Dalam keadaan yang terluka parah, Freeze kembali ke dalam wujud Faridh lantas berjalan di koridor yang terletak di kantor kepolisian pusat itu. Karena luka-luka yang dideritanya itu, perhatian orang-orang serta-merta tertuju padanya. Akan tetapi, Freeze segera mengaktifkan mind control-nya sehingga orang-orang yang di sekitarnya pun yang telah terpengaruh oleh mind control tersebut seketika mengabaikannya begitu saja.
Freeze pun memasuki ruangan kepala direktur kepolisian pusat itu, tempat biasanya dia bersembunyi. Di hadapannya, terlihat seorang kakek-kakek dengan tampang idiot telah menunggunya di sana. Dalam sekejap, Freeze dalam wujud Faridh berubah menjadi hawa dingin lantas menyelinap masuk ke dalam bayangan sang kakek.
Dalam sekejap, sang kakek yang semula tampak idiot, tiba-tiba berubah menjadi pria tua yang elegan dan berwibawa. Di sampingnya, keempat pengawal yang tampak sebelumnya juga turut terkunci kesadarannya, kini turut pula memperoleh kesadaran itu kembali.
“Sungguh pemandangan menyedihkan yang di luar dugaan! Sang monster avatar dengan spek terkuat dikalahkan oleh bocah yang baru berlatih bertarung selama dua bulan.”
Tiba-tiba dari sudut ruangan, terdengar teriakan dari seseorang yang tampak memandang Freeze dengan penuh hina. Rupanya, orang itu adalah Kaiser yang sedang dalam wujud Avatar Bomber-nya.
“Kau, bagaimana kau bisa kemari? Bagaimana sebenarnya kerja para lintah uang itu di luar sehingga membiarkan seorang penyusup sampai kemari?! Hai, kamu, beritahu oranng-orang di luar bahwa ada penyusup yang telah masuk kemari!” Ujar Freeze dengan heran menggunakan mulut sang kakek-kakek tua tersebut. Dia lantas menyuruh seorang pengawalnya untuk memanggil para polisi yang berjaga di luar.
Akan tetapi,
“Bang! Bang! Bang! Bang! Bang!”
Kaiser dengan pistol khusus di luar peralatan Avatar Bomber-nya, tidak, itu pistol biasa, menembaki jidat satu-persatu orang yang berada di ruangan tersebut di mana sosok yang terakhir ditembaknya adalah tidak lain sang kakek-kakek tersebut.
Kaiser kali ini tidak menembak menggunakan peluru karet, melainkan menggunakan pistol asli berpeluru timah sehingga kepala kelima orang yang ditembaknya itupun benar-benar bocor lantas mereka pun menghembuskan nafas terakhir mereka.
Hawa dingin lantas keluar kembali dari balik bayangan sang kakek yang telah meregang nyawa itu yang kembali ke dalam wujud Faridh. Sesaat kemudian, Faridh berubah kembali ke dalam wujud monster avatarnya, Freeze.
“Kau, kau bukannya seorang pahlawan?! Mengapa kau bisa membunuh manusia tanpa bergeming sedikit pun seperti itu?!” Teriak Freeze marah.
Dari balik helmetnya, Kaiser pun tertawa kecut, tidak, tepatnya Healer dalam wujud Kaiser-lah yang tertawa kecut.
“Pahlawan ya. Itu memang benar. Aku selama ini menjaga citraku di hadapan publik sebagai seorang pahlawan. Tetapi apa perlunya itu sekarang? Bukankah tiada seorang pun di ruangan ini selain kita berdua? Aku juga sudah merusak seluruh CCTV yang berada di sini sehingga aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan publik mengetahui tindakan bejatku ini.” Jawab Healer yang menyamar sebagai Kaiser dalam wujud Avatar Bomber itu seraya bibirnya tersungging sinis.
“Kau, lantas bagaimana kau akan mengelak soal mayat yang tergeletak di sini yang telah kau bunuh?! Juga banyak polisi yang sementara di luar. Mereka pasti segera menyadari suara tembakan pistol itu lantas bergegas kemari!” Ujar Freeze kepada sang Avatar Bomber.
“Eh, apa yang kamu bilang. Aku yang menembak mereka? Tidak, tidak, itu salah. Mereka saling baku tembak satu sama lain karena di bawah pengaruh mind control-mu, Freeze. Lagipula, kau tidak usah terlalu mengkhawatirkan soal para polisi yang berjaga di luar, soalnya seorang rekanku lagi telah menahan mereka.” Jawab sang Bomber.
