Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Perkara sarung tertinggal di gua



Lama mereka hanya saling berciuman di bibir dan saling pandang dengan bibir yang tidak henti tersenyum. Tiba tiba Amanda terduduk dan panik. Dia mencoba memasukkan jarinya ke dalam gua miliknya. "Sayang bantu aku cepat. Astagaa kenapa kamu ceroboh".


Sunday ikut terduduk dan terlihat bingung kenapa Amanda begitu panik dan mengucek guanya dengan jari. Kalau Amanda masih mau bercocok tanam, Sunday dengan senang hati melakukannya.


Amanda berbaring kembali, Dia membuka kedua kakinya lebar dan meminta Sunday untuk memeriksa guanya. "Cepat cek ke dalam, gunakan flash HPmu agar bisa melihat ke dalam".


Sunday menuruti perintah Amanda dia mengelus gua yang kemerahan dan sedikit bengkak itu, tapi apa yang mau dia lihat? Kewani*taan Amanda akan selalu seperti itu setelah mereka melakukan cocok tanam.


"Bagaimana?" tanya Amanda. "Terlihat bengkak dan memerah lov, apakah sangat perih?" jawab Sunday. Tentu itu bukanlah jawaban yang diinginkan Amanda.


"Astagaaa berhentilah bersikap bodoh. Bukan itu yang ku maksud, cek dulu apa sarung si ular kadut tertinggal di dalam gua?" bentak Amanda lagi dengan suara yang lebih keras. Dia sudah kesal kepada Sunday yang tidak peka.


"Berhenti memberikanku kode lov, berikan instruksi yang jelas. Apa yang mesti ku lihat" tanya Sunday tak kalah frustasi dan kesal. Dia benar benar tidak mengerti permintaan sang wanita.


Amanda menghela nafasnya panjang mencoba mengontol emosinya. Karena panik berlebih, emosinya juga tidak stabil "Kon*domnya tertinggal di dalam, coba cek. Atau kita ke rumah sakit aja?"


"Sebentar ku cek, aku ga rela ada orang lain yang melihat isi guamu" Sunday mulai mencari keberadaan si sarung yang tertinggal di gua.


Sunday berhenti sejenak berpikir kembali, kon*dom siapa yang dimaksud Amanda. Apakah Amanda memakai kon*dom, sepertinya Sunday tidak menggunakannya tadi karna terburu buru.


"Kenapa berhenti? Apa sudah terlihat? Cepat keluarkan" desak Amanda.


"Tidak ada apa apa di sini lov" jawab Sunday.


"Jadi kemana kamu letakkan kon*domnya? Biasanya aku yang harus melepasnya, aku lihat si ular kadut sudah telan*jang" tanya Amanda lagi.


"Aku ga pakai kon*dom, tadi buru buru" jawab Sunday.


"Ah syukurlah" kata Amanda. Akhirnya mereka bisa bernafas lega setelah mengetahui si sarung tidak tertinggal di gua.


Mereka berdua kembali berbaring dan berpelukan seketika tertawa mengingat kekonyolan ini.


Tawa mereka terhenti lagi saat menyadari sesuatu yang lebih serius dari sekedar si kon*dom yang tertinggal di gua. Mereka saling pandang dan melepaskan pelukannya, kemudian berteriak panik "What?".


Ya... si kecebong yang terlepas dan tersesat di gua lebih berbahaya dari pada sarung yang tertinggal di gua. Bayangkan saja kalau si kecebong tidak tau arah jalan pulang dan malah tersesat di lorong gua terdalam tempat dia dibuang. Karena penasaran dengan bola besar di sekitaran lorong, dia mendekati bola itu dan terpeleset hingga jatuh kedalam dan melebur. Ckckck sudah jangan dibayangkan lagi.


Wajah Sunday berubah pucat, sungguh dia tidak pernah bermaksud dan berniat buang sampah sembarangan di manapun termasuk dalam gua. Dia memang menginginkan Amanda menikah dan punya anak dengannya tapi tidak dengan cara seperti ini. Tujuan Amanda belum tercapai.


"Maafkan aku lov, aku tidak bermaksud membuangnya di dalam. Apa kamu ingin meminum pil saja?" tawar Sunday. Raut wajahnya menggambarkan rasa bersalah yang sangat besar.


Amanda terdiam, dan itu sangat menakutkan buat Sunday. Mending dia menerima segala bentuk cacian dan pukulan bertubi tubi di tubuhnya seperti biasanya jika wanita itu marah atau kesal. Itu lebih baik dari pada didiamkan seperti ini.


"Maafkan aku, jangan marah, jangan diamkan aku, ku mohon" air matanya sudah menggenang di matanya dan siap untuk terjatuh.


Amanda sungguh tidak tega melihatnya dan dia tidak marah. Sungguh. "Bagaimana kalau aku hamil?" tanyanya.


"Kamu tidak akan hamil, percayalah. Aku baru sekali membuangnya di sana. Tidak akan terjadi apa apa. Nanti ku pesankan obat pencegah kehamilan terbaik" jawab Sunday.


