101 Avatars

101 Avatars
21. Isolasi Kota Jakarta



Malam itu, Kaiser bermimpi, tidak, tepatnya Avatar Healer yang menyamar sebagai Kaiser-lah yang bermimpi.  Di dalam mimpinya itu, dia melihat dirinya bersama Andina terlibat dalam suatu kecelakaan mobil.


Di hadapan mereka, sesosok monster mengamuk dengan ganasnya.  Kaiser tahu betul siapa monster itu karena dia telah berulang-ulang kali melihat Andina memainkannya.  Dialah Avatar bernomor seri 7, Avatar Bomber.


Sang monster avatar lantas membuka paksa pintu masuk mobil yang mereka kunci rapat itu.  Mereka berlari keluar mobil sekuat tenaga demi menghindari tangkapan monster.  Namun dalam sekejap, Kaiser terhempas di tangan monster itu.  Lalu samar-samar dalam keadaannya yang hampir kehilangan kesadarannya akibat benturan keras di kepalanya sewaktu terhempas itu, dia menyaksikan sang monster menikam Andina tepat di dadanya.


Di situlah ingatan mimpinya berakhir, tidak, tepatnya di situlah ingatan terdalam milik Kaiser Dewantara yang asli yang diwariskan kepada Healer berakhir.


“Tidak…!  Jangan…!”  Healer yang bersosok Kaiser itu pun terbangun dari mimpinya.


“Kak Kaiser, Anda baik-baik saja?”  Sembari menepuk-nepuk pipi Kaiser, Syifa mencoba membangunkan pemuda yang tampak tersiksa dalam tidurnya itu.


“Oh, Syifa.”  Kaiser pun terbangun.  Dia samar-samar melihat wajah Syifa di hadapannya.  Dia pun mengucapkan nama wanita muda itu sembari tersenyum hangat padanya.


“Duh, Anda mimpi buruk apa sih sampai mengigau tidak jelas begitu?”  Ujar Syifa yang tampak cuek, namun sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaan pemuda di hadapannya itu.


“Oh, maafkan aku.  Aku sedikit memimpikan kembali Andina saat malam bencana itu.”


Tanpa perlu ucapan itu dilanjutkan, Syifa segera dapat tahu bahwa itu bukanlah mimpi yang baik karena dia tahu betul bahwa pada malam bencana itulah, Andina mengembuskan nafas terakhirnya di tangan Avatar Bomber.


“Kebetulan aku mau buat coklat panas.  Mau sekalian aku buatkan kopi?”  Tanya Syifa kepada Kaiser.


“Boleh, jika itu tidak memberatkan.”  Seraya tersenyum ramah, Kaiser pun menerima kebaikan hati Syifa itu.


“Hmmm.”  Gumam Syifa seraya mengangguk menanggapi senyum hangat Kaiser.


“Terima kasih, Syifa.”  Dengan lirih, Kaiser mengucapkannya di kala Syifa telah berbalik sehingga tak dapat menangkap ekspresi di balik wajah Kaiser.


Namun, dari berat suara itu, Syifa dapat menangkap kesedihan yang amat mendalam dari pemuda tersebut.  Dia bersimpati kepadanya.  Tiada yang dapat mengerti rasanya kehilangan seseorang yang sangat disayangi, melainkan orang yang pernah merasakannya.


Syifa pernah sekali merasakan sakitnya ditinggalkan pergi kedua orang tuanya setelah perceraian mereka.  Terlebih, kakak laki-lakinya yang selama ini merawatnya setelah kepergian kedua orang tuanya itu, juga harus tewas pada malam bencana yang sama yang menyebabkan kematian Andina.


Tiada yang lebih mengerti rasa sakitnya kehilangan itu melebihi Syifa.  Dalam pikirannya, bagaimana sakitnya dia kehilangan keluarganya, begitu pula rasa sakit yang harus dialami oleh pemuda yang bernama Kaiser di hadapannya itu.  Namun, itu perkara jika dia adalah Kaiser yang asli.  Syifa sama sekali tak mengetahui bahwa sosok pemuda di hadapannya itu sebenarnya adalah juga monster avatar yang tidak seharusnya memiliki perasaan.


Kaiser berjalan menghampiri Syifa yang tampak telah selesai membuat minuman.  Dengan senyum hangatnya, Kaiser menerima gelas berisi kopi dari Syifa itu.  Mereka pun lantas berbincang-bincang dalam keheningan malam itu.


“Terima kasih, Syifa, karena telah menerima permintaan egoisku mengizinkan Adrian berjuang bersamaku menghadapi para monster avatar.  Padahal, Adrian adalah satu-satunya keluargamu yang tersisa.”  Ucap Kaiser kepada Syifa.


Mendengar ucapan Kaiser itu, Syifa terdiam sejenak.  Namun, dalam suasana yang hening itu, Syifa akhirnya menjawab,


Air mata pun bercucuran membasahi pipi wanita muda itu.  Kaiser pun berusaha menenangkan Syifa ke dalam pelukannya yang hangat.


