Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Bab 150



Louis kembali ke rumahnya dari perusahaan, dia pulang sedikit terlambat karena harus menyelesaiakan pekerjaan Friday dulu. Louis memanggil istrinya tapi tidak ada sahutan. Louis berpikir jika Friday masih di rumah unclenya. Dengan cepat Louis pergi ke kamar mereka untuk segera mandi dan menyusul istrinya.


Louis menyalakan lampu kamar mereka dan terkejut melihat istrinya ternyata di sana. Louis merasa aneh dengan istrinya, kenapa Friday duduk di sana dalam keadaan gelap. Louis juga heran tidak mendapat sambutan dari istrinya seperti biasa. Louis mendekati istrinya untuk mengetahui keadaan istrinya.


"Sayang, kamu kenapa? Apa kamu baik baik saja? Kenapa tidak menyalakan lampunya?" tanya Louis. Tapi sayangnya Friday enggan untuk menjawab, bahkan Friday tidak menoleh sedikit pun.


"Sayang, apa aku berbuat salah?" tanya Louis lagi. Dan sama, Friday belum meresponsenya.


Louis dibuat semakin galau, dia menerka nerka apa yang membuat istrinya merajuk sampai seperti ini.


"Aku minta maaf ya sayang karena pulang telat. Aku harus menyelesaian beberapa pekerjaan kantor agar besok pekerjaanmu tidak terlalu banyak" ucap Louis berharap Friday mau memaafkannya.


Friday akhirnya menoleh pada Louis. Air matanya membanjiri wajahnya yang cantik. Matanya kini sembab karena kebanyakan menangis.


"Hei, kamu kenapa sayang. Kamu kenapa?" dengan sedikit panik Louis menyeka air mata di wajah istrinya. Dia tidak tau jika keterlambatannya pulang ke rumah akan membuat istrinya semarah dan sesedih itu.


"Hentikan kak. Aku sudah pernah bilang padamu, jika sudah tak cinta dan tak suka jangan berhianat di belakangku. Lebih baik mengantarkanku kembali ke rumah orang tuaku dan meminta berpisah baik baik" Friday menutup matanya tidak ingin melihat wajah lelaki yang membuatnya jatuh cinta.


"Apa maksudmu sayang, aku tidak pernah menduakanmu" walau merasa kalut, Louis berusaha tetap lembut dan tidak terpancing emosi. Tangan Louis mulai gemetar karena tidak ingin ucapan Friday menjadi nyata. Dia tidak mau berpisah dari istri yang membuatnya jatuh cinta sampai rela meninggalkan cita citanya. Louis tidak ingin kebahagiaannya berakhir secepat ini.


"Bagaimana kamu bisa setega itu, menikahi gadis lain tanpa sepengetahuanku saat aku sedang mengandung anakmu. Dan sekarang gadis itu pun sedang mengandung anakmu. Setelah aku menyerahkan semuanya padamu, hati dan seluruh cintaku. Tapi kamu patahkan begitu saja, tega kamu kak" Friday mengencangkan suara tangisnya dan memukuli Louis. Friday baru tau jika patah hati ternyata sesakit ini.


"Sayang, aku tidak pernah menghianatimu. Tolong percaya padaku" jawab Louis. Louis juga ikut menangis melihat keadaan istrinya yang seperti itu. Dia juga merasa patah hati karena istrinya percaya pada info yang tidak valid seperti itu. Bukankah perlakuan Louis sangat baik pada Friday sudah bisa membuktikan jika selama ini dia benar benar hanya mencintai Friday.


"Aku hanya mencintaimu dan hanya akan menikah denganmu seumur hidupku seperti janjiku dulu" tegas Louis.


"Bagaimana dengan Jeanne? Apa kakak juga mengatakan itu padanya?" tanya Friday berapi api. Sekarang dia tidak lagi merasa kalimat cinta dari Louis spesial tapi malah menyakitkan.


"Jangan bawa orang lain dalam hubungan kita. Jeanne tidak ada hubungannya dengan pernikahan kita" jawab Louis menciba bersabar menghadapi istrinya.


