Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Kunjungan Mertua



"Orang lagi sakit tapi mesra mesraan. Kalau mau pacaran jangan di rumah sakit tapi di hotel" protes Wetennov yang menjadi saksi atas kelakuan dua sejoli itu. Sebenarnya Wetennov tidak benar benar marah karena pasangan suami istri itu mesra, malah dia bahagia karena keponakannya, princess mereka sekarang dijaga oleh orang yang tepat.


Bagaimana Louis memperlakukan istrinya sangat dikagumi oleh Wetennov. Apalagi tadi Wetennov mendengar semua percakapan mereka membuatnya benar percaya jika Louis bisa menjaga putrinya dengan baik.


Wetennov hanya sedikit kesal saja karena diabaikan terlalu lama oleh mereka. Perlu diingat kembali jika suami Jeanne itu sangat benci jika diabaikan. Wetennov telah mengetuk pintu sebelumnya tapi tidak ada jawaban hingga dia memberanikan diri untuk masuk tanpa izin. Dia masuk saat Louis naik ke brankar. Melihat pasangan suami istri itu sedang berbincang serius, dia memutuskan menunggu hingga keduanya menyelesaikan pembicaraannya.


Tapi sayangnya dia bukanlah tipe orang yang sabaran apalagi setelah melihat keduanya semakin berbuat mesum sehingga dia membersihkan tenggorokannya yang sedikit tercekat melihat bagaimana pasangan suami istri itu bercumbu mesra di brankar sempit itu. Dia sudah berdiri selama lebih dari 25 menit di depan pintu, menunggu keduanya menyelesaikan pembicaraannya, dia menahan diri agar tidak memgamuk karena diabaikan dan tak dilirik sama sekali.


Setelah menunggu hingga kakinya sedikit pegal dia malah disuguhi adegan hot kissing. Terlintas ide buruk untuk mengganggu aktivitas mesum keponakannya itu dengan berdehem begitu keras. Dan akhirnya ciuman Friday Louis lepas, dalam hati Wetennov tertawa bahagia melihat mereka berdua terkejut melihatnya dan pastinya terganggu. Kekesalanya terbalaskan sudah.


Yang paling membahagiakan baginya adalah wajah Louis yang awalnya galak ingin menerkam seperti serigala kelaparan begitu melihatnya nyali Louis langsung menciut dan berubah menjadi anak kucing yang ingin dikasihani dan dihujani meteor cinta. Ini seperti mendapatkan bonus di akhir tahun.


Louis segera beranjak dari atas brankar dan berdiri di samping brankar istrinya itu. Dia tersenyum kaku menyambut mertuanya yang satu itu. Jantungnya melayang kembali ke pohon pisang di belakang rumah sakit.


Wetennov menyerahkan beberapa paperbag berisi pakaian Louis dan Friday juga makanan untuk Louis. "Ini titipan dari kakak untu kalian. Makanlah terlebih dahulu, biar aku yang mengawasi anak nakai ini" kata Wetennov kepada Louis. Louis patuh terhadap perintah itu dan menerima paperbag menggunakan dua tangannya.


Louis meletakkah paparbag itu di atas meja, lalu membuka paperbag berisi makanan. Dia duduk di sofa dan mulai memakan makan malamnya. Sedangkan Wetennov duduk di kursi dekat brankar Friday. Mereka berdua tampak berbincang hangat.


"Mau ke mana?" tanya Wetennov saat melihat Friday ingin beranjak dari tempat tidurnya. Louis menghentikan makannya dan menoleh kepada istrinya menunggu jawaban.


"Aku mau ke toilet uncle" jawab Friday yang kembali ingin beranjak dari brankar.


"Biar ku bantu" kata Wetennov. Tapi Louis secepat kilat menyambar tubuh Friday dan menggendongnya. "Aku saja uncle" kata Louis. Louis membawa Friday ke kamar mandi di dalam kamar itu meninggalkan Wetennov dengan tangan yang masih dalam posisi ingin menggendong Friday.


"Tidak mungkin dia cemburu kan? Aku unclenya Friday, dia putriku. Ckkk...aku menyesal memujinya tadi. Dia benar benar telah merebut my little princess" guman Wetennov.


