101 Avatars

101 Avatars
102. Keramahan Ayah dan Ibu Adrian



Hari berlalu, dan tidak terasa sudah masuk hari ketiga di mana Adrian dan Syifa kembali bereuni bersama kedua orang tuanya tersebut.


Sejak hari mereka bertemu, belum sempat sekalipun Adrian dan Syifa, serta kedua orang tua mereka pulang ke rumah mereka lantaran kedua orang tua Adrian dan Syifa katanya lebih betah tinggal di markas karena merasa lebih hidup jika tinggal di tempat yang lebih sempit bersama-sama orang terkasih mereka.


Nyatanya, itu hanyalah kedok agar Andika dan Airi dapat berurusan dengan para lintah darat di keluarga besar Setiabudi di belakang layar tanpa membenani pikiran anak-anak mereka.  Namun, mari kita tidak usah bahas soal itu di cerita kali ini.


Pagi hari itu, Syifa tampak asyik mempersiapkan sarapan bareng dengan ibunya, Airi, di markas rahasia mereka.


Dalam suasana yang bahagia itu, Syifa pun bertanya kepada ibunya.


“Ibu, sebenarnya bagaimana karakter Paman Kaiser sehingga kalian sangat menghargai dan menyayangi Beliau?”


“Hmmm.”  Airi tampak bergumam.  Dia mengingat-ingat kembali kenangan indah itu ketika Kaiser dan istrinya masih bersama mereka sebelum terjadinya pecahan dimensi tahun 2031 silam.


“Kaiser-kun orang yang sangat berkarisma, namun di satu sisi juga sangat imut.  Sosok adik yang betul-betul ideal.”


“Jauh lebih imut dibandingkan dengan Ayah?”  Tanya Syifa balik yang jadi meragukan rasa cinta ibunya kepada ayahnya setelah mendengarkan jawaban dari sang Ibu itu.


“Mana ada imut-imutnya si buldoser manja itu.  Lihat saja badannya yang besar dan berotot itu.”  Tampak Airi sedikit menggerutu ketika membahas Andika, suaminya tersebut.


“Tapi Ibu tetap cinta kan dengan Ayah?”


Dalam respon yang diberikan oleh Syifa itu, muka putih bersih Airi yang walaupun telah agak sedikit berkeriput tampak merona bagaikan buah peach yang baru saja matang.


“Yah, tentu saja semua orang ada kelebihannya masing-masing.  Itu tidak terlepas dari ayahmu.  Walaupun badannya sangat besar dan berotot, yang sangat bertentangan dengan tipe pria ideal Ibu, tapi kalau diperhatikan, wajahnya sedikit tampan, dan terkadang dia dapat sedikit perhatian dan bersikap lembut.”  Jawab Airi seraya malu-malu terhadap pertanyaan putrinya itu.


Syifa tersenyum cerah begitu mendapati ekspresi ibunya itu yang jelas-jelas menunjukkan rasa cintanya kepada ayahnya.  Syifa awalnya sangat bersedih ketika di usianya yang baru 5 tahun itu, ayah dan ibunya tiba-tiba saja bercerai.  Dia menjadi lega setelah mengetahui bahwa semua itu hanyalah kamuflase demi menjaga keamanan keluarga mereka dari ancaman para penjahat yang saat itu sedang mengincar ayah dan ibunya.


Di lain sisi, Adrian berolahraga bersama ayahnya di daerah luar di sekitar markasnya.  Kaiser kala itu tidak bisa ikut lantaran masih luka-luka pasca pertarungan sebelumnya dan sementara dirawat di RS Dewantara Group.  Dengan ketiadaan Healer di sisi tim mereka, tampak celah besar dari segi medis bagi tim tersebut.


“Wah, kalau diperhatikan, badan Ayah sangat bagus.  Mengapa Ayah bisa sangat tinggi dan berotot begitu di usia Ayah yang sekarang padahal aku yang anak ayah hanya memiliki tinggi yang pas-pasan.”  Tanya Adrian kepada ayahnya sembari mereka berdua masih sementara melanjutkan jogging mereka.


“Itu tentu saja, soalnya ibumu kan pendek.”  Jawab Andika dengan ekspresi datar.


“Ayah, jika Ibu sampai mendengarnya, Ibu bisa saja menceraikan Ayah benaran kali ini, lho.  Atau apa Ayah sebenarnya tidak mencintai Ibu?”  Tanya Adrian was-was ketika mendapati ayahnya berespon begitu dingin soal ibunya.


