101 Avatars

101 Avatars
63. Adrian vs Mistique, Kemunculan Tiba-Tiba Healer Mengganggu Pertarungan



“Trash.”  Suara langkah kaki terdengar di arah jam 1.  Suara dentuman angin sebagai pertanda ada sesuatu yang mengoyaknya dari dalam.  Lalu kemudian,


“Shak.”  Aku memiringkan badanku ke kiri begitu waktu serangan yang diprediksi oleh inderaku tiba.


“Shak, shak, shak, shak.”  Begitu seterusnya di mana aku menghindari satu-persatu serangan tembakan cepat kartu-kartu yang diarahkan Mistique kepadaku itu.


“Plak plak plak plak plak … Plak … Plak”  Suara langkah kaki terdengar dengan cepat dari arah jam 12, tetapi dengan cepat berubah ke arah jam 1, lalu segera berpindah lagi ke arah jam 11.  Lalu,


“Shak.”  Kali ini, aku memiringkan badanku ke kanan untuk menghindari serangan yang datang dari arah kiri itu.


“Slash.”  Aku pun berhasil menebas perut Mistique, tetapi sayangnya kurang dalam karena dia keburu menghindar.


Dia mencoba memberikan tipuan ilusi matanya, tetapi seketika ternetralkan oleh kekuatan pasif Crusader.  Aku pun berlari menerjangnya dan sekali lagi menebasnya.


“Slash slash slash.”  Aku menebasnya berkali-kali miring ke kanan, miring ke kiri, lalu secara vetikal sebagai serangan terakhir.  Akan tetapi, serangan itu juga berhasil ditekannya melalui armor yang dibentuk Mistique dari sekumpulan kartu yang terbuat dari logam keras itu.


“Buaaaakh!”  Kulihat Mistique memuntahkan darah.  Hal ini berarti, seranganku cukup berhasil bekerja padanya walaupun telah dilindungi oleh armor kartunya itu.


Ketika aku lengah, Mistique langsung saja hilang dari pandanganku, padahal keadaannya telah terluka parah sehingga membuatku berpikir bahwa dia tak dapat bergerak banyak lagi.


Namun ternyata dugaanku salah.  Mistique dalam sekejap mata menghilang dari pandanganku.  Kupertajamlah kembali indera pendengaranku.  Memastikan ke arah mana Mistique akan menyerang.  Tetapi, tak dapat pula kutemukan.


Lalu secara tiba-tiba, Crusader berteriak langsung di otakku melalui kemampuan telepati kami.


“Adrian, di atas!”  Seketika aku menengok ke atas.  Kulihat Mistique telah terbang ke atasku sembari melepaskan ilusi pandangan yang silau.  Kusaksikan sekilas, cakarnya diarahkan kepadaku.


“Ini gawat.”  Gumamku dalam hati perihal nampaknya aku tak dapat menghindari serangan cakar api ganasnya itu.  Satu kelemahan Hard, armornya hanya melindungi bagian badan sampai siku dan lutut, mutlak membuat bagian kepalaku yang hanya dilapisi helmet Arjuna, menjadi bagian yang empuk untuk diserang oleh Mistique.


Tetapi serangan itu tak kunjung datang.  Ketika cahaya silau itu telah reda, kulihat pedang Crusader-ku telah tepat menancap menembus jantung Mistique.  Mistique pun kalah olehku.


“Maaf Kak Adrian.  Aku ikut campur dalam pertarunganmu.  Tetapi jika dibiarkan begini, kita bisa dalam bahaya.”  Ujar Arjuna padaku dengan nada merasa bersalah.


Rupanya, yang mengendalikan pedang Crusader di detik-detik krusial itu, tidak lain adalah Arjuna.


“Tidak kok, Arjuna.  Kamu justru telah menyelamatkanku.  Terima kasih, Arjuna.”  Balasku kepada Arjuna juga lewat telepati.


“Hehehehe.”  Dapat kudengar suara tawa bahagia Arjuna setelah kupuji lewat telepati itu.


Dengan demikian, Mistique berhasil dikalahkan.  Kini hanya menyisakan Carnaval.


Dalam waktu yang singkat, aku segera dibawa kembali ke dunia nyata.  Tak kulihat lagi Mistique di sana, melainkan butiran-butiran debu data.  Syukurlah, itu artinya ketakutanku yang di awal tidak terjadi.  Kemampuan restorasi sistem kepada avatar hanya berlaku di dunia virtual dan tidak ikut dibawa ke dunia nyata.


Para warga sekitar yang sempat dijerat oleh kekuatan Carnaval untuk dijadikan penonton itu pun terlepas dan segera kembali berhamburan menjauhi tempat di mana para monster itu sebelumnya berada.


Aku pun bisa sedikit lega setelah paling tidak memastikan para warga baik-baik saja dan berhasil meloloskan diri.


Namun secara tiba-tiba, Dream ikut muncul di tempat itu sembari mengisap butiran-butiran debu data itu dengan sesuatu yang terbuat dari pohon.  Tetapi kebiasaan ini, bukankah ini kebiasaan yang dilakukan oleh Kak Kaiser untuk mengisap setiap butiran-butiran debu data pasca pertarungan?  Mengapa Dream melakukan hal yang sama?


