101 Avatars

101 Avatars
57. Berkunjung ke Wahana Bersama Kak Selantri



Sesuai janjinya, seusai kuliah Adrian menjemput Selantri di ruang diskusi 6 di lantai dua gedung fakultasnya itu.  Sejenak, Adrian tampak malu-malu kucing saat berpapasan dengan Nafisah, sosok dewi pujaannya itu yang sedari tadi menemani Selantri yang terlihat depresi di ruang diskusi tersebut.


Dengan muka yang memerah berupaya menyembunyikan debaran hatinya yang keras sampai-sampai terdengar oleh telinganya yang tajam itu sendiri, Adrian mencoba untuk bertingkah imut dan polos sesuai dengan pujian Nafisah padanya yang di luar dari kebiasaannya itu.


Akan tetapi, justru karena sikap Adrian yang tak natural itu, Nafisah memberikan pandangan kecewa pada Adrian seraya berkata, “Sikap Adrian aneh sekarang.  Aku lebih suka sikap Adrian yang apa adanya.”


Mendengar ucapan Nafisah itu, Adrian seketika mematung dengan patah semangat.


Adrian meninggalkan tempat itu bersama Selantri dengan termangu, meninggalkan Nafisah di belakang.  Dia telah salah memilih opsi dalam upayanya menaklukkan hati Nafisah.


Tetapi mari kita tinggalkan Adrian yang masih shok itu untuk sekarang.  Karena ada kejadian yang lebih mencengangkan yang terjadi pasca Adrian meninggalkan Nafisah di belakang.


Dari balik pintu yang menghubungkan secara langsung ruang diskusi 5 dan ruang diskusi 6 mahasiswa, Bobi muncul sembari menatap Nafisah seolah kenal baik dengannya.


“Bukankah kamu jadi terlalu dekat dengan Adrian sejak aku memberitahumu tentang identitas rahasianya?”  Ujar Bobi kepada Nafisah.


Seketika Nafisah tampak panik sembari menyilangkan jari telunjuknya terhadap bibirnya yang bernuansa gingsul itu.


“Sssst!  Bagaimana kalau sampai ada yang dengar ucapanmu?  Adrian bisa dalam bahaya.”  Ucap Nafisah dengan berupaya mengecilkan suaranya sekecil mungkin.


“Tenang saja.  Walau ada yang dengar sekalipun, mereka tidak akan mengerti apa yang kumaksudkan.  Tapi ngomong-ngomong, aku kasihan dengan Adrian karena kamu mulai menyukainya setelah tahu identitas rahasianya itu.  Hah, bagaimana kira-kira ya perasaan Adrian jika mengetahuinya?  Pasti dia akan sangat kecewa sekali.”  Sambil menghela nafas, Bobi berujar dengan lemas.


“Enak saja!  Aku sudah menaruh perhatian padanya sejak di hari ujian masuk, tahu!  Wajahnya benar-benar tipeku, ditambah dengan sikapnya yang terkadang agak kekanak-kanakan, tetapi selalu tulus dan lurus dalam bersikap, membuatku sudah lama menaruh hati padanya.”  Ujar Nafisah dengan tanpa sadar menyengir yang tidak sepadan dengan kecantikannya itu untuk sesaat.


“Terserah kamulah!  Tapi kamu harus lebih hati-hati lagi.  Belakangan ini, kamu terlalu dekat dengannya.  Bagaimana jika dia sampai menyadari perubahan sikapmu padanya lantas mengetahui bahwa kamu tahu identitas rahasianya?  Tidak butuh waktu lama dia akan sadar bahwa aku yang telah membeberkan rahasianya padamu berhubung aku dekat dengan keluargamu, Keluarga Wijayakusuma.”


Ujar Bobi yang tampak tidak senang Nafisah belakangan ini terlalu dekat dengan Adrian.


“Urusan asmara itu urusan lain.  Bagaimana pun, Adrian adalah jalanku satu-satunya saat ini untuk membantu ayahku menyelesaikan masalah yang selama ini menjadi penyesalannya.  Aku juga tidak bisa memperoleh informasi apapun lewat Kak Kaiser karena sikapnya yang terlalu hati-hati.  Mau tidak mau, aku hanya dapat mengandalkan Adrian dalam mengungkap misteri analog fisika virtual.”


Nafisah pun menjawab dengan tegas perkataan Bobi.


“Tapi Nafisah, di luar dari penampilannya yang santai, Adrian itu cukup tajam, lho.  Kamu harus lebih hati-hati lagi padanya.”  Ujar Bobi sekali lagi pada Nafisah.


“Aku paham!  Aku juga tidak bermaksud membuat susah orang yang kusayangi.”  Nafisah pun menanggapinya dengan nada sedikit lebih serius.


Nafisah kemudian tampak mengernyitkan dahinya seakan terganggu oleh sesuatu.  Dia sesaat kemudian berkata, “Ngomong-ngomong, aku merasa tidak enak Adrian berada di samping wanita itu.”


Seketika tampak wajah Nafisah memerah kesal.  Dia lantas berteriak pelan, “Bukan begitu!”


Setelah jeda beberapa saat, Nafisah melanjutkan ucapannya, “Waktu kemunculannya menemui Adrian sangatlah menggangguku.  Hal itu bersamaan di saat para polisi digegerkan dengan pencarian identitas asli Ksatria Panah Biru dan kakak perempuannya yang bekerja sebagai polwan di kantor polisi.”


“Hah.”  Nafisah pun menghela nafas karena tak dapat menahan beban pikiran yang dipikirkannya itu.