Louis dan Friday kembali ke kamar dengan Friday di gendeongan Louis. Louis mendudukkan Friday di sofa seperti permintaan istrinya yang tidak mau berbaring di brankarnya. Wetennov menyusul keduanya dan duduk di sofa seberang pasangan mesum itu.


Louis kembali melanjutkan makan malamnya yang sudah sangat terlambat. "Aaaaa" Friday membuka mulutnya lebar memberikan kode pada Louis agar menyuapinya. Louis memberikan makanannya dan menyuapi Friday. Wetennov kembali mendelik kesal karena disuguhi adegan romantis lainnya. Lagi lagi dia diabaikan.


"Ckkk aku pamit pulang" kata Wetennov. Keduanya menoleh pada unclenya itu.


"Baguslah" jawab Friday menyulut api amarah di hati Wetennov.


"Astagaa anak ini" Wetennov siap siap ingin menarik telinga Friday tapi dengan sigap Louis menghalanginya. Mendapat perlindungan dari suaminya membuat Friday semakin berani menjahili unclenya. Friday menjulurkan lidahnya mengejek sang uncle.


"Hati hati di jalan uncle" saut Louis tanpa ada niat menahan mertuanya itu lebih lama. Mereka berdua kembali fokus ke makanan yang dibawa unclenya.


"Ckk menyebalkan" hanya kata itu yang keluar dari mulutnya dan menutup pintu kamar itu segara pergi dari sana.


Dia merasa senang dan sedih di saat bersamaan. Dia senang melihat keponakannya mendapatkan pria yang bisa meratukannya. Dan dia sedih karena Louis tepah menggeser posisinya di hati keponakannya itu. Pada hal dulu waktu Friday kecil dia selalu mengatakan jika dia dewasa nanti akan menikahi dirinya. Tapi lihatlah sekarang setelah dia dewasa malah menikahi Louis dan mengabaikannya. Sangat tidak adil, dia disingkirkan begitu saja.


Friday kembali menguasai makanan untuk suaminya, dia menghabiskan lebih dari setengah. Tapi Louis tampak tidak keberatan, sepertinya dia bisa kenyang hanya dengan makan cinta, keripik senyum Friday dan sedikit saos angin.


Setelah kenyang tepatnya Friday yang kenyang, mereka mengobrol beberapa saat.


"Kak...apa kakak sudah mengabari mama Sita?" tanya Friday teringat mama mertuanya.


"Astaga belum, aku lupa" katanya.


Bunyi HP Friday mengalihkan perhatian mereka berdua. Louis segera mengambilnya dan melihat siapa yang menelepon istrinya malam malam begini. Pucuk dicinta ulam pun tiba, itu adalah papanya Louis. Louis menerima panggilan telepon tersebut dan mengaktifkan mode loudspeaker agar Friday juga mendengar.


"Kalian di mana? Kenapa susah sekali dihubungi? Mamamu khawatir" kata Yudha dari seberang telepon tanpa basa basi terlebih dahulu.


"Maaf pa, aku lupa mengabarimu. Kami sedang ada di rumah sakit Fr..." jawab Louis tapi langsung dipotong oleh Yudha.


"Siapa yang sakit? Di rumah sakit mana, biar papa menyusul" kata Yudha panik.


"Tidak ada yang sakit pa, papa tidak perlu datang. Besok siang kita sudah bisa pulang kok" saut Louis.


"Kalian menabrak seseorang ya?" tanya Yudha lagi.


"Tidak. Tadi Friday sempat lemas dan wajahnya pucat jadi Louis membawanya ke rimah sakit untuk periksa" saut Louis lagi.


"Katanya tidak ada yang sakit, gimana sih" Yuha kesal dengan penjelasan anaknya yang tadi mengatakan tidak ada yang sakit tapi sekarang bilang Friday sakit.


"Kenapa papa selalu memotong saat aku mencoba menjelaskan sih pa" keluh Louis dan Yudha terdiam. Friday tertawa mendengar keduanya yang berdebat tidak jelas, dia mengambil alih HPnya.


"Friday sedang hamil pa" kata Friday menyudahi drama itu.