101 Avatars

101 Avatars
119. Persiapan Keberangkatan Menuju Dunia Lain



Profesor Dios segera meminta diadakan rapat dadakan pasca penemuannya di daerah yang diselidikinya tersebut.


Karena keadaan yang sedang gawat-darurat tersebut, tidak butuh effort yang berlebih untuk meyakinkan semua anggota mengorbankan waktu mereka yang berharga berkumpul bersama-sama menemukan solusi demi keselamatan Kota Jakarta, tidak, lebih tepatnya jika dikatakan keselamatan umat manusia di seluruh planet bumi ini.


Sementara di pantai selatan Pulau Jawa tersebut, rata-rata pertarungan sudah hampir berakhir.  Semula, Adrian mengira bahwa Arskad-lah yang akan menjadi petarung paling overpower di tempat tersebut.  Namun nyatanya dia salah.


Ada tiga petarung lain yang lebih hebat dari dirinya.  Terlebih, yang membuat Adrian kagum, mereka bertiga adalah dua orang kakek dan seorang nenek yang telah masuk di usia senja mereka.


Satu orang dari mereka dengan indah menggerakkan air di sekitar laut lalu memanfaatkannya untuk menjerat sang monster dalam genggamannya, membabat sang monster dengan tekanan dari dalam air itu sendiri.


Satu orang lagi adalah seorang sniper seperti Adrian.  Namun, Adrian kalah terhadap sang kakek itu, perihal sang kakek mampu sekaligus mengaktifkan delapan senjata snipe secara bersamaan, terlebih tiap kali menembakkan senjatanya, dia dapat menghancurkan empat sampai lima lobster raksasa sekaligus sehingga jika ditotal, sang kakek mampu menghabisi empat puluh monster lobster raksasa hanya dalam sekali serangan.


Satu lagi seorang nenek, walaupun tidak sehebat kedua kakek barusan, dia dengan gagah berani mendarat di atas tubuh sang monster lalu menyerang sang monster dengan membabi-buta melalui tombaknya yang berwarna emas itu, lalu menghabisinya dengan serangan petir yang dahsyat.


Kedua orang kakek dan seorang nenek itu lantas mendekati Adrian.


“Jadi ini ya, putra kedua dari Andika.”  Ujar seorang kakek berambut pirang.


“Hmm, sama sekali tidak mirip dia.  Dia lebih mirip dengan ibunya.”  Kemudian nenek berambut pirang itu melanjutkan.


Karena penasaran dengan identitas mereka, Adrian pun bertanya, “Anu, kalian sebenarnya siapa?”


Namun, alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, Arskad Deawantara-lah yang terlebih dahulu mengungkapkan identitas mereka.


“Ah, Paman Shou, Paman Arthur, dan Bibi Sandra, kalian sudah datang rupanya.”


“Ah, Arskad.  Maafkan kami agak terlambat soalnya ada urusan sebentar dua jam lalu di Swedia sebelum kami kemari, jadi kami berangkat pas urusan itu selesai dulu.”  Jawab sang nenek berambut pirang.


“Aku juga, ada beberapa bisnis di China yang tak bisa aku lewatkan.  Jadi jam 9 pagi baru aku bisa berangkat kemari?”


“Hahahahaha.  Tidak apa-apa kok, Bibi Sandra, Paman Shou.  Kalian bersedia datang kemari saja, kami sudah sangat bersyukur.  Tapi kalian malah membantu kami dalam melakukan pembersihan.”


“Melihat udang-udang merayap, kami jadi mual melihatnya.  Jadi sekalian kami bersihkan saja.”  Jawab seorang kakek lain yang berambut pirang.


Adrian keheranan dengan obrolan mereka berempat itu seakan-akan mereka baru berangkat dari negara jauh untuk kemari sekitar sejam dua jam lalu.  Tapi nyatanya mereka ada di sini sekarang.  Waktunya tidak sinkron dengan obrolan mereka.


Arskad seakan menyadari apa yang menjadi pusat keheranan Adrian lalu dia pun menjelaskan.


Adrian tampak takjub terhadap penjelasan Arskad tersebut.  Arskad lanjut saja menjelaskan.


“Bibi Sandra dan Paman Arthur sendiri hanya butuh waktu sekitar setengah jam dari Swedia untuk sampai kemari.  Paman Shou bahkan tidak butuh waktu lebih dari lima belas menit untuk berangkat dari China sampai kemari.”


Bertambah lagi satu pengetahuan Adrian di hari itu.


“Oh iya, di mana Dios?  Bukannya dia yang memanggil kami kemari?”  Seorang kakek yang dipanggil sebagai Shou oleh Arskad pun bertanya.


