101 Avatars

101 Avatars
59. Misteri Void dan Tuannya



Semuanya berawal dari Bobi yang memberitahuku di kelas tentang kecurigaannya kepada Kak Selantri yang tiba-tiba datang menemuiku di saat pihak kepolisian sedang heboh-hebohnya mencari tentang identitas Ksatria Panah Biru dan kakak perempuannya yang dicurigai bekerja sebagai polisi wanita.


Aku pun turut membenarkan kecurigaan Bobi tersebut lantaran baru setelah lima tahun, Kak Selantri datang menemuiku, padahal sebelumnya ada banyak waktu untuk dia move on pada Kak Faridh.


Di samping itu, wajahnya yang awet muda sudah sangat mencurigakan.  Tetapi itu wajar jika itu adalah wajah yang dimimik oleh monster avatar lima tahun yang lalu dari Kak Selantri. Namun, aku masih mencoba menolak bahwa hal itu tidaklah benar.  Karena jikalau hal itu memang benar adanya, itu hanya berarti Kak Selantri telah ikut meninggalkan dunia ini bersama dengan Kak Faridh.


Akan tetapi, user ID milik Ranker Fog semakin membuatku mempunyai perasaan yang tidak enak.  ‘Tunangannya Yayang Faridh’, itulah nama user ID Ranker milik Fog.  Tidak hanya kakakku saja yang namanya Faridh di seantero Kota Jakarta ini sehingga bisa saja bukanlah kakakku yang dimaksud.


Tetapi tetap saja ada kemungkinan bahwa Faridh yang dimaksud adalah kakakku.  Jika demikian, pemilik user ID ini adalah salah satu dari fans milik Kakak atau bahkan pacarnya sendiri.  Hal itu berarti, Kak Selantri sudah sangat mencurigakan sebagai samaran Avatar Fog.


Setelah mengetahuinya, aku pun menghubungi Kak Kaiser dan memberitahukan semuanya padanya.  Jadilah muncul ketakutan kami yang terbesar bahwa identitasku sudah ketahuan oleh pihak musuh sehingga Kak Syifa bisa saja berada dalam bahaya saat ini di kantornya.  Tetapi itu masihlah fifty fifty.


Aku dan Kak Kaiser pun menyusun rencana ini untuk melihat reaksi musuh.  Dan syukurlah, setelah kami simpulkan, pihak musuh baru sebatas memiliki kecurigaan dan belum yakin akan identitasku yang sebenarnya itu.


“Fluuuush.”


“Blaaaaaar.”


Aku seketika tersadar dari lamunanku begitu ku-menotice keributan ini.  Kak Kaiser tengah bertarung melawan Fog.  Tetapi tampaknya sudah jelas siapa pemenang pertarungan ini.  Tidak ada peluang bagi kabut mengalahkan senjata ledakan api.  Fog mutlak bertarung dengan lawan yang tidak menguntungkan.


“Baaam.  Baaaam.  Braaak.”  Dengan menggunakan tinju energi dengan level kekuatan yang lebih rendah-nya, Kak Kaiser menghajar Fog habis-habisan.


Ketimbang menggunakan Enigma yang dapat tererosi oleh kabut, tinju energi yang menghasilkan dentuman api, mutlak merupakan serangan yang lebih cocok untuk menghadapi Fog yang seluruh tubuhnya dikelilingi oleh kabut yang mampu mengerosi logam.  Tentu saja, sebagai avatar yang juga berelemen logam, Bomber tidaklah kebal seratus persen pada kabut Fog.  Oleh karena itu, Kak Kaiser harus segera menyelesaikan pertarungan ini.


Akan tetapi,


“Syaaaar.”  Serangan laser hitam tiba-tiba datang dan menyerang Kak Kaiser.


Dalam waktu sekejap, portal hitam legam telah mendarat di samping Fog, kemudian sesosok makhluk keluar dari portal itu lantas menarik Fog masuk kembali ke dalam bersamanya.


Kudengar makhluk itu berucap pada Fog, “Mari kita mundur dulu.  Bagaimana pun, Tuan kita masih membutuhkan keberadaanmu.”


“Sial!  Lagi-lagi Void mengganggu rencana kami yang hampir berhasil.”  Umpatku dalam hati.


Kak Kaiser unggul dalam pertarungan melawan Fog, namun kami tidak dapat memusnahkan monster itu karena keburu melarikan diri duluan.  Tetapi itu sudah hasil yang baik untuk sekarang karena aku bisa tetap merahasiakan identitasku, di samping kami akhirnya berhasil mengetahui identitas manusia mimikan Fog.


“Kamu tidak apa-apa anak muda?  Biar kuantarkan kau sampai ke rumah sakit untuk dirawat.”  Ucap Kak Kaiser padaku sembari menggendongku keluar dari tempat tersebut.


