Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Mengakhiri Hidup



Alexa terbangun, dia tidak tau apakah dia terbangun dari tidur atau pingsan. Dia menatap semua ruangan dan hanya mendapati bajunya yang sudah robek di lantai dan kamar yang begitu berantakan.


Dia melihat tubuhnya yang telan*jang dan dipenuhi lebam. Seluruh badannya sangat sakit dan pegal, sudut bibirnya pun terasa perih. Pusat tubuhnya pun terasa sangat sakit.


Kini dia ingat kejadiaan naas yang menimpanya. Alexa mulai menangis meratapi betapa malang nasibnya. Masalah datang bertubi tubi kepadanya dengan lancarnya dan seperti tidak ada habisnya.


Sekarang apa yang akan menguatkannya? Dia butuh satu alasan untuk bisa bertahan. Saat ini Alexa benar benar di titik terendah kehidupannya. Mulai terlintas dipikirannya untuk mengakhiri semuanya.


Alexa memunguti bajunya yang robek di lantai. Air matanya jatuh tanpa permisi membasahi pipinya. Dia melihat tasnya yang juga tergeletak di lantai. Dia membuka tas itu dan mengambil telepon genggamnya.


Dia berjalan terseok seok menuju kamar mandi dalam keadaan polos. Apa yang mau ditutupi lagi pikirnya. Dia menggenggam erat telepon genggamnya.


Dia mulai mengisi bathup dengan air. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir di pipinya. Itu membuat bibirnya terasa semakin perih karena terkena air matanya yang asin.


Alexa menghitung jumlah uang di beberapa rekening tabungannya. Dia juga menghitung santunan yang akan diterima keluarganya dari pihak asuransi kalau dia meninggal. Sepertinya akan cukup untuk orangtuanya memulai usaha. Ditambah beberapa perhiasan, jam dan barang branded lainnya yang pernah dia terima dari teman temannya.


Keputusan Alexa sudah bulat untuk segera mengakhiri penderitaannya ini. Setelah bathup penuh, Alexa masuk ke dalam bathup. Dia mulai menenggelamkan seluruh badannya di dalam air bathup itu.


Satu detik, dua detik hingga detik yang ke empat puluh tujuh Alexa masih bisa menahan nafasnya di dalam air. Tekatnya benar benar bulat.


Tapi pada detik ke lima puluh enam, Alexa mengeluarkan kepalanya dari air, dia sesak nafas. Menenggelamkan diri dalam air ternyata sangat menyiksanya.


"Tidak, cara ini terlalu sakit" kata Alexa dalam hati. Dia melihat di sekelilingnya, mencari sesuatu yang bisa membuatnya pergi meninggalkan dunia fana ini dengan cepat dan hanya menahan sakit yang sebentar.


Alexa menemukan sesuatu yang bisa dijadikannya alat untuk mempercepat proses kepergiannya. Alexa bergerak mengambil hair dryer dan disambungkan ke stop kontak. Dia meletakkan hair dryer itu di pinggiran bathup agar mudah dan dekat untuk menjangkaunya.


Alexa menarik nafasnya begitu dalam dan memejamkan matanya, dia mengambil hair dryer yang telah on itu dan digenggamnya.


Dia mulai menghitung dalam hati untuk menenggelamkan tubuhnya lagi di bathup beserta hair dryer yang dipegangnya saat ini. "Satu...dua..ti..." Alexa berhenti menghitung.


"Tunggu dulu, kalau aku meninggal seperti ini, orang tua atau adik adikku tidak akan tahu tabunganku dan barang simpananku apa saja dan di mana saja. Sebaiknya aku membuat surat wasiat" kata Alexa pada dirinya sendiri.


Alexa meletakkan hair dryer itu ke pinggiran bathup lagi. Alexa keluar dari bathup dan berjalan menuju wastafel dimana dia meletakkan telepon genggamnya tadi.


Alexa mengambil telepon genggamnya dan kembali berjalan menuju bathup. Alexa mulai menyalakan aplikasi voice recording yang ada di dalam telepon genggamnya untuk merekam suaranya.


Alexa berdehem untuk membersihkan tenggorokannya yang sangat kering dan gatal. Dia menarik nafas dalam lalu membuangnya dengan kasar. "Ibu, Bapak kalau kalian menemukan rekaman ini berarti ASTAGAAAAAAAAA..." pesan suara Alexa harus terhenti dan dia berteriak kaget karena tiba tiba telepon genggamnya berbunyi.


