Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Bab 138



"Maukah kamu menikah denganku?" Ini adalah pertanyaan ketiga Louis.


"Iya aku mau, aku bersedia" jawab Friday dengan suara lantang.


Louis mengubah posisinya yang terlentang menjadi menyamping dengan tangan yang masih menggenggam tangan Friday.


Tangannya yang bebas terulur menghapus sisa sisa air mata di wajah Friday.


"Jadi ayo jalani pernikahan ini dengan baik" ucap Louis.


"Kakak tidak berencana menawarkan kontrak pernikahan padaku?" tanya Friday.


"Pernikahan bukan permainan, tidak ada masa expired, tidak ada masa kontrak itu berlaku seumur hidup. Kita mengucapkan janji untuk selalu menyayangi di saat suka dan duka seumur hidup bukan untuk terlihat keren atau formalitas saja. Aku mengucapkannya dengan sungguh sungguh dan ku harap kamu juga begitu".


"Tapi itu hanya untuk mereka yang saling mencintai, sedangkan kita tidak sama sekali" bantah Friday.


"Makanya mulai sekarang kamu harus belajar mencintaiku. Aku tidak mengizinkanmu berpikir jika ini tidak nyata. Pernikahan kita adalah sungguhan, jadi mulai sekarang kita akan melakukan apa pun yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri sunghuhan. Ingat aku suamimu dan kamu istriku. Tegur aku jika aku salah begitu pun sebaliknya. Ceritakan semuanya padaku, beritahu apapun itu walaupun itu hal kecil. Jangan menutupi apapun dariku dan aku pun akan jujur padamu. Apapun yang menjadi milikku adalah milikmu juga begitupun sebaliknya, termasuk tubuhmu. Ini adalah milikku". Louis bergerak menindih tubuh Friday. Dia menatap wajah cantik gadis remaja yang sering menjahilinya dulu. Kini gadis remaja itu sudah dewasa dan bukan gadis lagi.


Dengan perlahan Louis mendekatkan wajahnya ke wajah Friday lalu mencium bibir Friday dengan lembut dan mesra. Friday perlahan memejamkan matanya dan membalas ciuman itu. Louis melepas tautan bibir mereka, Louis mencium kening Friday begitu dalam. Kini ada kelegaan di hati pasangan suami istri baru itu.


Louis kembali ke posisi tidurnya, dia tidur menyamping memperhatikan wajah Friday. Tangannya kini terulur mengusap rambut Friday. Walaupun masih belum percaya dengan apa yang dia lakukan tadi tapi dia merasa jika keputusannya sudah benar. Dia tidak akan mempermainkan pernikahannya. Dia akan berusaha membuat istri dan pernikahannya bahagia.


Friday memberanikan diri mendekat pada suaminya. Dia memeluk suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya. "Jangan marah, kakak sendiri yang bilang jika tubuhmu sekarang adalah milikku. Aku bebas memeluk milikku kapan pun yang aku mau" ucap Friday.


"Iya iya, aku milikmu. Peluk aku kapan pun dan dimana pun kamu mau" jawab Louis mengeratkan pelukannya pada Friday. Malam itu mereka tidak melepaskan pelukannya hingga Friday tertidur dengan nyenyak. Sedangkan Louis masih saja mengsap rambut Friday dan sesekali mencium puncak kepala Friday. Louis mengidap insomnia yang membuatnya sulit tidur, dia harus mengkomsumsi obat tidur yang diresepkan dokternya agar bisa tidur.


Menjelang pagi, Louis baru saja tertidur dengan posisi yang sama yang masih memeluk Friday. Dia tidur setelah meminum pil obat tidurnya. Friday bergerak sangat hati hati agar tidak membangunkan suaminya. Dia berusaha lepas dari pelukan suaminya tapi pelukan Louis terlalu kuat.


