
Sunday dan Amanda bergegas ke kamar yang disebutkan oleh Lira tadi. Sepanjang jalan mereka berharap semoga Alexa belum dijamah oleh Pak Sunggokong. Mereka juga membawa beberapa bodyguard untuk mengamankan Sunggokong.
Sunday langsung mendobrak pintu kamar beberapa kali tapi pintu masih belum terbuka. Amanda inisiatif untuk membuka ensel pintu karena seperti biasanya Pak Sunggokong tidak akan mengunci kamar.
Dan berhasil, pintu terbuka. Sunday merutuki dirinya dalam hati. "Kenapa aku tidak berpikir seperti itu? Benar kata Amanda kalau aku memang bodoh". Dia menatap nanar kepada pintu yang telah dia sakiti beberapa kali dengan membenturkan badannya. Di elusnya daun pintu itu dan minta maaf, "Maaf".
Mendengar dobrakan pintu, Pak Sunggokong yang sedang melakukan pemanasan dengan mencium bibir Alexa dan tangannya meremas dada Alexa dengan kasar pun menghentikan kegiatannya.
Dia benar benar kesal karena ada yang mengganggunya untuk menunggang kuda. Begitu pintu terbuka dia langsung melayangkan protes "Apa apaan ini? Kenapa kalian menggangguku?".
Sedangkan Alexa yang tengah berbaring ditempat tidur hanya memejamkan matanya dan menangis dalam diam. Air matanya menetes membasahi wajahnya. Saat ini hanya berserah dan mensugesti dirinya bahwa apa yang dilakukannya adalah yang terbaik untuk kedua orang tuanya.
Tanpa menjawab pertanyaan Pak Sunghokong yang merasa kesal, Sunday yang awalnya akan menjelaskan situasinya dan meminta maaf atas kejadian tidak mengenakkan ini segera berubah pikiran setelah melihat Alexa yang ketakutan menangis pasrah dengan mata terpejam tapi tubuhnya terlihat gemetaran.
Hatinya ikut sakit melihat perempuan yang dianggap adik olehnya dengan keadaan semenyedihkan itu. Sunday mendekat ke arah mereka dan menghajar Pak Sunggokong. Bodyguard segera mengamankan Pak Sunggokong sebelum Sunday bertindak lebih jauh dan membawanya ke ruang lain.
Alexa masih belum sadar apa yang terjadi, dia hanya menutup matanya rapat, meraih sprey dan menggenggamnya dengan erat. Di dalam hati dia berdoa agar semuanya baik baik saja. Dia takut membuka matanya dan melakukan penolakan dan malah membuat si client tidak nyaman dan puas dengannya sehingga berakibat dia tidak mendapatkan uang dan selanjutnya nasib kedua orang tuanya bagaimana.
Alexa tersadar setelah tubuhnya yang hampir telan*jang hanya menggenakan celana da*lam saja diraih Sunday dan dibawanya ke dalam pelukannya. Sedangkan Amanda langsung menutup tubuh Alexa menggunakan selimut yang ada di kamar itu.
"Dasar gadis bodoh, apa yang kamu pikirkan saat melakukan ini? Kenapa kamu begitu ceroboh. Tidakkah kamu menganggapku kakak? Kenapa malah bertindak seperti ini daripada meminta tolong kepadaku atau teman temanmu?" Sunday menceramahi Alexa, dia begitu sedih sekaligus kecewa melihat keadaan gadis itu.
Alexa semakin menangis dan mengeratkan pelukannya. Tangisannya terdengar pilu dan dari suara tangis itu saja bisa kita tebak seberapa menderitanya dia saat ini. Dia semakin menangis karena tau suara siapa yang sedang memarahinya saat ini dan menyelamatkannya dari kejadian tak mengenakkan ini.
Amanda ikut menenangkan Alexa dengan mengelus punggungnya berkali kali bahkan diapun ikut menangis. Dia teringat masa lalu yang begitu kelam saat usianya memasuki 12 tahun.
Dia menyaksikan pembantaian sekelompok orang terhadap seluruh anggota keluarganya bahkan para pekerja di rumahnya juga tak luput dari pembantaian itu. Hanya dia dan saudara laki lakinya yang selamat. Mereka disembunyiakan oleh orangtuanya di dalam bufet. Tempat yang selalu dilewatkan oleh para penjahat. Biasanya para penjahat akan membongkar lemari tapi tidak dengan bufet.