Ada panggilan masuk ke telepon genggamnya. Alexa masih terdiam menetralkan jantungnya yang sempat kaget karena ditengah keseriusannya membuat salam perpisahan malah diganggu dengan bunyi nada dering.


Dia mendiamkan telepon genggamnya dan membiarkannya tetap berbunyi. Dia akhirnya merendam tubuhnya di dalam bathup dan merilekskan seluruh badannya yang pegal. Dia sudah tidak mood untuk melanjutkan rencana untuk mengakhiri hidupnya.


Kemudian dia beranjak dari bathup menuju shower untuk membasuh badannya. Setelah menyelesaikan mandinya, dia menggunakan bathrope yang disediakan hotel di kamar yang sedang dia tempati.


Alexa mengeringkan rambutnya dan meletakkan hair dryer itu ke tempatnya semula. Alexa mengambil telepon genggamnya dan melihat panggilan tidak terjawab yang mengganggunya tadi. Ternyata itu panggilan dari orang tuanya.


Buru buru Alexa menelepon kembali orang tuanya. Ternyata yang menjawab teleponnya adalah adik Alexa. Adik Alexa memberitahukan kakaknya bahwa dia masuk ke perguruan tinggi IITC tempat Alexa dulu mengenyam pendidikan dan adiknya juga mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliahnya sama seperti Alexa dulu.


Alexa yang mendengarkan berita bahagia itupun turut bahagia. Dia bisa melupakan kesedihannya hari ini untuk sejenak. Alexa menangis bahagia mendengarnya. Ternyata masih ada hal baik yang bisa dia terima dan rasakan apabila dia hidup.


Setelah panggilan telepon itu selesai, Alexa menghubungi Shelly. Alexa meminta bantuan pada Shelly untuk membawakannya pakaian Alexa ke kamar itu. Alexa juga meminta Shelly untuk membawakannya makanan dan minuman. Alexa berjanji akan menceritakan kejadian itu kepada Shelly sebelum menutup panggilan telepon itu.


Setengah jam kemudian Shelly datang membawa keperluan Alexa. Shelly melihat Alexa yang sangat memprihatinkan langsung memeluk Alexa. Alexa kembali menangis tersedu sedu.


Shelly mengurungkan niatnya untuk menanyakan apa yang terjadi pada Alexa semalam. Dia menunggu Alexa yang menceritakannya dulu dan menekan rasa keponya.


Setelah berpakaian rapi dan lengkap dan selesai makan. Shelly dan Alexa kembali ke kamar hotel yang mereka booking. Sembari menunggu instruksi dari Jeanne, Alexa menceritakan semua kejadian yang menimpanya.


Sampai sore hari mereka menunggu tapi tidak ada kabar dari Jeanne. Mereka heran kenapa Jeanne bisa tidak memberikan kabar apa yang akan mereka lakukan hari ini. Baru akan menghubungi teman temannya yang lain di grup chat mereka, Frizzy menelepon Shelly.


"Kami ada di depan, buka pintunya. Dari tadi aku membunyikan bel tapi tidak ada yang membuka pintu" kata Frizzy dan langsung menutup teleponnya.


Shelly membukakan pintu untuk Frizzy, ternyata ada Kelvin, Amora dan Leo juga. Mereka langsung menyerobot masuk ke dalam kamar.


Leo menyampaikan berita buruk kepada Shelly dan Alexa. Friday dan Jeanne tidak ada di kamarnya, mereka tidak ditemukan di mana pun. Mereka menanyakan pihak hotel ternyata cctv mereka rusak dan terjadi sabotase pesta.


"Kami sudah mencarinya di sekitara hotel tapi tidak ada. Kami juga sudah menanyakan pihak hotel untuk memutar cctv tapi cctv juga rusak karena sabotase pihak lain. Semalam Alexa dan Shelly yang membantu Friday, terakhir kali kalian bersama dimana?" tanya Frizzy.


Alexa langsung menangis, mereka terkejut melihat Alexa yang seperti itu. Shelly berusaha menenangkan Alexa. Setelah Alexa tertidur dalam pelukan Shelly, Shelly menceritakan sebagian kejadian yang menimpa Alexa. Dia hanya mengatakan bahwa Alexa ditarik paksa oleh orang tidak dikenal lalu ditinggalkan begiti saja di sebuah kamar.


Mereka berdiskusi langkah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, karena melapor kepada polisi pun tidak ada gunanya karena Friday dan Jeanne menghilang belum 24 jam.


………………………………………………………………………………


Jangan lupa Subscribe, Like dan Comment ya genk kalo bisa vote dan gift jg hehehe...Lafyutu