Kembali ke masa lima tahun silam setelah Kaiser menghancurkan Pohon Keabadian dan mengalahkan Time.
Time dengan liciknya menggunakan kloningan selnya menyerupai dirinya di tengah-tengah Kaiser bersiap meluncurkan serangan terakhirnya. Time terbelah dua tepat ketika Kaiser menyerang. Kaiser menyaksikan di depan matanya sendiri bagaimana Time hancur-lebur oleh serangannya, padahal itu sejatinya hanyalah kloningan dari yang asli.
Namun, impak dari serangan Kaiser sudah sangat cukup kuat sehingga cukup mencederai pula tubuh Time yang asli.
“Fiuh, syukurlah rencana pelarianku berhasil. Di luar dugaan, aku bisa kehabisan mana melawan manusia lemah itu. Pohon Keabadian juga telah lenyap hingga tak ada gunanya lagi melanjutkan pertarungan sia-sia tersebut.” Ujar Time yang terluka seraya mengendap-endap akan meninggalkan tempat tersebut.
“Lagipula entah mengapa, tanda tolakan gaia itu telah hilang di jiwaku. Jadi ini bisa dibilang suatu keberhasilan. Hanya saja, tubuh ini tampaknya tak mampu lagi bertahan lama sehingga aku harus segera memikirkan rencana baru lagi untuk membangkitkan Pohon Keabadian yang baru.”
Tanpa diduga-duga Time yang sibuk menganalisis situasi tentang apa yang akan dilakukannya ke depannya, Raging Fire secara tiba-tiba datang menyergapnya.
“Kau, mengapa kau masih hidup? Juga tanda tolakan gaia di jiwamu juga turut lenyap sepertiku?”
Namun, tanpa memberi kesempatan bagi Time untuk berpikir, sebuah portal tiba-tiba terbuka di dekatnya lantas Raging Fire mendorong Time terjerembab masuk ke dalamnya, ikut bersamanya jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam itu.
Dan tibalah di masa kini. Lima tahun setelah kejadian tersebut. Raging Fire kembali muncul ke dunia nyata lewat lubang portal yang sama yang secara kebetulan terhempas ke tempat di mana Judith dan Zio sedang berada.
Mendengar kabar tersebut, Arjuna yang kebetulan pergi bersama Adrian lewat wujud Tio muda segera bergegas ke lokasi kejadian. Kini tidak ada lagi gelang perubah dan Adrian sudah sepenuhnya terpisah dengan Avatar Arjuna. Dia yang awalnya pengecut, dengan berbagai pengalaman yang telah mereka lalui bersama, akhirnya menjadi seorang yang pemberani. Adrian begitu yakin bahwa Arjuna mampu mengatasi permasalahan ini sendirian tanpanya lagi.
Namun sesampainya Arjuna di sana, rupanya keberadaannya tidaklah diperlukan persoalan Raging Fire telah dalam keadaan sekarat dan sebentar lagi akan musnah.
Namun, sebelum tubuhnya itu musnah, dia sempat meneriakkan sesuatu, “Kehancuran, tiada gunanya lagi berlari, semuanya akan mati.”
Setelah mengatakan kata-kata tersebut, dia pun musnah.
Seluruh tim pahlawan dilanda kepanikan oleh pesan terakhir Raging Fire tersebut. Namun tampaknya, organisasi EDEN kurang menggubrisnya dan menganggap itu semua hanya delusi yang timbulkan oleh keinginan kuat Raging Fire dalam menyaksikan kehancuran umat manusia.
Namun, tidak butuh waktu lama sampai ucapannya itu menjadi kenyataan. Pasca serangan para monster avatar berakhir di Kota Jakarta, bermunculan kembali vrmmorpg dalam berbagai jenis dan model di seluruh belahan dunia, mengikuti jejak sang perintis, Hero of Hope game atau yang dikenal sebagai Hoho game.
Tanpa disangka-sangka, salah satu karakter game buatan negara Rusia, muncul di Kota Swiss dan memporak-porandakan negara tersebut. Karakter yang muncul adalah karakter mirip kelinci seukuran manusia yang dapat berjalan dengan kedua kakinya dan memiliki kemampuan beladiri yang sangat hebat. Berkat kecanggihan persenjataan umat manusia modern, tidak butuh waktu lama untuk menghancurkan monster tersebut.
Masalahnya, itu adalah bukan yang terakhir kalinya. Beberapa monster karakter game bermunculan tanpa sebab di seluruh belahan dunia secara acak. Semuanya menyaksikan hal yang sama, sebuah portal hitam tiba-tiba saja muncul dan mengeluarkan monster tersebut dari dalamnya.
