Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Jalan Bertiga



Sita dan Friday keluar dari toko pakaian anak anak itu menuju tempat Louis yang sedang duduk menunggu mamanya belanja. "Lo, ayo pergi" ajak Sita kepada Louis.


Tanpa melihat mamanya Louis menjawab, "Udah kelar ma, mama mau ke mana lagi? Louis di sini saja menunggu". Dia masih sibuk dengan HPnya.


"Ya sudah kalau begitu, kamu pulang saja. Mama sudah punya teman yang bisa nemanin mama sepanjang hari ini" kata Sita.


Louis penasaran dengan teman yang dimaksud mamanya, setaunya mamanya tidak punya janji dengan siapa siapa hari ini. Louis mendongkakkan wajahnya melihat ke arah mamanya dan terkejut dengan perempuan yang digandeng mamanya.


Sangking terkejutnya, Louis sampai keceplosan memanggil sayang pada Friday.


"Yankkk". Friday langsung terkejut dag dig dug ser mendengar panggilan Louis dan Sita lebih terkejut lagi.


"Yank?" Sita mengulangi kata Louis. Sita mengernyitkan dahinya terkejut bercampur bingung dengan panggilan Louis kepada Friday.


"Yaaaaang dari tadi sama mama ternyata Friday ya" jawab Louis gelagapan dan berdalih.


Friday tertawa dalam hatinya melihat suaminya keceplosan dan terlihat menggemaskan dalam mengatasi situasi.


"Iya, tadi mama ketemu dia di dalam. Kami mau mencari tempat untuk mengobrol. Kamu lebih baik pulang saja, soalnya kami akan lama" pinta Sita pada Louis.


"Tidak mau, aku ikut" tolak Louis. Tentu saja Louis akan ikut kemana pun Friday pergi. Sudah dua hari mereka tidak bertemu, dia sudah rindu setengah harga.


"Mama bosan melihatmu, lagian ngomong sama kamu juga ga nyambung. Dan mama sebal lihat kamu yang dikit dikit ngeluh. Mama udah nemu teman yang nyambung jadi kamu tidak dibutuhkan lagi" usir Sita lagi.


"Tidak bisa begitu dong ma, mama datang kan bareng Louis, jadi sampai pulang juga harus sama Louis" tolaknya lagi.


"Ya udah kalau begitu, biar Friday yang pergi, kita cari waktu lain aja tante. Friday tidak mau mengganggu kencan tante dan kak Louis" ucap Friday menengahi perdebatan ibu dan anak itu. Dia melirik jahil ke arah Louis.


"Tidak boleh" kata Louis.


"Tidak bisa" kata Sita.


Mereka berdua sama sama tidak mau jika Friday yang pergi. Friday terkekeh melihat keduanya yang kompak menolak permintaan Friday.


"Ya udah kamu ikut sama kami, tapi jangan ganggu kami berdua. Pokoknya kamu harus tetap diam, apapun yang kami bicarakan jangan menyela" akhirnya Sita mengizinkan Louis ikut dengan mereka. Louis setuju, dari pada tidak melihat istrinya mending jadi patung diantara mereka.


Mereka pergi ke sebuah tempat makan, mereka masuk ke sebuah ruangan privat yang kebetulan sudah kosong saat mereka sampai di tempat. Mereka mulai memesan makanan karena sudah saatnya makan siang.


Sita dan Friday sedang asik berdiskusi tentang makanan yang akan mereka santap sedangkan Louis hanya memperhatikan mereka berdua. Seperti permintaan mamanya tadi dia menepati janjinya jadi dia hanya diam saja.


"Kakak mau makan apa?" tanya Friday pada Louis. Louis senang karena ternyata Friday masih peduli dengannya, ada secercah harapan dia akan diajak bergabung dalam obrolan mereka.


"Kamu saja yang pilihkan" balas Louis.


Friday mengangguk dan mulai memilih makanan untuk suaminya. Dia tau betul kesukaan suaminya jadi dia cepat menentukan menu yang akan mereka pesan.


"Kenapa mesti Friday yang memilihkan untukmu, kamu kan bisa pilih sendiri" kata Sita protes.