Selesai dari toilet Friday kembali ke tempat tidur, dia yang sudah tidak bisa tidur kembali mencoba mengganggu suaminya. Jiwa usilnya yang beberapa hari ini terkubur ingin dia salurkan kembali. Tapi sayang Louis tidak merasa terganggu sedikitpun membuat Friday kecewa. Louis baru bisa bangun sekitar jam 10 pagi.


Louis menemui Wetennov yang sekarang berstatus mertuanya. Dia meminta izin pada Wetennov untuk membawa Friday untuk tinggal di rumah mereka sendiri. Louis sudah membeli rumah di sana. Tapi Wetennov tidak memberikan izinnya karena merasa hubungan kedua pasangan suami istri baru itu tidak seperti pengakuan mereka yang salinv mencintai. Walaupun Louis memperlakukan Friday dengan baik tapi Wetennov tidak benar benar percaya.


Wetennov memperhatikan setiap tindakan yang Louis lakukan, dan merasa ada yang berbeda hari ini. Begitupun dengan keponakannya. Walaupun setiap hari melihat mereka bergandengan tangan tapi kali ini ada yang beda. Tindakan yang sama tapi rasa yang berbeda. Tapi Wetennov masih mau melakukan observasi beberapa hari ke depan terhadap pasangan baru itu.


Pada malam hari kembali Friday dan Louis berbaring di atas tempat tidur yang sama. Sebelum tidur mereka melakukan obrolan singkat tentang aktivitas mereka seharian ini atau hal apa yang mereka sukai dan tidak sukai untuk lebih mengenal pasangan mereka. Seperti biasa Friday akan tertidur terlebih dahulu, setelah itu Louis meminum pil obat tidurnya dan kemudian tertidur.


Besok paginya kembali Friday mengganggu Louis tapi dia belum bangun juga membuat Friday merasa ada yang aneh. Tidak mungkin manusia masih bisa tidur jika sudah diganggu sampai seperti itu.


Ini adalah hari ke 4 setelah mereka berjanji untuk menjalani pernikahan mereka. Hari ini Friday bertekad untuk bertanya pada suaminya tentang pola tidurnya yang tidak biasa. Dia selalu bangun diatas jam 9 pagi dan tidak akan bisa dibangunkan.


Seperti biasa setelah makan malam dan mandi, Louis dan Friday berbaring di tempat tidur mereka. Kini Friday sudah terbiasa dengan kehadiran Louis di tempat tidurnya dan begitupun Louis.


"Kak...bisa aku tanya sesuatu?" tanya Friday.


"Hemm tanya saja" jawab Louis.


"Ku perhatikan beberapa hari ini jika kakak selalu bangun siang dan juga tidak bisa di bangunkan. Apakah setiap harinya kakak akan seperti ini? Bukankah kakak adalah seorang dosen? Bagaimana dengan kelasmu kak?" tanya Friday.


"Aku selalu meminta jadwal mengajar di siang hari bahkan sampai malam, jadi aku tidak pernah terlambat. Aku juga tidak pernah ikut rapat jika dilakukan pagi hari dan aku sudah mendapatkan izin dari rektor karena alasan kesehatan" Louis terdiam dan menarik nafasnya dengan dalam dan mengeluarkannya dengan kasar. Friday masih setia menunggu kelanjutan cerita Louis.


Louis melanjutkan ceritanya dimana waktu kecil dia pernah diculik oleh pamannya sendiri yang bernama Caleb. Penculikan itu membuatnya trauma hingga akhirnya kedua orang tuanya membawanya ke psikolog dan memutuskan menghapus memorinya saat itu. Tapi seiring berjalannya waktu, potongan potongan memori itu kembali lagi menghantuinya hingga dia sulit tidur. Gangguan itu semakin lama semakin parah hingga akhirnya dia insomnia. Dia mulai rutin mengunjungi psikolog dan melakukan terapi. Sudah banyak terapi yang dia terapkan agar bisa tidur dengan normal tapi sampai sekarang belum berhasil. Dokter pun meresepkan obat tidur untuknya.