Hal itu tak luput di Kota Jakarta monster kalajengking yang dinamakan The Great Scorpion King, dari game MAC buatan negara China tiba-tiba saja muncul. Terlebih daripada itu, ukuran monster sangatlah besar, kalah jauh besarnya jika dibandingkan dengan monster lain yang pernah muncul selama ini.
Monster yang merangkak dengan tinggi 15 meter, dengan lebar tubuh 20 meter dan panjang tubuh mencapai 85 meter, monster itu seketika membabat habis seperenam wilayah Kota Jakarta.
Padahal dengan usaha sekuat tenaga Healer selama ini mencegah jantung Raging Fire meledak yang akan menghancurkan seperenam wilayah Kota Jakarta tersebut, hal itu pada akhirnya juga terjadi melalui jalan lain. Mungkin ini adalah hukuman buat mereka karena telah membunuh pahlawan mereka sendiri dengan kedua tangan mereka sendiri secara bersama-sama.
Kota Jakarta pun sekali lagi dilanda kepanikan. Untunglah pada saat itu, Millie, Adrian, Arjuna, dan Dream ada di tempat kejadian.
“Tak tak tak tak tak tak.” Dengan cepat, rombongan empat orang itu berlari ke arah munculnya sang monster hingga tiba di sana.
Millie lantas menatap ke arah Adrian.
“Adrian, apa kamu yakin mau bergabung dalam pertarungan ini? Kamu tidak lagi memiliki tubuh Avatar Arjuna. Akan sulit bagimu untuk bertarung.” Dengan khawatir, Millie bertanya kepada Adrian.
“Tenang saja, Dokter Millie. Aku hanya akan mensupport dari belakang melalui skill snipe-ku.” Adrian pun menjawab sembari mengeluarkan senjata sniper laras panjangnya.
“Senjata spesial ini telah aku dan Profesor Dios rancang dengan jerih-payah keringat kami selama 5 tahun. Kini saatnya untuk melihat hasil kerjanya di lapangan.” Ujar Adrian dengan penuh tekad.
“Baiklah kalau begitu, jika kamu sudah membulatkan tekad. Tetapi ingat untuk selalu berhati-hati.” Millie menanggapi tekad kuat Adrian itu dengan senyuman lantas menasihati pemuda tersebut.
Tanpa menunggu lebih lama yang dapat mengakibatkan lebih banyak korban, Dream telah siap mengaktifkan jurusnya. Butuh waktu yang lebih lama dari biasanya karena ukuran monster yang besar sehingga turut diperlukan pula jumlah mana yang besar untuk membuat sub ruang yang lebih besar.
Dunia dalam mimpi Dream pun aktif. Millie segera melayang di atas sang monster lantas mengeluarkan jurus apinya yang membara sementara Arjuna menyelinap di antara kaki sang monster menembakkan panah apinya.
Begitu sang monster bersiap menembakkan racun melalui ekornya, Adrian menembak daerah itu sehingga racun yang mengandung bahan yang mudah meledak itu justru meledak di dalam ekornya.
“Prak.” Ekor sang monster meledak yang menjalar ke tubuh bagian bawahnya.
“Ngaaaaang.” Terdengar suara rintihan sang monster, mengaum dengan keras.
Namun, Millie dan Arjuna sama sekali tak mengasihani sang monster yang telah membunuh ribuan nyawa manusia itu lantas terus lanjut menyerang. Adrian turut membantu di belakang dengan melukai sang monster secara fisik melalui peluru-peluru kemajuan teknologi modern tersebut.
Berkat serangan yang intens, sang monster pada akhirnya dapat musnah.
“Jangan lengah! Masih ada serangan lanjutan yang akan keluar lewat perutnya.” Adrian serta-merta memperingatkan rekan-rekannya begitu mereka mulai menunjukkan kekurangwaspadaan setelah sang monster mati bahwa masih akan ada serangan lagi.
Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Adrian. Ribuan telur-telur sang monster kalajengking berserakan keluar dari perutnya yang pecah lantas tiap-tiap telur itu menetaskan anak-anak kalajengking yang juga sangat beringas.
“Cepatlah, aku sudah tak tahan lagi mempertahankan sub ruang ini.” Dream pun dengan wajah yang nampak susah-payah, memperingatkan teman-temannya.
“Tampaknya, ini akan menjadi pekerjaan yang berat. Ayo kawan-kawan, semangat! Kita segera akhiri semua ini.”
“Siap.”
“Siap.”
Millie berujar penuh tekad yang diikuti oleh persetujuan Adrian dan Arjuna. Dream tak dapat menjawab karena sibuk berkonsentrasi mempertahankan sub ruang yang dibentuknya.
Dengan itu, Millie dan Arjuna pun menyerbu satu-persatu ribuan anak kalajengking yang keluar dari telur yang dibantu oleh Adrian sebagai support di belakang.