
Setelah sebulan lulus kuliah, Jeanne memutuskan ikut bergabung dengan PT AFF company, sebagai Software developer. Kemampuan Jeanne membuat program dan code tidak perlu diragikan lagi. Dia sangat bisa diandalkan sama seperti Frizzy.
Jeanne juga akan tinggal bersama dengan Friday dan Frizzy di apartemen milik sang cassanova Sunday, kakaknya Friday. Tapi Jeanne menolak untuk ikut serta dalam perkuliahan bisnis ala Sunday tiap malam. Alasannya karena bosan dan otaknya tidak mampu menerima.
Wetennov yang ikut memberikan kuliah malam juga akhirnya menyerah karna sibuk bekerja di luar negeri dan bosan mengulang pelajaran karna ketiga muridnya banyakan bercanda dan terkadang mengabaikannya. Dia tipe orang yang serius dan tidak suka diabaikan saat berbicara.
Amora sudah pindah ke unit sebelah, Leo membelinya dari Sunday yang ternyata pemilik semua unit di lantai itu. Di lantai itu hanya ada 3 unit khusus untuk Sunday dan pastinya dengan harga mahal. Residence itu milik Alcantara Grup.
Pasangan suami istri itu akhirnya bisa tinggal bersama tanpa terhalang asrama dan teman temannya, dan penghalang berkurang kembali saat orang tua Leo akan mengurus perusahaan mereka yang berada di luar negeri.
Mereka besa melakukan apapun sekarang tanpa harus takut ketahuan orang lain. Mereka juga sudah mempunyai waktu berdua yang lebih banyak.
Perkembangan AFF company yang begitu pesat membuat mereka mempekerjakan para profesional di bidangnya. Sekarang mereka bertiga hanya fokus di desicion making atau pembuat keputusan. Kebanyakan mereka bekerja dari rumah.
Sesekali mereka akan pergi ke kantor untuk meeting, ikut test aplikasi yang akan launching atau hanya sekedar memantau perkembangan pembangunan gedung perkantoran.
Gedung perkantorang yang sedang tahap pembangunan itu dirancang oleh Friday, Amora dan Frizzy. Mereka ingin menciptakan ruang kerja yang nyaman bagi para pegawainya dan menyenangkan.
Di kantor mereka saja saat ini sudah banyak tempat rekreasi untuk pegawai yangbsedang penat. Ada ruang GYM, kolam renang, bilyar, Plays Station, bioskop mini, perpustakaan, rooftop dan pantri penuh makanan. Pakaian para pegawai juga casual dan sopan.
Jam kerja mereka juga fleksibel, bahkan bisa wfh atau work from home dengan syarat delivery harus lancar atau target kerjaan tercapai. Mereka meyakini bahwa kenyamanan lingkungan kerja membuat pegawai semakin produktif.
Tiap bulan akan ada evaluasi pegawai oleh para team leader dan melaporkannya kebagian HRD. HRD akan mengajak para pegawai yang dinilai kurang perform diskusi dan mediasi. Mereka akan memberikan kesempatan kepada para pegawai untuk rolling kerjaan bila dibutuhkan. Mencari posisi pekerjaan yang pas dengan kemampuannya.
Karena semua sudah ditangani oleh para staff profesional di bidangnya, Amira dan kawan kawan sering berkumpul di apartement Friday untuk sharing yang bermanfaat bahkan yang tidak bermanfaat sama sekali.
Di tahun ketiga mereka lulus, mereka kedatangan tetangga baru yaitu Shelly dan Alexa. Sunday mengizinkan mereka menempati unit itu karena merasa sayang tidak digunakan. Dan itu juga atas bujuk rayu adiknya.
Dua hari sebelum kepindahan mereka, Alexa pergi ke sebuah club malam untuk bertemu dengan seseorang yang telah memiliki janji dengannya.
Alexa menanyakan keberadaan orang yang dia cari kepada staff club tersebut. Si staff menunjukkan jalan kepada Alexa dan mempersilahkan dia masuk ke sebuah ruang kerja. Begitu dia masuk, langsung disambut si empunya ruangan.
