Healer tidak pernah berniat mengorbankan diri hari itu. Dia bertekad untuk survive pada pertarungan tersebut hingga sampai tibanya pertarungan akhir melawan Mr. X. Masih tersisa sekitar 4 persen lagi energi kehidupannya kala itu yang dapat dimanfaatkannya sekitar setengah untuk memulihkan orang-orang yang terluka akibat virus zombie.
Setengahnya lagi yakni sekitar 2 persen, telah cukup bagi Healer untuk bertahan sampai tibanya pertempuran akhir yang mau tidak mau karena batas waktu yang diberikan oleh tolakan gaia harus terjadi paling lambat dua bulan ke depan.
Namun Healer terlalu menganggap tinggi umat manusia. Tiada yang lebih menyeramkan dibandingkan umat manusia yang ingin mempertahankan hidupnya. Mereka akan nekat melakukan apapun demi bertahan hidup, bahkan jika itu melukai guru, sahabat, kekasih, saudara, dan orang tuanya.
Begitulah mengerikannya umat manusia jika berada di ambang hidup dan mati mereka. Tiada lagi berlaku rasionalitas dan kasih sayang di benak mereka.
Ancaman Fog pun bagai genderang penghalau kematian di telinga mereka. Jika mereka ingin hidup, maka mereka harus mematuhinya. Akhirnya, mereka semua pun menuruti ancaman tersebut, walaupun pahlawan yang selama ini melindungi mereka akan mati di tangan mereka sendiri. Yang penting mereka selamat.
“Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash! Srash!”
Dengan kejamnya, mereka merenggut sisa hidup 2 persen Healer itu, menghancurkan tiap ulir-ulir yang diulurkan Healer dengan iba kepada mereka untuk menyelamatkan mereka dari gabungan racun Poison Merchant dan asiditas kabut Fog. Energi kehidupan Healer pun seketika mencapai batasnya.
“Tidak! Healer!” Begitu melihat mentornya itu mulai berubah menjadi butiran-butiran debu data, Adrian tidak dapat menahan tangisnya. Dia benar-benar dirundung kepedihan yang mendalam.
“Hahahahaha. Sungguh menyedihkan! Umat manusia yang selama ini kamu bela justru yang akhirnya menghabisi nyawamu. Bagaimana rasanya melihat mereka bersatu lantas menghancurkan tiap bagian tubuhmu bagai semut yang memangsa bangkai tikus, Healer? Hahahahahaha. Tiada yang lebih menyenangkan daripada melihat pemandangan ini.”
Fog tak henti-hentinya menghina Healer sambil tertawa begitu menyaksikan dia dikhianati.
“Takkan…”
“Eh?”
Samar-samar suara Healer terdengar oleh Fog, namun tidak jelas. Fog yang penasaran mendengar apa gerangan yang akan dikatakan oleh Healer menjelang ajalnya tersebut lantas menajamkan telinganya.
“Takkan kubiarkan berakhir begini saja!” Teriak Healer sembari mengeluarkan sisa-sisa tenaganya.
Sebuah bilah tajam secara cepat bergerak menuju ke arah Fog dan Remote sampai-sampai mereka berdua tak sempat bereaksi akannya. Tetapi dengan sigap, Void segera menggapai rekan yang masih bisa digapainya saat itu. Void pun berhasil menyelamatkan Fog, walaupun tidak sepenuhnya menghindarkan dia dari serangan terakhir Healer yang menyebabkan Fog tetap terluka sangat parah.
Adapun Remote, dia tewas seketika oleh serangan terakhir Healer tersebut.
Di saat itulah Holy baru tiba di tempat kejadian. Namun dia telah terlambat. Tubuh Healer mulai terdegradasi menjadi butiran-butiran debu data.
“Tidak, Kakak!” Teriak Holy dari jauh dengan keputusasaan.
Dia lantas mengarahkan pandangannya kepada Void dan Fog yang masih selamat itu.
“Kau, teganya kau melakukan ini semua kepada Kakak!” Holy berteriak sembari meluncur dengan cepat melalui ulir-ulirnya untuk menyalurkan amarahnya kepada dua makhluk terkutuk tersebut.
“Gawat, aku tak dapat lagi mempertahankan jamming warp-ku. Jika begini terus, Organisasi Eden bisa kemari.” Gumam Void.
Melihat keadaan tidak lagi menguntungkan itu, Void pun segera membuka portalnya untuk kabur bersama Fog. Akan tetapi, Holy segera mengacaukan portal tersebut, balik memberikan jamming warp walaupun dalam skala yang tidak seterampil Void. Alhasil, portal menjadi kacau lantas Void dan Fog terpisah yang masing-masing terwarp ke lokasi acak, bukan pada lokasi yang telah disetting oleh Void.
Namun, mereka berdua tetap dapat meninggalkan tempat tersebut. Alhasil, mereka berdua dapat selamat dari amarah Holy.
Begitu Void dan Fog meninggalkan lokasi kejadian, golem-golem Sturdy tak lagi bertambah jumlahnya sehingga dengan cepat dapat dibereskan oleh gabungan kekuatan Dream, Carnaval, Profesor Melisa, Syifa, dan Mr. Aili.
Seusai bertarung, mereka semua berlarian ke arah Healer yang sekarat.
