101 Avatars

101 Avatars
95. Selama Ada yang Mengingat Kenangannya



Di tengah-tengah kegelapan, aku tiba-tiba tersadar.  Di sisi kiri, kanan, atas, dan bawahku, kulihat tumpukan sosok berjejer dengan rupa yang sama persis.  Kulihatlah arah di depanku.  Ah, rupaku juga sama dengan mereka.


Satu-persatu dari kami lantas dipermak dengan program-program yang berbeda hingga jadilah kami semua berwujud dan berkekuatan yang berbeda-beda pula.  Aku dianugerahi dengan kekuatan yang berspek terbaik kesembilan dengan kemampuan menyerap luka dan racun serta menyerang dengan kutukan.  Bisa dibilang, aku cukup kuat.


Hari-hari setelah penciptaan kami itu, aku tetap lalui dalam kegelapan.  Kebanyakan dari kami tidak berinteraksi di luar pertarungan.  Kami hanya melakukan interaksi dengan bertempur di kala berada di dalam ring pertempuran.  Kami hanya saling mengawasi satu sama lain, menyelidiki keunggulan dan kelemahan jurus masing-masing yang dapat bermanfaat nantinya dalam pertarungan.


Namun, semua itu berubah di kala Kakak mulai menyapa aku.  Dia menetralkan luka dan racun yang kuserap, membuatku mampu menangani efek samping kemampuanku.  Kakak begitu baik dan ramah padaku yang membuat kesendirianku di dalam kegelapan itu seketika sirna.


Kami saling dukung satu sama lain, mengobati kesepian kami.  Ah, ada juga Sena dan Arjuna di dalam grup kami.  Kami benar-benar membentuk kelompok yang solid sampai-sampai mengundang cemoohan dari para saudara kami yang lain yang menilai sikap seperti itu tidak cocok bagi kami kaum petarung.


Di kala aku terseret ke dunia nyata ini, aku bagai kehilangan akal, meronta tanpa sebab.  Hanya satu yang ada di ingatanku, mimik dan bunuh manusia.  Dengan dorongan dari sesuatu yang tidak jelas itu, aku memimik Jessica lantas hampir saja membunuhnya.  Untunglah, Kak Healer segera datang mencegatku waktu itu lantas mengembalikan kembali kesadaranku dengan menetralkan racun dari virus.


Kak Healer pun menuntunku tentang apa yang harus kulakukan, bekerja sama demi mencapai tujuan kami, kembali dalam keadaan semula.  Perasaan manusia tak bisa kami pahami.  Oleh karena itu, tak cocok kami miliki.


Sejak awal, kami dipaksa untuk memperoleh sesuatu yang tidak kami inginkan.  Lantas karena sesuatu yang kami miliki padahal seharusnya tak kami miliki itu, bencana pun datang membayangi kami.  Tidak hanya kami, tetapi kami juga turut menyeret semua makhluk hidup di dunia nyata ini merasakan dampaknya.


Kami mulai menyusun rencana di mana Kak Healer dan Bomber berperan di depan layar, Dream bertugas mengumpulkan fragmen saudara-saudara kami untuk dibangkitkan ulang sekaligus menghubungkan kembali dengan sistem demi membuka ulang portal agar kami dapat kembali, sementara aku berperan sebagai mata-mata.


Sebagai keberadaan yang paling berbahaya dalam rencana Kak Healer, aku difokuskan untuk mengawasi Raging Fire, mencegah dia dalam mengamuk dan memporak-porandakan rencana kami.


Menjadi seorang mata-mata sungguh menegangkan.  Aku harus senantiasa menjaga ekspresiku agar tak bisa ditebak oleh musuh.  Berbaur di tengah-tengah mereka sembari tetap menjaga kerahasiaan.


Menegangkan, tetapi juga sekaligus menyenangkan. Karena sebagai hadiah, aku kadang-kadang dapat bertemu berdua dengan Kak Healer secara rahasia, membagi kenangan hanya dengan kami berdua.


Namun kini setelah Kak Healer tiada, semuanya terasa hampa.  Tubuhku pula kian hari kian lemah, terdegradasi oleh luka dan racun yang aku serap.  Kenangan yang singkat, namun sekaligus paling indah di hidupku.  Dan kini, aku pun akan segera menyusul Kak Healer.  Tubuhku perlahan menghilang, bergabung dalam ketiadaan.


Di saat kesadaranku perlahan memudar, kulihatlah sosok Dream.  Aku pun berwasiat kepadanya,  “Kamu sudah datang rupanya.  Selanjutnya, aku serahkan sisanya pada kalian. Kembalikan tatanan dunia yang tidak normal ini kembali seperti semula sesuai harapan Kak Healer.”