“Kau, dasar licik!” Freeze yang tak dapat menahan amarahnya hanya lantas dapat mengumpat kepada sang Bomber.
“Begitulah kehidupan manusia ini, Freeze. Bukankah kau yang telah hidup berbaur bersama mereka selama ini yang lebih paham soal itu? Kebenaran dengan mudah dapat dimanipulasi selama ada bukti-bukti palsu yang meyakinkan di mana sebaliknya, orang-orang dapat dengan mudah dimanipulasi untuk meragukan bukti yang sebenarnya.” Sanggah si licik Bomber.
“Kau, kau tidak pantas disebut pahlawan! Kau akan mati di tanganku!” Seraya meneriakkan hal tersebut, Freeze mensummon tombak trisula es-nya lantas menyerang si licik Bomber yang ada di hadapannya itu.
Lalu beberapa milisekon kemudian, bahkan belum sempat sedetik terlewat,
“Sruuuuuk!” Si licik Bomber dalam sekejap telah menikam Freeze dari arah belakang.
“Kamu, kenapa bisa? Bukankah kekuatan ini hanya dimiliki oleh Time dan Silent? Bagaimana kamu bisa menggunakannya?” Dalam sekaratnya, Freeze pun bertanya kepada sang faker dalam wujud Bomber tersebut.
“Coba tebak mengapa kira-kira?” Dengan senyum licik yang tersembunyi di balik helmetnya, Kaiser palsu mempermainkan Freeze lewat kata-katanya.
“Aku sudah menyelidikimu secara seksama. Kekuatan utamamu adalah Avatar Bomber, kemudian sebagai side avatar, kamu memiliki Enigma, Fast, dan Spring Rosella. Lantas bagaimana?”
Melihat ekspresi wajah kebingungan Freeze dalam wujud monsternya itu, Kaiser palsu pun tersenyum sinis seraya menjawab pertanyaan itu,
“Itu salah lho Freeze, soalnya side avatar ketigaku itu bukan Spring Rosella, tetapi Silent.”
“Lantas bagaimana kamu bisa memiliki kekuatan penyembuhan... Ah!”
Di tengah-tengah kalimatnya, Freeze tiba-tiba saja berhenti. Dia seakan mendadak teringat sesuatu yang sangat penting.
Freeze pun dalam nafas yang hampir terputus itu, melanjutkan kalimatnya,
“Begitu rupanya. Kamu juga sama denganku. Lantas, mengapa kamu yang menghabisiku? Jika kamu melakukan semua ini demi bocah itu, bukankah lebih baik menyerahkan kepada dia sendiri untuk menghabisiku sebagai pelaku pembunuhan kakak kandungnya? Dengan begitu, bocah itu dapat terlepas dari traumanya.”
Di luar dugaan, Kaiser, tidak, Healer menjawab dengan nada sendu,
“Tidak, kamu salah, Freeze. Jika aku membiarkan Adrian yang menghabisimu, dia hanya akan berubah menjadi orang yang kejam dan takkan lagi polos seperti dulu. Bagaimana pun, aku tak mungkin membiarkan anak yang baik hati sepertinya membunuh seseorang dengan wajah kakak kandungnya sendiri yang telah tiada, walaupun sosok tersebut adalah palsu sekalipun.”
“Hahahaha, begitu rupanya. Aku lega setelah mendengarnya. Kalau begitu, aku dapat menyerahkan sisanya padamu, Healer. Tolong lindungilah Adrian. Setidaknya, kabulkanlah keinginan terdalam inangku ini.”
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya itu, Freeze pun menghilang menjadi butiran-butiran debu data. Healer dalam wujud Kaiser itupun mengeluarkan pistol anehnya, lantas mengisap butiran-butiran debu data itu melalui pistol tersebut.
“Jadi begitu rupanya, kamu tidak jauh bedanya dari yang lain, terpengaruh oleh ingatan inangmu, Freeze. Tapi, tanpa kamu bilang pun, aku pasti akan melakukannya. Bukan sebagai Kaiser ataupun sang faker Healer demi meraih tujuannya, tetapi sebagai keluarga yang tulus menyayangi Adrian.” Gumam sang faker itu.
Sang faker pun membatalkan aktivasi gelang perubahnya sehingga dia pun kembali ke dalam wujud Kaiser. Akan tetapi, tanpa diduga-duganya, Mecha tiba-tiba saja datang lantas menikamnya tepat di jantung.