“Kamu tidak perlu khawatir, Syifa.  Selama aku hidup, aku takkan pernah membiarkan kalian berdua terluka.”  Lirih Kaiser kepada wanita muda dalam pelukannya itu.


Tanpa mereka sadari, di balik dinding dapur di mana mereka berada, Adrian tanpa sengaja telah mendengarkan obrolan mereka.  Tidak hanya Adrian, rupanya dari pojok tersembunyi yang terapit antara dua buah lemari yang saling berhadapan dengan sudut 90 derajat di dapur itu, Judith juga berada di sana mendengarkan obrolan tersebut.  Akan tetapi berbeda dengan raut wajah sendu Adrian,  hanya ada tatapan benci Judith pada sosok yang bernama Kaiser itu.


***


Aku tidak pernah tahu.  Sama seperti aku yang mengkhawatirkan Kak Syifa, Kak Syifa pun sangat mengkhawatirkanku.  Selama ini, aku hanya memikirkan perjuanganku bersama Kak Kaiser demi secepatnya memberantas para monster avatar dari muka bumi tanpa pernah memperhatikan bagaimana perasaan khawatir Kak Syifa padaku.


Tidak, itu salah.  Aku tahu, namun aku sengaja mengabaikannya.  Karena jika tidak, maka hatiku takkan kuat melihat penderitaan batin Kak Syifa.  Namun, sedikit lagi, sedikit lagi saja kuberharap Kak Syifa dapat bertahan.  Demi kehidupan yang damai setelahnya, mau tidak mau aku harus berjuang karena hanya aku dan Kak Kaiser-lah yang dapat menjadi harapan penyelamat bumi saat ini.


Hari demi hari setelahnya, kami berupaya mati-matian mengawasi dan mencari tahu tentang apa tujuan sebenarnya dari Volt dan Metalia.  Namun, mereka sangat lihai.  Mereka selalu saja tengah menghilang ketika kami menuju ke lokasi di mana mereka ditemukan berada.


Hingga 6 hari kemudian, barulah semuanya terjawab.  Tanpa semua orang menduganya, secara tiba-tiba, segala sinyal jaringan internet, telepon, radio, televisi, dan lain sebagainya menghilang dari seluruh pelosok Kota Jakarta.  Terdapat dinding tak kasat mata yang menyelubungi seluruh kota yang membuat orang-orang tak dapat keluar-masuk melewatinya.


Begitu kami menyadarinya, kami telah dikurung di dalam suatu sangkar listrik oleh para monster avatar.  Rupanya inilah yang selama ini direncanakan oleh Volt dan Metalia.


Saat itu, aku berada di kampus.  Syukurlah, alat komunikasi gelang perubahku yang prinsip kerjanya sama dengan walkie-talkie masih dapat bekerja sehingga aku masih dapat berhubungan dengan AI5203 di markas dan juga dengan Kak Kaiser.


Rupanya kebetulan saat itu, Kak Kaiser memiliki janji makan siang dengan kakakku Syifa sehingga saat ini mereka sedang bersama sehingga aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan keamanan kakakku itu.


Profesor Melisa juga saat ini berada di kampus sehingga kami dapat segera bertemu.  Yang jadi masalah adalah Judith.  Saat ini, dia berada di sekolahnya.  Kuharap dia akan baik-baik saja sampai semuanya kembali normal.


“Hai, Adrian, apa yang sebenarnya terjadi?!  Apakah ini semua juga perbuatan para monster avatar itu?”  Dengan berbisik-bisik karena tidak ingin kedengaran Zenri, Bobi bertanya padaku.


“Tampaknya.  Sepertinya ini Kurungan Listrik.  Ini tidak salah lagi adalah kekuatan salah satu monster avatar, avatar nomor 5, Avatar Volt.  Untuk menghilangkannya, tidak ada cara lain selain mengalahkan avatar itu.  Masalahnya, kita tidak tahu keberadaannya sekarang.  Aku harus segera pergi mencarinya karena hanya akulah yang memiliki kekuatan pelacakan.”  Jawabku.


“Aku mengerti.  Aku akan turut membantumu.”  Kulihat Bobi berujar, sembari membuka laptopnya dan menyerahkan sebuah walkie-talkie kepadaku.


Aku sempat bingung tentang apa yang akan dilakukannya persoalan jaringan internet tidak berfungsi sekarang.  Namun, kudengar Bobi kembali berujar,


“Pergilah.  Jika ada apa-apa, hubungi aku lewat walkie-talkie itu.  Aku juga akan berupaya melacak keberadaan monster avatar itu di sini.  Jika dia bisa mengeluarkan kekuatannya, artinya dia sedang dalam wujud avatarnya yang berarti kita bisa mendeteksinya lewat drone yang dilengkapi sensor panas karena panas tubuh mereka sedikit unik seperti yang telah kupelajari lewat Sena dan avatar jahat yang menyerangnya kala itu.”


“Baiklah aku mengerti.”


Sembari mengatakan hal tersebut, aku pun meninggalkan Bobi yang tampak sibuk dengan laptopnya, juga Zenri yang tampak bingung terhadap apa yang sebenarnya kami berdua obrolkan.