101 Avatars

101 Avatars
9. Mengenal Sosok Judith yang Judes dan AI5203 yang Ekspresif



Kak Kaiser kemudian lanjut memperkenalkan kami pada seorang gadis yang mungkin sedang dalam usia SMP-nya yang tampak sedang membaca buku kecilnya dengan asyiknya sambil rebahan dalam posisi telungkup di sudut ruangan.


“Perkenalkan, dia adik perempuanku satu-satunya, Judith.  Karena tidak ada yang mengawasinya di rumah sejak kematian kedua orang tua kami, sedangkan aku seharian jika tidak berada di kampus, berada di sini, maka Judith pun sekalian kuajak tinggal kemari.”  Ucap Kak Kaiser memperkenalkan adiknya tersebut.


“Hai, aku Adrian, dan yang di sampingku ini, kakakku Syifa.  Salam kenal.”  Ucapku berusaha ramah padanya.


Namun, adik perempuan Kak Kaiser itu justru hanya melirik kami dengan ekspresi datar yang tampak cukup menakutkan buatku sembari mengatakan, “Dasar bodoh!” Lalu lanjut kembali membaca bukunya tersebut.  Sungguh sikap yang tak sopan!  Tak kusangka bahwa Kak Kaiser pun memiliki masalahnya sendiri.


Setelah itu, Kak Kaiser memperkenalkan kepada kami pada suatu AI komputer yang bertanggung jawab pada pengumpulan dan analisa data lab sekaligus pertahanan keamanan markas lab yang dipanggil Kak Kaiser sebagai AI5203.


Aku pun kembali mengingat percakapan kami dengan Kak Kaiser kemarin.  Berdasarkan ingatanku, Kak Kaiser seharusnya membawa kami kemari untuk berkenalan dengan 2 orang, satunya Prof. Melisa, dan satunya lagi adalah salah satu penemu Hoho Game, Prof. Indro Nuryono?  Lantas di mana orang yang terakhir tersebut?


Karena penasaran, aku pun bertanya kepada Kak Kaiser.  Akan tetapi, jawaban Kak Kaiser itu, sungguh membuatku sangat terkejut.


“Oh, aku lupa memperkenalkannya dengan detail ya?  Dialah AI5203, AI yang berisi memori ingatan Profesor Indro Nuryono.”


“Ah, rupanya kemarin yang Kakak maksud dengan memperkenalkan kami dengan Prof. Indro Nuryono, bukan yang aslinya, melainkan hanya AI ini?  Sesuai dugaan, Profesor Indro telah benar-benar meninggal pada malam bencana itu ya?”  Aku pun bertanya mengkonfirmasi dengan tampak kecewa.


“Apa maksudmu ‘hanya’, hah?!  Sungguh manusia yang tidak sopan!  Meskipun aku hanya pengganti kesadaran Profesor Indro Nuryono, tetapi aku juga punya perasaan yang akan tersakiti jika diperlakukan tidak sopan.”


Namun tak kusangka, justru AI tersebutlah yang menjawabnya dengan pembawaan layaknya berbicara dengan manusia, bukannya AI, lengkap dengan nada suara yang menunjukkan dengan jelas ekspresi merajuknya.


Padahal AI yang kukenal dari yang kupelajari di SMA seharusnya hanyalah sistem kecerdasan buatan yang ditaruh pada alat elektronik atau robot untuk menjalankan fungsi alat mereka secara otomatis. AI hanya akan menjawab pertanyaan kalian sesuai yang terprogram di data mereka.  Mereka akan error begitu ditanyakan hal yang tak terprogram di data mereka.


“Maafkan, maafkan aku, Tuan AI.  Aku tidak bermaksud begitu.”  Aku pun akhirnya malah refleks merespon ucapannya dengan permintaan maaf saking miripnya sensasi bicaranya dengan manusia asli.


“Apa ini, aku meminta maaf pada mesin?!”  Umpatku dalam hati.


Apa jangan-jangan aku telah menderita objektofilia tanpa sadar?  Tidak, itu salah.  Sejak awal yang aneh bukan aku.  Yang aneh itu AI ini yang dapat berbicara secara ekspresif layaknya manusia.


“Hmm, baguslah kalau kamu sadar kesalahanmu.  Jangan diulangi lagi.”  Jawab AI itu dengan jutek menanggapi permintaanmaafku.


Aku hanya dapat tertawa karenanya di hadapan yang lain.  Namun sebenarnya, aku sedang menangis secara internal di hatiku.  Aku telah meragukan diriku, jangan-jangan aku benar-benar telah mengidap penyakit objektofilia.


“Minggir!  Aku mau lewat.  Dasar bodoh!”  Aku pun terbuyar dari lamunanku.  Tanpa kusadari, ternyata Judith telah berada di sampingku dan memintaku minggir untuk lewat.


Aku pun mundur dua langkah seraya menghembukan nafas sambil mengusap dada.  Pandanganku yang tertunduk, tanpa sadar melirik ke judul buku yang sedang Judith baca.


