“Adrian?” Airi dengan lirih memanggil nama putra bungsunya tersebut.
Akan tetapi, justru wajah penuh frustasilah yang ditunjukkan oleh Adrian.
“Mengapa? Mengapa kalian baru kembali sekarang? Asal kalian tahu, aku tidak butuh lagi keberadaan kalian!” Ucap Adrian dengan lantang diiringi oleh air mata yang amat terangat sangat menyiratkan kepiluan.
“Adrian, tenanglah.” Syifa segera berlari lantas memeluk adiknya yang tampak begitu rapuh itu.
Melihat hal tersebut, baik Andika maupun Airi tertegun sejenak. Mereka merasa pantas memperoleh perlakuan seperti itu dari kedua anaknya tersebut setelah pengabaian mereka selama ini pada mereka berdua selama lima belas tahun.
Namun, Profesor Melisa-lah yang ambil bicara untuk meredakan ketegangan hubungan orang tua-anak tersebut.
“Adrian, Syifa, berilah kesempatan kepada mereka berdua untuk memberikan penjelasan.”
“Penjelasan apa lagi yang perlu kami dengarkan…” Adrian berujar marah. Namun, begitu menyaksikan ekspresi menderita kedua orang tuanya tersebut, Adrian hanya bisa luluh.
“Baiklah, aku dengarkan. Tapi jangan harap setelah kudengarkan, aku akan memaafkan kalian.” Ujar Adrian yang walau terlihat kalimatnya kasar, dia mengucapkannya dengan begitu lembut.
Dengan demikian, mulailah kedua pasangan tua itu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di tahun 2044 silam.
Kala itu, Danial dan Litia, ayah dan ibu Kaiser pada akhirnya menemukan kemajuan penelitian rahasia mereka yang mereka tutupi sebagai proyek penelitian pengembangan game. Tetapi di balik layar, mereka sebenarnya meneliti tentang bagaimana caranya membuka pintu gerbang ke dunia virtual.
Namun, ada sedikit permasalahan dalam penelitian mereka. Mereka tetap tak dapat menemukan koefisien yang tepat untuk menstabilkan pintu gerbang yang menghubungkan dua dunia. Jadilah mereka meminta saran dari profesor yang paling mereka percayai yang sekaligus merupakan mantan dosen kesayangan mereka, Profesor Indro Nuryono.
Akan tetapi, untuk sebab yang tidak diketahui, surat yang mereka kirimkan yang berisi undangan dari mereka berdua kepada Profesor Indro Nuryono untuk menceritakan penelitian rahasia mereka tersebut, tak pernah sampai ke tangan Profesor Indro Nuryono hingga akhir hayat Beliau.
Tahu-tahu\, surat tersebut justru berada di tangan organisasi iblis ******. Jadilah Danial dan Litia menjadi incaran para iblis dunia lain tersebut yang menyelinap di antara umat manusia untuk merebut hasil penelitian mereka.
Dan di kala itulah, organisasi EDEN memalsukan kematian mereka agar mereka terhindar dari kejaran para iblis dunia lain.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Andika dan Airi tersebut, Kaiser tak dapat menahan air matanya.
“Jadi, ayah dan ibuku masih hidup?” Tanya Kaiser dengan harap-harap cemas.
Menanggapi itu, Airi pun lantas tersenyum sembari mengatakan, “Ya, mereka masih hidup dengan sehat wal aviat.”
Namun seketika ekspresi Airi berubah sendu. Akan tetapi sebelum Airi sempat melanjutkan ucapannya, Andika-lah yang melanjutkannya,
“Sama halnya seperti kami yang meninggalkan keluarga kami agar tak menjadi sasaran organisasi ******\, Danial dan Litia juga memutuskan untuk meninggalkan kalian berdua kepada nenek kalian agar aman dari marabahaya. Siapa yang sangka\, justru kalian sendiri yang melibatkan diri kalian dalam masalah ini. Kurasa\, aku harus minta penjelasan yang memuaskan setelah ini\, Melisa.”
Ujar Andika seraya menatap ke arah Profesor Melisa.
“Cukup dengan semua omong kosong itu! Jika kalian begitu mengkhawatirkan kami, seharusnya kalian melindungi kami di sisi kami, bukannya malah bercerai lantas meninggalkan kami ke luar negeri.” Adrian berteriak lantang dengan sangat marah kepada kedua orang tuanya itu.
“Oh, mengenai perceraian itu…” Lanjut Andika yang tampak ragu melanjutkan ucapannya.
“Apa maksud Papa dan Mama dengan tidak bercerai?” Mendengar hal tersebut, Syifa tak dapat menahan rasa penasarannya, lantas bertanya.
“Kami hanya sekadar bercerai lewat dokumen agar kartu keluarga kita dihapus demi mencegah organisasi ****** menemukan jejak hubungan kami dengan kalian.” Jawab Andika terhadap pertanyaan putri tertuanya itu.
“Lantas seharusnya kalian hadir di acara pemakaman Kak Faridh.” Lanjut Syifa.
“Soal itu, kami sebenarnya datang. Kami sebenarnya begitu sedih saat itu dan hampir saja menghampiri kalian untuk memeluk kalian berdua, hanya saja…” Airi berhenti di tengah-tengah ucapannya.