Sejenak, hal yang selama ini tidak pernah aku pikirkan, tiba-tiba menimbulkan pertanyaan besar di benakku.  Mengapa Kak Kaiser selama ini mengumpulkan butiran-butiran debu data?  Itu apa dan apa gunanya mengumpulkannya?  Dan mengapa Dream yang sekarang ada di hadapanku ini turut melakukannya?


Tetapi untuk yang sekarang, aku harus fokus pada musuh yang ada di depan.  Namun, keadaan ini cukup gawat.  Bertambah satu lagi musuh secara tiba-tiba di hadapanku di mana kondisiku telah kelelahan setelah menggunakan banyak MP pasca pertarungan melawan Mistique barusan.


“Sekarang giliranmu, Carnaval!”  Teriakku sembari berlari maju bersiap menebasnya dengan Crusader-ku.


Kudengar, Carnaval sempat berkata, “Eh, kamu tidak boleh menyerangku karena aku adalah wasit pertarungan.”


Namun, aku mengabaikan segala ucapannya itu lalu serta-merta menyerangnya.  Akan tetapi, aku tiba-tiba ditarik oleh sesuatu ke atas.  Apakah ini Dream?  Tidak, ini sesuatu yang lebih berbahaya lagi.  Mengapa dia tiba-tiba ikut muncul di tempat ini?  Apakah dia kurang kerjaan?  Si sialan itu, Avatar Healer!


Dapat kulihat bibir monsternya itu tersungging tertawa, seakan berniat mengejekku.


“Kau!  Healer!”  Teriakku marah padanya.


Aku pun berupaya berontak sekuat tenaga mencoba melepaskan diri dari jeratan ulir-ulir batang pohon pengganggu ini.  Namun semakin kuberontak, semakin kuat ulir-ulir ini menjeratku.  Sampai pada akhirnya, dapat kurasakan tubuhku tak mampu lagi menyuplai oksigen dari luar.


Namun, sejenak kuterpikirlah elemen dari Healer.  Healer dan Holy, dua avatar pohon yang sangat aneh.  Jika Holy adalah pohon berelemen suci yang semakin menyerap luka, kesuciannya semakin menghitam, maka Healer adalah pohon berelemen kegelapan yang semakin menetralkan racun, kegelapannya semakin memudar.


Crusader dengan holy light yang mampu menghapus segala jenis kegelapan memiliki kemampuan yang bisa mengalahkan Healer yang bertipe kegelapan.


“Holy light.”  Dengan lirih, dengan sisa-sisa nafas yang ada, aku pun mengucapkan kalimat itu untuk mengaktifkan kekuatan Crusader.


Seketika terkena cahaya Crusader, ulir-ulir yang menjeratku itu pun hilang.


Tetapi apa ini?  Kecepatan pemulihan ulir-ulirnya jauh lebih cepat ketimbang ulir-ulir yang berhasil dihapus oleh holy light Crusader.


“Ini gawat, Adrian.  Kekuatan monster penyembuh Healer memang bukan main-main.  Kalau begini terus, kita takkan dapat mengalahkannya.”  Ujar Crusader melalui telepatiku.


Crusader benar, kami harus segera mencari jalan lain untuk mengalahkan Avatar Healer di hadapan kami ini.


Tapi apakah kami benar-benar dapat mengalahkan avatar bersingle number di hadapan kami ini?  Baru dengan avatar bernomor 10-an saja, aku sudah tidak berdaya.  Apakah aku telah cukup kuat untuk melakukannya?


Seketika, keraguan menghantui pikiranku.


***


Adrian yang semakin dijerat oleh ulir-ulir milik Avatar Healer, perlahan kehilangan kesadaran.  Akan tetapi, pada akhirnya ulir-ulir itu, dilepaskan sendiri oleh Avatar Healer.


Avatar Healer pun berujar kepada Adrian, “Apakah begini saja kekuatan Ksatria Panah Biru?  Aku tidak menyangka kalau dia adalah orang yang lemah.  Baru dengan serangan begini saja, sudah putus asa duluan.”


“Ksatria Panah Biru?  Mengapa monster avatar di depanku ini turut memanggilku seperti itu dan bukannya Blue Batboy?”  Gumam Adrian dalam hatinya.


“Ayo, bangkitlah dan bertarung, anak muda!”


“Anak muda?  Kenapa bisa?”  Sekali lagi, Adrian bergumam di dalam hatinya.


“Ini gawat, Adrian.  Sebaiknya kita mundur dulu.  Gunakan holy light Crusader di tingkat maksimal lantas segera kabur dengan Sly Dark secepat mungkin selama musuh dibutakan oleh holy light.  Berdasarkan analisaku, dengan kekuatan kita yang sekarang, kita tidak akan mampu mengalahkannya.  Aku kenal baik dengan Avatar Healer di hadapan kita itu.  Tampaknya dia adalah data sang ranker…”


“Jangan bilang!”


Belum selesai Crusader menyelesaikan ucapannya via telepati, Adrian segera memaksanya untuk berhenti.