Spontan seluruh tubuhku merinding secara tidak enak karenanya.  Aku pun jadi bersimpati terhadap Kak Kaiser.  Rupanya, masalahku dengan tenaga buldoser Kak Syifa, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan masalah Kak Kaiser terhadap saudara perempuannya itu.


Kurasakan suatu tepukan di pundakku.  Rupanya, Kak Kaiser-lah yang telah menepuk pundakku tersebut seraya berkata, “Maafkan adikku ya.  Dia sebenarnya adalah anak yang baik, walaupun agak sedikit jud…ith, kamu sudah kembali ya.”


Kak Kaiser tampak dengan sigap mengganti kalimatnya di tengah-tengah dengan keringat dingin mengucur di pelipisnya begitu sosok yang bernama Judith itu masuk kembali ke ruangan setelah keluar hanya berselang beberapa detik.


Aku pun balas menepuk pundak Kak Kaiser sebagai isyarat menyemangatinya.  Semakin kukenal Kak Kaiser, semakin kutahu dia memang hanyalah manusia biasa yang punya masalahnya masing-masing.


Setelah perkenalan itu, Profesor Melisa pun memberikan aku waktu untuk melihat sekeliling sebelum masuk ke inti masalah.  Rupanya, tatapan kagumku akan tempat ini begitu jelas di mata orang-orang.  Aku pun jadi malu karenanya.


Adapun Kak Syifa lebih memilih untuk tetap duduk di kursi, tampak tak tertarik dengan pemandangan mecha yang cemerlang ini.  Rupanya, rasa benci Kak Syifa terhadap fisika virtual masih tetap sama seperti dulu, sejak kematian kakak pertama kami, Kak Faridh.


Tentu saja aku juga membenci para avatar yang telah membunuh Kak Faridh.  Akan tetapi, bukan berarti kita harus meninggalkan perkembangan zaman fisika virtual.  Soalnya ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya dapat merusak peradaban manusia saja, tetapi dapat pula menyejahterakannya tergantung cara pemanfaatannya.  Semua kembali ke diri manusia itu masing-masing.


Setelah aku mencukupkan rasa penasaranku, mulailah Profesor Melisa dan Kak Kaiser menjelaskan tentang makhluk seperti apa yang sebenarnya sedang kami hadapi itu.


Suatu fakta mencengangkan pun terdengar di telinga kami.


Di situlah akhirnya kami tahu kenyataan bahwa asal-mula dari semua bencana Hoho game itu adalah dari pengkhianatan Profesor In Gu kepada Profesor Indro yang dengan sengaja menanamkan chip virus ke main server yang bertugas untuk memantau perkembangan Hoho game di salah satu kota ujinya, yakni Kota Jakarta, yang berisi bank data para avatar pemain Hoho game di seluruh kota tersebut.


Alhasil, para avatar berevolusi sehingga memiliki kesadaran sendiri lengkap dengan tubuh fisiknya.  Sayangnya, kesadaran yang diperoleh para avatar berasal dari akumulasi emosi pemain yang timbul dari pertarungan mereka di dalam game.  Suatu emosi yang sangat labil dan hanya memiliki insting untuk bertarung.


Dan Avatar dengan emosi labil seperti itu dibiarkan lepas ke dunia.  Alhasil, timbullah kehancuran Malam Bencana Hoho Game.


Mengetahui kenyataan pahit itu, aku jadi tak dapat memaafkan seorang profesor yang bernama In Gu itu, profesor lain yang dikatakan sebagai penemu Hoho game di samping Prof. Indro Nuryono.


Profesor Melisa dan Kak Kaiser pun melanjutkan penjelasannya.


Dari penjelasan mereka, termasuk Avatar Mantis dan Sly Dark yang telah kukalahkan, total 68 avatar telah dibasmi , menyisakan 31 avatar yang masih berkeliaran dengan bebas di jalanan.  Karena para avatar ini memiliki kemampuan untuk dapat memimik manusia secara sempurna yang bahkan dapat dengan mudah melewati pemeriksaan keamanan di pesawat, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan menyelinap dan bersembunyi ke luar Kota Jakarta.


Namun, berkat kerjasama dengan pihak pemerintahan baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang melarang mobilisasi keluar setiap individu yang tercatat sebagai penduduk Kota Jakarta pada malam bencana itu, termasuk pengawasan terhadap WNA dan turis asing yang secara naas ikut berada di sana pada malam bencana, selama 5 tahun terakhir ini, hal tersebut dapat dicegah.  Setidaknya, itu sampai beberapa bulan lalu.


Entah karena dasar apa, pihak polisi tiba-tiba mencabut perintah pengawasan tersebut dan bahkan mengumumkan Kak Kaiser, tepatnya Avatar Bomber, sebagai tersangka dalam kasus Malam bencana Hoho game tersebut.


Kita dapat berasumsi bahwa di antara 31 avatar yang tersisa, mungkin saja ada di antara mereka yang telah menyelinap ke luar kota atau bahkan ke luar negeri yang kini luput dari pengawasan.