Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Bab 144



Setelah minum Louis membantu Friday melepaskan coatnya yang sudah kotor karena kena muntahannya sendiri. Friday masih betah bermanja di pangkuan suaminya. Lalu Louis menggulung rambut panjang istrinya agar lebih rapi. "Ada ikat rambut di saku coat" kata Friday.


Louis meraih coat yang tidak jauh darinya lalu mencari ikat rambut itu. Setelah itu dia melepas gulungan rambut Friday dan kemudian menyisir rambut Friday menggunakan jari tangannya. Louis mengumpulkan semua rambut Friday dan mengikat rambut Friday hingga rapi.


Louis menangkup wajah Friday lalu memandangi wajah cantik istrinya. Tapi Friday berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih pucat, dia tidak berani menatap Louis dan berusaha menunduk.


"Hei, look at me honey" perintah Louis. Dengan wajah menahan tangis Friday menatap wajah suaminya. Louis mendekatkan wajahnya ke wajah Friday hingga kening mereka bersentuhan. Tangan Louis masih berada di antara telinga hingga Leher Friday.


Louis mencium bibir Friday dengan lembut dan dalam. Friday juga membalas ciuman itu dan kedua tangannya semakin memeluk tubuh suaminya. Setelah ciuman keduanya terlepas, Louis membelaii wajah istrinya yang semakin cantik dimatanya.


Louis kembali mendekatkan wajahnya ingin mencium Friday tapi Friday menahannya. "Aku masih bau karena muntah tadi".


"Tidak apa apa, bagiku kau wangi" Louis menciumi seluruh wajah istrinya. Dia bahagia sekali melihat istrinya di sini.


"Kenapa datang menyusulku? Harusnya kamu menungguku saja di rumah. Aku akan pulang dua hari lagi. Aku takut kamu capek. Bagaimana keadaan kalian berdua? Kapan kamu mengetahuinya?" tanya Louis.


"Setelah kamu pergi, aku pingsan di kantor saat rapat. Beruntung uncle ada di sana jadi dengan cepat dia membawaku ku rumah sakit padahal ada ruang kesehatan di perusahaannya. Setelah dirawat dan diperiksa hasilnya aku sedang hamil" jawab Friday.


"Astaga kau menambahkan list utang budiku lagi ke uncle Wetennov. Kenapa tidak memberitahuku kalau kamu sampai pingsan dan masuk rumah sakit Fri. Sudah ku bilang jangan menutupi apapun dariku. Istriku sampai pingsan dan masuk rumah sakit tapi aku tidak tau , aku merasa tidak berguna" ucap Louis.


"Itu ide uncle biar tidak memberitahumu kak. Dia juga menahan HPku. Jangan marah lagi bukankah sekarang kamu sudah tau dan kami baik baik saja?" balas Friday.


"Iya iya, aku tidak akan marah".


"Tapi kamu sudah marah".


"Aku tidak marah" .


"Tidak. Kamu marah, nada bicaramu berbeda".


"Ya udah aku marah".


"Tuh kan kamu marah".


'Astaga apa sih maunya nih cewek. Aku harus sabar aku harus sabar, dia sedang hamil. Aku tidak boleh terpancing emosi. Langkah selanjutnya apa ini, salah ambil langkah pasti akan menimbulkan bahaya....Aku coba minta maaf dulu deh' kata Louis dalam hatinya.


"Aku minta maaf ya sayang, aku tidak akan marah lagi" ucap Louis.


Friday menganggukkan kepalanya lalu bersandar lagi di dada suaminya. Moodnya kembali bagus dan dia tersenyum.


'Dasar cewek, selalu benar. Untungnya aku minta maaf, tidak bisa ku bayangkan apa yang akan terjadi jika aku tidak segera minta maaf' kata Louis dalam hatinya.


"Aku tidak menyusulmu" jawab Friday. Dia menegakkan tubuhnya menatap mata suaminya.