Dengan lirih, Healer menjawab, “Tubuhmu sudah sehitam ini rupanya, Holy. Kakak harus segera membersihkannya.”
Diiringi dengan senyuman, Healer pun dengan tenaganya yang tersisa mengisap racun yang diserap oleh Holy sebanyak mungkin yang dia bisa. Karena ini terakhir kalinya dia dapat melakukannya. Pasca hari ini, tiada lagi yang dapat menetralkan racun Holy sehingga Holy hanya dapat ikut menunggu kematiannya seiring semakin banyak dia menggunakan jurus penyerapan racunnya.
Kelegaman tubuh Holy pun berkurang sedikit, tetapi dia tetaplah hitam legam. Dalam sekaratnya, Healer pun berucap, “Berjanjilah, Holy, mulai hari ini, kamu takkan lagi menggunakan jurus penyerapan racunmu karena tidak akan lagi ada Kakak yang dapat menetralkannya.”
Dalam mata monsternya, Holy berlinangan air mata mendengarkan ucapan terakhir Healer tersebut.
Healer lantas tersenyum sambil menatap jauh ke belakang. Rupanya, dia menatap ke arah Syifa, Profesor Melisa, dan salah satu drone milik AI5203.
“Maafkan aku karena telah menipu kalian selama ini. Tetapi kumohon agar kalian tetap melanjutkan perjuangan itu agar usaha kita selama ini tidak sia-sia.”
Profesor Melisa-lah yang merespon perkataan Healer duluan, “Tentu saja, dasar bodoh! Tanpa kamu bilang pun, tentu kami akan berjuang untuk bertahan hidup di dunia kami ini. Umat manusia tidak selemah yang kamu bayangkan. Kamu sendiri, kenapa sebodoh itu?! Padahal kamu tidak seharusnya menyelamatkan mereka semua yang tidak tahu berterima kasih itu. Hiks…Hiks…”
Tanpa sadar, air mata seorang profesor berusia sekitar 50-an itu tetapi dengan jiwa yang terasa masih muda, mulai menetes membasahi jas lab-nya.
“Jika saja kamu tidak menyelamatkan mereka, ini semua tidak akan terjadi. Itulah akibatnya jika kamu terlalu sombong ingin menyelamatkan semuanya. Padahal kamu selalu bilang bahwa rasa simpati itu tidak ada bagi kaummu. Tetapi justru, mengapa itu menjadi kelemahanmu?!”
Melihat Profesor Melisa yang sampai-sampai menangis tersedu-sedu itu karena mengkhawatirkan dirinya, Healer pun tersenyum.
“Bagaimanapun juga, aku pada akhirnya juga harus mati. Inilah yang terbaik. Kuserahkan sisanya padamu, Profesor Melisa, untuk pelatihan Kaiser Dewantara yang asli.”
Healer lantas menatap Syifa yang pandangan mereka tak sengaja bertemu persoalan Syifa terkaget oleh perkataan Healer yang terakhir mengenai Kaiser Dewantara yang asli.
Tanpa berkata apa-apa, mereka hanya dapat saling menatap untuk sesaat. Lalu dengan lirih, Healer bergumam, “Andaikan aku seorang manusia, aku pasti akan sangat bahagia jika punya istri seperti kamu, Syifa.”
Hanya Healer sendiri dan Adrian-lah yang mampu mendengar ucapan itu. Sementara Syifa, walau tak dapat mendengar ucapan tersebut, tetap seakan perasaan tulus Healer tersampaikan padanya, matanya seketika terbanjiri oleh air mata.
Tak banyak lagi yang dapat Healer ucapkan di kala tubuhnya hampir seluruhnya terdegradasi.
Healer pun meraih drone terdekat AI5203 lantas tersenyum penuh arti kepadanya, berharap sebagai sesama program komputer, mereka dapat saling mengerti tanpa perlu mengucapkan apa-apa.
Lalu yang terakhir, dia menatap pemuda polos di hadapannya itu yang telah melepaskan helmetnya saking basahnya helmet itu oleh air matanya sendiri. Karena air matanya pula, matanya itu telah memerah sejadi-jadinya.
Healer lantas memberikan nasihat terakhirnya kepada murid satu-satunya itu.
“Adrian, bertambah kuatlah! Dan tolong support-lah sahabat terbaikku, Kaiser Dewantara, dengan baik nantinya ketika dia menggantikan posisiku. Dan juga, kalau bisa… tolong jangan terlalu benci kami.”
Healer menjeda kalimatnya cukup lama sebelum mengucapkan kalimat terakhirnya itu. Seraya mengucapkan itu, Healer menampakkan senyum lembut dalam wujud monsternya yang terlembut dari yang pernah dilihat oleh Adrian bahkan jika dibandingkan dalam wujud manusianya selama ini.
Lalu seketika setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, Healer pun menghilang, berubah menjadi butiran-butiran debu data seutuhnya.
Kata-kata terakhir Healer itu, begitu terpatri di sanubari Adrian. Healer yang selama ini bilang ‘jangan pernah bersimpati pada monster avatar’ atau ‘jangan termakan oleh kebaikan mereka yang hanya sekadar ingatan di program mereka’, akhirnya mengatakan untuk tidak terlalu membenci mereka.
Bersamaan dengan tewasnya Healer, Kaiser Dewantara asli yang telah koma selama lima tahun, akhirnya kembali membuka matanya.