Peningkatan kemampuan Kaiser kian hari kian signifikan sampai-sampai di taraf dia sebenarnya tak lagi membutuhkan Adrian sebagai mentornya. Oleh karena itu, mereka pun memutuskan agar Mr. Aili dan Adrian berfokus pada pencarian monster avatar yang tersisa saja, sementara Kaiser melanjutkan pelatihannya dengan didampingi oleh Profesor Melisa sebagai operatornya.
Pelatihan benar-benar berjalan lancar hingga terlihat kemampuan Kaiser telah hampir menyetarai Healer sewaktu menyamar sebagai dirinya. Bahkan, sampai ke taraf dia percaya diri merequest kepada Mr. Aili dan Profesor Melisa untuk membuat simulasi lawan dengan wujud terakhir sebelum kematian dari Freeze, Volt, Metalia, Mecha, dan Saber. Dia bahkan juga sempat merequest untuk bisa melawan salinan data Healer serta Healer dalam wujud Bomber-nya.
Sudah tak diragukan lagi, Kaiser adalah gamer petarung virtual reality yang tergenius di antara para genius.
Melihat perkembangan yang sangat signifikan dari Kaiser tersebut, pada awalnya Adrian senang. Bagaimana tidak, dia memperoleh rekan yang kuat untuk mendampinginya. Namun perlahan, rasa inferiornya bangkit lantas mengganggu rasa kepercayaan dirinya.
Dia merasa kerdil di hadapan orang yang memang terlahir genius. Namun, dia mencoba menekan perasaan tersebut yang dia tahu bahwa itu salah. Tidak seharusnya dia memiliki perasaan iri kepada rekan yang justru harus saling dukung itu.
Namun suatu hari, Adrian tanpa sengaja mendengarkan ujaran Kaiser tersebut di salah satu kesempatan pertarungan latihannya.
Saat itu, Kaiser melawan sosok Healer dalam wujud Bomber-nya yang telah upgrade sampai saat terakhir meninggalnya. Dengan sigap, Kaiser menusukkan pedang Enigma-nya dari arah belakang sewaktu cerminan Healer menggunakan side avatar Silent untuk menyergapnya.
Alhasil, pedang Enigma mengurangi HP lawan sampai di tahap yang kritis. Lalu dengan senjata andalan enam dari delapan rudalnya itu, Kaiser menghancurkan sosok cerminan Healer tersebut.
“Bagaimana? Jelas aku lebih hebat dari si palsu itu kan?” Ujar Kaiser bangga.
Adrian selama ini mencoba dengan keras menekan rasa inferioritasnya terhadap Kaiser. Hal itu wajar saja jika ada orang lain yang memiliki kemampuan lebih hebat daripada kita. Hal itu pun telah lama dirasakan oleh Adrian yang harus berada dalam bayang-bayang kakaknya, Faridh, selama ini.
Mengapa Adrian yang memiliki jiwa kompetitif yang sangat tinggi, tidak masalah dengan hal tersebut, adalah karena dia punya sosok idola yang terpatri di hatinya untuk dia contoh dan dijadikannya sebagai sosok ideal untuk dikejarnya. Adrian merasa akan baik-baik saja selama dia terus mengejar sosok idolanya itu sebagai tujuan hidupnya.
Adrian pada dasarnya memang bukanlah seseorang dengan mental yang kuat. Dia memiliki mental yang sangat rapuh dan sangat mudah dirundung keputusasaan. Hanya saja selama ini, itu tidak tampak karena Healer terus berusaha memfollow up-nya. Namun kini, Healer telah tiada.
Hingga pada akhirnya, hanya dengan satu baris kalimat dari Kaiser itu, emosi Adrian yang selama ini ditahannya, terluapkan juga.
“Sudah kubilang berhenti memanggilnya palsu! Dia jelas-jelas ada di dunia ini dan berjuang dengan jalannya sendiri! Mana mungkin sosok seperti itu adalah palsu?!” Dalam emosinya, Adrian berteriak sejadi-jadinya, meluapkan amarahnya secara tidak tepat kepada Kaiser.
Selama ini Adrian merasa baik-baik saja walaupun dengan rasa inferiornya itu. Namun setelah Kaiser mengucapkan kalimat tersebut, ceritanya sudah berbeda. Kaiser telah melukai citra sosok yang dianggap ideal oleh Adrian untuk dikejarnya. Ditambah, kenangan Adrian bersama Healer sebagai guru dan murid membuat ikatan batin di antara mereka tak dapat lekang ditelan oleh waktu, walau Healer pada sejatinya hanyalah evolusi dari salah satu bagian program komputer.
