Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Tercyduk



Makin lama ciuman mereka semakin panas dan menuntut. Friday kini naik ke pangkuan Louis tanpa melepas tautan bibir mereka. Tangan Louis juga bekerja dengan sendirinya di bagian dada istrinya. Dia mulai mengusap tangannya di bagian lereng gunung kembar di dada istrinya.


Mereka tidak sadar jika mereka sedang berada di ruang tamu dan Wetennov yang sedang menggendong Grant sudah masuk ke apartemen mereka. Wetennov lagi lagi dibuat galau oleh pasangan yang sudah beberapa kali terciduk berbuat mesum.


Wetennov menutup mata Grant agar tidak menyaksikan perbuatan asusila kedua orang tuanya. Tapi Grant malah meronta di gendongannya. Grant menarik tangan kakeknya dari pandangan matanya. Tidak berhasil, Grant akhirnya menangis memanggil mommynya.


"Mommy" suara bergetar Grant akhirnya menyadarkan kedua pasangan suami istri itu. Mereka langsung berhenti berciuman dan menoleh ke arah suara anaknya. Mereka mendapati wajah masam Wetennov dengan tangan yang menghalangi penglihatan anaknya.


"Dasar pasangan mesum" keluh Wetennov.


Friday terkekeh menanggapi unclenya itu dan seolah tidak berbuat apa apa. Sedangkan Louis hanya memasang wajah datarnya sebagai pertahan diri. Dia sebenarnya masih takut melihat Wetennov.


"Uncle lebih mesum" balas Friday. Friday bangkit berdiri untuk menghampiri unclenya. Dia ingin meraih tubuh Grant yang ada di gendongan kakeknya. Tapi secepat kilat Louis menyambar tubuh Grant dari gendongan mertuanya sebelum Friday.


"Sudah ku bilang jangan lagi menggendong Grant, dia berat biar aku saja" tegur Louis.


"Halah tadi saja kalian habis melakukan pekerjaan berat tidak apa apa. Lebay" sindir Wetennov. Louis menulikan telinganya dan lebih memilih menenangkan Grant.


Louis membawa Grant ke dapur dan membuatkannya susu. Setelah itu dia membawanya ke kamar dan meminta Friday untuk menemani anaknya di kamar. Friday hanya menurut, dia juga merasa lelah dan ingin istirahat.


"Untuk sementara nanny Grant dan ART tidak akan bekerja di sini, aku hanya curiga salah satu dari mereka yang membocorkan foto Friday dan Grant. Kira kira kamu bisa mengurus Friday dan Grant sendiri seminggu ke depan?" tanya Wetennov.


"Aku bisa uncle, jangan khawatir" Louis menyanggupi permintaan Wetennov. Dia juga mencurigai para pekerjanya. Karena tidak mungkin foto itu bocor dari orang yang tidak bekerja di rumah mereka.


"Menantu macam apa kamu tidak menawarkan minum atau makan hah?" Wetennov menyindir Louis kembali.


"Astaga uncle seperti orang lain saja mesti ditawarkan, ambil sendiri saja uncle. Lagian uncle kan punya banyak duit harusnya bisa makan di tempat lebih berkelas dan mahal jangan kayak orang susah" balas Louis. Louis tidak menatap wajah Wetennov yang sudah berubah merah menahan kesal karena ucapannya.


"Hehehe bercanda uncle" kata Louis lagi sedikit takut.


"Ada makanan yang bisa langsung di makan? Aku kelaparan dan tidak sempat makan tadi karena harus menjaga Grant yang super aktif itu" Wetennov kembali melembutkan raut wajahnya agar Louis bisa lebih santai dan tidak tegang.


"Ada uncle, tadi mama memasak makanan yang banyak untuk ku bawa ke sini" jawab Louis.


"Mamamu sudah tau?" tanya Wetennov.


"Belum. Dia hanya memasak untuk bekalku selama tidak di rumah. Mama dan papa akan tinggal di rumah kakek sementara" jawab Louis.