"Bukan seperti itu lov, tentu aku mau punya anak dan aku mau itu dari rahimmu. Tapi kamu masih punya tujuan lain dan aku mendukungmu. Saat semua masalah masa lalumu selesai, aku harap kamu bisa fokus denganku dan anak anak kita saja. Aku tidak mau bayang bayang masa lalu menghantui masa depan kita" jelas Sunday meluruskan kesalah pahaman.


"Terkadang aku lelah dengan semua ini dan ingin mengakhirinya sampai di sini. Akupun ingin hidup normal seperti perempuan pada umumnya dan menikmati hidup"


"Aku berpikir bahwa hidup terlalu singkat, aku ingin bahagia. Kenapa mesti mencari keadilan dan balas dendam atas masa lalu yang bahkan aku tidak tau faktanya? Bagaimana jika kebenaran malah tidak seperti yang ku yakini selama ini dan itu semakin menyakitiku? Bagaimana menurutmu, apakah aku harus berhenti?" tanya Amanda lagi.


"Setelah kamu melakukannya sejauh ini lov? Apakah kamu tidak akan menyesal? Ingat, apapun keputusanmu aku selalu mendukungmu" Sunday memberikan pendapatnya.


"Ah pria bodoh ini, kenapa selalu bisa menghangatkan hatiku. Tidak hanya hati tapi ranjang juga hihihi" batin Amanda.


"Begini saja, kamu bisa berhenti setelah kamu hamil. Selama kamu belum hamil, kita akan melakukannya tanpa sarung lagi" tawar Sunday. Jelas saja Sunday sangat memanfaatkan kesempatan ini. Bahkan meraup keuntungan dalam kesempatan ah ralat kesempitan, ya kesempitan gua Amanda.


"Itu mah maumu. Kamu selalu tidak mau rugi. Menyebalkan" kata Amanda. Kemudian mereka berdua tertawa.


Sunday mengelus wajah Amanda dengan lembut dan sayang. "Tidakkah kamu menikmati keperkasaan dan kebesaran asli si ular kadut?"


"Selama ini kebesarannya tertutupi oleh sarung karet menyesakkan itu. Bahkan karnanya, si ular kadut tidak bisa leluasa bergerak. Bisa kamu bayangkan rasanya saat memakai legging yang sangat ketat, ah bukan tapi korset yang mengecilkan perut? Rasanya seperti itu. Sesak dan tidak nyaman".


Amanda tertawa, apa katanya? Legging? Korset? Ada ada saja pikirnya. Seketika dia membayangkan si ular kadut memakai legging dan korset, sungguh menggelikan. Amanda kembali tertawa karena pikirannya yang sangat absurd.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Sunday.


"Aku membayangkan si ular kadut memakai legging dan korset sayang" Amanda kembali tertawa.


"Pasti akan sangat lucu kalau si ular kadut juga bawa tas dan pakai high heels" sambung Sunday. Mereka berdua meledakkan tawanya. Benar benar pasangan absurd yang serasi.


Tawa mereka terhenti ketika HP Sunday yang masih berada dalam saku celananya yang tergeletak di lantai berdering. Segera Sunday beranjak dari tidurnya untuk mengambil HPnya dan menerima panggilan itu. Dari nada deringnya saja, dia tau bahwa yang menelepon adalah anak buahnya.


Si anak buah yang dia minta tolongin untuk mencari informasi mengenai situasi Alexa dan keluarganya melaporkan semua informasi yang dia dapat kepada sang tuan, yaitu Sunday. Amanda juga ikut mendengarkan karena Sunday mengaktifkan loudspeaker HPnya.


Sunday yang mendengarkan hanya bisa menghela nafasnya dalam dan sangat prihatin dengan apa yang terjadi pada Alexa yang sudah dia anggap adik.


Sunday mengucapkan terima kasihnya atas kerja anak buahnya yang sangat inisiatif membereskan masalah rentenir dan administrasi di rumah sakit orang tua Alexa dirawat tanpa Sunday minta. Mereka benar benar tau apa yang mesti mereka perbuat tanpa menunggu perintah tuannya.


Oleh karena itu mereka akan mendapatkan bonus berupa uang dan juga kerja keras lagi untuk membereskan sisanya.


………………………………………………………………………………


Ntah kenapa aku ga bisa berhenti menulis tentang pasangan ini. Aku seperti ikut terbawa suasana dan merasa senang memikirkan keabsurd-an apa lagi yang akan mereka perbuat.


Ah.....pengen nulis tentang mereka lebih banyak tapi masalahnya mereka hanya supporting character. Aku sampai lupa dengan Alexa yang jelas jelas main character dan masih menunggu di ruang kerja Amanda.


Aku malah asyik membuat pasangan ini wik wik wkwkwkw


Jangan lupa Subscribe, Like dan Comment ya genk kalo bisa vote dan gift jg hehehe...Lafyutu