Louis mengernyitkan dahinya. 'Tidak menyusulku tapi sekarang dia sudah di sini. Apa sih yang ada di pikirannya? Bagaimana caraku mengatasi ini. Lebih baik aku diam saja' Louis menjerit dalam hati. Louis meneguk ludahnya kasar saat melihat Friday yang menatapnya dengan wajah yang sama sekali tidak bisa dia baca.


"Aku ke sini untuk menemui Sarah kak. Kemarin aku kepikiran setelah kamu memberitahuku keadaannya. Jadi aku meminta uncle mengantarku kemarin setelah kita bertelepon. Maaf aku tidak memberitahumu karena kemarin kamu pasti sedang tidur. Aku sudah berbicara padanya tadi sebelum ke sini dan dia akan mempertahankan bayinya" jelas Friday.


"Terima kasih Fri, kini aku sudah tenang mengetahui Sarah tidak akan melukai dirinya dan bayinya" kata Louis.


"Jadi ini ide siapa?" tanya Louis mengalihkan pembicaraan.


"Ini ide kak Sunday. Aku meminta dia langsung memberimu box itu tapi dia malah mengirimkanmu kartu akses kamar hotel. Tadi sesampainya di rumah sakit dia juga memberiku kartu akses kamar ini. Dia mengubah skenarionya seenaknya saja" terang Friday.


"Bagaimana denganmu Fri? Apakah kamu merasa terbebani mengandung anakku?" tanya Louis.


Friday dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku menyukainya, apalagi sekarang aku menyukai daddynya" jawab Friday.


Louis langsung membopong tubuh istrinya ke tempat tidur. Dia bahagia mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Friday. Dia bersyukur dalam hati terjebak dalam pernikahan ini. Kini tidak ada sesal di hati meninggalkan profesi yang dia cita citakan selama ini hanya untuk bersama dengan Friday. Kebahagiaan yang dia dapatkan jauh lebih besar dari apapun saat ini.


Louis membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Lalu dia merangkak di atas tubuh Friday. Louis melebarkan baju Friday lalu masuk ke dalam baju itu. Dia menciumi perut Friday dan mengajak bayinya mengobrol. Friday membiarkannya saja, dia akan tertawa jika merasa geli saat bibir Louis menciumi perutnya yang masih datar.


"Fri bayi kita menendang dan menjawabku" adunya pada Friday. Louis kembali menempelkan telinganya pada perut Friday.


"Umur 6 minggu belum bisa menendang kak, itu suara perutku yang lapar" jawab Friday menertawakan suaminya.


"Kamu lapar?" Louis melihat jam di ding ding.


"Astaga ternyata sudah jam 7 malam, sudqh waktunya makan malam. Maaf daddy membuatmu dan mommy kelaparan. Daddy akan segera memesankan banyak makanan untukmu dan mommy" Louis mencium perut Friday lalu beranjak dari tempat tidur dan mengambil menu makanan yang ada di ruangan itu. Dia meminta Friday memilih menu yang ingin dia makan. Setelah memilih menu, Louis melakukan panggilan kepada room service hotel. Dia memesan makan malam mereka dan diantarkan ke kamar.


Sambil menunggu makan malam mereka datang, Louis meminta Friday untuk mandi terlebih dahulu.


"Kamu mandi dulu sayang, sembari menunggu makan malamnya" suruh Louis.


"Aku malas bergerak kalau sudah rebahan begini" jawab Friday.


Louis langsung membuka sepatu Friday. "Biar aku yang bersihkan tubuhmu. Kamu rebahan saja. Ku rasa washlap cukup kan?" tawar Louis. Friday hanya menganggukkan kepalanya.


Sudah dua minggu Friday selalu begini, cepat ngantuk, cepat capek, makan banyak dan malas maunya rebahan terus. Untuk gejala mual baru dia alami 3 hari ini, dia akan muntah kapan pun tidak peduli pagi siang atau malam kadang tanpa sebab. Tapi beruntung nafsu makannya tetap tinggi walaupun mual sering menghampiri.


Louis kembali ke tempat dimana istrinya rebahan membawa kebutuhan washlap. Dia mulai membantu Friday membuka pakaiannya. Setelah itu Louis membantunya melap semua badan Friday.