"Baguslah, itu memang tempat yang paling aman selama om Anthony tidak di sana. Bilang ke mamamu agar kak Jennifer juga tinggal di sana. Takutnya si kucing garong itu juga mengincarnya" Wetennov beranjak pergi ke dapur untuk makan. Louis mengikuti Wetennov menuju dapur. Mereka makan malam sambil berbincang seperti keluarga pada umumnya.


"Kenapa Grant ada pada uncle, bukannya tadi bersama mama?" tanya Louis.


"Iya, kami tadi bareng ke sini tapi di bawah kakak bertemu teman lamanya jadi mereka ingin mengobrol akhirnya aku ke sini duluan bersama Grant" Wetennov menjawab Louis tanpa menoleh, dia masih menikmati makanan yang ada di hadapannya.


"Masakan kak Sita memang terbaik, dari dulu memang selalu enak" Wetennov memuji betapa enaknya masakan Sita.


"Dari dulu?" Louis heran.


"Kenapa bisa?".


"Ya bisalah, mereka dulu teman seangkatan".


"Mama sekolah kedokteran?".


"Kamu tidak tau? Andai saja kak Sita melanjutkan profesinya, aku bisa pastikan dia akan jadi dokter yang hebat" Wetennov masih menikmati makanannya sambil bercerita.


Louis terkejut bukan karena mendengar cerita Wetennov tapi karena tiba tiba Monday dan Kalino sudah berada di dapur. Monday meletakkan telunjuknya di bibir saat Louis melihat mereka. Monday lalu mengibaskan tangannya meminta Louis melanjutkan obrolannya bersama Wetennov.


"Apa uncle tau sejak kapan mama berhenti jadi dokter uncle?" tanya Louis melanjutkan obrolan.


"Sejak kapan ya? Kalau tidak salah saat salah satu keluarga Scaff diculik".


Louis terdiam, ternyata dia menjadi alasan kenapa mamanya berhenti mengejar cita citanya dan memilih menjaganya di rumah.


Wetennov menoleh ke arah Louis yang mendadak diam. "Maaf" ucapnya menyadari jika Louis adalah anggota keluarga yang diculik saat itu.


"Itu bukan salahmu dan aku rasa semua orang tua juga akan melakukan hal yang sama jika menghadapi situasi itu. Itu adalah pengorbanan orang tua demi anak anaknya. Kamu sudah jadi orang tua, pasti juga kamu merasakannya. Bahkan kamu juga mau berhenti jadi dosen demi Grant kan?".


"Tapi karenaku mama tidak jadi dokter yang hebat".


"Ku rasa sampai sekarang pun dia tetap dokter yang hebat, malah lebih hebat dari kak Monday".


"Oh ya?".


"Kak Monday bisa jadi direktur rumah sakit karena pemilik rumah sakit itu adalah suaminya. Bahkan sampai sekarang dia masih dokter umum. Jam prakteknya sedikit dan tidak menentu, kebanyakan tidak berada di rumah sakit karena suaminya yang posesif. Menurutmu bagaimana bisa dia jadi dokter yang hebat jika tidak punya waktu belajar dan praktek?" Wetennov tidak tau saja bahwa orang yang dia kata katain berada di belakangnya.


"Uncle juga posesif".


"Hei, kamu tidak tau saja kalau kak Kalino lebih posesif, kemana mana harus ditemani. Aishhsss mengingatnya saja sudah buat merinding".


"Jadi menurut uncle siapa yang terbaik mama Sita atau mama Monday?" Louis melontarkan pertanyaan jebakan.


"Tentu saja kak Sita, dari segi kemapuan memasak dan kemampuan sebagai dokter dia yang yang terbaik. Kak Monday kalah telak".


"Ekhem" Kalino berdehem. Wetennov melirik ke belakang arah suara.


"Hehehe makan bang" Wetennov terkekeh canggung melihat Kalino dan Monday, yang ternyata korban gosipnya berada di belakangnya.


Wetennov menyadari jika dia dijebak oleh Louis, dengan gerakan bibir tanpa suara dia menanyakan Louis " Kenapa tidak bilang kalau mereka di sini".


Louis hanya mengendikkan bahunya tidak mau tau.


"Siyal. Ternyata Louis masih punya dendam, dia sangat licik. Apa yang harus ku lakukan selanjutnya? Matilah aku" batin Wetennov.