“Jangan sampai kalau wanita itu dibayar oleh monster avatar yang menyusup ke kepolisian yang menyebabkan segala kegaduhan tersebut untuk mematai-matai Adrian, soalnya di sana, sudah ada yang mencurigai Adrian dan Kak Syifa.  Apalagi perusahaan keluarga Widiasarja, keluarga wanita itu, saat ini sedang terancam bangkrut.  Bisa saja hal itu membuat kepala keluarga mereka kalap mata hingga membuat putrinya sampai berbuat nekat seperti itu.”  Ujar Nafisah curiga.


“Atau bisa saja wanita itu sendiri monster avatar?  Bukankah putri tertua pemimpin keluarga Widiasarja saat ini telah genap berusia 26 tahun?  Tidakkah menurutmu wanita itu terlalu muda untuk usianya saat ini?”


Bobi pun mengutarakan pendapatnya.  Hal itu lantaran semakin membuat kening Nafisah mengernyit.  Dia dalam hati mau tidak mau membenarkan ucapan Bobi karena salah satu ciri monster avatar yang menyamar adalah terlihat awet muda perihal monster avatar hanya mampu memimik wajah inang manusia pada saat dicopy-nya.  Mereka tidak punya fungsi untuk membuat wajah itu bertambah tua mengikuti usianya.


“Aku harus segera menghubungi keluargaku untuk mensupport Adrian dari belakang.”  Terlihat keseriusan di balik wajah Nafisah sembari mengatakannya.  Nafisah tak mampu menahan rasa khawatirnya terhadap orang yang ditaksirnya itu jika benar Selantri sejatinya adalah sosok monster avatar.


***


Hari itu pukul 2 siang.  Aku sekalian membawa Kak Selantri berjalan-jalan di taman kota bersama Bobi dan Zenri sembari aku menyelesaikan projek praktik lapangan-ku dari jurusan.  Tak kusangka, hanya berselang waktu sehari, taman ini telah benar-benar diperbaiki seperti sedia kala.


Penerapan ilmu fisika virtual dalam dunia arsitektur benar-benar memberikan dampak yang sangat signifikan.  Asalkan material dan hukum gaia terpenuhi, bangunan yang rusak dapat diperbaiki secara virtual dengan mudah tanpa perlu lagi melalui proses pembangunan ulang seperti di awal lalu dialihkan ke dalam bentuk fisik kembali dengan mengisi relung-relung material dengan konsep ikatan kimia android.


Pembangunan yang bisa memakan waktu berbulan-bulan dengan metode jadul pun, dapat diselesaikan hanya dalam waktu semalam.  Andai kampus kami juga punya banyak dana seperti pemerintah kota, pasti kerusakan akibat sisa-sisa pertarungan dengan Saber telah dari dulu dapat diperbaiki seperti sedia kala.


Sungguh ironis karena kampus tempat melahirkan teori-teori yang membantu pada perkembangan ilmu fisika virtual dan kimia android sampai ke tahap ini, malah tidak bisa menerapkannya dalam pembangunan fasilitas gedung-gedung mereka sendiri karena masalah kekurangan dana akibat hampir seluruh dana dialokasikan hanya untuk pengembangan penelitian.


Singkat cerita, setelah aku menyelesaikan pengamatan kami terhadap fungsi kerja AI di taman kota yang merupakan tugas praktik lapanganku, kami pun menyudahi kunjungan hari itu.  Sesegera mungkin setelah itu, aku pun segera mengajak Kak Selantri untuk jalan-jalan.  Sekarang baru pukul 5 sore, masih ada sekitar 3 jam sebelum waktu rapat rutinku bersama Kak Kaiser dan tim dimulai.


Akan tetapi, Kak Selantri mendesakku untuk mengunjungi Wahana Dunia Unyil untuk bermain roller coaster yang katanya merupakan wahana favorit Kak Faridh ketika masa-masa mereka berpacaran.  Akan tetapi, wahana itu tutup pukul 6 sore dan biasanya, wahana seperti roller coaster sudah mulai ditutup setelah lewat pukul 5.  Belum lagi waktu yang dibutuhkan oleh kami ke sana.


Akan tetapi, karena kasihan dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Kak Selantri, aku pun menyanggupinya.  Dengan menggunakan motor retro favoritku, aku dengan semangat melalui kecepatan yang maksimal berangkat dari taman kota menuju Wahana Dunia Unyil yang seharusnya bisa memakan waktu hampir sejam jika tidak macet, hanya dalam waktu kurang dari 30 menit.


Sesampainya kami di pintu gerbang, kami pun buru-buru membayar karcis masuk lantas berlari ke wahana yang kami maksud.  Sesuai dugaan, walau taman wahana masih dibuka, untuk wahana permainan roller coaster sendiri telah ditutup.  Akan tetapi, entah karena apa, mbak-mbak yang menjaga bagian wahana permainan roller coaster itu, memberikan kami kesempatan sekali untuk menikmati wahana tersebut di hari itu.


Itu tidak salah lagi karena pesona kegantenganku.  Pasti mbak-mbaknya terpikat sama pesona kegantenganku sehingga kasihan padaku dan akhirnya memberikan kami perlakuan spesial.  Hehehehe, tapi sayangnya itu bercanda.  Pastinya, mbak-mbaknya juga bisa menangkap pengharapan yang sangat dari seseorang yang hampir kehilangan semangat hidup pada Kak Selantri yang ada di sampingku ini.