"Aku pun tak ingin ada orang lain dalam hubungan kita tapi nyatanya Jeanne harus ku bawa dalam hubungan ini. Jeanne sudah kamu nikahi dan sekarang mengandung anakmu kak. Bagaimana Jeanne tidak ada hubungannya dengan kita huh?" Friday semakin terisak.


Kini Louis mulai menemukan titik terang permasalahan mereka.


"Siapa yang mengatakan jika aku sudah menikah dengan Jeanne padamu?" tanya Louis.


"Jeanne sendiri yang mengakuinya dan aku melihat sendiri sekarang dia sedang hamil" jawab Friday.


"Di mana? Ayo kita temui dia sekarang. Aku akan membuktikan jika aku tidak salah. Aku hanya mencintaimu dan hanya menikah denganmu" ajak Louis.


"Dengar Fri, aku tau jika Jeanne adalah temanmu tapi bisa saja temanmu berbohong kan? Untuk memastikannya kita harus menemuinya" ucap Louis.


"Dia tidak mungkin berbohong, aku tau betul bagaimana Jeanne selama ini" bantah Friday.


"Bagaimana dengan Alexa yang dulu kamu begitu percayai malah berniat mencelakaimu? Teman tidak selalu menjadi teman. Bisa saja Jeanne berubah seperti Alexa kan?" desak Louis.


Friday semakin terdiam, dia memikirkan perkataan Louis.


"Sekarang kasih tau padaku dimana Jeanne berada" desak Louis lagi.


Louis mengambil telepon genggamnya lalu menelepon supir yang tadi bersama Friday. Louis kini tau dimana keberadaan Jeanne.


"Aku tau dia ada di mana. Ayo sekarang kita temui dia" ajak Louis. Friday menolak, dia tidak mau melihat Jeanne.


Louis menelepon kembali supirnya dan memintanya untuk bersiap berangkat ke rumah Wetennov. Louis mengangkat paksa tubuh Friday dan membawanya menuju mobil yang telah disiapkan oleh supir.


Louis membawa Friday yang masih meronta di gendongannya masuk ke dalam mobil. Tidak sampai 30 menit, mereka tiba di rumah Wetennov. Louis memnggenggam tangan Friday dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. Friday terlihat enggan melangkahkan kakinya.


Louis berteriak memanggil uncle Wetennov, sepertinya kesabarannya mulai menipis. Sesaat dia lupa jika Wetennov adalah mertuanya dan tinjuan Wetennov sangat mematikan. Dia belum makan malam, dia belum mandi membuat badannya tidak nyaman, dia lelah karena baru saja pulang ke rumah setelah menyelesaikan banyak pekerjaan tapi langsung dihadapkan dengan masalah ini, dia dituduh selingkuh membuatnya sedikit tak sabaran dan terlihat agresif.


Wetennov mendatangi tamu tak diundang itu dengan wajah murung. Dia mendapatkan masalah karena Jeanne tiba tiba ingin meninggalkannya dan membawa lari anak yang masih di dalam perut Jeanne. Wetennov tidak mengerti kenapa Jeanne bisa berubah dalam sekejab.


Wetennov yang melihat wajah keponakan tersayangnya sembab karena menangis membuatnya marah. Wetennov langsung menyerang Louis untung saja Louis bisa menghindari serangan itu dengan baik. Bisa dipastikan jika Louis lengah sedikit saja, dia pasti sudah berbaringbdi rimah sakit beberapa menit kemudian.


"Kamu apakan putriku, bre*ngsek?. Sudah bosa hidup ya?" suara Wetennov menggelegar di seluruh ruangan rumah itu. Jeanne yang mendengar suara ribut pun akhirnya keluar dari kamarnya.


"Tenang uncle, kita bicarakan baik baik" ajak Louis. Dia sadar jika Wetennov bukan orang yang bisa disinggung.


Wetennov menarik tangan Friday dan menuntunnya duduk di sampingnya. Wetennov menatap tajam Louis yang duduk di seberang mereka.


"Katakan ada apa?" tanya Wetennov.


"Dia selingkuh uncle, dia menikahi gadis lain dan gadis itu kini sedang hamil Gadis itu sahabatku sendiri" Friday mengadu pada Wetennov.


Wetennov menggebrak meja karena marah dengan perlakuan Louis pada keponakannya.