"Welcome Alexa, you look so beatifull in person" sapa seorang wanita dewasa berpakaian glamour dan make up yang menor, penghuni club memanggilnya dengan sebutan mami. Kalau dilihat dengan make up tebal yang menutupi wajahnya itu, usianya sekitar 30 sampai 35 tahun.
Alexa yang disapa hanya tersenyum kaku, sebenarnya dia sangat ketakutan, apakah keputusannya untuk datang ke sini adalah salah? Batin dan ginjalnya mulai meronta dan bergejolak.
Wanita yang dipanggil mami ini bernama Amanda Veus. Di masa kecilnya dia merupakan putri dari keluarga Veus yang sangat berjaya, tapi semuanya lenyap saat kelompok mafia menyerang orang tuanya.
Amanda mendekati Alexa dan mengelus wajah Alexa namun Alexa menghindar. Amanda tersenyum melihat penolakan itu. Dia duduk kembali dan mengangkat kakinya ke atas meja, pahanya yang putih mulus terekspos.
"Aku melihat keraguan di hatimu, dan matamu sangat menolak transaksi ini. Pulanglah" kata Amanda sambil menyalakan rokoknya. Hanya menyalakan, agar terlihat keren dan seperti mami pada umumnya pikir Amanda.
Alexa malah semakin resah, dia butuh pekerjaan ini ralat dia butuh uang yang banyak malam ini. Dia sangat membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit orang tuanya yang saat ini sedang di rawat di rumah sakit dan sejumlah uang untuk membayar hutang orang tuanya kepada rentenir. Belum lagi biaya makan dan sekolah adik adiknya.
Kedua orang tua Alexa saat ini sedang berbaring di rumah sakit setelah mendapatkan kekerasan dari para penagih hutang. Adiknya yang pulang dari sekolah mendapati kedua orang tuanya sudah lemah langsung membawanya ke rumah sakit dan menghubunginya.
Selama ini Alexa bekerja untuk melunasi hutang itu tapi yang terbayar hanya bunganya saja. Pinjaman itu semakin lama semakin mencekiknya.
Dia malu meminjam uang kepada teman temannya terutama kepada Friday. Friday pernah membantunya membayar kebutuhan sekolah adiknya dan itu melukai harga dirinya.
Akhirnya dengan berat hati dia memutuskan untuk menjual tubuhnya kepada lelaki hidung belang. Dia datang ke tempat ini atas usul temannya Shelly.
"Tunggu apa lagi, pergilah" usir Amanda kembali. Dia membuyarkan lamunan Alexa.
"Tidak. Aku benar benar butuh uang yang banyak secepatnya, orang tuaku tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan pengobatan" kata Alexa.
"Saya tidak butuh cerita menyedihkanmu itu. Saya tidak mau mengorbankan kepuasan client kami karna penolakanmu. Jadi pergilah, tempatmu bukan di sini". Amanda masih tidak mau mempekerjakan Alexa.
Dengan pasrah Alexa menangis memohon agar diberi kesempatan "Aku mohon berikan aku kesempatan, aku pasti bisa memuaskan client kalian. Hanya sekali kesempatan, bila client kalian melayangkan komplen atas pelayananku kalian boleh tidak membayarku". katanya putus asa.
Amanda menyeringai, ini yang dia harapkan, sebuah keputus asaan. Semakin putus asa akan semakin giat dia membuktikan diri bila diberi kesempatan. Dia mematikan rokok yang sedari tadi bertengger di jarinya.
"Baiklah, tunggu di sini. Hanya ada satu kali kesempatan. Begitu aku kembali ke ruang ini, kamu tidak boleh berubah pikiran atau kami akan memaksamu melayani pria hidung belang yang maso*kis".
Maso*kis atau maso*kisme sek*sual adalah penyimpangan sek*sual dimana penderitanya menjadikan kekerasan sebagai sumber kepuasan seksual.
Seseorang yang maso*kis, hanya bisa mencapai puncak kepuasan dengan dipermalukan atau dibuat menderita. Klim*aks ini bisa terjadi baik dengan kata-kata (verbal), menyakiti pasangannya dan disakiti dengan pukulan, hingga dilecehkan secara fisik.
Alexa hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah menerima nasibnya yang sungguh malang.
………………………………………………………………………………
Jangan lupa Subscribe, Like dan Comment ya genk kalo bisa vote dan gift jg hehehe...Lafyutu