalam artian batin.
“Pyar.” Secara tiba-tiba kami mendengar suara sesuatu terjatuh ke dalam air.
Pangeran Kedua segera ke sumber suara itu lalu aku pun mengikutinya dari belakang. Dari jauh, berkat indera penglihatanku yang tajam walau hari mulai gelap, aku bisa melihat seseorang mengenakan penutup wajah berlari menjauh dari sumber suara itu. Apapun yang terjatuh tersebut, dialah pasti pelaku yang telah membuangnya.
Jaraknya jauh, namun tidak sulit bagiku untuk segera menggapainya, jadi kuputuskanlah untuk mengejarnya. Tapi dengan jelas lewat mata kepalaku sendiri, sosok itu menghilang ke dalam bayangan. Tampaknya, orang tersebut bukan manusia biasa.
Kulihat Pangeran Kedua menyeret sosok tubuh hangus keluar dari air kanal tersebut. Ah, ternyata itulah tadi yang dibuang oleh sosok mencurigakan itu. Tambah lagi satu kasus penculikan dan pembunuhan yang terjadi.
Biasanya aku hanya menyaksikannya di film-film bahwa kedatangan polisi itu selalu terlambat di kala penjahatnya telah kabur, dan kini aku menyaksikan kejadian itu sendiri di depan mataku. Lama setelah sang penjahat berhasil kabur, barulah para penjaga keamanan yang berpatroli itu tiba. Yah, walaupun mereka datang tepat waktu, aku juga sangsi bahwa mereka dapat menangkap sosok misterius itu.
Tetapi, satu hal tiba-tiba mengagetkanku, perihal satu di antara banyak petugas patroli itu adalah Kak Kaiser.
“Kak Kaiser?”
“Adrian?”
Melihatku yang tampak mengenal salah satu petugas patroli di sana, Pangeran Kedua menatapku dengan seksama seakan akan melubangi kepalaku saja.
“Kamu kenal dengannya?” Ujarnya dengan curiga.
“Etto… Hmm…” “Ah, dia sepupu jauh aku.” Aku kehabisan akal untuk menjawab. Untunglah Kak Kaiser segera mengatasi hal itu.
“Namun lagi-lagi, korbannya dibunuh secara brutal ya, dibakar setelah disedot energi kehidupannya sampai habis.” Pangeran Kedua tampak mengamati Kak Kaiser yang mengatakan hal itu. Dia lantas lanjut berkomentar, “Ini kemungkinan adalah sihir hitam.”
Sihir hitam. Sesuatu yang sempat menjadi momok yang menggemparkan Kerajaan Amora karena sihir itu menguras energi kehidupan orang lain sebagai sumber energinya. Dia tidak memanfaatkan mana alam, melainkan mana seseorang yang diekstrak dari kehidupannya. Sihir hitam banyak digunakan untuk menjampi-jampi, mengguna-gunai, atau bahkan membangkitkan mayat hidup.
“Kak Kaiser, bagaimana menurutmu tentang seseorang di dalam kerajaan ini sedang mempraktikkan penggunaan sihir hitam?” Tanyaku penasaran kepada Kak Kaiser.
“Dilihat dari ciri-ciri korban yang kehilangan seluruh energi kehidupannya, hanya itulah kemungkinan jawabannya. Tetapi bukankah jumlah korbannya terlalu besar? Apa jangan-jangan dia sedang membuat tentara mayat hidup ya?”
“Bisa jadi dia justru ingin membangkitkan lich sebagai sekutunya. Lich adalah senjata yang paling mematikan soalnya.” Aku menambahkan komentar Kak Kaiser tersebut.
“Apapun itu, entah dia seorang necromancer atau sekutu lich, yang jelas dia pasti berencana untuk membuat kekacauan di ibukota. Kita harus bersiap-siap.”
“Oh iya Kak. Aku lupa kalau pelaku tersebut bisa merasuk ke dalam bayangan untuk melarikan diri.” Aku menambahkan sedikit keterangan yang mungkin saja belum didapatkan Kak Kaiser tersebut.
Rupanya benar. Dengan wajah yang penuh keseriusan, dia berujar, “Ini bisa menjadi masalah yang lebih gawat.”
“Tidak sesulit itu kok untuk mencari pelakunya. Kita cari saja calon tersangkanya lalu mengawasinya sampai pelakunya datang sendiri menemui calon korbannya.” Pangeran Kedua tiba-tiba masuk ke dalam obrolan kami.
“Makanya, kita kesulitan untuk mencari calon korban itu…”
Aku sempat kesal pada omongan sombong pangeran kedua itu, tetapi rupanya aku salah. Dia memikirkan baik-baik perkataannya itu sebelum diucapkannya.
“Ada satu pola yang menyamakan keseluruhan calon korbannya.”
Pangeran Kedua pun menjelaskan kesamaan di antara calon korban yang kesemuanya adalah wanita berbadan lemah tetapi berenergi kehidupan besar serta berasal dari daerah kumuh. Jadi, untuk menangkap sang pelaku, kita hanya cukup mengawasi calon korban yang paling memenuhi syarat tersebut.
Tetapi aku pun bertanya-tanya, mengapa korbannya harus wanita yang berbadan lemah? Kalau untuk berenergi kehidupan yang besar, aku bisa paham karena pelaku hendak menggunakan energi tersebut dalam bentuk mana. Tetapi untuk memanfaatkan seorang wanita lemah dari daerah kumuh pula, apa sang pelaku sama sekali tidak punya rasa malu ya?
Melupakan itu, kami pun melakukan investigasi sekitar. Berkat alat sihir pendeteksi besar mana yang dibawa oleh Pangeran Kedua, kami akhirnya dengan cepat berhasil mengumpulkan 3 calon korban ideal yang memiliki ciri-ciri tersebut. Petugas keamanan pun membagi shift untuk mengawasi mereka.
Demi alasan keamanan, petugas patroli meminta Pangeran Kedua untuk kembali ke istana dan dia pun kali ini menurutinya begitu saja di kala aku sampai berbusa pun mulutku tetap saja tak digubrisnya. Yah, mungkin karena dia takut bahwa tindakannya itu akan dilaporkan kepada ayahnya yang akan berpengaruh pada dukungan faksinya di kerajaan.
Setidaknya, itu yang kupikirkan beberapa menit yang lalu. Tetapi apa yang justru dilakukan pemuda yang sudah bukan lagi remaja ini, dia hanya pura-pura kembali lantas memakai penutup wajah serta turut menyuruhku untuk mengenakannya lantas kembali lagi ke tempat kejadian.
“I can see your smell.” Eh, apa yang diucapkannya? Apa itu semacam mantra?
Tetapi yang jelas, cairan bening terciprat ke masing-masing calon korban yang sama sekali tidak bisa aku cium baunya.
Jadilah sang pangeran liar itu malah bermalam seharian mengawasi salah satu calon korban sembari tidak melepaskan arah pandangannya kepada dua calon korban lainnya.
Sekitar tengah malam, ternyata benar adanya. Salah satu di antara ketiga gadis itu diserang oleh seorang penculik misterius yang kemungkinan besar adalah pelaku. Sayangnya, gadis yang diserang bukanlah yang sedang kami awasi saat ini sehingga ketika kami sampai di sana, aku sudah kehilangan jejaknya.