“Yah, walaupun dia pendek, tapi kulitnya begitu putih seperti salju dan warna matanya begitu indah laksana putri dari dunia dongeng.  Dia kebanyakan kasarnya, tetapi jika diperlukan, ibumu terkadang bisa berubah menjadi sosok wanita yang paling anggun dan lembut di dunia ini.  Itulah sebabnya Ayah tidak dapat tidak mencintai ibumu.”  Jawab Andika, kali ini dengan ekspresi yang sangat cerah.


“Ngomong-ngomong, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan anaknya si Loki, Nafisah?  Apa semuanya berjalan lancar-lancar saja?”


Mendengar pertanyaan dari ayahnya itu, muka Adrian seketika memerah.  Dengan terbata-bata, dia pun menjawab, “Hubungan apanya?  Aku bahkan sampai sekarang belum menembaknya.”


“Duh, anak pengecut ini.  Tembak saja secepatnya sebelum diambil orang.  Kenapa anak Ayah begitu pengecut sih.  Asal kamu tahu, Ayah dan Ibu mendukung hubunganmu dengannya seratus persen.  Jadi cepat maju saja, jangan jadi pengecut.”


Andika lantas memberikan komentar yang tidak terduga kepada anaknya, Adrian.  Mendengar tanda lampu hijau dari ayahnya itu, hati Adrian seketika bermekaran.  Dia rasanya baru saja memenangkan lotere keberuntungan yang hanya ada sekali saja seumur hidupnya itu.  Kini, yang tersisa hanya menyatakan cinta saja pada dewi pujaannya itu seraya meminta restu kepada keluarga Nafisah.


Adrian dan Andika pun kembali ke markas di saat sarapan tengah disiapkan.  Hadir pula di meja makan, Judith dan Zio.  Profesor Melisa juga turut tidak ada kala itu karena sementara menemani Kaiser yang masih dirawat di rumah sakit.


Akan tetapi, belum sempat mereka memulai sarapan, alarm tanda bahaya dari Mr. Aili tiba-tiba saja berbunyi.


Para monster dummy yang telah tidak muncul lagi selama tiga hari belakangan ini, tiba-tiba saja muncul kembali.  Kali ini, mereka hanya muncul di dua titik, yakni area D5 dan J10.


“Ah, monster sialan itu sama sekali tidak memberikan kita waktu untuk beristirahat.  Bisa tidak kita sarapan dulu?”  Keluh Adrian begitu mendengar alarm tanda bahaya tersebut.


“Kalau kita tidak segera ke sana, kerusakan yang disebabkan oleh para monster akan semakin besar dan mereka akan semakin berevolusi menjadi lebih kuat lagi.”  Ujar Mr. Aili menanggapi keluhan Adrian tersebut.


“Tetapi aku harus ke mana dulu?  Ada dua area yang diserang.”  Tanya Adrian sembari memperhatikan secara seksama denah lokasi yang muncul di layar besar yang terhubung dengan komputer, tempat kesadaran Mr. Aili tersebut tersambungkan.


Dengan inisiatif mereka sendiri, Airi dan Andika yang justru menawarkan bantuan duluan.


“Biar kami yang tangani di area J10.  Adrian, kamu cukup tangani area D5 saja yang lebih dekat dari markas.”


Mr. Aili pun memberikan persetujuannya terhadap uluran bantuan yang ditawarkan oleh Airi dan Andika setelah menyaksikan langsung kekuatan mereka di pertempuran sebelumnya.  Syifa dan Adrian awalnya ragu karena merasa khawatir dengan keamanan kedua orang tua mereka.  Namun setelah dibujuk, mereka menjadi luluh lantas memberikan izin kepada mereka.


Dengan demikian, tim untuk mengamankan masing-masing dua area telah ditetapkan, di mana Adrian ditugaskan untuk mengamankan area D5, sementara Andika dan Airi mengamankan area J10.


Tampak beberapa saat, semuanya aman-aman saja.  Semua monster dummy yang muncul hanyalah domion yang berlevel rendah tanpa sempat diberikan waktu untuk berevolusi.  Baik Adrian, maupun tim Andika-Airi, dapat mengatasinya dengan sangat mudah, yang hanya saja membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama, persoalan banyaknya jumlah mereka.


Akan tetapi, masalah pun mulai muncul ketika alarm bahaya sekali lagi berdering.  Kali ini di area G2 di mana kantor peradilan negeri berada.  Tetapi alarm tanda bahaya kali ini bukan disebabkan oleh monster dummy yang mengamuk, melainkan amukan sesosok monster avatar.  Monster avatar bernomor seri 12, Avatar Magneton.


Yang membuat keadaan bertambah buruk adalah suasana tempat kala itu yang sedang ramai karena salah satu agenda sidang perkara pidana baru saja selesai diselenggarakan.