101 Avatars

101 Avatars
115. Akhir dari yang Satu, Awal dari yang Baru



Setelah hari di mana kami mengalahkan Pohon Keabadian, Dream tetap tinggal di bumi selama 25 hari sampai betul-betul mendekati batas akhir waktu eksekusi tolakan gaia.  Semuanya demi menunggu dan mencari keberadaan Time dan Raging Fire yang tiba-tiba saja menghilang.


Namun selama waktu itu, keberadaan kedua monster avatar tersebut tak kunjung jua ditemukan bagai ditelan ketiadaan begitu saja.  Karena batas waktu stabilnya portal kedua dunia, Dream akhirnya tak sanggup untuk menunggu lagi dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke dunia virtual bersama dengan jiwa para monster avatar yang telah diamankannya.


Setidaknya itu yang kupikirkan.


“Eh?  Dream?  Kamu tidak ikut kembali ke dunia virtual bersama mereka?”  Rupanya Dream hanya membawa jiwa para monster avatar ke dunia virtual tanpa turut kembali bersama mereka.


Di tempat itu, turut pula para rombongan tim pahlawan yang lain yang turut mengantar kepergian mereka terlihat ikut kaget melihat Dream masih ada di sisi dunia ini sementara pintu gerbang menuju dunia virtual tersebut telah lama ditutupnya dan menghilang.


“Ah, apa boleh buat.  Aku juga ingin kembali, tetapi harus ada yang menutup pintu ini dari luar agar proses transmigrasi dapat berlangsung.  Aku juga tidak bisa menyerahkannya kepada yang lain untuk melakukannya karena sistem melarang orang di luar sistem untuk terlibat soal pembukaan dan penutupan portal.”  Keluh Dream seraya menghela nafasnya.


“Jadi itu artinya?”  Tanyaku penasaran.


“Ya mulai sekarang, aku akan turut tinggal di sisi dunia ini.  Mohon bantuannya ya, semuanya.”  Dream lantas menjawab pertanyaanku itu seraya tersenyum manis.


“Lantas apa yang akan kau lakukan dengan wujudmu itu?  Kamu bukannya sama seperti Arjuna yang dapat bertransfer ke tubuh manusia.”


“Ya, kau benar juga ya, Adrian.  Tubuh avatar sistem tidak memiliki sistem mimikri yang dapat membuat wujud kami menyerupai manusia.  Tapi bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa walau wujud kami yang seperti ini, kamu tetap akan mengajak kami tinggal bersamamu dan merawat kami sepenuh hatimu?  Ataukah itu hanya sekadar janji-janji manis namun kosong belaka?”  Dream dengan senyum yang terlihat licik itu lantas membalikkan kata-kataku.


Yah, aku tentu saja tidak masalah dengan hidup berdampingan dengan mereka.  Bagiku tidak masalah bagaimana wujudnya, entah dia jelek, menyeramkan, atau setidak logis apapun itu.  Bukan itulah yang terpenting.  Selama mereka adalah orang yang baik, tentu aku akan menerima mereka.


“Ya, ya, tentu saja kamu dapat tinggal bersama kami.”  Jawabku seraya tersenyum kepada Dream.


Dengan demikian, ditambah Ayah dan Ibu yang akhirnya juga memutuskan untuk tinggal bersama kami, keluarga kami pun tumbuh menjadi lebih besar.  Semula, hanya tersisa aku dan Kak Syifa di keluarga.  Namun kini, keluarga kami telah benar-benar lengkap.  Ada Ibu, Ayah, dan juga ada maskot kami, Dream dan Arjuna.


Di luar dugaan, keluarga Tio, termasuk Tio sendiri, masih sering mengunjungi Arjuna setelah itu.  Tampaknya, Arjuna pun telah mengambil tempat di hati keluarga tersebut.


Dan tanpa terasa, kini sudah lima tahun berlalu.  Aku telah lulus kuliah S1.  Daripada lanjut S2, aku memutuskan untuk belajar langsung lewat pamanku, Profesor Dios, untuk lebih memahami konsep dunia virtual.  Cita-citaku adalah untuk menghidupkan kembali semangat vrmmorpg tanpa dunia dihantui oleh bahaya para monster avatar lagi dengan menciptakan game yang paling fantastis di dunia.