Sunday melihat Amanda yang menangis langsung paham kenapa kekasihnya itu sesedih ini, pasti teringat masa lalunya yang kelam dan suram juga. Satu tangannya terangkat dan mulai mengusap wajah Amanda dan melap air mata Amanda dengan jarinya.
Amanda mengangguk dan membalas ucapan Sunday dengan gerakan bibir juga tanpa mengeluarkan suaranya, "Me too", Sunday langsung tersenyum ceria dan membawa Amanda kepelukannya juga. Sekarang dia memeluk dua makhluk Tuhan yang dia sayangi dan senyum Sunday menular ke Amanda. "Kenapa ada lelaki sebaik ini. Aku semakin mencintainya" batin Amanda.
Melihat kekasihnya sudah tenang, Sunday kembali menenangkan gadis lain yang berada dipelukannya itu. "Jangan takut, ada kakak di sini. Semuanya akan baik baik saja" mendengarnya hati Alexa mulai tenang. Alexa mulai menyadari keputusannya yang ceroboh dan bodoh.
Dia menjual dirinya karna meminta pertolongan kepada orang lain sangat melukai harga dirinya. Bukankah menjual diri lebih hina daripada meminta tolong? Meminjam uang kepada teman hanya melukai harga diri tapi kalau menjual diri sama saja dia kehilangan harga diri bukan?
Alexa kembali menangis, dia sadar betul apa yang dia perbuat benar benar salah. Dia sangat penyesal dengan itu. "Kak maafkan aku. Satu satunya yang ku miliki hanya harga diri sampai akupun tidak mau meminta tolong kepada kalian, tapi dengan bodohnya aku malah menjualnya. Maafkan aku kak, sungguh aku tidak tau apa yang ku perbuat tadi. Aku bingung, aku kalut hingga hanya cara ini yang terlintas dipikiranku. Aku minta maaf".
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Kedepannya, kalau ada masalah ceritakan kepadaku atau teman temanmu. Kami pasti membantumu sebisa kami. Jangan bertindak seperti ini lagi. Kamu mengerti?" kata Sunday.
"Aku mengerti kak, terima kasih" jawab Alexa. Akhirnya dia menyadari kalau dia tidak sendiri. Dia masih punya tempat berkeluh kesah dan orang yang menyayaninya.
"Sekarang kita ruanganku, kamu harus ganti pakaian" kata Amanda, pakaian Alexa sebelumnya sudah robek berceceran di lantai karena ulah Pak Sunggokong. Sunday melepaskan pelukannya dari Alexa dan Amanda membungkus tubuh Alexa menggunakan sprey kasur di ruangan itu.
Setelah tubuh Alexa aman, Sunday menggendong Alexa diikuti oleh Amanda menuju ruang kerja Amanda. Sunday mendudukkan Alexa di sofa dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu. Dia menyerahkan urusan selanjutnya kepada Amanda.
Amanda mengambil sepasang pakaian yang tertutup dan pakaian dalam untuk Alexa. Hanya melihatnya saja, Amanda sudah tau berapa ukurannya. Amanda menyerahkan pakaian itu dan Alexa menerimanya. Alexa hanya diam bingung dan bertanya dalam hati siapa perempuan itu. "Pakailah. Atau kamu mau aku membantumu memakaikannya?" tanya Amanda.
Alexa langsung menggeleng dengan cepat, "Ah tidak terima kasih, akan ku pakai sendiri". Alexa memakai pakaian yang diberikan kepadanya. Dia bertanya kepada Amanda, "Maaf anda siapa ya?"
Amanda tertawa, sekarang dia paham kenapa wajah Alexa kebingungan saat melihatnya. "Aku adalah pemilik ruangan ini" jawabnya.
Alexa hanya mengangguk dan sedetik kemudian bertanya lagi, "Bukankah pemilik ruangan ini mami Amanda?". Alexa kembali melihat wajah Amanda dan mengamatinya. Ah sekarang dia mengerti, perempuan dibalik make up menor itu adalah perempuan di depannya sekarang. Amanda hanya tersenyum.
………………………………………………………………………………
Jangan lupa Subscribe, Like dan Comment ya genk kalo bisa vote dan gift jg hehehe...Lafyutu