“Organisasi ****** terkutuk itu masih berupaya mentracking jejak kami.” Lalu Andika-lah yang melanjutkan ucapannya.
“Asal kalian tahu, hidup kami begitu susah sejak kepergian kalian. Kakek meninggal dua tahun setelah kepergian kalian, kemudian disusul oleh kepergian Nenek setahun setelahnya. Kami hidup sangat kesulitan setelah itu. Jika bukan karena bantuan sahabat Kakek, Kakek Lucias dan Nenek Nana waktu itu, entah apa yang akan terjadi pada kami. Bahkan Kak Faridh yang kala itu masih belia, terpaksa bekerja paruh waktu demi mencari tambahan nafkah bagi kami.”
Adrian pun tak dapat lagi menyembunyikan kepiluan hatinya itu yang harus hidup dalam kemiskinan di dalam rumah yang tampak cukup megah setelah kedua orang tuanya meninggalkan mereka yang masih kecil.
“Apa yang kamu katakan, Adrian? Bukankah kami telah meninggalkan harta warisan yang cukup kepada kalian? Juga bagaimana dengan uang bulanan yang kami kirimkan bergantian tiap bulan?” Tanya Airi keheranan karena sama sekali tak menyadari hal itu bisa terjadi.
“Ayah, Ibu, kami tidak mengerti bagaimana keadaan kalian ketika kalian masih kecil. Tetapi coba kalian pikir apa yang akan terjadi jika seorang anak kecil ditinggalkan dengan warisan yang sangat besar?” Syifa lantas melontarkan suatu pertanyaan kepada ayah dan ibunya.
“Apa yang kamu maksudkan, Syifa?”
“Hmmm?”
Baik Airi maupun Andika tampak kebingungan dengan pertanyaan Syifa tersebut. Bagaimana tidak Airi akan sanggup memahaminya, sebagai seorang putri Shinomiya, dia selama ini dibesarkan dengan tidak pernah sekalipun terlibat dalam detail urusan rumah tangga keluarga karena semuanya diserahkannya kepada para pelayan.
Airi pun mutlak tidak pernah mengerti bagaimana keserakahan seseorang yang serakah karena uang akibat dirinya selama ini yang hanya terus saja nyaman menikmati posisinya yang di atas tanpa harus melihat persaingan orang-orang di bawahnya dalam mengais rezeki, termasuk setelah dia menikahi Andika yang juga merupakan seorang konglomerat.
Adapun Andika, sang pewaris grup Setiabudi yang senantiasa bergelimpangan harta, tidak jauh bedanya dengan Airi. Dia juga sama sekali tidak mengerti tentang keserakahan orang-orang yang menjilat di bawah kaki ayahnya, Pak Suwirno, selama ini.
Pada akhirnya, harta kekayaan melimpah keluarga Setiabudi yang seharusnya menjadi penopang hidup yang sangat berarti bagi anak-anaknya itu, hilang terkuras begitu saja setelah kematian Kakek Suwirno oleh para parasit yang mengaku sebagai keluarga tersebut. Lucunya, semua ini tidak disadari baik oleh Andika, maupun oleh Airi yang selama ini terlalu terfokus pada balas dendam mereka untuk teman paling berharga mereka.
Oleh karena itulah, mereka merasa amat menyesali keputusan mereka selama ini meninggalkan anak-anak mereka di belakang yang mereka pikir dapat kuat seperti diri mereka yang kuat dalam menjaga diri mereka sendiri.
Nyatanya, kala itu mereka masihlah anak-anak yang masih membutuhkan tempat untuk bernaung.
Yang membuat hati mereka bertambah sakit adalah bahwa uang kiriman perbulan mereka selama ini buat anak-anak mereka terkadang masih harus dirampas dengan kejam oleh anak-anak dari kerabat jauh mereka tersebut.
Hal itu tidak lain hanya untuk membuli ketiga anak malang itu yang menyebabkan anak-anak mereka tanpa sepengetahuan mereka harus tumbuh dalam kekurangan, sementara ayah dan ibu mereka adalah seorang konglomerat dan masih hidup sampai saat itu dengan bergelimpangan harta di luar negeri.
Mereka tidak akan tinggal diam untuk itu. Mereka akan merebut kembali apa yang direbut dari anak-anak mereka tersebut, walaupun itu hanya sekadar pembeli cemilan buat mereka yang tidak ada apa-apanya dari total harta kekayaan mereka baik untuk Airi maupun untuk Andika yang sukses pada berbagai usahanya di segala bidang di berbagai negara.
Mereka hanya tidak rela jika harta warisan dari ayah Andika yang seharusnya diperuntukkan untuk kesejahteraan putera dan puterinya itu dinikmati oleh tikus-tikus dari keluarga cabang dan menikmati hidup mewah dengan itu sambil tertawa melihat kesengsaraan putera dan puteri mereka.
Namun, mari kita tidak bahas itu secara mendetail di novel kali ini, berhubung ini bukanlah novel tentang intrik keluarga, melainkan novel fantasi yang bergenre sci-fi.