“Ya, serahkan sisanya pada kami.  Beristirahatlah dengan tenang, Holy.”


Setelah mendengarkan jawaban Dream itu, aku pun merasa lega, seolah tidak ada lagi beban yang mengganjalku di dunia nyata ini.  Jika ada satu hal yang kusesalkan, yakni aku tak dapat mengingat kenangan ini di alam sana.  Namun setidaknya kuberharap, pemuda yang bernama Kaiser Dewantara itu, dapat mengingat kisah perjuangan kami ini.


***


Di salah satu meja kafe itu, dua sosok pemuda sedang duduk bersama sembari makan siang, atau tepatnya makan sore.


Seorang pemuda tampak menatap pemuda lainnya dengan tatapan kesal, seolah sama sekali tak berniat menghadiri acara makan bersama tersebut.


Namun, tampak sang pemuda luput dalam ucapan Adrian tersebut.  Dia terfokuskan oleh gelang perubah Bomber di tangannya yang tiba-tiba saja bersinar terang.


Air mata tiba-tiba menetes dari mata sang pemuda yang sampai-sampai membuat Adrian khawatir padanya hingga sampai menanyakan segala macam hal.  Namun, seakan tak mendengar suara dari Adrian tersebut, pemuda itu justru bergumam,


“Istirahatlah dengan tenang, Holy.”


***


Adrian dan Kaiser pun menyelesaikan jalan-jalan bersama mereka lantas segera kembali ke markas.  Di sana, Syifa tengah menyambut mereka di pintu masuk dengan Profesor Melisa dan Mr. Aili yang telah stand by di depan layar proyeksi besar yang terhubung dengan kesadaran Mr. Aili.


“Bagaimana jalan-jalannya, Adrian?  Menyenangkan?  Kalian benar-benar sudah berbaikan kan?”  Dengan senyum ramah yang hanya ditunjukkan di depan Healer dan kini kepada Kaiser yang biasanya berperangai tomboi itu, Syifa berujar.


“Sukses besar dong.  Kini aku dan Adrian adalah sahabat baik.  Bukan begitu, Adrian?”  Namun Kaiser-lah yang menjawab pertanyaan Syifa itu alih-alih Adrian dengan senyum ramahnya sembari merangkul pundak Adrian.


Adrian tidak dapat menahan kesalnya karena dari hari ke hari, Kaiser makin mirip saja dengan Healer yang menyamar menjadi wujudnya di matanya.  Adrian pun serta-merta menampik rangkulan Kaiser lantas balas berujar, “Sukses besar apanya.  Sama sekali tidak menyenangkan.  Siapa yang akan berpikir mengajak sesama laki-laki berjalan bersama ke tempat-tempat di mana kamu biasanya mengajak pasanganmu.”


Melihat tingkah merajuk Adrian yang cukup imut itu di mata Kaiser, tergeraklah kejahilan dari Kaiser untuk semakin menggoda Adrian.  Syifa yang menyaksikan pemandangan unik mereka berdua, tak dapat menahan senyumnya lantas merasa lega.  Jika bukan Mr. Aili yang menghentikan candaan Kaiser, mungkin waktu semalaman itu akan dihabiskan oleh Kaiser hanya untuk menjahili Adrian.


Sesaat kemudian rapat pun dimulai.  Rapat yang tidak lain membahas pembasmian monster avatar yang tersisa.


Profesor Melisa-lah yang pertama kali berujar dalam rapat tersebut.


“Seperti yang kita tahu, dengan menyingkirkan list avatar yang menjadi rekan seperjuangan kita, kini monster avatar yang tersisa adalah Raging Fire, Time, Void, Magneton, Fog, Sturdy, dan Sticky Girl…”


Namun belum sempat Profesor Melisa menyelesaikan ucapannya, Kaiser segera memotongnya.


“Ah, aku lupa memberitahu bahwa Holy telah berhasil menyingkirkan Fog, jadi seharusnya tersisa 6 monster avatar saja.”


“Begitukah?  Baguslah.  Tidak sia-sia aku memberinya informasi dan menyerahkan urusan Fog padanya.”  Mr. Aili-lah yang merespon pertama pernyataan Kaiser tersebut yang walaupun dia adalah mesin, alih-alih suara kaku robot, dia justru menjawab dengan ekspresi sempurna bak manusia yang menunjukkan kesenangannya.


“Yah, walaupun harus dibayar dengan kematian Holy sendiri.”


Seketika Kaiser mengucapkan kalimat yang selanjutnya itu, suasana ruangan mendadak hening untuk sesaat.