“Ah, sebaiknya penjelasan detailnya kita dengarkan saja di markas.  Kebetulan Profesor Dios juga sudah ada di sana.  Mari, Paman, Bibi.”


Setelah Arskad mengatakan hal itu, mereka semua pun segera turut menuju ke markas.


Markas yang biasanya terlihat lapang karena hanya diisi oleh para tim pahlawan, kini terlihat begitu sesak dengan banyaknya orang-orang masuk memenuhi ruangannya.  Sebagai pusat perhatian dari kerumunan tersebut tidak lain adalah sang profesor, Profesor Dios dan Profesor Melisa.


“Kami telah berhasil menyelidiki penyebab terjadinya penyimpangan ruang dan waktu belakangan ini yang menyebabkan seringnya portal-portal yang menghubungkan dunia virtual ke dunia kita terbuka.  Penyebabnya bukan berasal dari dunia kita, melainkan dari dunia seberang.  Oleh karena itu, tiada pilihan lain untuk menyelesaikan masalah ini selain terjun ke sana langsung untuk mengeliminasi penyebabnya.”


Seketika forum menjadi riuh mendengarkan penjelasan Profesor Dios tersebut.  Bagaimana tidak, belum dapat dipastikan tentang kondisi di dunia seberang.  Tidak hanya mengenai kendala seberapa berbahayanya tempat itu yang katanya dipenuhi dengan dummy di wilayah antardimensinya, belum lagi monster-monster kuat yang bisa saja ada di sisi dunia seberang, tetapi juga belum dapat dipastikan apakah manusia dapat bertahan hidup di sana.


Belum jelas apakah di dunia itu ada oksigen sehingga manusia bisa bernafas, juga mengenai suhunya apakah sudah sesuai untuk suhu berlangsungnya kehidupan, masih banyak misteri tentang tempat tersebut.  Namun, sekarang Profesor Dios menyatakan bahwa harus ada yang ke sana langsung untuk menyelesaikan masalah.  Tiada yang dapat menyalahkan kepanikan mereka.


Di kala itulah Profesor Melisa berbicara.


“Seperti yang kalian tahu, Healer dengan kebijaksanaan pengetahuannya telah meninggalkan kita warisan terknologi yang cemerlang, yakni gelang perubah.  Dari warisan teknologi itu, kami mencoba mengembangkannya sebagai alat untuk mentransfer seseorang menjelajahi dunia virtual.”


“Konsepnya mirip dengan Hoho game, tubuh fisik kita tidak perlu pergi langsung ke sana, cukup kesadaran kita yang menyatu dengan tubuh virtual.  Hanya saja berbeda dengan game, tubuh virtual dibuat sehingga mampu merespon selain sentuhan terhadap benda-benda virtual juga terhadap benda-benda fisik berkat data yang kami peroleh dari gelang perubah.”


“Kami berhasil membuat tujuh alat yang berarti, kami dapat mengirimkan tujuh volunteer ke sana untuk membasmi monster yang menjadi pusat kekacauan portal selama ini.  Kami sudah menandai lokasinya sehingga kalian cukup mengikuti petunjuknya saja.  Bagi yang bersedia, kami akan membagikan alat untuk mengukur tingkat kecocokan tubuh kalian terhadap tubuh virtual.  Tujuh dari kalian yang tercocok, nantinya akan ditetapkan sebagai volunteer.”


Di kala Profesor Melisa berujar tersebut, seorang asisten membagikan alat yang dimaksud.  Ada beberapa anggota forum yang menanyakan mengapa Dream dan Arjuna tidak ikut menjadi volunteer.  Yah, alasannya sederhana.  Untuk Arjuna, dia tak dapat lagi ke sana karena akan mengaktifkan tanda hukuman gaia.  Sementara Dream, keberadaannya dibutuhkan di sisi luar ketika sewaktu-waktu portal perlu dibuka atau ditutup.


Sekitar tiga puluh persen hadirin tidak setuju untuk menjadi volunteer.  Yah, itu wajar saja ketika nyawa menjadi taruhannya.  Lalu hasilnya pun keluar di antara sekitar tujuh puluh persen hadirin yang berkenan menjadi volunteer tersebut.


Orang pertama dan kedua sesuai dugaan adalah Adrian dan Kaiser.  Kemudian sebagai orang ketiga dan keempat adalah Profesor Dios sendiri beserta asistennya, Arskad Dewantara.  Kemudian sebagai orang kelima, keenam, dan ketujuh adalah Arthur Peirriera, Sandra Nolkin, dan Lu Shou.