Tidak tahan lagi, Friday tertawa mendengar perdebatan mereka. Dari tadi Friday sudah menahannya. Mereka sangat lucu. Di depan ibunya Louis seperti anak kecil yang suka ngambek. Tawa Friday menular pada Sita dan Louis, mereka bertiga akhirnya tertawa bersama.


Sembari menunggu pesanan mereka datang, mereka mengisinya dengan mengobrol. Sita dan Friday tampak asyik menikmati gosip para selebriti korea dan Louis hanya menatap layar HPnya yang berisi foto foto Grant dan Friday beberapa hari terakhir. Friday rajin mengupdate kabarnya dan Grant melalui chat kepada Louis dan menyertakan foto.


Saat pesanan datang pun, mereka masih seru mengobrol. Mereka makan dan menyelipkan obrolan. Louis tidak suka dengan wortel, dia menyisihkan semua wortel yang ada di hidangan favoritnya. Emang sangat lucu, dia suka menu itu tapi tidak suka wortelnya.


Louis menyisihkannya ke piring Friday dan Friday memakannya seperti biasanya. Sita memperhatikan keduanya, dia melihat Friday yang tampak tidak terganggu dan jijik dengan perbuatan Louis sebab Louis menyisihkan wortelnya ke piring Friday menggunakan sumpit yang sudah bekas dari mulutnya tapi Friday tidak protes dan tetap memakan wortel itu. Sita hendak protes tapi sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya mengabaikan keduanya dan fokus pada makanannya karena keduanya tampak tidak keberatan mengapa dia yang harus protes.


Selesai menyantap makan siang mereka, Sita pamit ke toilet karena tiba tiba perutnya tidak nyaman. Setelah kepergian Sita, Louis langsung pindah tempat ke samping Friday. Louis yang dilanda rindu setengah harga langsung menyosor bibir Friday. Dia meluma*t bibir itu dengan rakusnya, Friday pun membalasnya.


Sadar situasi, Louis melepas luma*tan bibirnya. Dia tersenyum melihat bibir Friday yang belepotan karenanya. Dia mengambil tisu dan melap bibir Friday agar tidak menimbulkan kecurigaaan.


"Makasih kak" kata Friday setelah Louis selesai membersihkan bibir dan sekitarnya.


"Di mana Grant, kenapa sendirian?" tanya Louis.


"Mama dan aunty membawa Grant dan Brent ke kebun binatang".


"Kenapa kamu tidak ikut malah sendirian berkeliaran di sini?"


"Tadi aku ikut dengan mereka tapi karena tidak tahan mencium baunya, aku pulang duluan dan menitipkan Grant pada mama. Akhir akhir ini aku sensitif dengan bau, aku hanya tenang bila mencium baumu. Lihat, aku bahkan membeli parfum yang biasanya kamu pakai karena yang di rumah sudah hampir habis" jawab Friday.


"Ah sayang sekali" de*sah Louis.


"Sabar, besok kan bisa ketemu dengan Grant".


"Bukan begitu. Mumpung Grant sedang bersama mama, seharusnya kita bisa berduaan bergelung di bawah selimut sepanjang hari" jawab Louis mulai mesum.


Cih. Friday hanya berdecih mendengarnya dan melihat wajah Louis yang mulai mesum.



"By the way, kamu sudah periksa ke dokter kenapa bisa seperti itu?" tanya Louis khawatir dengan kondisi istrinya. Kalau diperhatikan lagi, Friday sepertinya kurusan dan sedikit pucat.


"Belum, itu mungkin karena sebentar lagi akan kedatangan tamu bulanan kak, jangan khawatir" jelas Friday dan membelai wajah suaminya.


"Lihat perutku saja sudah membuncit dan rasanya begah seperti biasanya kalau menjelang tamu bulanan" lanjut Friday lagi.


"Syukurlah kalau begitu" Louis melepas genggaman tangannya dari Friday dan pindah kembali ke tempat duduknya di seberang Friday.


Tidak lama setelah kepindahannya, Sita muncul dari balik pintu. Dia memegang perutnya yang sudah mengecil dan tersenyum lega karena sudah berpisah dengan makanan yang dia makan tadi pagi.


"Good timing" batin Louis.