Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Bab152



Lucunya baby G meresponse semua ucapan Louis dengan memberikan tendangan yang sangat kuat. Sepertinya baby G sangat senang diperhatikan apalagi diiming imingin ice cream oleh daddynya. Tapi hal ini membuat Friday kesakitan.


"Atau kamu mau..."


"Hentikan kak, dia menendang sangat kuat dan itu sakit" Friday menghentikan Louis menanyakan bayi mereka lagi.


"Bisa bisa dinding perutku bonyok karena tendangan baby G" keluh Friday lagi.


Louis tertawa melihat istrinya yang cemberut, dia tidak sengaja melakukannya. Dia hanya merasa takjub karena dibalas oleh anaknya. "Maaf ya sayangku. Aku hanya ingin tau baby G ingin memakan ice crean rasa apa" ucap Louis.


"Kalau soal rasa, harusnya bertanya pada mommynya saja kak. Iya kan sayang?" tanya Friday pada bayinya. Bayinya meresponse dengan tendangan yang lebih kuat.


"Wow". Louis takjub merasakan tendangan sekuat itu. Ini adalah tendangan terkuat baby G yang Louis rasakan di tangannya.


"Baiklah, kita tanya mommy mau rasa apa" jawab Louis. Louis kembali mengelus perut Friday menunggu jawaban dari Friday.


"Aku mau semua rasa yang kakak sebutkan tadi" jawab Friday.


"Matcha sepertinya enak, melon juga enak. Aku mau semuanya. Ah aku juga mau panna cotta yang rasa vanilla, toppingnya stroberi" tambah Friday.


"Baiklah. Malam ini kita menginap di sini saja ya. Ayo ke kamar dulu, aku mau mandi badanku sudah sangat gerah" ajak Louis dan diangguki oleh Friday.


Mereka bergerak menuju kamar yang dulu mereka tempati selama di rumah Wetennov. Di sana masih ada pakaian milik mereka berdua.


Sesampainya di kamar, Friday langsung menuju kamar mandi sedangkan Louis langsung menghubungi sekretarisnya. Dia meminta sekretarisnya membelikan ice cream dengan berbagai rasa dan juga panna cotta pesanan Friday. Dia juga berpesan untuk mengantarnya ke rumah Wetennov. Louis kembali ke lantai bawah dan meminta kepala pelayan menyiapkan makan malam untuk mereka. Mereka akan makan malam di kamar.


Louis menyusul Friday yang tengah mandi. Dia kesulitan untuk menyabuni punggung dan kakinya. Untuk berjongkok saja dia sangat kesusahan dan melelahkan baginya. Louis membantu Friday menyabuni punggung lalu menggosoknya. Kemudian Louis berjongkok untuk menggosok kaki Friday.


"Lain kali tunggu aku saja biar aku yang memandikanmu hemm?" ucap Louis yang diangguki Friday. Dia merasa lelah harus mandi sendirian seperti tadi. Apalagi setelah memasuki usia kehamilan 5 bulan Friday gampang berkeringat dan gampang kepanasan membuatnya ingin selalu mandi dan minum air es. Sangat berbeda saat bulan pertama dia hamil, dia malas mandi dan maunya rebahan terus.


Louis memandikan Friday dan melilitkan handuk di badannya. Dia membawa Friday untuk duduk di toilet duduk di samping shower yang dibatasi dinding kaca. "Tunggu aku di sini, aku mandi hanya sebentar" ucap Louis dan hanya diangguki Friday. Louis mandi secepat kilat dan Friday hanya menontonnya dari balik kaca yang buram karena uap air.


Mereka keluar dari kamar mandi menuju walk in closet. Friday melihat sudah banyak makanan di atas meja. Sekarang dia mengerti kenapa Louis memintanya untuk menunggu di kamar mandi, ternyata pelayan sedang menyiapakan makanan di dalam kamar mereka.


Louis memakai bajunya sedangkan Friday masih sibuk memilih pakaian mana yang akan dia kenakan. Sampai Louis sudah selesai memakai pakaiannya, Friday masih terlihat memilih milih pakaian. "Lagi cari pakaian yang mana? Biar ku bantu carikan" tanya Louis.


"Pakaian yang mana saja asalkan besar dan longgar pokoknya muat di perutku" jawab Friday.


"Lah emang pakaian kamu yang ukuran besar pada kemana?" tanya Louis.


"Di rumah" jawab Friday.


"Ah ...iya aku lupa, maaf" balas Louis. Ternyata bermalam dadakan tidak baik untuk mereka. Louis lupa jika perut istrinya sudah sebesar itu, pasti pakaiannya sewaktu masih gadis tidak akan muat lagi.


Friday membongkar pakaiannya satu per satu dan mencobanya. Tapi tidak ada yang bisa melindungi perutnya yang besar. Louis mengambilkan sebuah kaos oblong putih besar miliknya dan memberikannya pada Friday. "Pakai yang ini saja dulu ya, baru saja aku minta orang rumah mengantarkan pakaian untukmu" ucap Louis. Friday menerima kaos itu dan memakainya tanpa braa.


"Bagaiaman dengan celana dalaamku? Ini kekecilan dan terlalu banyak jaring, nanti angin dari luar bisa keluar masuk seenaknya" tanya Friday. Friday sudah terbiasa menggunakan pakaian dalam khusus wanita hamil yang berbahan katun hangat dan tertutup hingga ke perutnya. Louis terbahak karenanya.


"Pakai itu saja dulu, nanti pakai ini lagi dari luar biar tidak terlalu berangin" Louis mengambil satu boxer miliknya yang paling besar dan memakaikan boxernya untuk Friday.


Setelah itu mereka makan malam di kamar mereka untuk mengisi tenaga kembali. Masalah tadi sungguh menguras tenaga dan pikiran mereka. Tidak berapa lama, seseorang mengetuk pintu kamar mereka. Dengan cepat Louis bergerak membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Ternyata sekretarisnya membawa banyak paper bag bertuliskan brand ice cream dan sebuah paper bag bertuliskan restoran steak berisi panna cotta.


Louis menerima semua paper bag berjumlah 7 buah itu dan mengucapkan terima kasih banyak pada sekretarisnya. Dia juga memberikan libur pada sekretarisnya khusus untuk besok karena besok dia tidak masuk kerja dan hanya akan masuk kerja setengah hari ke perusahaan Friday.


Louis membawa paper bag itu masuk ke dalam kamar dan meletakkannya di atas meja. Friday dengan antusian membuka satu per satu paper bag dan melihat isinya. Dia bingung mau makan yang mana dulu. Louis membantunya mengeluarkan semua isi paper bag dan meletakkannya di meja.


"Aku makan yang mana dulu ini, aku bingung. Semuanya menggugah seleraku" ucap Friday. Louis hanya tersenyum, dia sangat senang dengan Friday yang manja seperti ini. Dia juga bersyukur karena Friday gampang dibujuk. Hanya diiming imingi ice cream atau panna cota pun sudah membuatnya bahagia.


"Sekretarismu memang yang terbaik" puji Friday saat melihat isi paper bag terakhir. Louis mengeluarkan beberapa macam yogurt. Dia memilih memakan yogurt, makanan yang tidak ada di list permintaannya tadi. Louis hanya menggelengkan kepalamya tidak habis pikir melihat tingkah ibu hamil di sampingnya itu.


Setelah puas memakan berbagai macam dessert, Louis merapikan semuanya dan memasukkan beberapa sisa makanan itu ke kulkas yang ada di kamar mereka. Dia mengajak Friday untuk istirahat karena sudah larut untuk ibu hamil.