Beberapa saat kemudian, Adrian akhirnya tersadar dari amarahnya itu. Dia betul-betul marah atas anggapan Kaiser pada sosok Healer yang dihormatinya itu. Namun, dia juga menyadari bahwa sikapnya tersebut pada Kaiser tidaklah tepat karena pada dasarnya dia marah karena dirongrong oleh rasa inferioritasnya.
Dilema pun terjadi di hatinya antara rasa marahnya karena mentornya dihina serta dirinya yang memang menyadari kelemahan dirinya itu, jadi wajar saja jika mentornya juga dianggap tidak berarti sebagai orang yang melatihnya. Dalam kebingungan bercampur amarah itu, Adrian pun melarikan diri, tak ingin Kaiser menyadari kelemahan hatinya.
Akan tetapi di pintu masuk markas rahasia mereka itu, sewaktu Adrian hendak beranjak keluar, dia berpapasan dengan Judith.
“Bukan apa-apa, Judith.” Ujar Adrian pelan sembari mengelap kedua matanya untuk menghilangkan sisa air mata yang tertinggal di sana.
Judith pun menarik lengan baju Adrian yang mengenakan kemeja panjang kala itu lantas mengisyaratkannya untuk duduk di sandaran batu gua di depan markas mereka itu bersamanya.
“Aku mendengar semuanya dari luar, Kak Adrian.” Judith pun berujar.
“Oh, begitu. Maafkan atas sikap ketidakdewasaanku, Judith. Seharusnya aku turut senang karena kakakmu yang asli akhirnya siuman. Tetapi, aku sama sekali tak dapat membenci Healer yang menyamar menjadi kakakmu itu lantas merahasiakan semuanya dari kita. Bagaimana pun, aku hanya dapat bersimpati padanya.” Adrian pun mulai membagi isi hatinya kepada Judith.
Mendengar ucapan itu, Judith menggeleng.
“Tidak, Kak Adrian. Aku sangat senang bisa dipertemukan kembali dengan Kak Kaiser yang asli. Tetapi sama seperti Kak Adrian, aku juga menyayangi Healer dengan tulus. Dia telah berusaha semampunya dengan otaknya yang konslet itu untuk menyamai Kakak lantas menghiburku menggantikan sosok Kak Kaiser. Jujur, aku sangat sedih kehilangannya.”
Tanpa sadar, air mata Judith terjatuh. Gadis remaja yang selalu tampak kuat itu untuk pertama kalinya terlihat menangis di hadapan orang lain selain kakaknya. Dengan pilu dia lanjut berujar,
“Tetapi seberarti apapun dia bagiku, kakakku adalah yang terpenting untukku. Aku sungguh kejam padanya, kan? Selama yang kuingat, kebersamaan kami hanya kuisi dengan memarahi keunikan sikapnya itu. Namun setelah tiada, aku benar-benar menyesali segalanya. Jika kutahu umurnya tidaklah panjang, tidak, jika aku tahu dia itu adalah doppelganger Kakak yang hanya berumur pendek, seharusnya aku memperlakukan dia dengan lebih baik lagi.”
Gadis remaja itu pun mengenang kembali kebersamaannya bersama sang faker lantas tertawa sendu sendiri. Tanpa terasa oleh Judith, kebersamaan mereka selama ini ternyata juga dipenuhi oleh kenangan yang indah.
Begitulah pada akhirnya dua sosok remaja yang kehilangan orang terkasih yang sama, saling curhat untuk menenangkan emosi satu sama lain.
Adrian pun berucap, “Sayangnya, lebih daripada itu, aku merasa minder di hadapan Kak Kaiser. Namun aku mengaguminya, hanya saja karena kekurangcakapanku, dia malah menilai Healer sebelah mata.”
Dengan senyum ramahnya, Judith pun menyemangati pemuda yang lemah hati itu, “Ketimbang minder, bukankah Kak Adrian hanya merasa iri saja? Tenang saja kak, itu adalah hal yang wajar untuk merasa iri dengan seseorang apalagi untuk orang hebat sekaliber Kak Kaiser. Tetap semangat, Kak Adrian!”
Mereka pun akhirnya saling tertawa bersama, menertawakan diri mereka yang menyedihkan. Namun mereka tidak minder ataupun putus asa. Mereka pada akhirnya memilih melangkah untuk sekali lagi menatap diri mereka dengan positif.
Sementara itu di dalam markas, Kaiser masih terlihat bingung tentang apa yang harus dilakukannya setelah melihat Adrian pergi karena marah padanya. Di saat itulah, Mr. Aili menghampirinya lantas memberikannya wasiat terakhir Healer yang dititipkan pada Mr. Aili untuk Kaiser.
Wasiat itu berupa video hologram yang secara otomatis masuk ke gelang perubahnya. Sesaat kemudian, hologram berwujud Healer mini pun keluar dari gelang perubah.
“Halo, sahabatku yang berharga, Kaiser.” Sosok hologram itu pun membuka pembicaraannya.