Satu hal yang menjadi pertanyaanku setelah itu.  Siapa sebenarnya ‘Tuan’ yang selalu diungkapkan oleh Void itu?  Ah.  Tiba-tiba satu nama muncul di kepalaku.  Dialah awal-mula penyebab bencana Hoho game itu lima tahun silam.  Profesor In Gu dari Korea Selatan.  Tidak akan mengherankan kalau dialah yang saat ini memimpin para monster avatar yang menyelinap di antara para manusia tersebut.


***


Pukul 11.50, kami akhirnya baru bisa memulai rapat yang seharusnya dijadwalkan jam delapan tepat itu.  Aku merasa tidak enak, perihal waktu sejam terulur dengan waktuku berobat ke rumah sakit.


Aku dan Kak Kaiser memutuskan untuk tidak mengobati lukaku dulu dengan Spring Rosella milik Kak Kaiser untuk menurunkan kecurigaan pihak kepolisian padaku.  Kakakku Syifa juga tidak hadir dalam rapat kali ini karena pergerakannya tampak masih sedang dimata-matai.


Untunglah aku berhasil kabur sejenak dari RS Dewantara Group ini untuk hadir dalam rapat rutin kami tanpa ketahuan polisi yang mengawasi berkat bantuan paman Kak Kaiser dari kerabat ayahnya yang tampaknya juga telah mengetahui identitas Kak Kaiser sebagai Pahlawan Darah Merah yang walaupun merupakan pamannya, selisih umurnya dengan Kak Kaiser hanya terpaut sekitar sepuluh tahun saja.


Rapat pun dimulai dan diawali dengan pemetaan kembali kelompok-kelompok monster avatar yang ada saat ini.


Pertama, kelompok Raging Fire, dengan anggota Raging Fire sendiri, Poison Merchant, Holy, Magneton, Violar, Singer Nana, dan Sticky Girl.  Kelompok ini terbilang agresif, namun setidaknya mereka hanya aktif menyerang kita secara frontal sehingga level ancamannya pun untuk saat ini terbilang moderat.


Yang jadi masalah adalah kelompok yang kedua yang dipimpin oleh seseorang yang sering dipanggil Void dengan sebutan ‘Tuan’.  Mereka pandai bermain di belakang layar sampai-sampai berhasil menyudutkan kami dengan memanfaatkan tenaga kepolisian.  Anggotanya yang sudah diketahui antara lain Freeze, Fog, Mecha, Sturdy, dan Void sendiri.  Belumlah jelas siapa ‘Tuan’ yang memimpin kelompok ini.


Ada juga Healer, Time, Remote, dan Mistique, dan jika kita memasukkan monster avatar dari sistem juga ada Dream dan Carnaval yang statusnya belum jelas apakah masuk ke kelompok Raging Fire, kelompok yang kedua, atau bahkan kelompok lainnya yang belum teridentifikasi atau malah bergerak secara individu.


Lalu aku pun mencoba mengajukan pendapatku ke forum.


“Bagaimana seandainya jika pemimpin kelompoknya Void itu adalah Profesor In Gu sendiri?  Bukankah peluangnya cukup besar?  Apalagi dialah yang telah menjadi penyebab lepasnya para monster avatar di malam bencana itu.”  Ujarku dengan yakin.


Lalu kudengarlah Profesor Melisa berkomentar, “Kalau dipikir-pikir, kita sama sekali belum bilang sama Adrian ya, Kaiser.”


Kak Kaiser pun menyambung ucapan itu, “Iya ya, benar juga.  Tampaknya, mungkin sudah saatnya kita ceritakan pada Adrian kejadian yang dirahasiakan itu.  Aku rasa, aku dapat mempercayai Adrian.”


Aku sedikit bingung dengan apa yang Kak Kaiser katakan barusan itu.  Apakah itu berarti selama ini sampai detik dia mengatakan itu, aku belum dia percayai?


Di saat itulah, Profesor Melisa akhirnya menjelaskan,


“Dengar ya, Adrian.  Manusia mimikan Void alias Michael itu tidak lain adalah Profesor In Gu dan dia aslinya berasal dari China.  Dia telah tewas di tangan Void sendiri.”


Seketika aku terkesiap dengan informasi yang mendadak itu.  Namun, aku hanya terus mendengar info lanjutan yang diberikan oleh Profesor Melisa itu.


“Hanya saja karena keluarganya itu ternyata punya jabatan yang tinggi di Pemerintahan China kala itu, mereka meminta kepada pemerintahan kita agar pelaku yang memicu malam bencana Hoho Game tetap menggunakan identitas Profesor In Gu dengan merahasiakan identitas sebenarnya sebagai Michael dari publik agar tidak mencoreng nama baik keluarganya.”