Bukankah hal itu juga berlaku sewaktu era pengembangan nuklir di zaman dahulu di mana orang-orang takut akan kepunahan umat manusia akibat dampak radiasi yang dihasikannya?  Nyatanya sampai sekarang, umat manusia dapat bertahan melaluinya dalam keadaan baik-baik saja.


Kak Kaiser juga tidak beda jauh dariku.  Namun, daripada memilih penelitian dunia virtual ke arah hiburan game, Kak Kaiser nampak lebih tertarik meneliti bersama ayah dan ibunya dalam pembukaan pintu gerbang ke dunia virtual di mana manusia dapat memasukinya secara aman.


Lebih dari apapun, Kak Kaiser sangat serius ingin membantu kedua orang tuanya dalam menghadapi perasaan menyesal terdalam mereka dengan mampu menemukan kembali paman beserta istri pamannya yang terjebak di dunia virtual tersebut.


Judith memutuskan untuk tetap tinggal di Indonesia dan melanjutkan pendidikan di sana.  Kini, Judith telah menjadi mahasiswa tahun pertama di Jurusan Fisika Virtual Universitas Global Indonesia mengikuti jejakku dan Kak Kaiser.  Dia kini telah menjadi junior universitas kami.


Kudengar Zio juga mengambil kuliah di Universitas Global Indonesia sehingga masih sering main bareng Judith di sela-sela kesibukan kuliah mereka walaupun dengan jurusan yang berbeda dengannya.


Untuk Profesor Melisa, yah, dia tetap sama saja seperti biasa, tidak ada yang berubah, tetap sibuk dengan penelitiannya di kampus, kecuali pada bagian bahwa pekerjaannya kini lebih dimudahkan dengan bantuan Mr. Aili sebagai asistennya.


Adapun untuk Tio, setelah menjalani rehabilitasi selama 2 minggu, dia mulai menjalani pendidikan secara privat untuk menyusul ketertinggalan akademiknya selama dia koma 5 tahun lamanya tersebut.  Tidak butuh waktu lama bagi dia untuk rehabilitasi, terima kasih berkat Healer.


Tidak butuh waktu lama pula bagi Tio yakni hanya butuh sekitar setahun karena kecerdasan otaknya untuk menyusul kurikulum SMA yang dilewatkannya.  Setelah itu, dia pun mendaftar masuk kuliah di jurusan arsitektur salah satu universitas yang cukup ternama di Kota Surabaya.  Kudengar, sebentar lagi dia juga akan segera lulus.


Sementara kedua teman berhargaku, Zenri dan Bobi, juga hidup dengan baik.  Zenri memilih untuk melanjutkan S2-nya di Universitas Standford dengan jurusan yang sama dengan S1-nya.  Adapun Bobi, dia menikahi salah satu gadis dari Keluarga Wijayakusuma dan menjadi bagian keluarga mereka lantas menjadi salah satu orang yang penting di keluarga tersebut.


Oh iya, satu lagi informasi bahagia yang lupa kusampaikan.  Kak Kaiser dan kakakku Syifa telah resmi menikah dua tahun lalu dan kini mereka telah dianugerahi seorang bayi perempuan berusia 8 bulan.  Kakakku Syifa memutuskan untuk keluar dari kepolisian lantas mengikuti suaminya ke Swedia.


Kalian bertanya tentang nasib percintaanku?  Segera setelah bahaya tolakan gaia berlalu, aku segera memberanikan diri menyatakan cintaku pada Nafisah dan diterimanya.  Kini, kami resmi bertunangan, bahkan Nafisah bergabung bersamaku pada proyek penelitianku bersama Profesor Dios di London, Inggris.  Jika tidak ada halangan, maka kami akan segera menikah tahun depan.


Semuanya berakhir dengan bahagia.  Setidaknya, itulah yang kupikirkan.  Sampai akhirnya, tibalah di waktu aku kembali ke Jakarta demi menghadiri acara resepsi pernikahan Paman Damian yang bisa terbilang cukup telat itu jika dilihat dari usianya yang sedikit lagi mencapai usia 40 tahun.


Tanpa diduga-duga, Raging Fire yang telah dinyatakan menghilang 5 tahun lalu, kembali muncul di hadapan Judith dan Zio yang kala itu sedang berada di kampusnya.  Sebuah portal tiba-tiba saja terbuka kala itu dan menghempaskan sang monster keluar ke dunia nyata.