“Ukh, keras kepala juga kau, Healer! Padahal kondisimu telah sekarat seperti itu. Mengapa kau tidak segera mati saja?!”
Perkataan Fog itu seketika membuat seluruh tubuh Adrian merinding. Dia lemas gemetaran.
“Apa yang dikatakan monster ini? Mana mungkin Kak Kaiser sekarat?” Lirih Adrian dalam hati.
Adrian lantas melirik ke arah sang monster Healer yang tampak dalam keadaan yang susah payah. Namun, Healer hanya mengatakan kepada bocah lugu itu, “Aku tidak apa-apa, Adrian. Kamu fokuslah pada pertahanan.”
“Baik, Healer.” Adrian pun hanya membalas perkataan Healer tersebut.
Terjadilah baku tatap yang sengit antara Fog dan Adrian dari balik helmetnya yang ditutupi oleh warna hitam itu. Jelas-jelas Fog adalah penjahatnya sebagai pelaku penyebaran virus zombie dan Adrian serta Healer adalah pahlawannya yang berjuang sekuat tenaga demi menggagalkan rencana sang penjahat.
Namun, apa yang justru membanjiri komentar penonton dari balik layar virtual,
“Bagus! Lanjutkan, Fog! Aku cinta kamu.”
“Habisi monster munafik itu.”
“Hei, Healer, kami tidak butuh lagi pahlawan faker seperti kamu. Cepat matilah sana!”
Adrian merasakan marah yang mendalam akibat semua itu. Tetapi dia memutuskan untuk memfokuskan perhatiannya saat ini pada sosok monster yang sedang menjadi ancaman ibukota tersebut.
“Cih! Hei, Remote, Void, lakukan sesuatu kepada mereka! Kekuatanku sudah sampai pada batasnya, tetapi tampaknya si pengkhianat itu baik-baik saja.” Bisik Fog sembari melirik ke arah Remote yang ada di sebelahnya dan Void yang ada di belakangnya.
“Kamu tahu sendiri aku mana mungkin bisa karena sedang mengendalikan puluhan ribu anak-anakku di dalam tubuh masing-masing zombie itu.” Jawab Remote cepat.
“Aku harus menyegel tempat ini agar tidak terwarp ke tempat mana pun untuk mencegah bala bantuan datang.” Kemudian disusul oleh jawaban Void.
Tidak lama kemudian, bala bantuan pertama pun tiba.
“Maaf, Adrian, menunggu lama.”
“Serahkan masalah serangan pada kami.”
Mereka adalah Dream dan Carnaval. Kedua bala bantuan tersebut, serta-merta berlari ke arah ketiga monster tersebut.
“Ck, pengganggu pun tiba! Sturdy, kini giliranmu!” Teriak Void.
Sesaat kemudian, tiba-tiba muncul dari ruang kosong begitu saja dari berbagai titik di tempat tersebut puluhan golem yang terlihat kokoh dan perkasa. Adrian mengenal dengan baik golem-golem tersebut karena mereka adalah sistem pertahanan Sturdy, avatar bernomor seri 17 itu yang membuatnya selalu cukup sulit dikalahkan di dalam game.
Namun itu bukan berarti pula bahwa mereka tidak bisa dikalahkan. Pada prinsipnya, mereka sama saja dengan batu yang bergerak. Sangat mudah untuk mengalahkan mereka, asalkan sang lawan memiliki kekuatan penghancur yang dahsyat.
Sayangnya, baik Dream maupun Carnaval adalah tipe monster avatar dengan kekuatan ilusi. Kekuatan serangan mereka cukup lemah.
Tetapi, di saat mereka kesulitan membasmi golem-golem itu, bala bantuan kedua pun tiba.
“Adrian, Kak Kaiser, kalian baik-baik saja?”
“Maaf, kami datang agak terlambat.”
“Hmm. Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, Kaiser, tidak, Healer, tetapi untuk sementara, kami memutuskan untuk mempercayaimu.”
Merekalah Syifa dan Profesor Melisa dengan support Mr. Aili. Melihat kehadiran mereka tanpa prejudge terhadap wujudnya itu, tanpa sadar Healer menyunggingkan bibirnya. Dia tersenyum bahagia.
Dengan senjata laser terbaru ciptaan gabungan antara Healer dan Profesor Melisa, Syifa dan Profesor Melisa menyerang golem-golem tersebut, sementara Mr. Aili berperan dalam memberikan mereka pengarahan.
Namun ternyata, walau dengan bantuan tim kedua, tetap sulit bagi mereka menghadapi para golem lengkap dengan kemampuan regenerasi sang golem yang lebih cepat dari jumlah yang dapat hancur dari serangan mereka tersebut.
Adrian menatap semua itu dengan gemas. Pikirnya, padahal dia sendiri akan dengan mudah menghancurkan golem-golem itu dengan kekuatan penghancur Crusader ataupun panah Arjuna-nya. Tetapi apa yang lebih penting baginya sekarang adalah melindungi sang mentor. Dia pun mempercayakan masalah golem kepada rekan-rekannya tersebut.
Pertarungan berlanjut di mana terlihat kedua kubu berada pada posisi yang seimbang untuk sesaat. Namun seketika,
“Sraaaash!” Cahaya hijau di seluruh tubuh zombie karena pengaruh kekuatan Fog telah ternetralkan sepenuhnya oleh kekuatan penetralan Healer.
