Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Jatah sebelum berpisah



Amora memilih meminum pil pencegah kehamilan yang ditawarkan oleh suaminya karena ingin fokus kuliah dulu, mengingat tinggal 1 tahun lagi dia akan lulus kuliah. Sore ini dia akan kembali ke asrama jadi dia memilih tidur dan istirahat karna dia kurang tidur habis pergulatan mereka tadi pagi.


Leo segera meminta pembantu membereskan bekas makanan sang istri dan ikut bergabung dengan istrinya berbaring di tempat tidur.


Amora terbangun sekitar jam 12 siang, dia melihat ke tangan suaminya membelit perutnya. Ditariknya pelan pelan tangan Leo dari atas perutnya berharap gerakannya tidak membangunkan sang suami.


Dia bernafas lega kerena berhasil lepas dari belitan sang suami, dia ke kamar mandi segera bersiap kembali ke asrama. Dia mulai menyalakan shower dan membiarkan shower membasahi seluruh tubuhnya. Dia memejamkan matanya menikmati setiap tetes air yang mengenai tubuhnya dan terkejut karena tiba tiba ada gerakan yang memeluknya dari belakang.


Amora membelalakkan matanya melihat sang suami yang memeluknya dari belakang sudah tidak memakai sehelai benang pun ikut bergabung dengannya di bawah shower. "Kak...kok muncul tiba tiba sih, kayak jelangkung tau..." protes Amora. Leo tidak menjawab karna bibirnya kini sibuk menciumi tengkuk leher dan punggung sang istri.


Tangannya mulai nakal membelai kedua gundukan yang menggelantung cantik di dada Amora. Sesekali dia memelintir pu*tingnya dengan keras. "Ahhh..shhh..ahhh" hanya de*sahan yang bisa Amora berikan untuk meresponse perbuatan Leo.


Leo menarik dagu Amora ke belakang agar wajah mereka berhadapan, segera Leo menjangkau bibir istrinya itu. Dia mencium bibir Amora dengan penuh kelembutan, disambut oleh Amora yang juga membalas ciuman itu. Si bule kini menegang sempurna. Leo menghentak hentakkan pinggulnya ke arah bokong Amora. Si bule mencari cari sarangnya diantara kedua paha Amora. 


Kini tangan Leo berpindah ke pintu masuk sarang si bule. Tangannya digesek gesekkanya di sarang si bule, membuka jalan masuk untuk si bule kembali masuk ke peraduannya, sarangnya yang bertengger di tengah pangkal paha Amora. Semakin intense gesekan tangan Leo dari depan dan si bule dari belakang semakin ketat pula Amora menutup kedua pahanya. 


"May I dear?" Leo minta izin kepada Amora atas nama si bule yang sudah tidak sabaran ingin mengunjungi sarangnya.


"Ahhh kak...please. Its my pleasure" Amora mengizinkan disertai de*sahan. 


Leo mengangkat satu kaki Amora dengan tangannya agar memudahkan si bule menemukan sarangnya. Sedangkan tangan kirinya menahan pinggang Amora. Beberapa kali hentakan tapi si bule masih salah masuk. Akhirnya tangan Amora yang menuntun si bule memenuhinya.


"Ahhh.." de*sah Amora saat si bule melesat masuk memenuhi semua ruang sarangnya di tubuh Amora. Leo juga mengeluarkan era*ngannya dan mulai melakukan ritual maju mundur pinggulnya "Ah yesss..oh yeahhh".


Mereka melakukan penyatuan di bawah shower tapi tidak mengurangi rasa nikmat yang didapat malah mendapat sensasi baru.


Semakin lama goyangan pinggul Leo semakin cepat, hingga membuat Amora menumpukan tangannya untuk menahan badannya di dinding. Meski perih tapi dia masih bisa menikmati gesekan si bule di intinya. Dia juga semakin menungging, memberikan akses lebih agar si bule lebih leluasa keluar masuk sarangnya.


Leo menarik tangan Amora ke belakang, badan mereka semakin menempel. Leo mendorong Amora menggunakan hujaman pinggulnya dan berjalan menuju ke wastafel, dan Amora hanya mengikuti dorongan itu.


Amora melihat pantulan dirinya di kaca depan wastafel yang sedang dipompa oleh Leo dari belakang. Entah mengapa, itu membuatnya semakin bergairah apalagi sekarang tangan Leo meremas kedua buah dadanya.


Leo mempercepat tempo dan ritme permainannya hingga mereka berdua sama sama melayang ke langit ke tujuh. Si bule yang tadi dipaksa keluar masuk sarang tanpa henti akhirnya mabuk dan memuntahkan isi perutnya di dalam sarang dan terkapar.


Sekarang keadaan sarang penuh dengan muntahan si bule. Sebagian muntahan keluar melewati pintu masuk sarang dan membanjiri paha Amora.


Masih dalam posisi memeluk Amora, Leo lagi lagi membisikkan kata cintanya. Amora hanya tersenyum dan menikmati aliran muntahan si bule yang terasa panas di sarangnya. "Thank you dear. I Love you Mor, my wife, my love of my life".


Leo berjanji pada dirinya sebelum dan sesudah ber*cinta, dia yang akan membuka baju istrinya dan memakaikan kembali bajunya.


Jam 13.30 mereka turun ke bawah menuju ruang makan. Mereka makan siang sebelum berangkat ke asrama mengantarkan Amora.


Amora dan Leo kini sampai di entrance hall kampus IITC, kampus tempat Leo menempuh kuliah sampai dua hari lalu dia lulus. Tempat ini juga menjadi saksi bisu perjalanan asmara mereka hingga ke pelaminan.


Sebelum keluar dari mobil, Leo menarik tengkuk Amora dan mencium bibirnya dalam. Amora juga membalas ciuman Leo. Semakin lama, ciuman Leo semakin liar, tangannya pun sudah naik ke dada Amora dan meremasnya.


Merasakan bahaya, Amora langsung melepas ciumannya, dia takut suaminya tidak bisa terkontrol dan malah melakukan tindakan asusila di daerah kampus dan berujung pemecatannya sebagai mahasiswi di sini.


"Kak stop it, control your self. We can do it another time" ajak Amora menyudahi kelakuan suaminya.


Leo mengusap wajahnya kasar untuk menetralkan nafasnya yang masih tersenggal akibat ciuman panasnya dan tentunya menenangkan si bule yang ikut kepanasan.


"Sorry yank, feromonmu begitu memikat membuatku selalu lepas kendali bila di dekatmu hehehe".


"Iya benar, kita bisa lakukan lain kali, aku akan menjemputmu tiap weekend. Jadi jangan macam macam selama berada di area kampus. Kamu tidak boleh melihat dan mengagumi lelaki lain. Dilarang berinteraksi lebih dari 5 menit dengan lelaki lain kecuali karena tugas kuliah. Dan dilarang..."


Leo berhenti karena mendapatkan serangan mendadak dari Amora, yaitu ciuman di bibirnya. Untuk pertama kalinya Amora menciumnya duluan, Leo merasa senang dan meleyot seketika.


Kini gantian Amora yang memberikan peringatan kepada Leo untuk menjaga dirinya dari wanita lain selain dirinya dan mama mertuanya.


Leo hanya tersenyum mengangguk mengiyakan semua yang dikatakan Amora, dia seperti anak anj*ing yang menurut dengan perkataan majikannya.


Acara pamit pamitan selesai, Amora langsung menuju kamarnya. Dia begitu rindu dengan kegaduhan teman temannya dan merindukan suasana tidur bersama teman temannya di kamar penuh sejarah ini.


Amora disambut oleh penghuni kamar dengan heboh. Bukannya disuruh mandi dulu seperti biasa, teman teman Amora malah mengajaknya bercerita. Apalagi si Friday dan Frizzy yang kepo dengan malam pertama pengantin baru itu. Mereka berdua penasaran gaya seperti apa yang mereka pakai. Apakah benar sakit saat pertama kali melakukannya dan masih banyak lagi.


Dengan wajah yang tersipu merah, Amora menceritakan semua yang mereka lakukan dengan Leo tapi dengan batas tertentu. Amora berpikir walaupun mereka sahabatnya tapi urusan ranjang dia dan suaminya biarlah hanya dia, suaminya, author dan reader yang tau. Wah ternyata sudah banyak yang tau, biarlah ini jadi rahasia umum, dan biar reader saja yang memberitahukan Friday dan Frizzy.


………………………………………………………………………………


Jangan lupa Subscribe, Like dan Comment ya genk kalo bisa vote dan gift jg hehehe...Lafyutu