“Kita terselamatkan!”
“Aku tak menyangka kita masih hidup.”
Para manusia yang sebelumnya tertawan dalam wujud zombie itu seketika bersorak dengan bahagia begitu mereka terbebas dari racun yang membuat tubuh mereka terasa gatal aneh dan berwarna hijau.
Untuk sesaat, Adrian juga dapat menghembuskan nafas lega.
Akan tetapi,
Fog dan Remote tiba-tiba tersenyum sinis.
“Kalian pikir sudah menang?” Ujar Fog dengan senyum sinis itu tersungging di bibirnya secara menyebalkan.
“Remote, lakukan itu!” Lanjut Fog.
“Serahkan semuanya padaku.” Jawab Remote dengan ikut menyunggingkan bibirnya, tersenyum sinis.
Barulah para manusia itu menyadari bahwa semuanya belum berakhir. Mereka akhirnya menyadari bahwa walaupun seluruh ransangan indera mereka dapat kembali berfungsi, tubuh mereka tetap tak dapat digerakkan berdasarkan kemauan mereka. Mereka mutlak masih dikontrol oleh sesuatu kekuatan, layaknya boneka yang dikendalikan seorang dalang.
“Apa ini?”
“Kenapa aku tak dapat menggerakkan tubuhku?”
“Tidak! Ini apa sebenarnya?! Seseorang tolong aku!”
Para manusia itupun kembali menjerit, dilanda keputusasaan.
“Hai, para manusia bodoh sekalian! Tentu kalian semuanya dapat merasakan bahwa tubuh kalian semua sedang dalam kontrol kekuatanku. Tanpa kalian sadari, puluhan ribu anak-anakku telah menginfiltrasi tubuh kalian dan siap untuk mengoyak-ngoyak syaraf kalian dari dalam.”
Seketika para manusia itu menyadari bahwa perkataan Remote itu bukanlah sekadar gertakan belaka. Entah dengan kekuatan apa, mata mereka diperlihatkan pemandangan ke dalam tubuh mereka yang masing-masing telah berisi makhluk aneh yang tidak lain adalah kekuatan sang Avatar Remote.
“Tentu kalian lebih tahu apa akibatnya jika itu sampai terjadi, kan? Kemungkinan terburuknya tidak hanya kematian, tetapi lebih buruk daripada itu, kalian akan hidup dalam tubuh yang tidak bisa kalian gerakkan, juga tanpa indera yang bisa merasakan.”
Remote pun lanjut berujar sembari tersenyum kejam penuh arti.
Perkataan jahat Remote, lantas segera disambung oleh Fog,
“Tetapi kami memberi kalian satu kesempatan untuk hidup. Kalian semua tentu lihat kan, ulir-ulir menjijikkan milik Healer yang sementara menyembuhkan luka-luka kalian itu? Hancurkan ulir-ulir itu, lalu nyawa kalian akan kami selamatkan!” Ujar Fog mengintimidasi.
“Tapi kan, bukankah ulir-ulir ini yang menyelamatkan kita?”
“Berkat ulir-ulir ini, luka-luka kita perlahan sembuh.”
“Healer telah menyelamatkan kita, bagaimana kita bisa melakukan hal kejam seperti itu?”
Fog pun tersenyum puas menyadari keraguan para manusia itu. Fog dapat menangkap keegoisan dari masing-masing mereka yang akan rela mengorbankan orang lain demi keselamatan diri mereka, meski itu adalah penyelamat mereka sendiri.
Provokasi puncak pun diucapkan oleh Fog, “Tenang saja. Meski kalian menyakitinya, dia tidak akan melawan karena dia sangat menyayangi umat manusia hingga rela berkorban sampai sekarat seperti itu. Justru bukankah dia akan bangga jika dia mati sebagai pahlawan demi menyelamatkan umat manusia yang dia begitu hargai itu?”
“Benar juga. Dia sendiri yang ingin jadi pahlawan. Jadi seharusnya ini bukan salah kita jika kita memanfaatkannya. Lagipula dia hanyalah seorang monster.”
“Dia ingin jadi pahlawan walaupun dia seorang monster, sudah seharusnya dia berkorban untuk kita seperti ini.”
Dengan tidak tahu malunya, setelah diri mereka diselamatkan oleh Healer dengan segenap upayanya, mereka justru mengkhianati penyelamat mereka itu tanpa bergedik sekalipun hanya karena Healer adalah seorang monster, yang berbeda dengan mereka.
“Tidak! Apa yang kalian semua perbuat?! Kalau kalian melakukannya, nyawa Kak Kaiser, tidak, Healer akan… Apa kalian tidak berpikir jika dia mati, siapa lagi yang membela kita para umat manusia?!”
Adrian pun berteriak putus asa atas keputusan konyol yang para umat manusia itu buat. Adrian berupaya mengingatkan terhadap keputusan salah mereka. Tetapi rasa takut dan putus asa terlanjur menyerang jauh ke dalam kalbu mereka. Mereka semua berpikir bahwa sosok pahlawan kapan pun dapat terlahir selama umat manusia masih ada, tidak harus bahwa pahlawan itu adalah Pahlawan Darah Merah.
Terlebih, jauh di bawah alam sadar mereka, mereka tidak menginginkan sosok pahlawan yang entitasnya berbeda dari mereka.